Duka September Ceria

djas Merahputih

 

Bulan September akan selalu dikenang dalam sejarah pahit perjalanan bangsa Indonesia. Bulan dimana sebuah tragedi nasional telah mencabik-cabik jiwa dan raga sebuah bangsa yang masih belia. Sebuah bangsa yang lahir di tengah-tengah pertempuran dua ideologi besar dan masih berada dalam bayang-bayang berakhirnya Perang Dunia II.

Perang berakhir dengan kemenangan dari pihak sekutu di bawah komando Amerika Serikat. Di sudut lain, sebuah negara dengan ideologi komunisnya berambisi meluaskan pengaruh ke kawasan dan wilayah yang ditinggalkan oleh Jepang sebagai pihak yang kalah perang. Hal yang kemudian memicu perang urat syaraf atau perang dingin dalam bentuk perlombaan senjata nuklir, bom sejenis namun dengan kekuatan ratusan kali lipat dari bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki (1945).

 duka-september (1)

Image 01 : Bom atom

Dan Indonesia serta mungkin juga Vietnam, adalah medan pertempuran yang sebenarnya. Bisa dibayangkan pada saat anda baru saja terbangun dari tidur kemudian dihadapkan pada sebuah suasana bising dan kacau di depan mata, maka yang terjadi adalah kebingungan dan kepanikan serta ketidakberdayaan dalam merespon segala peristiwa di sekeliling kita. Begitulah sebuah negara baru bernama Indonesia menjalani harinya kala itu.

Dalam skala lokal nasional peristiwa G 30 September mudah terlihat sebagai konflik internal anak-anak bangsa Indonesia sendiri. Namun jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas maka tragedi tersebut merupakan konsekwensi logis dari kebijakan pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Presiden Sukarno yang terlihat di mata negara-negara Barat sebagai condong ke Blok Timur. Walaupun dalam setiap kesempatan dalam forum nasional maupun internasional Bung Karno selalu menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berfaham Non Blok (bukan Nombok loh ya…).

 duka-september (2)

Image 02 : Peta Negara-negara Non Blok

Sayangnya, hal ini mungkin hanya disadari oleh Bung Karno seorang atau juga segelintir orang di sekitar beliau saat itu. Konspirasi internasional telah berhasil menggiring sebuah bangsa yang belum begitu sadar akan taktik dan strategi kamuflase perang, menuju ke arah sebuah perang saudara dan “bunuh diri massal” dalam negaranya sendiri. Bagaimana tidak, persatuan bangsa yang telah berpuluh tahun dibangun dan dirawat dengan penuh kasih oleh Bung Karno serta para pejuang kemerdekaan, akhirnya hancur berantakan justru oleh segelintir kaum oportunis dari bangsanya sendiri. Yah, walaupun mungkin mereka juga tidak secara sadar sesadar-sadarnya saat melakukan kekeliruan tersebut.

Kepergian para pahlawan revolusi dalam tragedi lubang buaya adalah “pelatuk” bagi meletusnya pertumpahan darah ratusan ribu rakyat Indonesia oleh tangan-tangan saudaranya sendiri. Sebuah hal yang begitu ditentang oleh seorang Sukarno. Dan untunglah sejarah telah menyelamatkan Bung Karno dari kemungkinan tuduhan sebagai dalang dari pembantaian massal berskala genosida tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan penolakan keras beliau terhadap tuntutan pembubaran PKI pada saat demonstrasi besar-besaran di mana-mana yang begitu menekan beliau. Satu-satunya hal yang mampu menguatkan beliau di masa-masa sulit tersebut adalah dengan sekedar mengucapkan kata-kata, “bebek jalan berbondong-bondong, ELANG terbang sendirian”.

 duka-september (3)

Image 03 : Bung Karno berpidato di depan Sidang Umum PBB

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 begitu dalam menggores luka dalam benak kita. Dan mungkin bukan sebuah kebetulan kalau tanggal tersebut sengaja “ditetapkan” untuk mengubur peristiwa besar lainnya, yaitu saat Bung Karno menyampaikan pidato PENTING di depan Sidang Umum PBB ke-15 tahun 1960 pada tanggal dan bulan yang sama. Namun sebagai sebuah bangsa yang berjiwa besar biarlah hal tersebut kita sikapi dengan dingin dan biarkanlah pula ia tetap menjadi sejarah. Sejarah pahit yang boleh saja kita maafkan (forgiven) tapi tidak untuk dilupakan (unforgotten). Sejarah yang seharusnya mampu mendewasakan kita sebagai sebuah bangsa yang cinta damai. Begitu cinta damainya sehingga kadang-kadang pelanggaran lalu lintas pun bisa diatur “damai”.

Setelah peristiwa pembantaian massal di tahun-tahun kelabu akhir 1960-an tersebut, kita lalu bertanya, dari manakah bangsa kita belajar untuk melakukan hal-hal sekeji dan sebengis itu? Nenek moyang kita belum pernah mengajarkan kebiadaban seperti ini. Sehingga tanpa perlu mengernyitkan dahi lagi, bisa ditengarai bahwa cara-cara tersebut telah diajarkan oleh pihak-pihak dari luar diri kita sendiri dengan tujuan dan maksud-maksud tertentu di belakangnya. Kalau sekarang baru kita tersadar, syukurlah. Walaupun sudah begitu terlambat tapi masih lebih baik daripada tidak pernah mengerti sama sekali.

 duka-september (4)

Image 04: Peristiwa lubang buaya

Bangsa kita sedari dulu telah memiliki kearifan luar biasa dalam menyikapi segala perbedaan di antara sesama anak bangsa maupun dengan para pendatang dari belahan bumi yang lain. Cara-cara biadab sangat jauh dari karakter sejati bangsa Indonesia. Lihatlah bagaimana interaksi perdagangan dan budaya lintas negara yang telah berlangsung lama di sepanjang sejarah nusantara. Bagaimana sebuah perbedaan bukanlah menjadi penghambat untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam masyarakat tradisional bangsa kita. Perbedaan justru dirasakan sebagai salah satu unsur keindahan sebagaimana indahnya warna-warni pelangi yang menghiasi langit mendung.

Namun demikian, menyikapi kedukaan kita di tengah-tengah suasana memperingati peristiwa G 30 S di bulan September ini, ada baiknya kita berterimakasih kepada seniman-seniman pencinta keceriaan Indonesia yang dengan tegar telah mempersembahkan sebuah lagu bagi tanah air kita. Sebuah lagu berjudul SEPTEMBER CERIA yang dilantunkan dengan indah oleh mba Vina Pandu Winata.

 duka-september (5)

Image 05 : Vina Pandu Winata

Lalu, Bung Karno yang bukan saja pencinta seni tapi juga seorang motivator ulung bagi bangsanya, dengan lantang selalu berujar, “TETAPLAH BERSEMANGAT ELANG RAJAWALI” kepada generasi-generasi penerus bangsa ini. Generasi yang akan memastikan tercapainya cita-cita para pendiri Bangsa Indonesia. Semoga…

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Duka September Ceria"

  1. djasMerahputih  13 October, 2013 at 20:02

    20: sangat setuju bang Martinus.. bung Karno memang negarawan sejati.
    yang kita butuh para negarawan dalam dunia politik, bukan sekedar politikus dalam negara..

    Salam hormat..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.