Satu Rahim, Tiga Cinta (2)

Endah Raharjo

 

Kecupan lembut di pelipis kiriku membangunkanku. Dari wangi tubuhnya aku tahu siapa yang telah datang dari Semarang ke rumah sakit ini.

“Nishi …,” bisikku, mengelus lengannya yang melingkari leherku. “Kamu sendirian?” Kujulurkan kakiku, kuluruskan tubuhku. Sofa di kamar VIP ini cukup nyaman untuk merebahkan badan. Aku bisa tertidur beberapa jam.

“Diantar Bryan.” Nishiko, anakku dari suami ketiga, menyebut nama pacarnya. “Dia lagi di rumah waktu Mama telepon.”

Hi, Erlin. I’m sorry about Ray,” ujar lelaki Australia itu, menatapku dengan mata abu-abunya yang beriris gelap. Ia biasa memanggil namaku, laiknya teman sebaya. “I hope she’ll be fine.” Ia mendekatkan kursi ke sofa. Nishiko menggelesot di sampingku.

Thanks. She’ll be fine,” gumamku, “sudah jam empat. Kalian tidak ngantuk?”

Bryan dan Nishiko menggeleng bersamaan.

Cinta Rumit

“Bagaimana ceritanya? Apa kata dokter?” tanya Nishiko, lengannya kembali ia lingkarkan ke pundakku. Anak bungsuku ini lembut hati, suka menolong, dan sebebas burung. Aku dan Abraham, suamiku yang ketiga, memberinya nama Jepang untuk mengenang pertemuan kami di Kyoto, di musim semi 1987.

“Ray hanya butuh istirahat. Kata dokter obat batuk itu berisi CTM dan efedrin. Dia muda dan sehat. Obat itu cuma membuatnya pingsan. Saat ini kondisinya stabil.”

Mata bulat Nishiko menatap Raysa. “Dia tidur pules kayak bayi,” bisiknya, seolah benar-benar ada bayi terlelap di hadapannya. “Apa Fer akan pulang?” Ada keraguan dalam suara Nishiko. Ia tahu sejak awal Ferina tak suka cara Raysa menyerahkan seluruh cintanya pada Aryo.

“Ya. Hari ini, dengan pesawat paling pagi,” jawabku.

Kami bertiga memandang sosok Raysa yang membujur tenang di tempat tidur. Seorang perawat baik hati mengepang rambut panjangnya agar tidak meriap ke mana-mana. Raysa sejak kecil rapuh, namun aku sama sekali tidak mengira ia akan berusaha bunuh diri. Aku merasa telah mengajarinya bersikap lentur dalam menjalani hidup. Supaya tidak mudah patah bila ada tekanan. Mungkin dia sudah berusaha. Tak seharusnya aku meragukan anakku. Terlebih saat ini, saat dia butuh dukunganku.

Dokter mengatakan kalau Raysa kemungkinan hanya mencari perhatian saja. Ia yakin Raysa tahu kalau sebotol obat batuk 110 ml tidak akan fatal bagi tubuh sehatnya. Namun dokter itu tidak mau meremehkan, ia merujuk psikiater bila aku ingin berkonsultasi.

“Untung Mbak Dita langsung datang. Kalau tidak, musibah ini bisa jadi urusan polisi,” bisikku, meremas tangan Nishiko. Dita adalah kakak sepupuku, dokter spesialis kulit yang berdinas di rumah sakit swasta ini. “Mama sama sekali tidak mengira ….” Tiba-tiba aku terisak.

Aku lupa terakhir kali merasa sedih hingga menangis begini. Aku jarang menengok – apalagi menangisi – masa lalu. Namun kali ini beda, masa laluku itu menghalangi masa depan anakku.

Nishiko mempererat pelukannya di pundakku. Bryan beranjak dari kursi, meninggalkan kamar, katanya akan membeli minuman panas. Di lobi rumah sakit ini ada kedai kopi, bakery, dan convenience store. Nishiko minta dibelikan latte untuknya dan coklat panas untukku.

“Ray cerita apa aja, Ma?”

“Tidak banyak. Tapi itu udah cukup. Sejak pulang dia tidur melulu. Kamu tahu, Ray selalu nyimpan sendiri kesedihannya. Mama nggak mau maksa. Mama bersyukur dia pulang.”

“Aku kira Aryo udah lama ngenalin Ray ke keluarganya. Dia udah akrab dengan kita. Udah dua kali Lebaran ikut pertemuan keluarga,” gumam Nishiko.

“Mama juga ngira begitu.”

“Mama udah telepon Aryo?”

Aku menggeleng. “Untuk apa? Yang dia lakukan pada Ray sudah cukup. Mama nggak mau menjelaskan masa lalu Mama pada orang yang secara sepihak menilainya buruk dan melemparkan keburukan itu pada anak Mama. Ray layak mendapatkan suami yang bisa menghargainya seperti apa adanya. Mama yakin lelaki seperti itu ada.”

“Mama udah menghubungi Papa Toro?” Tangan Nishiko mengelus-elus lenganku.

Aku kembali menggeleng. “Mama nggak mau bikin istrinya marah. Ini masih terlalu pagi. Nanti aja.”

Aku mungkin tidak pandai merawat pernikahanku, namun aku bisa basa-basi, tahu cara bersikap terhadap bekas suamiku agar pernikahannya tidak terganggu gara-gara masalah yang sebenarnya bisa kuatasi sendiri.

“Apa aku aja yang nelpon nanti siang kalau Mama malas ngomong sama Papa Toro?”

“Ah .… kamu memang anak Mama paling manis,” kukecup pipinya. “Kamu langsung datang ke sini. Apa kamu sedang senggang?”

Setahun ini Nishiko bekerja sebagai florist di sebuah event organizer ternama yang berpusat di Jakarta. Ia ditempatkan di cabang Semarang. Pelanggannya hotel-hotel, kantor-kantor, perusahaan-perusahaan besar, serta keluarga-keluarga kaya yang menggelar pesta dan hajatan.

Ia bertemu Bryan saat menghias ruang pameran untuk perusahaan perabotan jati milik si bule. Bryan langsung kepincut pada perempuan muda yang mahir merangkai janur dan pernah belajar seni ikebana di Tokyo itu.

Gadisku yang satu ini benar-benar menjalani prinsip ‘kemarin sudah lewat, esok tak akan tiba, hari ini harus dinikmati’. Aku kagum akan sikap batinnya itu. Mungkin saja orang menilainya egois. Atau liar. Namun bagiku, di jaman yang semua melesat nyaris tanpa bayangan ini, sikap batin semacam itu merupakan strategi cerdas agar tak terombang-ambing arus perubahan yang tak kenal ampun.

Meskipun ayah mereka berbeda, Ferina selalu kukenalkan sebagai si sulung, Raysa anak kedua, dan Nishiko anak bungsu. Ketiganya mewarisi wajah ayah mereka. Kecuali Raysa, dua anakku mewarisi kegigihanku.

Kelemahan terbesarku adalah tidak sabar mengurusi hal-hal kecil seperti yang dimaui Mas Toro. Aku juga sangat menyintai pekerjaanku, bisa jadi pekerjaanku adalah cinta sejatiku; dan itu dilihat sebagai kelemahan oleh tiga bekas suamiku. Mereka memilih untuk mempersoalkan kelemahanku dan bukan menghargai kelebihanku; kupikir itu bukan salahku.

Serupa pedang, aku lama dibakar di atas nyala bara, ditempa kuat dan keras, digosok sampai berkilat, dan diasah hingga tajam. Aku layak disandang lelaki yang kuat mentalnya, yang tak menuntut selalu dilayani dan disenangkan hatinya dengan mengatasnamakan cinta, hormat, dan bakti.

“Coklat, Ma.” Nishiko menyurai lamunanku. Di tangan kanannya ada gelas kertas dilapisi karton pelindung panas. Hati-hati kuterima gelas itu. Pelan-pelan kubuka tutup plastiknya. Aroma dan uapnya menyerbu hidungku.

“Thanks,” kataku, menatap wajah Bryan yang tak tampak lelah sehabis menyetir menembus dini hari.

Ia mengangguk sambil tersenyum. Nishiko memuja lelaki bercambang dan beralis tebal kelahiran Kanada yang besar di Melbourne itu.

“Kami bisa menjaga Ray kalau kamu mau istirahat,” ujar Bryan sembari duduk. Selain sofa yang cukup besar untuk tidur, kamar VIP ini dilengkapi dua buah kursi berbantalan empuk dan satu meja.

“Iya. Mama bisa pulang duluan. Nanti gantian. Bang Daud nunggu di luar kan?” Tubuh mungil Nishiko kembali menggelesot di sofa.

“Oke. Mama mau ngurus beberapa hal. Siang ini mestinya Mama menemui klien di Jakarta. Kalau kalian capek, pulang aja. Di kamar VIP perawatnya baik-baik. Mereka juga tahu Mbak Dita keluarga kita, Ray nggak bakal dicuekin. Sekitar jam 10 nanti Mama ke sini lagi.”

Nishiko membantu memberesi barang-barangku, berpesan agar aku tak perlu merisaukan Raysa. Katanya semua pasti akan baik-baik saja. Aku menahan tawa. Si bungsu itu kerap berlagak seperti seorang ibu padaku.

“Mama pulang dulu, Ray. Kamu ditungguin Nishi dan Bryan. Jangan bikin ulah di sini, ntar ditangkap polisi,” candaku. Kukecup pipinya, kubelai rambut kepangnya, dan kubenahi selimutnya yang baik-baik saja.

Sambil menutup pintu kamar muncul rasa tak nyaman, semacam sesal. Perempuan muda yang terlelap oleh obat penenang itu buah rahimku. Ia mencoba mengakhiri hidupnya gara-gara orang tua pacarnya tak rela besanan dengan janda cerai tiga kali. Anakku dihukum karena kelemahanku. Kerja kerasku sendirian, bertahun-tahun, menjaga dan mendidik mereka hingga mandiri, tak ditoleh mata.

Udara di sekelilingku tiba-tiba memekat, bernapas jadi terasa berat. Cepat-cepat kududukkan tubuhku di kursi yang berjajar di sisi koridor, menghadap taman.

“Ibu kenapa?” Bang Daud tahu-tahu berdiri di dekatku. “Saya tunggu di pintu depan kok Ibu nggak muncul-muncul. Saya susul ….”

“Nggak apa-apa, Bang. Cuma capek.”

“Bener, Bu? Apa perlu saya panggilkan ….”

“Nggak usah,” potongku. “Ini. Tolong bawakan.” Kuasongkan tasku. Lelaki gundul asal Tasikmalaya itu menerima tasku sambil membantuku berdiri. Matanya menelitiku. Wajar kalau dia khawatir. Selama 17 tahun menjadi supirku baru kali ini dia melihatku lunglai.

“Darmi bisa kusuruh ke sini kalau Ibu mau. Biar dia yang jaga Mbak Ray.” Ia menyebut nama istrinya. Sesekali Darmi kuminta membantu ini-itu kalau kami sedang banyak pekerjaan.

“Boleh. Tapi sekarang ada Nishi dan Bryan. Nanti agak siangan.”

“Baik, Bu.”

Bang Daud langsung menelepon istrinya. Berbisik-bisik ia meminta ibu dua anak itu datang ke rumah sakit begitu anak-anaknya berangkat sekolah.

Jarum pendek pada arlojiku menunjuk angka 6. Pengunjung belum banyak, hanya beberapa, mungkin hendak bertukar giliran menjaga si sakit. Para perawat berseliweran. Sebagian berwajah kuyu, bersiap-siap pulang setelah bertugas semalaman. Sebagian baru datang untuk dinas pagi, dengan muka berseri-seri.

 

*****

 

9 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (2)"

  1. Endah Raharjo  2 October, 2013 at 10:58

    @ Chandra dan Aji: gak usah ditungguin, gak bakal ada semriwingnyaaaaa… adanya semrowong

    @ Mawar: okeeee… ntar 3 hari lagi ya, atau terserah Pak Juragan aja

  2. Mawar09  1 October, 2013 at 23:25

    Endah : ngga sabar menunggu lanjutannya. Salam!

  3. J C  1 October, 2013 at 22:39

    Semakin rumit dan berkelindan ini sepertinya…sangat menarik disimak (walaupun minus kesemriwingan yang diharapkan Kang Anoew )

  4. Chandra Sasadara  1 October, 2013 at 20:55

    menunggu antrian belakang Kang Anoew.. menunggu bagian semriwing

  5. Endah Raharjo  1 October, 2013 at 19:40

    @Linda: tunggu lanjutannya, ya. Moga2 gak bosen duluan bacanya

  6. Linda Cheang  1 October, 2013 at 16:56

    terus Ray gi mana?

  7. Endah Raharjo  1 October, 2013 at 13:56

    @ Kang Anoew: iki ra nganggo semriwing… agak pedes2 pahit… piye?

    @ DjasMerah: waaaah… ayu lho kata dalangnya, siapa mau duluan

  8. djasMerahputih  1 October, 2013 at 13:01

    “………… Ray layak mendapatkan suami yang bisa menghargainya seperti apa adanya. Mama yakin lelaki seperti itu ada.”

    Setuju bunda ERLIN….. ( hayoo… siapa yang mau ngacungg….?? )

    Lanjuuutt….!!

  9. anoew  1 October, 2013 at 11:19

    belum ke bagian semriwing

    *sabar menanti*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.