Legenda Pulau Giliraja (2)

Faiz Hasiroto

 

Artikel sebelumnya: http://baltyra.com/2013/09/24/legenda-pulau-giliraja-1/

 

Sesaat setelah menoleh ke arah Raden Ahmad yang ada di belakangnya, Bu Adjah terlihat melangkah kesalah-satu sisi dinding gua, kemudian pada permukaan dinding yang terlihat lebih rata, telunjuk Bu Adjah bergerak seperti sedang menulis sebuah aksara, segores cahaya serta-merta mengikuti gerakan telunjuknya, dan tiba-tiba…  dinding gua yang baru saja disentuhnya itu bergetar, kemudian tergeser perlahan menampakan sebuah lorong.

“Pada setiap penjuru dinding di ruangan ini ada lorong yang sama, namun menuju ke sebuah tempat yang berbeda,” jelas Bu Adjah sambil membalikan badan ke arah Raden Ahmad berdiri. “Dan lorong gua yang saat ini terbuka, adalah lorong yang harus kamu tempuh sekarang.

Lorong ini menuju ke wilayah Kerajaan Blambangan, berjalanlah kamu ke sana, karena ada yang harus kamu ketahui,” lanjut Bu Adjah mengarahkan perjalanan Raden Ahmad berikutnya.

Sejurus kemudian Raden Ahmad memandangi wajah gurunya yang mengagumkan itu, demikian pula dengan Bu Adjah, dia menatap sosok muridnya yang nampak gagah perkasa serta tampan dengan kumis tipisnya yang sudah terlihat melintang.

“Engkau sekarang benar-benar terlihat siap menghadapi taqdir yang membentang di depanmu, anakku..” Kira-kira begitulah yang ada dalam benak Bu Adjah saat airmatanya berderai haru. Lalu kedua sosok guru dan murid itu saling berpelukan, erat dan hikmat. Sebelum akhirnya Raden Ahmad melangkah dengan tegar, meninggalkan Bu Adjah yang terlihat masih berdiri di ambang lorong gua.

 

Sudah berbulan-bulan Raden Ahmad berada di bumi Tawang Alun, namun sepertinya dia belum menemukan apa yang sesungguhnya menjadi tujuan perjalanannya,”hanya inikah yang Guru maksud untuk aku ketahui di Kerajaan Blambangan: Hanya untuk menyaksikan sebuah wilayah kerajaan yang berantakan akibat perang sodara dan perang penaklukan Blambangan oleh Kerajaan Buleleng…? Kalau cuma untuk ini, rasanya sudah waktunya aku meninggalkan Blambangan.” Gumam Sang Pangeran, sambil membersihkan sisa air dimulutnya, sehabis minum di tepi telaga.

Di saat itu pula Raden Ahmad yang sudah berniat kembali ke negerinya (Soengenep), melalaikan pesan Sang Guru untuk tidak mandi di “air yang bening tak mengalir.”

Akibatnya, Raden Ahmad langsung berubah wujud menjadi seekor Lutung Putih.

 

Dalam perjalanan sebagai Lutung, Raden Ahmad bertemu dengan seorang Putri keturunan Prabu Tawang Alun dengan Permaisurinya yang bernama Masayu Dewi Sumekar.

Dengan kecerdikan si Lutung dalam sebuah peristiwa di telaga… Akhirnya Sang Putri rela, Lutung yang bisa bicara seperti manusia itu turut serta ke Purinya. Namun “kelebihan” Lutung Putih itu tak diutarakan kepada Ibu Suri oleh sang Putri, mengingat hal itu termasuk isi perjanjian kepada jelmaan Raden Ahmad tersebut. Sehingga Ibu Suri yang hanya tinggal dengan Putrinya itu, tahu bahwa Lutung yang ada dipurinya hanyalah binatang lucu dan unik saja.

 

Kehidupan sebagai Lutung yang tadinya sangat disesali, karena di antaranya tidak dapat sebanding mengutarakan perasaan kepada seorang Putri yang dicintainya, Raden Ahmad kini mulai merasakan sisi untungnya: Dengan menjadi makhluk sebagai Lutung, Raden Ahmad lebih mudah mendapatkan informasi apapun yang berkenaan dengan Kerajaan Blambangan dan Mengwi. Ia dapat menyelinap kedalam Pusat Kerajaan yang kini telah berada di bawah kendali Kerajaan Mengwi itu dengan lebih mudah.

Ia pun tahu bahwa perang sodara yang berkepanjangan itu tidak saja menghancurkan Istana dan tempat-tempat penting di Kerajaan Belambangan, tapi lebih dari itu Pewaris-Pewaris sah Prabu Tawang Alun pun nyaris musnah, terbunuh saat pemberontakan demi pemberontakan terjadi. Sekalipun masih tersisa seorang Putra, tapi keberadaannya tidak diketahui, yang ada hanya dugaan Ia bersembunyi di sebuah hutan.

 

Setidaknya itulah kegelisahan dan kesedihan yang di rasakan  Ibu Suri Dewi Sumekar sejak di tinggal semua Putra-Putranya serta Suami tercintanya. Dan kehadiran Lutung Putih bawaan Putri satu-satunya itu, membuat Ibu Suri sering menemukan senyumnya melihat ulah mahluk berbulu putih yang terkadang sangat lucu dan menggemaskan. Di samping itu si Lutung juga rajin membawakan oleh-oleh berupa buah-buahan segar kepada janda Prabu Tawang Alun dan Putrinya setiap kali si Lutung pulang dari tiba-tiba perginya.

Blambangan yang saat itu di bawah pimpinan Raja bernama Danuningrat, adalah “Boneka” Kerajaan Mengwi.

Di bawah kendali Raja Cokorda yang ambisius, Blambangan terus di sibukkan dengan perang-perang penaklukan Mengwi berikutnya, atas kerajaan-kerajaan tetangga Blambangan.

Di sini pulalah kemudian petualangan Raden Ahmad sebagai Lutung berakhir.

Ia dikejutkan oleh “berita paling penting,” yakni rencana Mengwi menyerang dan menguasai Soengenep dalam waktu dekat. Saking kagetnya mendengar berita tersebut, ia sampai hilang keseimbangan dan terjatuh dari atas pohon di samping Balairung keraton blambangan, tempatnya bersembunyi. Hal ini membuat kaget para petinggi-petinggi kerajaan Mengwi dan Blambangan yang sedang bersidang. Bahkan salah-satu Patih Kerajaan Mengwi langsung menghunuskan senjata, lalu berseru, “tangkap lutung itu, dia bukan lutung biasa..!” perintah sang Patih kepada para Prajurit yang ada di sekitar Keraton. Puluhan Prajurit serentak bergerak  mengepung tempat Lutung Putih terjatuh, namun Lutung dengan cepat sudah kembali di atas pohon. Sebatang tombak melesat ke arah dahan dimana Lutung berayun…Sreeet…! Lutung tangkas melompat ke atap Pendopo dan lolos dari terjangan matatombak seorang Prajurit.

Belasan prajurit dari segala penjuru Pendopo sigap mempersiapkan busurnya demi melumpuhkan Lutung “penguping” yang berkelit lihai itu.

Di saat terdesak itulah Lutung Putih nampak mengendap dan merogoh helai-helai bulu pemberian sang guru (Bu Adjah) dari balik pakaiannya. Sehelai pun dinyalakan… Tak lama tubuh  Lutung seperti tersentak, kemudian melambung ke udara. Mantra pun di ucapkan dengan gema suara yang tiba-tiba membuat bergetar hingga gerbang istana :

“Gung bu’ adjeh…

pangaporah…pangaporah..

Ampon deteng mon potranah

Madde embhen bu’ adjenah..

Embenannah jenjhi lanjheng

Dungkodungah candhi kembheng…”

Demikian isi Mantra dalam tembang yang di ucapkan Raden Ahmad setiap kali menyalakan helai.

Tubuh Raden Ahmad yang berwujud Lutung itu pun melesat ke langit jauh, menembus angin, membelah awan.

 

Di dalam keheningan awang-awung, terbayang oleh Raden Ahmad luluh-lantak Negerinya bila saat penyerangan Mengwi dan Blambangan kelak benar-benar terbukti. Karena Ia tahu betul seperti apa Armada Perang Kerajaan Mengwi, apalagi ditambah dengan pasukan Blambangan yang terlatih oleh perang panjang. Dan konon Raja Mengwi pun mempunyai kendaraan-perang pribadi berupa burung raksasa, yang suaranya bisa meretakan dinding sebuah istana.

Terhitung akan mudah menaklukan Kerajaan Soengenep yang boleh dibilang pasukannya tak sampai separuh pasukan sekutu Mengwi…

Terkenang pula oleh Raden Ahmad raut jelita Putri Blambangan yang telah menumbuhkan benih cintanya selama ini. Serta teringat juga penderitaan panjang Ibu Suri Dewi Sumekar yang terbuang oleh serakahnya kekuasaan. Sulit tersembuhkan oleh kemegahan apa pun luka yang meradang di hati seorang Ibu yang putra-putranya terbunuh begitu saja oleh Semu sebuah Tahta. Sesuka apa pun Ibu Suri terhadap kelucuan dan keunikan Lutung sahabat Putrinya, semua itu tetap bernama “terhibur” bukan “terobati.” Begitulah Raden Ahmad menyimpulkan dan menimbang “kemaren dan esok” dalam hidupnya, hingga airmatanya pun menetes tanpa terasa.

Kemudian Raden Ahmad yang masih berada di ketinggian angkasa, buru-buru mengucapkan Mantranya kembali setelah menyalakan helai pemberian gurunya yang terakhir. Tak lama setelah matra tersebut di ucapkan untuk yang kesekian kali, tiba-tiba terdengar gema suara yang menguap tajam dari titik suatu tempat di bumi. Suara tersebut seperti sebuah balasan atas mantra yang telah di ucapkan Raden Ahmad:

“Aduh engghi, aduh engghi…

Ampon deteng anak buleh

Anak settong kabbi’ennah

Tak ekende’ih rama-ebunah.

Maddhe embhen bu’ adjenah…

Embhenannah jenjhi lanjheng

Dungkodungah candhi kembheng.”

 

Menukiklah tubuh Lutung Putih dengan deras ke bumi, ke arah dimana suara itu berasal. Dan pada kedua lengan Bu Adjah yang terjulur ke depan, tubuh Lutung itu tepat mendarat dalam timang. Lalu dipeluklah dengan penuh haru  tubuh mungil muridnya itu, sambil lalu menuju ke suatu tempat, dimana Bu Adjah langsung memandikan muridnya itu dengan air keruh, lebih keruh dari air bekas cucian beras (aeng lerreh).

Dan …sreng sreeeng…Raden Ahmad pun kembali ke wujud manusia seperti sediakala.

 

Keesokan harinya, Raden Ahmad terlihat serius menceritakan prihal perjalanannya ke Blambangan…

Kepada guru dan rekan-rekannya Raden Ahmad juga membeberkan rencana penyerangan Mengwi beserta sekutunya.

“Perang memang sudah tak terhindarkan lagi, ini bagian dari perjalanan sebuah kerajaan bernama Soengenep, dan kita ada didalamnya,” sambung Bu Adjah menanggapi cerita murid kesayangannya.

“Berita ini juga harus segera disampaikan kepada Penguasa Kerajaan Soengenep, biar mereka segera mempersiapkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi ancaman ini,” lanjut Sang Guru, di susul dengan perintah kepada murid-muridnya untuk kembali berlatih dan memperdalam ilmu kanuragannya.

 

Hari yang genting akhirnya datang… Strategi yang di usulkan Bu Adjah kepada Rajanya pun sudah dilaksanakan, yakni: “Menempatkan semua Armada Perang Soengenep di wilayah perairan Besuki (Situbondo-JawaTimur) dan membiarkan Soengenep kosong dari Balatentaranya.

Lalu selanjutnya, apabila pasukan Mengwi dan sekutunya telah bergerak meninggalkan Pelabuhan Blambangan, dan kira-kira telah mencapai separuh perjalanan menuju Soengenep, maka bergerak pula lah Pasukan Soengenep dari Besuki menuju Blambangan dengan menempuh jalur darat dan laut. Sepanjang pantai Besuki hingga Blambangan harus sudah diduduki oleh Pasukan Soengenep sebelum melihat awan hitam-pekat membubung di tengah Selat Madura.”

 

Sementara di waktu yang bersamaan pula Bu Adjah sudah menempatkan murid-muridnya di setiap alas-pulau yang membentang sepanjang wilayah selatan hingga timur perairan Kerajaan Soengenep. Murid-murid tersebut siap melaksanakan strategi yang Bu Adjah dan Rajanya rancang.

 

Begitu setiap Pasukan sudah siap dengan setrategi perangnya masing-masing, Bu Adjah terlihat berbincang dan menyerahkan sesuatu kepada Raden Ahmad: “Pangeran… Sekarang sudah saatnya aku memimjamkan ini padamu,” sambil Bu Adjah menyodorkan tali kekang dan seekor kuda kepada Raden Ahmad : Seekor kuda jantan berbulu cokelat kehitaman dan mempunyai sepasang sayap.

Selanjutnya nampak pula Bu Adjah menyerahkan sebuah cemeti yang diambil dari balik jubah putihnya.

“Semua ini adalah titipan dari para Leluhurmu, untuk di pergunakan pada saat-saat seperti ini (perang),” tambah Bu Adjah memberi keterangan mengenai benda-benda Pusaka yang kini berada di tangan Raden Ahmad.

 

Sementara itu di ufuk timur, lamat-lamat sebuah bayangan besar melintang  menutupi cahaya matahari yang terbit perlahan. Semakin lama semakin dekat, semakin jelas pula bahwa itu adalah Armada Besar Pasukan Musuh yang telah datang untuk menaklukkan Kerajaan Soengenep. Dengan begitu sebuah alas-pulau paling timur mulai dibakar oleh murid-murid Bu Adjah, di susul dengan pembumihangusan alas-pulau lainnya, hingga yang tersisa hanya Alas-Pulau yang didalamnya ada Raden Ahmad dan Gurunya.

Daratan kerajaan Soengenep mulai tampak merah membara, langit gelap seketika, halauan menjadi hilang tertutup asap tebal yang merajalela. Kekecauan pun terjadi di mana-mana, armada pasukan musuh satu-persatu kehilangan arah dan tersaruk satu sama lainnya… Tidak sedikit yang karam menghantam batu-karang pantai pulau. Di tengah hiruk-pikuk dan kepanikan pasukan musuh yang terjebak oleh sekapan asap tebal, murid-murid Bu Adjah berhamburan ke tepi pantai dan melesakkan panah berapi ke armada pasukan musuh yang mulai kehilangan halauan dan strategi perangnya. Sementara Sang Guru dengan segenap kekuatan mengerahkan ajian saktinya, yaitu “Ajian Pusar Angin”: Sebuah ilmu yang dapat mengarahkan angin ke seuatu titik tertentu.

 

Sebuah bayangan raksasa tiba-tiba muncul, dialah sosok Burung Armada Perkasa Raja Mengwi. Mencengangkan, karena bentangan sayapnya melampaui panjang Pulau tempat berdiam Raden Ahmad. Dengan sinar mata yang setajam pedang ia dapat membelah asap tebal, dan suaranya yang keras membisingkan, bergema ke seantero langit Selat Madura.

Pohon-pohon berguncang, daun-daun tersentak berguguran oleh angin yang ditimbulkan kepakan sayap Burung Raksasa itu.

Pada “saupan” Burung Raksasa yang paling rendah di atas langit pulau, Kuda Pusaka Raden Ahmad meringkik keras, dan lari kencang membawa Raden Ahmad yang gagah perkasa di punggungnya ke arah puncak bukit bagian selatan pulau.

Sambil terus berguncang di atas punggung kudanya yang berputar garang, Raden Ahmad mengacungkan Cemeti Saktinya ke udara, siap menyongsong serangan sambil berupaya mencapai posisi penyerangan yang akurat. Lalu…craaasss…sebuah lecutan cemeti yang mengeluarkan api mengenai kaki Burung Raksasa yang mencoba mencengkeram tubuh Raden Ahmad. Kaki Burung Raksasa itu pun patah terjuntai di udara.

Mendapati Burung tunggangannya cedera, Raja Mengwi  yang ada di punggungnya gusar dan secara membabi-buta melepaskan panah apinya bertubi-tubi kearah Raden Ahmad, membuat sang Kuda Pusaka meringkik kembali, kaki depannya terangkat mengeluarkan api. Di saat itu pula Kuda Pusaka itu melompat dan terbang tanpa diperintah. Melihat hal itu Burung Raksasa  semakin meradang ingin segera menghempaskan musuhnya ke bumi. Kejar-kejaran pun terjadi di atas langit  merah-padam karena berasap tebal.

Hingga sampai pada saat dimana kedua mahluk sakti itu saling berhadap-hadapan dari jauh, lalu tak lama serentak saling berpacu ke satu titik serangan, dan crasss…Raden Ahmad berhasil berkelit dari terjangan musuh sambil melepas lecutan cemetinya yang bersarang tepat di kepala hingga membelah tubuh Burung Raksasa itu. Bersamaan dengan lesatan cemeti yang menghujam, Panglima Sekutu itu melompat kelautan dan hilang tak muncul lagi. Lalu, bleummm… Kedua sayap dan badan Burung Raksasa yang terpisah itu pun terhempas kelaut dalam.

Namun diduga Raja Mengwi yang terjun kelautan itu tidak tewas, mengingat orang-orang Mengwi juga terkenal dengan ilmu “Mlampah Lebet Toya” atau Berjalan di Dalam Air.

 

Selanjutnya cemeti Raden Ahmad terus berdencar di udara menghantam kapal perang kerajaan Mengwi yang terkenal besar-besar dan tangguh.

Seiring dengan semakin kacaunya perairan Selat Madura, Armada Laut  Kerajaan Soengenep yang telah menguasai Blambangan pun mulai bergerak ke barat-laut, mengepung kekuatan Sekutu Mengwi dari arah-asal bala tentara musuh itu datang. Walau pun setengah-hari sempat ada perlawanan, tetapi bagi pasukan yang sudah kehilangan Panglima Besar perangnya, kekalahan menjadi masalah waktu saja. Karena Pasukan yang besar bukan Kekuatan yang besar lagi ketika komandonya sudah berdiri sendiri-sendiri.

Benar saja, pasukan musuh yang sudah kocar-kacir dan hilang percaya-diri itu, tak lama kemudian terlihat mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

Sorak-sorai Pasukan Kerajaan Soengenep pun membahana bagai menyapu gelapnya asap tebal yang sebagian masih menyelimuti cakrawala medan pertempuran.

Sambil mengepalkan tangan di depan dada, Raden Ahmad yang tetap di atas punggung kuda terbangnya, terlihat mengitari barisan kapal-perang pasukannya sambil mengembangkan senyum.

“Hidup Raden Ahmad, hidup Kerajaan Soengenep…”balas segenap Prajurit Kerajaan Soengenep dalam gegap-gempita kemenangan.

 

Berita kemenangan Kerajaan Soengenep dan keperkasaan Raden Ahmad dalam membela kerajaannya, tersebar luas hingga ke pelosok negeri tetangga.

Karena kesaktianya pula Raden Ahmad kemudian ada yang menyebut dengan panggilan  Pangeran Jimat.

 

Di saat Raden Ahmad bersinggasana sebagai raja, kekuasaan dan pengaruh kerajaan Soengenep meluas mulai dari Blambangan hingga Pasuruan.

Atas jasa Ibu Suri Masayu Dewi Sumekar pula lah Pengaruh itu di capai tanpa pertumpahan darah. Sehingga untuk mengenang jasa Ibu Suri Dewi Sumekar yang kelak menjadi mertuanya itu, Raden Ahmad pun mengabadikan nama “Sumekar” pada Lambang Keraton Soengenep yang berupa Kuda Terbang itu.

Dan di saat berkuasa itulah Raden Ahmad memerintahkan seorang Demang bernama Zainudin, untuk membangun Alas-Pulau yang telah menempanya.

Lalu beliau pun berpesan agar pulau itu di beri nama Giliraja:

“Gili” yang berarti Pulau, “Raja” yang berarti Penguasa sebuah wilayah Kerajaan.

 

Sekian

 

5 Comments to "Legenda Pulau Giliraja (2)"

  1. Dewi Aichi  4 October, 2013 at 09:08

    mas Faiz…ditunggu lho ya..legenda ini luar biasa menarik…sangat menarik.

  2. Faiz Hasiroto  4 October, 2013 at 08:44

    Mas Dj dana Mas JC, terimakasi atas perhatian dan tanggapannya. Sekali pun menurut saya dalam dramaturginya banyak kalimat-kalimat yang kurang bersahaja untuk langsung dicerna oleh pembaca. Disamping itu pula penempatan tanda baca pun banyak yang kurang pas ditempatkan.
    Sebenarnya cerita ini bermula atas permintaan seorang kawan di Jakarta untuk melengkapi antologi dongeng nusantaranya. Itu juga saya “tertawan” oleh deadlinenya. Jadi begitu selasai saya langsung kirim sekaligus menyerahkan pengeditannya kepada kawan saya tersebut.
    Lain hal lagi, bahwa cerita ini akan Baltyra-kan saya tidak menduga. Berawal dari teman perempuan saya yang ingin tahu cerita tersebut. Namun eh kok malah muncul di Baltyra.

    Bang Dj. Mengenai apa cerita diatas ada kelanjutannya dan sebagainya? Saya memang sedang memulai memasukkan kisah perang saudara tokoh Raden Ahmad dengan adipati Pamekasan dalam konteks perebutan Keris Sakti.
    Tetapi saya akan senang bila cerita tersebut nantinya bisa saya bikin dalam konteks dan judul yang lain. Bukan merupakan bagian dari Legenda Pulau Giliraja.
    Salam.

  3. Dj. 813  2 October, 2013 at 23:30

    Bung Faiz Hasiroto …
    Terimakaksih untuk ceritanya.
    Asyik membeca, apa setelah pulau tersebut sudah mendapat nama, maka ceritanya selesai…???
    Atau masih berlanjut, mungkin cerita anak-cucu Raden Achmad…???
    Salam,

  4. J C  2 October, 2013 at 21:04

    Asik bacanya, jadi ingat masa kecil ketika sering membaca cerita-cerita legenda sejenis ini…

  5. James  2 October, 2013 at 12:48

    SATOE, GiliRatu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.