Hamba Tuhan

Wendly Jebatu Marot

 

Pertemuan awal terjadi di terminal Bus tengah Kota Dingin itu. Kami bertemu begitu saja, tanpa ada rencana. Semua karena kebetulan. Dia datang dari mana dan hendak ke mana, aku tidak tahu. Perkenalan pun diawali dengan identitas anonim. Ya! Anonim. Kami berdiri begitu lama tanpa sepatah kata pun. Tapi tiba-tiba muncul niat  untuk membuka komunikasi.

Pak dari mana? Tanyaku sopan.

Aku bukan dari dunia ini! Jawabnya ketus.

Siapa namamu? Tanyaku lagi tanpa menghiraukan jawabannya.

Aku hamba Tuhan! katanya dengan sedikit tak melihat ke arahku. Mungkin karena penampilanku sangat acak dengan rambut panjang tak terawat dipadu jenggot yang tumbuh tak beraturan. Seram!

Hamba Tuhan! Abstrak sekali! Gerutuku.

Apa katamu? Abstrak? Tanyannya dengan nada meninggi.

Aku mengangguk sambil tersenyum sinis. Mungkin dengan mudah dia menilaiku angkuh.

Biarkan saja. Saya hanya mau menunjukkan senioritasku di tempat ini. Tempat mangkalku saban hari. Aku juga mau tunjukkan kalau aku juga bisa angkuh. Lagi pula, tadikan aku sudah tunjukan kemurahan hati tapi dia menanggapinya dengan jawaban yang yang tak menarik.

Hamba Tuhan! Gumamku lagi sambil berpaling ke tempat lain. Pasang tampang cuek dan angkuh dengannya. Entahkah dia ini mengerti apa yang aku tanyakan? Ataukah dia tak bisa membedakan nama dan pekerjaan atau status? Entahlah aku tak tahu. Dan aku tidak mau tahu. Lalu aku diam karena aku berpikir, usahaku untuk ramah dengan orang hari ini sia-sia.

Lalu dia menyentuh tanganku. Aku berpaling dengan muka masam.

Maaf, aku ingin tahu aja; mengapa kamu bilang abstrak? Tanyanya tak puas.

Ya! bagiku jawabanmu terlalu abstrak! Aku tak mengerti apa yang kamu maksudkan bukan dari dunia ini. Aku juga tak mengerti apa yang kamu maksudkan Hamba Tuhan.

Hahahaha! Dia tertawa sambil menggoncangkan badannya yang gembrot seolah aku begitu tolol di hadapannya.

Dasar tolol! Gerutuku dengan kata tak terucap.

Lalu kamu? Dia balik bertanya tanpa berusaha menjelaskan maksud jawabannya.

Aku? Bisa jadi sama dengan kamu! Tapi bisa juga bertentangan dengan kamu. Jawabku diplomatis.

Maksudanya?

Ya! maksudku jelas kan? Aku bisa saja Hamba Tuhan tapi juga hamba manusia atau hamba dunia bahkan mungkin hamba setan! Yang jelas aku berasal dari dunia ini!

Maksudmu? Tanyanya seolah tak puas.

Sebaliknya, aku merasa puas karena telah membuatnya penasaran.

Rasa lu! Kataku dalam hati.

Tergantung you menilaiku! Siapa saja bisa menyebut diri hamba Tuhan! Para petinggi yang hidupnya tak karuan dan kebanyakan omong kosong itu juga bisa menyebut diri Hamba Tuhan! Mereka melayani manusia;  manusia yang menurut orang beragama sebagai Citra Tuhan! Jadi jelas, melayani manusia berarti melayani Tuhan!

Lalu kamu? Kamu politisi?

Aku? Tantangku sambil menunjuk dada dengan mata melotot.

Yang jelas bahwa aku bukan Politisi! Tapi entah aku ini Hamba Tuhan atau tidak tergantung orang menilainya! Tiap hari aku di sini! Kerjaku menemani mereka yang terlupakan! Menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang terabaikan! Kadang aku menyiapkan minuman pemuas dahaga mereka yang dicap tak bermoral dan liar!

Minuman terlarang itu maksudnya? Tanyanya lagi.

Hahahaha… Sekarang giliranku yang terbahak-bahak. Terlarang menurut siapa dulu? Menurut orang saleh atau mengaku saleh sepertimu mungkin terlarang! Tapi menurut orang di terminal ini, itu minuman untuk mendatangkan kebahagiaan! Mereka melupakan penderitaan dan tantangan hidupnya  di dunia  ini! Bagiku, mereka didengarkan dan diperhatikan, itu sudah cukup! Mereka senang, aku pun senang! Mereka bahagia, aku juga bahagia!

Itu yang menurutmu melayani Tuhan? tanyanya dengan angkuh.

Tergantung engkau menilainya! Aku tak mengatakan seperti itu! Yang jelas, aku menjadikan mereka dihargai dan didengarkan! Tak peduli apa kata orang! Bahkan jika orang menilaiku Hamba Setan!

Dan supaya kamu tahu juga. Kalau kamu menyebut diri hamba Tuhan, mungkin kita sama! Karena uang hasil bisnis minuman pemuas dahaga mereka, aku sisihkan untuk Tuhan yang aku berikan lewat Agama! Jadi kita sama! Cuma mungkin kamu menilainya dari sisi negatifnya saja!

Dia hening. Dia manggut-manggut sambil tangan satu terlipat di dada dan tangan sebelah menutup mulut.

Celaka dua belas! Benar juga katamu! Tapi terlalu dangkal! Gerutunya.

Dangkal katamu! Aku menantangnya. Apakah itu tidak lebih baik dari pada menyebut diri Hamba Tuhan tapi tak jelas apa kerjamu! Sambungku lagi.

Wow.. luar biasa! Katanya.

Tapi aku takan menceriterakan kepadamu apa yang aku lakukan. Yang jelas aku bukan melakukan kerjaan dangkal kayak kamu!

Up to you! Katakan saja semaumu! Kataku ketus dengan senyum ketus.

O ya! nanti aku ceriterakan padamu tentang kerjaku, tapi bukan di sini!

Kenapa tak boleh di sini? Tanyaku.

Tak pantas saja! Ini bukan tempat yang pas untuk menyampaikannya karena terlalu kacau! Jawabnya.

Mmmmm….. Dulu, kala aku kecil, mamaku bilang bahwa Tuhan ada di mana-mana! Kataku.

Mama kamu benar! Jawabnya.

Lalu guru agamaku bilang bahwa semua tempat itu suci, karena Tuhan menciptakannya dan Tuhan juga ada di situ! Kataku lagi.

Gurumu benar juga! Jawabnya ketus.

Tapi aneh, Orang yang mengaku hamba Tuhan justru membalikkan semuanya! Kau justru menilai tempat ini tempat tak terhormat! Mana yang benar?

Hamba Tuhan tersenyum.

Yang kamu katakan itu benar! Katanya. Tapi tentang kerjaku, tak pantas aku ceriterakan di sini! Karena kerjaku bukan pada tempat seperti ini! Jelasnya lagi.

Itu juga bisa berarti bahwa Tuhan yang adalah Bosmu itu tidak ada di sini kan? Tantangku.

Dia berpaling dan pergi dengan muka masam. Tapi baru beberapa langkah, dia berpaling dan menanyakan no HPku. Lalu aku berikan.

Nanti sebentar malam aku akan menelponmu! Kita bertemu di tempat kerjaku! Katanya sambil berlalu dan pergi.

Aku menatapnya dari belakang.

Manusia Aneh! Hamba Tuhan aneh! Gerutuku sambil duduk.

Sebut diri hamba Tuhan, tapi menghina tempat kerjaku dan menghina orang-orangku! Apa dia tidak tahu kalau orang-orang yang aku layani juga adalah ciptaan Bosnya yang menyandang status citra Allah?

Dia pun menghilang bersama perginya sebuah mini bus berwarna Pink dengan tulisan di kaca depan berbunyi: Soli Deo.

Tiba-tiba sekelompok pemuda amburadul datang dengan penampilan ngetrend a la terminal. “rambut gimbal acak tak terurus, telinga beranting tapi tak lengkap; lengan terbuka dengan tato perpaduan warna hijau dan merah, perpaduan gambar Salib, kala jengking dan belulang silang. Di bawahnya tertulis: Danger! Pakaian umumnya merupakan perpaduan antara jeans kusam terobek dengan singlet hitam seragam dengan tulisan di dada: God Bless You! Enjoy Your Life! No Fear!

Bos ada minuman ko? Tanya mereka serempak!

Lalu kutunjukkan sebotol arak.

Tapi bos, kami tidak ada uang! Kata seorang yang berjenggot tak terurus.

Tak apa! Yang penting, ingat aturan kita! Boleh minum tapi jangan bikin kacau di sini. Abis minum, pulang dan lanjutkan kerjamu dengan tenang. Kalau mabuk, tidur! Ok?

Baik bos! Terima kasih! Kata mereka sambil berlalu.

Sama-sama bro! jawabku ramah. Sebotol arak pun berlalu.

Seharusnya, Hamba Tuhan tahu bahwa kami yang bekerja di sini juga punya tata krama! Punya etika seperti dia! Tapi sayang, dia sudah keburu pergi tak tahu ke mana.

Senja hari pas mentari bertengger dan terbelah di puncak tepi barat Kota Dingin itu, aku tinggalkan tempat mangkalku yang baru aku akrapi selama beberapa bulan ini. Langit jingga dengan cahaya remang-remang menerobos mengantarku pulang rumah kontrakku. Di depan rumah, Amaro, anjing kelam kesayanganku sudah menyambut dengan gonggongan manjanya.

Di kamar, ditemani Amaro, aku menulis catatan harianku ini. Pukul 19.30 catatan harianku selelsai ditulis. Lalu aku mulai facebookan ria. Sebagai status, aku tulis di wall pribadiku dengan sebuah pertanyaan: Siapakah hamba Tuhan?

Tiba-tiba dibawahnya muncul sebuah komentar yang berbunyi: No Comment!

HP bergetar, sebuah pesan singkat masuk.

“Kita bertemu di Gereja Tua, di sudut Kota malam ini juga! Aku tunggu 30 menit dari sekarang! Lalu dibawanya tercantum nama pengirim: Hamba Tuhan!

“Nanti hari Minggu baru aku menemuimu di Gereja Tua! Maaf jika aku membawa serta sahabat-sahabatku dari tempat yang kau tak anggap layak! Demikian bunyi pesan balasanku.

Lalu aku tunggu sms balasan dari Hamba Tuhan. Tapi tak juga muncul.

Pada hari Minggu, pada subuh sunyi, aku turun ke Terminal dan menghimpun semua sahabat baruku. Mereka semua sudah berkumpul dengan pakaian rapi walau bukan pakaian baru dan bukan dibeli di toko ternama dengan merek ternama pula. Aku biarkan mereka tampil apa adanya termasuk kalau mereka mau mengenakan anting di telinganya. Lalu kami sama-sama berarak menuju gereja tua tempat Hamba Tuhan bekerja.

Di depan kediamannya kami menunggu sampai Hamba Tuhan itu keluar. Tak lama berselang, sang Hamba Tuhan keluar dengan pakaian kebesarannya menyapa kami dengan ketus.

“Apa kami boleh masuk dalam rumah kerjamu? Tanyaku.

Itu bukan rumah kerjaku! Itu Rumah Tuhan! katanya.

Betul! Tapi itu kan tempatmu bekerja melayani Tuhan! balasku.

Dia balik menatapku dengan mata tak akrap. Aku tersenyum sambil memanggil temanku untuk masuk rumah Tuhan itu. Kami sama-sama mengekori Hamba Tuhan yang tak lagi mau menoleh.

Di dalam gereja kami duduk di sudut belakang. Kami merasa tak pantas masuk dalam barisan umat kebanyakan.

Tiba-tiba seorang pelayan Hamba Tuhan datang memanggilku dan katakan bahwa Hamba Tuhan memanggilku untuk segera ke ruang kecil bagian belakang.

Semua umat menatapku heran. Aku jadi pusat perhatian sekarang? Ataukah mereka merasa aneh dengan kehadiranku dengan kelompok yang dicap liar ini? Pertanyaan ini berkecamuk dalam kepalaku tapi aku tak mempedulikannya.

Biar aku dan teman-temanku di sini saja! Biarkan kami di sudut Rumah Tuhan! Jawabku kepada utusan Hamba Tuhan itu.

Setelah perayaan, Hamba Tuhan itu datang menemuiku.

hamba tuhan

Inilah kerjaku! Katanya bangga.

Aku mengangguk dan tersenyum! Aku sudah tahu. Tapi maaf kalau aku lebih memilih untuk tetap di tempatku di terminal. Aku menemukan Salib Yesus tertancap di sana, tidak digantung di langit atau di atap rumah megah seperti ini! Terima kasih atas undangannya! Lalu kami pamit.

Nanti mampir lagi ya! kata hamba Tuhan itu.

Aku menghampirinya.

Sekali lagi, terima kasih atas undangannya. Kataku.

Lain kali, kita bertemu Tuhan juga di tempat kami yang tak pantas itu! Kami butuh Hamba Tuhan yang bisa menerima kami apa adanya! Sambungku sambil berlalu pergi tinggalkan Hamba Tuhan yang lagi melongo itu.

Wisma Arnold Janssen

Niceplace, 28 Oktober 2011

Pada Pesta St. Simon dan St. Yudas Rasul

 

7 Comments to "Hamba Tuhan"

  1. wendly  16 October, 2013 at 10:18

    Hamba Tuhan yang tidak membumi, itulah sasaranku. Kita kadang sok suci dan menganggap yang lain kotor.

  2. J C  7 October, 2013 at 05:25

    Apik sekali ini…sangat mengena dengan kebanyakan situasi yang sekarang di tengah masyarakat. Cocok benar seperti yang ditulis pak Djoko…

  3. Dj. 813  5 October, 2013 at 23:24

    Bung Wendly Jebatu ….
    Terimakasih untuk tulisan dan cerita yang indah.
    Mending masih mau melayani TUHAN.
    Sekarang banyak orang yang minta dilayani TUHAN.
    Sakit sedikit, sembuhkan aku TUHAN.
    Punya persoalan, beri aku jalan keluar TUHAN.
    Punya utang, minta TUHAN untuk melunasi.
    Pokonya selalu menyuruh TUHAN.
    Hebat kan…???
    Bukan melayani, tapi malah memerintah TUHAN.
    Seolah TUHAN adalah kacungnya, harus melakukan semua kemauan kita.

    Salam Damai dari Mainz.

  4. wendly  5 October, 2013 at 21:39

    Itulah hamba Tuhan yang berlagak bos Tuhan

  5. EA.Inakawa  5 October, 2013 at 03:49

    Wedly : Dengan cara nya si Hamba TUHAN bermaksud mengajak ” Bos Arak ” untuk bertaubat, salam sehat

  6. elnino  4 October, 2013 at 22:03

    Tulisan yg keren Wendly…

  7. Linda Cheang  4 October, 2013 at 14:24

    ini maksudnya menceritakan Hamba Tuhan yang ogah membumi? hmmmmm….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.