Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (3)

Nyai Sekar – sedang training di neraka

 

Artikel sebelumnya:

Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (1)

Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (2)

 

Islam memiliki pandangan sendiri tentang neraka. Penyebutan neraka jahanam kemungkinan mengacu pada kata Gehinom (bahasa Hebrew) yang dianggap sesuai dengan neraka versi agama Kristus.

Dalam Al-Qur’an jelas sekali adanya deskripsi mengenai neraka yang terdiri dari api yang amat sangat panas, sangat kontras dengan surga, yang merupakan tempat paling nyaman.

Surga dan neraka dalam ajaran Islam juga memiliki level-level dan tingkatan-tingkatan yang berbeda, tergantung dari amal ibadah dan dosa-dosa yang terkumpul semasa hidup. Begitu juga jenis siksaan dan karunia yang diterima, sangat tergantung dari bekal yang sempat dikumpulkan ketika masih hidup.

Dalam Islam, pintu gerbang neraka dijaga oleh malaikat Maliik, yang juga dikenal dengan nama Zabaaniyah.

Meskipun pada umumnya neraka digambarkan sebagai tempat yang luar biasa panasnya, namun ternyata dalam Islam juga dikenal neraka yang dinginnya sangat ekstrim. Zamhareer adalah sebutan untuk neraka yang terkenal amat sangat dingin sekali, dimana badai salju dan es selalu berputar dan tak tertahankan.

Neraka tingkat terburuk disebut dengan nama Hawiyah. Adalah neraka tempat para orang-orang munafik dan syirik ditempatkan. Orang-orang yang sok-sok agamis dan sok-sok suci, tapi melihat perempuan menari tari Shaman saja jakunnya naik turun tidak bisa menahan arus bawah. (Mohon koreksi jika ada yang perlu dikoreksi).

Beralih ke Buddha yang mengajarkan tentang neraka secara detail dalam Devaduta Sutta, dimana disebutkan ada 130 tingkatan dari Majjhima Nikaya. Dalam ajaran Buddha ada 5 (kadang 6) kelahiran kembali, yang kemudian akan mengalami tingkatan nasib menjadi lebih baik atau lebih tidak baik.

Dari jenis penempatan kelahiran kembali ini, ada yang disebut sebagai Naraka, yaitu tingkat terendah dari jenis kelahiran kembali. Pada jenis ini seseorang akan mengalami berbagai penderitaan, yang terburuk adalah apa yang disebut dengan nama Avīci, yaitu penderitaan tiada akhir. Salah seorang murid Buddha yang bernama Devadatta, mencoba membunuh sang Buddha 3 kali, serta merta dicatat untuk dilahirkan kembali di Naraka Avīci.

Namun, meskipun demikian, menurut ajaran Buddha yang tercantum dalam Lotus Sutra (Sutra=kitab ajaran agama), hal tersebut sifatnya tidaklah permanen. Penderitaan lebih merupakan ujian sebelum dilahirkan kembali ke mayapada. Sebab pada akhirnya, Devadatta akan menjelma menjadi Pratekyabuddha, salah satu dari penjelmaan sang Buddha itu sendiri. Buddha mengajarkan bagaimana caranya melepaskan diri dari perjalanan kelahiran kembali (baik kelahiran yang bersifat positif maupun negatif) dengan cara menuju ke Nirvana.

Menurut kitab Ksitigarbha Sutra, Bodhisattva Ksitigarbha menjelma menjadi seorang gadis muda yang tidak akan pergi ke Nirvana sampai semua mahluk terbebas dari Naraka atau dari kelahiran kembali yang tidak sempurna. Menurut kisah, Ksitigarbha mengadakan perjalanan ke Naraka untuk mengajarkan kebaikan dan menolong para mahluk dari penderitaan mereka.

Ada 2 konsep fundamental dalam pandangan Budhha, yaitu realita alam atau pengalaman atas kehidupan. Hal ini termasuk adanya konsep dalam kosong ada isi, dalam isi adalah kekosongan.

Kekosongan, sesuatu yang tidak memiliki keabadian alami. Kedua, segala sesuatu muncul menjadi seperti itu karena kondisi kita sendiri. Vasubandha (abad ke 3) menjelaskan dengan sebuah perumpaan, jika iblis, yang sejak lahir sudah menyaksikan dan merasakan penderitaan dan siksaan karena karmanya, apakah dengan begitu ia memiliki pengalaman akan penderitaan? Apakah penderitaan itu akan menjadi sebuah penderitaan bagi iblis? Menurut Vasubandha, rasa menderita itu berasal dari proses pemikiran, dari kondisi yang kita ciptakan sendiri saat kita melihat dan merasakan suatu penderitaan yang dialami oleh orang lain. Jadi menurutnya, sebenarnya, neraka itu adalah semacam halusinasi.

Pada medio antara abad ke 4 dan 5 muncul sebuah kitab Buddha yang diberi nama Sutra Pendekatan Kepada Kebenaran Hukum yang menyatakan bahwa neraka adalah perjalanan introspeksi diri.

Namun demikian dalam ajaran Buddha di Jepang, disebutkan bahwa neraka memiliki 8 tingkat. Tingkat pertama adalah tempat para pembunuh yang melakukan pembunuhan demi kesenangan. Tempat bagi para pelaku pembunuhan yang tidak memiliki tujuan lain selain memuaskan diri dengan aksinya. Neraka ini disebut (dalam bahasa Enggris) : The Hell of Repetition.

Neraka tahap berikutnya adalah neraka yang dinamai (masih dalam bahasa Enggris) : Black Rope Hell, yaitu tempatnya para korban pembunuhan yang terbunuh dalam rangka melakukan kejahatan. Misalnya untuk para anggota gangster yang terbunuh dalam perkelahian antar gank. Saya rasa neraka ini dibuat karena Jepang memiliki banyak sekali mafia-mafia yang suka berantem di jalanan sampai mati dan menimbulkan huru-hara yang mengerikan.

Untuk para pembunuh kecil-kecilan, para maling dan pemerkosa atau pelaku pelecehan seksual tempatnya adalah di Crowded Hell, atau kalau boleh saya terjemahkan menjadi Neraka yang Kacau Balau. (saya membayangkannya seperti sebuah penjara yang penuh berisi sekumpulan anak-anak kurang ajar yang sejak lahir sudah belajar mencuri ayam tetangga dan memukuli ibunya sendiri ketika tidak diberi uang).

Bagi para pacar yang memperlakukan pasangan dengan kurang ajar, termasuk bagi orang-orang yang sok alim tapi mengumbar nafsu kemana-mana dengan kedok agama (guru agama tapi menjahili murid-muridnya dengan cara yang tak senonoh, misalnya), atau bagi para tante-tante dan om-om genit, para boss yang suka main-main api dengan anak buahnya, laki-laki yang suka memandang perempuan dengan mata genit, dan orang-orang yang suka nguping pembicaraan orang lain lalu menyebarkannya menjadi gossip murahan, termasuk orang-orang yang suka mengintip tetangga dan menyebarkan perselingkuhan orang lain menjadi komoditas berita, orang-orang semacam itu semuanya akan dimasukkan dalam neraka yang bernama Fire-Jar Hell atau neraka tungku api. Mata, mulut atau telinga mereka akan dibakar oleh semburan api yang ganas.

Nah, untuk orang-orang yang suka membuat temannya mabuk dengan cara memberikan alkohol secara berlebihan, menjual obat-obat bius, menggunakan dan menjual narkoba, mabuk-mabukan semau-maunya, tempatnya ada di Screaming Hell. Termasuk juga untuk orang yang suka memburu binatang dengan sewenang-wenang.

Untuk yang suka bohong, suka mengatai-katai, suka memisuhi-misuhi, suka menganiaya orang lain dengan kata-kata (bukan dengan tulisan lho ya), suka memfitnah dengan menjual omongan kotor dan buruk, tempatnya adalah di The Great Screaming Hell.

Untuk orang-orang yang suka berpandangan negatif terhadap orang lain, memandang rendah orang lain, akan mencoba siksaan di Hell of Burning. Sedangkan para pelanggar peraturan, termasuk, mestinya juga, para pelanggar aturan lampu lalu lintas, melanggar aturan hukum, menolak untuk melakukan hal-hal baik, seperti membuang sampah pada tempatnya (yang ini menurut pendapat saya), tidak mau menolong orang yang membutuhkan pertolongan, akan menikmati siksaan di neraka yang punya nama keren : Diamond- Beak Hornet Hell, dimana daging dan kulit akan disayat sampai keluar darah, dan si pendosa harus meminumnya sampai habis. Di sini si pendosa akan merasa kelaparan dan haus setiap saat, tapi yang ada adalah daging dan darahnya sendiri.

Ada lagi neraka yang menyebalkan hukumannya. Ini seperti lelucon yang tidak lucu. Orang-orang yang berani-beraninya memperkosa para ahli agama, menyakiti secara fisik para ahli syurga (syurga, bukan syuuurga), akan menjalani siksaan dengan cara diikat pada tiang, dan para iblis akan akan meletakkan cacing-cacing pada anus si pendosa, membiarkannya berputar-putar, merambat dan makan apa saja sampai pada akhirnya akan meremukkan tulang kepala pendosa. Sangat menyebalkan.

Neraka lapis ke 8 adalah neraka yang paling berat, paling sadis dan paling kejam. Neraka ini diperuntukkan bagi orang-orang yang masuk dalam golongan 5 besar pelaku kejahatan berat tingkat satu, yaitu : 1. Membunuh seorang ibu yang sedang melakukan ibadah (meditasi) , 2. Membunuh seorang ayah yang tengah melakukan ibadah (meditasi), 3. Menyakiti atau melukai orang-orang suci yang tengah bermeditasi dan menikmati perbuatan jahatnya, 4. Melukai secara serius atau membuat kejahatan serius pada sebuah komunitas Buddha atau Sangha, termasuk melakukan pembakaran rumah ibadah, 5. Membunuh arhat (julukan untuk murid kesayangan Buddha yang juga sekaligus guru) saat sedang bermeditasi atau membunuh bodhisatwa (guru-guru besar agama Buddha) saat sedang meditasi. Neraka terberat ini mempunyai nama mutlak : Hell of No Interval, neraka tanpa ampunan.

Pada pandangan para guru agama Buddha, deskripsi tentang neraka tersebut membuat mereka tetap setia pada Buddha sebagai sumber aspirasi hidup, mengingatkan bahwa tak ada seorang pun mahluk yang sempurna. Pandangan tentang neraka ini seperti sebuah metafora kaca, tempat seseorang harus berkaca diri, sebelum melakukan sesuatu.

Ada banyak pendeta agama Buddha yang menganggap bahwa neraka itu tidak benar-benar ada. Sebab menurut mereka, dosa itu tidak bisa ditebus dengan siksaan secara fisik. Ketika jiwa lepas dari raganya, maka tidak bisa lagi merasakan sentuhan-sentuhan fisik, sebab raganya tertinggal di dunia kasar, sedangkan jiwanya berada di dunia yang halus. Raga tanpa jiwa juga tidak bisa menerima siksaan, sebab raga tanpa jiwa adalah kekosongan belaka (dan saya setuju sekali dengan pendapat ini).

Jadi sebenarnya konsep neraka adalah konsep kaca cermin yang berfungsi sebagai pengingat akan ajaran-ajaran kebaikan.

Dalam Surangama Sutra, Buddha menjelaskan bagaimana cara kerja karma terhadap kelahiran kembali. Ketika seseorang memiliki nafsu melebihi akal budinya, ia akan dilahirkan kembali sebagai binatang. Dengan nafsu yang lebih berat, ia akan menjadi binatang buas berbulu tebal, sedangkan untuk nafsu yang lebih ringan, ia akan menjadi hewan bersayap.

Ketika seseorang memiliki 70% nafsu dan 30% akal budi, mereka akan jatuh dibawah roda air dan akan dibatasi oleh roda api dimana ia akan merasakan kekuatan badai. Dilahirkan kembali dalam tubuh-tubuh hantu kelaparan, ia akan terus menerus dibakar sampai kering seperti keripik kriuk. Bahkan air pun akan menyakitinya, ia tidak akan mempunyai makanan dan minuman untuk ratusan, ribuan bahkan eon tahun (lamaaaaaa banget!).

Jika seseorang mempunyai 90% nafsu dan 10% akal budi, ia akan dijatuhkan pada putaran roda api sampai ia mencapai suatu tempat di mana angin dan api bergerak bersama. Dengan nafsu yang lebih ringan, ia akan terlahir di neraka yang berjeda, artinya hukuman tidak dilakukan sepanjang masa. Namun jika nafsunya berat, ia akan dilahirkan di neraka tanpa jeda.

Jika seseorang dipenuhi oleh nafsu tanpa akal budi, maka ia akan dilahirkan di neraka Avīci, dan jika dalam pikirannya dipenuhi oleh kelicikan, ketamakan, penyanggahan pada Buddha, mengatakan hal-hal buruk tentang dharma, tidak bisa menghargai orang lain dan haus kekuasaan, maka mereka akan dilahirkan di neraka Avīci melalui ke 10 jalan (yang tentunya jalan yang sangat tidak menyenangkan).

 

6 Comments to "Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (3)"

  1. J C  7 October, 2013 at 05:27

    Nyai, piye, training di neraka sudah selesai? Kira-kira ada petunjuk apa untuk para munafik yang bengak-bengok merasa pasti sudah punya kavling di surga?

  2. EA.Inakawa  5 October, 2013 at 03:27

    sepertinya kemarin …… ketua MK Akil si Manusia setengah DEWA & dayang dayangnya sudah memilih menuju neraka KPK…….salam sehat

  3. Dj. 813  4 October, 2013 at 17:56

    Nyi EQ…
    Terimakasih, sangat menarik apa yang anda tulis.
    Itu baru yang dari Budha.
    Ditunggu neraka yang lainnya….
    Kemudian surganya juga ya.
    Salam manis dari Mainz.

  4. Linda Cheang  4 October, 2013 at 15:43

    ketemu sama Giam Lo Ong, apa nggak?

  5. Nyai EQ  4 October, 2013 at 12:46

    lho? kok nama-ku sekarang jadi terang2an ditulis “Nyai Sekar”? weee…kanjenge, sejak kapan tuh….hihihihi..

    Pak Sumonggo : boleh pinjam pintu ajaibnya Doraemon kok…

  6. Sumonggo  4 October, 2013 at 09:56

    Semoga di neraka tersedia pintu darurat, kasihan bila penghuni kepanasan terlalu lama.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.