Satu Rahim, Tiga Cinta (3)

Endah Raharjo

 

Kutelepon asistenku, kudelegasikan berbagai keperluan untuk ia selesaikan di Jakarta. Klienku juga sudah kukabari. Untung mereka bisa mengerti, karena kami sudah bermitra cukup lama. Aku berjanji akan menemui mereka dua hari lagi.

Sudah hampir pukul 10 dan aku belum siap kembali ke rumah sakit. Kuhubungi Nishiko, katanya Darmi sudah datang. Tapi ia ingin tetap di sana, sudah bisa tidur sebentar di sofa, sedang menunggu dokter yang akan visite. Bryan sudah kembali ke Semarang.

“Hola Mamaaa …!” Suara nyaring Ferina memecah suasana rumah yang sepi. Ia langsung masuk ke kamarku, mendekapku dari belakang. “Ada bagusnya juga Ray mencoba bunuh diri. Kita jadi bisa kumpul tanpa rencana.”

Aku tidak senang mendengar gurauannya itu, namun aku tertawa. “Ini perkara serius. Kamu jangan bercanda kayak gitu di depan Ray. Apa kabar Bali? Siapa yang kamu serahi ngurus kerjaan? Dino atau Ni Luh?”

“Dua-duanya,” jawabnya, meletakkan tas cangklong kulit favoritnya ke atas tempat tidurku. Ia biasa menyimpan semua barang-barangnya di dalam tas kulit warna coklat yang mirip kantung itu.

Selain keras dan sinis terhadap banyak hal, anak sulungku ini hemat dan praktis. Untuk urusan pakaian ia sederhana, anti trend. Kalau bukan karena tuntutan formal –rapat, lokakarya, seminar, atau menemui klien – dia hanya mengenakan jeans, kaus, dan sepatu kanvas; tanpa aksesori kecuali arloji dan ikat pinggang. Tubuh kurus-tingginya sangat berpihak pada pilihannya itu.

Ia sama sekali tak menanyakan kondisi Raysa, sibuk membenahi rambut pendeknya dengan sisirku sebelum berkelit meninggalkan kamarku, menuju dapur.

“Yu Nik masak brongkos dan tempe goreng,” kataku, mengekornya.

Kuraih gelas besar dan kuisi air dingin dari dispenser. Ferina meraih gelas itu sambil berterimakasih sudah menyiapkan makanan kesukaannya. Anak sulungku kangen-kangenan dengan Yu Nik di dapur sementara aku mandi. Tawa mereka terdengar di antara deru air shower.

Yu Nik dan Bang Daud selalu gembira kalau anak-anakku pulang. Pasti ada ‘salam tempelnya’, kata mereka, menyebut uang yang mereka terima.

Pernikahan pertamaku dengan ayah Ferina, Mas Insan, hanya bertahan 18 bulan. Saat bercerai usiaku 21 tahun, masih kuliah di jurusan desain interior sambil merintis usaha dan momong anak. Mas Insan mendapat pekerjaan di Kalimantan, memintaku berhenti kuliah dan meninggalkan pekerjaanku. Aku tidak mau. Kubilang aku bisa menengoknya sebulan sekali dan dia ke Jogja sebulan sekali. Bergantian. Jadi kami bisa ketemu tiap 2 minggu. Dia menolak.

Beberapa bulan kemudian perceraian jadi pilihan. Tanpa ampun semua kesalahan ditimbun di pundakku. Rahma, adik bungsu Mas Insan, mencemoohku sebagai perempuan mata duitan, lebih memilih pekerjaan ketimbang mengikuti suami.

Rahma tidak tahu, pada usia 14 tahun separuh hariku kujalani dengan membanting tulang, membantu Ibu menghidupi keluarga. Di saat teman-temanku bersenang-senang dan bermanja-manja pada orang tua, aku bekerja. Aku bangun begitu adzan subuh berkumandang. Selepas sembahyang aku bekerja sampai pukul 6, selagi Ibu menyiapkan sarapan dan membereskan ini-itu. Sepulang sekolah aku hanya istirahat untuk makan siang, berikutnya aku kembali bekerja hingga malam, kuselang-seling mengerjakan PR. Mbakyuku dan adikku bertugas mengantar barang-barang buatanku ke toko-toko.

Bila banyak pesanan, seperti Lebaran atau Natal, aku lembur hingga terdengar kokok ayam jago. Saat itu aku muda, kuat, sehat, dan nekat. Aku ingin berbakti pada Ibu, mengambil alih tanggungjawabnya. Aku jarang mengeluh. Kalau lelah aku tidur. Bila mbakyu dan adikku tidak mau membantu, memilih bermain dengan teman-temannya, aku akan mengayuh sepeda kuat-kuat, keliling kampung, membuang amarahku lewat keringat yang mengucur dari seluruh pori-poriku.

“Ma,” suara Ferina membawaku kembali ke alam nyata. Kami duduk di ruang makan. “Aku belum pernah lihat Mama lesu kayak gini.”

“Mama merasa bersalah, Fer.”

“Kok bisa?”

“Ray begini gara-gara Mama.”

“Ray itu lemah. Nurutku dia tidak bener-bener mau bunuh diri. Dia apoteker. Dia pasti tahu obat batuk sebotol nggak mempan untuk bunuh diri. Dia tahu itu, Ma.”

“Kamu apa nggak bisa berempati … sedikit saja, Fer.”

Aku tahu, ketika kecil Ferina tidak suka pada Raysa yang manja, sangat tergantung padaku, dan peragu; juga iri pada rambutnya yang lebat dan kulitnya yang halus dan langsat. Kini beda lagi. Ferina justru bangga dengan kulit sawo matangnya.

“Dia cuma mau cari perhatian aja. Pasti cuma itu,” tuduhnya, datar.

“Kalau benar begitu, Ray berhasil. Mama akan lebih memerhatikan, memberikan apapun yang dia inginkan,” ujarku, mataku rekat pada mata anak sulungku. Dia menunduk, memutar-mutar gelas besar yang isinya nyaris habis.

“Mama cuma nggak tahu aja. Aku milih melajang karena nggak mau diperlakukan sama dengan Ray. Aku cuma nggak ngeluh aja.” Lirih suara Ferina mengagetkanku.

Aku terjelengat. Ferina belum pernah sekalipun bicara soal itu. Ia selalu terlihat kukuh. Aku terbiasa dengan sikap keras anak sulungku ini. Sejak menyadari bermacam perlakukan tidak nyaman yang ia terima dari orang-orang atas tiga kali perceraianku, Ferina kerap menyindirku. Aku lupa kapan tepatnya ia mulai bersikap begitu, mungkin ketika menginjak usia belasan, atau lebih awal lagi.

Sewaktu aku bercerai dengan suami terakhirku, ayah Nishiko, tahun 1990, Ferina baru 9 tahun. Aku ingat bagaimana ia menjerit-jerit, mengataiku perempuan bejat. Mata keranjang. Doyan lelaki. Entah dari mana ia memperoleh kata-katanya itu. Mungkin dari teman-temannya, yang mengejeknya dengan rutukan yang mereka dengar dari ibu mereka ketika bergunjing.

Aku tidak berniat mempertahankan diri. Selain tidak ada gunanya, aku tidak punya sisa waktu. Aku tak bisa mencegah orang bicara apa saja – baik dan buruk – tentang diriku. Apa yang ada di benak mereka bukan urusanku. Saat itu, satu-satunya yang terpenting selain bekerja adalah menjaga agar anak-anakku tidak menjauh dariku; agar mereka aman dan sejahtera meskipun ayah mereka jauh dan jarang berkabar.

art-of-marriage

Ketika usia Ferina menginjak 16, aku pernah berusaha menjelaskan kondisiku. Kuyakinkan padanya, kalau aku menyintai ayahnya, juga ayah Raysa dan Nishiko. Namun untuk berumahtangga saling menyintai saja tidak cukup. Suami-istri harus saling menghormati dan memberi ruang untuk menyesuaikan diri. Bila salah satu memaksakan kehendaknya, maka pasangannya harus mengalah. Sayangnya aku hanya mau mengalah sesekali saja, tidak terus-terusan. Agar rumah tangga akur, dua pihak tak boleh jemu saling tarik-ulur. Itu menurutku. Namun menurut suami-suamiku tidak begitu. Istri adalah pihak yang harus selalu mengulur: perasaannya, waktunya, tenaganya, semuanya.

Aku tidak tahu apakah Ferina bisa menerima penjelasanku. Yang kutahu ia tak berhenti melontarkan kata-kata sinis padaku; yang selanjutnya kuanggap sebagai gurauan.

“Kok bengong? Mama kaget?” sengatnya, menyingkirkan matanya dari wajahku.

“Ya. Mama tidak menyangka kalau,” kuhentikan kata-kataku, kupenuhi paru-paruku dengan udara, “kalau kamu merasa begitu juga.”

“Selama ini Mama lihat apa?” cibir Ferina.

“Bila melihatmu Mama seperti sedang bercermin. Mama lihat perempuan muda berpendirian kuat, mandiri, dan berani mengambil keputusan.”

“Aku memang berani. Tapi tidak berarti aku nggak punya rasa takut. Aku nggak ngeluh tidak sama dengan nggak punya keluhan.” Suaranya tertelan, pasti berat baginya mengungkapkan isi hatinya.

Serupa kotak pandora. Musibah yang menimpa keluarga bisa membuka ruang-ruang rahasia, memunculkan hal-hal yang disembunyikan. Rasa sakit, kecewa, amarah, dan dendam berebut keluar.

“Apa yang bisa Mama lakukan buatmu?”

Ferina mendengus keras hingga serbet makan di depannya tersibak. “Udahlah… sekarang ini bukan aku yang butuh bantuan.” Ia kembali melengos.

Oh. Terima kasih, Tuhan. Di balik tajam mulutnya, ia bijaksana. “Mama tidak bermaksud mengabaikan perasaanmu. Dalam situasi seperti ini biasanya anggota keluarga saling berteriak menyalahkan, mengungkit kejadian buruk di masa lalu. Mama nggak ingin kita seperti itu. Kita sebaiknya membantu Raysa keluar dari persoalannya.”

Ferina mengangguk-angguk. Entah setuju, entah hanya ingin menghentikan kata-kataku. Ia tak betah membahas perasaannya berlama-lama. Namun aku butuh meminta pengertiannya. Meskipun dokter yakin Raysa tidak berniat bunuh diri, hanya mencari perhatian, aku tak mau menyepelekan tindakannya itu. Bagiku itu raungan alarm penanda jiwanya terguncang.

Yu Nik menyelinap meninggalkan dapur. Ia pasti mendengar semua yang kami bicarakan di ruang makan. Perempuan tengah baya bermata juling itu sudah membantuku sejak usia Ferina 3 bulan. Lewat tindakannya, janda beranak satu itu membuktikan kasihnya padaku, memahami persoalan-persoalanku.

Yu Nik sering membelaku kalau aku disudutkan oleh kerabat dan orang-orang. Bila aku gelombang yang senantiasa bergejolak bergulungan, Yu Nik serupa karang di pantai yang tegak, membisu, suka rela menahan benturanku sebelum aku berbalik, kembali mengarungi luas dan ganasnya samudera hidupku.

“Sudah hampir jam 11. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Mungkin Nishi ingin istirahat,” ujarku.

“Aku harus ngapain di sana? Bukannya udah ada Darmi?” Wajah Ferina kembali tak peduli. “Perawat di kamar VIP biasanya baik-baik.”

“Saat ini Ray butuh dukungan kita semua, Fer. Lagian kamu udah sampai sini.”

“Kupikir tadinya parah. Koma atau apa. Ternyata cuma nenggak obat batuk.”

“Ferina!” tegasku.

“Okay!” Ia mengangkat bahu.

Bang Daud sudah siap di depan namun Ferina ingin menyetir sendiri. Ia menyuruh supir setia itu istirahat. Yu Nik tergopoh-gopoh menyusul, di tangannya ada lunch box yang sesekali kubawa ke kantor.

“Brongkos dan tempenya,” serunya, menyodorkan kotak itu lewat jendela yang kubuka. “Berat, Bu. Nasinya penuh,” tambahnya, mata julingnya seperti mengerling kanan-kiri.

“Makasih, Yu. Kalau hari ini aku nggak pulang tolong beresin semua, ya.”

Perempuan bertubuh gempal berambut tebal itu mengangguk dalam-dalam. Ia mengerti apa yang sangat kubutuhkan.

*****

 

11 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (3)"

  1. Endah Raharjo  7 October, 2013 at 08:41

    @Pak DJ: domisili saya di Jogja. Waktu diberi tahu Pak DJ dan keluarga akan ke Jogja, saya dan Mbak Probo sudah membuat rencana bareng2 untuk ketemu (di Ambarrukmo Hotel, ya?) , tp saya harus keluar kota pada hari2 itu. Semoga lain kali ada kesempatan.

    @Hennie: heheheheee… semoga saja suka ceritanya. Namanya juga fiksi, semua berawal dari imajinasi, tp ada ‘modelnya’. Terima kasih sudah membaca

    @Aji: terima kasih sangat, sudah diberi tempat untuk berbagi cerita

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.