[The Kitchen] Love is Spice – 4

Yang Mulia Enief Adhara

 

Aku tidak mau terlalu larut dengan kehadiran Ino, oke ada sedikit rasa nyaman saat bersama dia namun ku pikir itu mungkin hanya karena aku terbawa suasana. Aku berusaha kembali ke jalurku yang seharusnya yaitu sebagai Farida yang gak usah main perasaan. Sudah beberapa kali Ino menelponku namun tidak ku respon, paling aku SMS sekedar mengatakan aku sedang deadline.

Namun pada hari Jumat yang tadinya sudah aku jadwalkan untuk bersantai mendadak menjadi hari yang sibuk. Barang antik yang aku pesan dari Palembang terlambat datang. Mobil box yang membawa barang-barang itu terperosok di daerah Metro sekitar Lampung. Yuni berusaha mencarikan mobil pengganti dan sebelum ada kabar barang-barang antik itu sudah aman menuju Jakarta, aku jelas belum tenang.

Aku akhirnya bisa bernafas lega saat kabar baik kuterima sekitar pukul 17.25. Barang yang harusnya nanti malam masuk ke apartment Mr. Kim Ern terpaksa tertunda hingga besok malam. Security hanya memberi izin malam hari untuk menaikkan barang demi tidak mengganggu penghuni lainnya.

*****

Pikiranku yang sempat mendapat tekanan butuh sedikit obat penenang dan itu adalah segelas green tea frappuccino blended. Dan di sore menjelang malam itulah aku bertemu lagi dengan Ino, tentu saja secara tidak sengaja.

“Haiii?!! Apakabar? Kok tiap aku telpon nggak dijawab?”, tiba-tiba Ino muncul di belakangku saat aku sedang memesan minuman. Dan tanpa basa basi dia ikut memesan, “Tolong satu lagi ya? Sama seperti Mbak ini”, Ujar Ino sambil menyodorkan kartu kreditnya.

Aku tersenyum tipis, “Bukannya aku selalu jawab?? Ohh iya, ini kok jadi kamu lagi yang nraktir aku?”.

“Sudahlah no matter. Soal telpon memang you jawab tapi dalam bentuk SMS, kamu kan manusia paling sibuk di Jakarta ini”, Sindir Ino.

Pesanan sudah siap, aku melangkah menuju sudut yang kebetulan kosong, sudut favoritku saat ingin santai di Starbucks. Ino ikut duduk satu meja denganku. “Well mau gimana lagi? Aku memang sibuk sih, lagian ada apa sih nyariin aku terus?”, Aku sok melontar pertanyaan namun lebih mengarah pada rasa penasaran.

Ino memainkan jari-jarinya di meja, lalu dia bicara lagi, “Emangnya nggak boleh? Aku kan nggak ada teman. Aku baru kerja lagi bulan depan jadi aku masih 23 hari lagi bersantai”.

Aku hanya mengangguk, aku dalam hati bingung juga, kenapa ya aku ada rasa takut saat bertemu Ino? Ada rasa takut saat aku menghabiskan waktu berdua dengannya? Oke aku tidak bermaksud untuk terlalu percaya diri tapi sejujurnya aku takut jatuh cinta. Laki-laki di hadapanku ini baik, sabar dan cerewet sekali. Kecerewetan dia itu lah salah satu yang membuatku rindu, terlalu lama aku hidup dalam kesepian dan Ino seolah hadir di saat aku nyaris tak sanggup lagi hidup sebagai wanita kesepian.

“Ehh aku boleh main ke rumahmu?? Aku mau masak lho, kamu tinggal bilang mau makan apa?”, tiba-tiba Ino mengatakan sesuatu yang tidak aku duga.

“Hah?! Apa? Ke rumahku? Masak?”, Jawabku seperti orang bodoh. “Ohh gimana ya? Aku ini sibuk untuk bulan-bulan ini dan sejujurnya rumahku itu daerah bebas cowok”, Lanjutku mulai kumat gengsinya.

“Really?? Why? Kenapa bisa bebas cowok? Seperti bebas asap rokok?”, Ino bertanya dengan serius dengan mata membulat.

“Iya!! Seperti itulah kira-kira, sudah ganti topik ah, aku males bicara yang terlalu personal, aku males mikir yang berat-berat, otakku over loaded”, Aku bicara sambil menghindari tatapan Ino. Ino diam, dalam hati dia heran, ‘apa iya bicara memasak itu makin membuat pikiran makin berat? Dasar perempuan aneh’.

*****

4 hari berlalu dan siang ini aku tiba-tiba merasa hampa, merasa bingung. Ini terjadi saat aku memutuskan makan di kantin, aku segan keluar kantor. Di kantin aku bertemu Dahlia.

Dahlia berkulit hitam manis, pendiam, pandai memasak dan gila batik. Tiap hari dia selalu memadukan motif batik dalam setiap penampilannya, dia selalu tampil chic dengan aneka batik.

“Hai Mbak Ida … Tumben nih makan di kantin?”, Sapa Dahlia dengan ramah. Senyum manisnya tersungging dengan tulus.

Aku menengok ke arahnya, “Ehh Lia, iya nih. Males aku kemana-mana, eh ini baju kamu cantik sekali, warnanya orange segar bikin semangat deh”.

Dahlia tertawa kecil, “Iya Mbak, ini seperti biasa aku jahit di penjahit langganan aku, ini sketsa mode-nya aku sendiri lho yang buat, maklumlah aku kan disainer gagal dulu pernah sekolah mode tapi nggak tamat”, Ujar Dahlia sambil tertawa.

“Bisa aja kamu, beneran keren banget mana batiknya bagus, pasti mahal”, Ujarku sambil menyentuh rok yang dikenakan Dahlia, “Bahannya adem, aku suka”.

Dahlia tersipu malu, “Ini batik biasa kok Mbak, cuma 150 ribu, aku kan selalu dikirimi adikku yang bisnis batik. Oh iyaa 2 hari lalu teman Mbak main ke rumahku, dia bener-bener jago masak ya? Ibu aku aja suka banged sama dia. Mana orangnya ramah dan nggak sombong mana cakep”.

“Apa?? Siapa?”, Seruku tercengang walau dalam pikiranku langsung saja nama Ino yang hadir.

“Itu Ko Ino, dia kan nyari Mbak ke kantor tapi kan Mbak nggak mau diganggu, eh tau tau dia nanyain alamat rumahku dan janji mau demo masak. Dia juga suka lho Mbak sama batik, dia berkali-kali memuji koleksi batik aku lho”, Jawab Dahlia dengan lugu. Ya terlalu lugu hingga mendengarnya bercerita membuatku bagai berdiri di atas bara api.

“Ohh gitu? Wah aku juga punya batik di rumah, aku diem-diem koleksi juga lho, tapi ya gitu deh belum sempat dijahit”, Ujarku berdusta. Batik? Aku hanya punya 3 potong itu pun saat aku jadi panitia di pernikahan sodaraku.

*****

Ku lempar Chanel-ku ke atas sofa di ruang kerjaku, pintu ku kunci dan ku tinggalkan pesan pada Yuni bahwa aku tidak mau diganggu. Sialan! Jadi niat Ino memasak itu bukan basa basi? Jadi dia sudah main ke rumah Dahlia? Aku pusing!!! Aku mondar mandir diruang kerjaku sambil memijit pelipisku.

Dahlia itu cantik, lembut, jago masak dan sangat suka batik, dia pasti sangat sexi bagi seorang Ino. Dan saat Ino akhirnya menemukan orang yang sehobi dengannya dan sexi, itu artinya dia tidak perlu lagi mencari diriku. Aku gadis yang benci masak dan bukan penggemar batik!! Artinya aku tidak sexi!! Sial seribu sial!

Dan tanpa pikir panjang aku bicara kepada Yuni melalui interkom, “Yun tolong kamu pesan tiket juga kendaraan sewaan untuk ke Jogja, Solo, Magelang, Pekalongan …. Pokoknya kamu cari tahu deh kota di sekitar situ yang memproduksi batik. Jangan lupa pilih hotel yang bagus ya di Jogja, Solo dan Semarang. Kamu tolong atur supaya trip aku enak, aku sih tujuan pertama ke Semarang dulu”, Ujarku pada Yuni.

“Lho kok mendadak? Ini maksud Mbak ke kota-kota yang membuat batik?? Emang batik buat apa? Ada pesanan buat interior?”, Yuni bertanya dengan heran.

“Bukan! Aku akan memborong kain batik, aku mau jadi kolektor batik dan ingat jangan bilang siapapun ya? Aku mendadak inget pesan almarhum Nenek aku bahwa aku harus melestarikan budaya batik. Kan almarhum Nenek aku dulu punya usaha batik di Laweyan Solo?!!!”, Sahutku sambil meminum aspirin, asli kepala rasanya nyut-nyutan.

Yuni segera mencatat segala hal di agendanya, wajahnya nampak bingung namun dia tak lagi bertanya. Aku juga tidak mengatakan apapun pada Rayi dan Tika, bisa habis aku diceramahi.

*****

Dan aku pun berada dalam perjalanan panjang menjadi kolektor batik yang instant. Jakarta – Semarang – Pekalongan – Kudus – Semarang – Jogja – Magelang – Jogja – Solo – Jakarta. Asli badanku remuk namun aku mendapat banyak kain batik. Mulai yang murah sampai yang limited, 2 koper yang aku bawa kini penuh, dalam seminggu aku jadi kolektor batik!

Oke Ino kamu tidak bisa memaksaku cinta dapur tapi aku bisa menjadi cinta batik. Pasti kamu akan kagum! koleksiku lebih dahsyat dari koleksi Dahlia, aku lebih sexi.

*****

love spice

“Kamu gila! Asli gila dan butuh perawatan di RSJ!” Ujar Tika dengan kesal sewaktu akhirnya aku mengaku bahwa aku memborong batik demi dikira Ino aku wanita pencinta batik. Rayi memandangku seolah aku sejenis alien yang datang dari planet antah berantah. Aku sendiri jadi merasa salah tingkah.

“Kamu sangat mengada-ada dan sangat berlebihan! Kamu ini aku kira perempuan pintar eh nggak tahunya super bodoh dan naif”, Lanjut Tika tetap bernada kesal.

“Yaa hikmahnya Nathan sekarang ada teman sebayakan?”, Celetuk Rayi menyindirku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, “ya aku ngaku aku salah tapi gimana dong?! Semua sudah terjadi. Lagi pula  bukan salahku juga kalo aku nggak mau kehilangan perhatian Ino? Nggak salahkan?”, Ujarku seolah berusaha mencari pembenaran.

Rayi meneguk kopinya, “Ya memang kamu makin konyol, nggak mau kehilangan perhatian Ino yang bukan siapa-siapa kamu! Kan kamu nggak tertarik sedikitpun sama dia? Aduh aku jadi penasaran kaya apa sih si Ino yang berhasil membuat Ratu jomblo jadi belingsatan kaya setan”.

Aku merasa bingung, bahkan kedua sahabatku menganggapku tidak waras, “Iya aku nggak tertarik, aku cuma nggak mau aja dia mandang aku seperti gadis bodoh”, Sahutku tetap mencari cari pembenaran.

“Bukan gadis bodoh? You just did sweet heart! Ohh iya ngomong-ngomong thank you ya oleh-olehnya, aku suka warna dan motif batiknya”, Rayi bicara sambil menjembreng kain batik yang aku bawakan untuknya.

“Ya iyalah pasti bagus dan keren! Kan yang milihin si kolektor batik”, Sahut Tika menyindirku.”Da?!! Aku takut semua tindakanmu ini kelak akan melukai hatimu sendiri lho”.

Pandanganku menerawang, apa sih sebenarnya yang aku mau? Yang aku rasakan? Cinta di hatiku sudah lama mati dan tiba-tiba harus menjadi zombie cinta! Ada ya zombie cinta?? Cinta yang sudah mati terus bangun lagi dan gentayangan tanpa ekspresi? Apa benar semua ini akan menyakiti diriku sendiri? Apa benar aku salah?

Aku diam dalam kebimbangan, aku seperti berusaha keluar dari penjara yang selama ini mengurungku, namun saat aku berada di luar penjara, aku tidak tahu harus menuju ke arah mana karena aku sudah kehilangan arah! Aku terlalu lama dipenjara oleh luka karena cinta. God please help me ….

 

9 Comments to "[The Kitchen] Love is Spice – 4"

  1. Alvina VB  8 October, 2013 at 02:12

    Lanjuttt….kayanya si Ida mulai jatuh hati sama si Ino…

  2. Dewi Aichi  7 October, 2013 at 09:17

    Nek ngaku saiki neh bubar ceritane…

  3. J C  7 October, 2013 at 05:41

    Ladalaaaaahhh…mbok ngaku dan pasrah saja, jatuh cinta sama si Ino…

  4. djasMerahputih  4 October, 2013 at 21:25

    Dahlia…., Dahlia…, kamu memang baik..
    tapi kayaknya ngga lama lagi sesuatu bakal menimpamu… ( takuuuuttt..!! )

    Kalau sesuatu telah terjadi, aku siap membantumu…
    ha ha ha….. (hanyut.com)

    Lanjuuuuttt…. !!!

  5. Dewi Aichi  4 October, 2013 at 20:58

    Sudahlah Farida….turuti apa kata hatimu saja….

  6. Dj. 813  4 October, 2013 at 17:30

    Mas Aiief…
    Terimakasih, mudah-mudahan lanjutannya tidak lama lagi.
    Salam,

  7. ariffani  4 October, 2013 at 17:24

    just like me

  8. James  4 October, 2013 at 11:43

    SATOE, Love is Spice, Spice is Love

  9. dev  4 October, 2013 at 11:42

    ga sabar nunggu lanjutannya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.