Belajar dari Dian

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: This Is America, Beibeh!

Penulis: Dian Nugraheni

Penerbit: Penerbit KOMPAS

Tahun terbit: 2013

Tebal: xviii + 310

ISBN: 978-979-709-729-5

this-is-america-beibeh

Perempuan Jawa itu hebat. Ketika dibutuhkan untuk mandiri, perempuan Jawa sanggup menunaikannya dengan digdaya. Kemampuannya untuk belajar dan menyesuaikan diri juga fenomenal. Yang juga harus dihargai tinggi dari perempuan Jawa adalah sifatnya yang ‘nrima in pandum’, menerima takdirnya. Sikap nrima ing pandum bukan berarti menyerah pada takdir, tetapi menerima takdir dengan gembira dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan terus-menerus belajar. Sifat nrimo ing pandum itu membuat perempuan Jawa tidak suka mengeluh. Semua kualitas perempuan Jawa tersebut kita dapati dalam sosok Dian Nugraheni. Melalui cerita-cerita ringan yang dia tulis, Dian menceritakan pengalaman sehari-harinya sebagai imigran di Amerika.

Dian berimigrasi dengan dua gadis ciliknya karena mendapatkan green card. Meski harus belajar banyak hal baru, dan mengerjakan hal-hal yang tidak sesuai dengan latar belakangnya, Dian berhasil sebagai seorang manusia. Bahkan dia menjadi ahli di banyak bidang. Dengan kesibukannya bekerja delapan jam sehari, enam hari seminggu dia tetap bisa menjadi ibu yang hebat. Ibu yang dikagumi oleh anak-anaknya. Ibu yang dijadikan sebagai model ‘Monalisa’ saat anaknya belajar art, meski agak gemuk dan senyumnya tembem.

Di Amerika Dian mula-mula bekerja di sebuah supermarket. Pelanggan utama supermaket ini adalah para lansia. Oleh sebab itu supermarket menerapkan pelayanan sejak dari turun mobil sampai kembali ke mobil. Dian sering kali menjemput pelanggan, menemani mereka berbelanja dan mengantarkannya kembali ke mobil. Selanjutnya dia bekerja di  sebuah kedai sandwich. Kedai yang berada di sebuah universitas ini mempunyai pelanggan yang sangat banyak. Cerita-cerita lucu sering terjadi. Dian menuliskannya dengan renyah, tetapi reflektif. Kisah-kisah kecil itu dijadikannya bahan refleksi untuk memperkuat diri.

Dian adalah seorang ahli. Kemampuannya sebagai ahli ditunjukkan ketika tiba-tiba dia harus menjadi pemilih nanas di supermarket. Dian dipercaya oleh para pembeli nanas untuk memilihkan buah mana yang paling enak. Demikian pula ketika dia harus menghadapi jagung yang harus dikupas. Dalam waktu singkat dia telah mengalahkan semua pegawai supermarket dalam hal mengupas jagung. Keahlian lainnya yang ditunjukkan oleh Dian adalah tentang kebotakan. Dia menjadi ahli membedakan mana lelaki yang plonthos akibat kebotakan dan mana yang menjadikan plonthos sebagai hair style.

Dian adalah sarjana hukum lulusan Universitas Gajah Mada. Meski dia tidak bekerja di bidang hukum di Amerika, namun dia menerapkan prinsip-prinsip hukum dalam memotong roti dan menyusun sandwich. Hukum itu harus mengikuti aturan apa adanya, harus rapih dan presisi. Nah, Dian adalah satu-satunya pemotong roti yang benar-benar rapi dan presisi. Demikian pula dalam menyusun lapisan-lapisan sandwich, dia melakukannya seperti para Jaksa menyusun dakwaan yang berlapis-lapis dengan sangat rapi. Ilmu hukumnya itu tetap melekat, terbukti hampir di semua tulisannya, dia mencatat jam dan menit ‘kejadian menulis’ di akhir tulisannya. (Hanya orang hukum yang peduli pada jam dan menit sebuah kejadian.)

Dian juga sangat cepat menjadi American. Terbukti dia segera saja menjadi pemungut koin, menjadi pelit dan maniak ramalan cuaca. Sifat berhemat orang Amerika, yang tidak mau kehilangan satu penny-pun serta kegilaan orang Amerika terhadap ramalan cuaca dengan cepat menular pada Dian. Ramalan cuaca menjadi pertimbangan utama bagi Dian dalam bepergian.

Jika ada lowongan Menteri Sekretaris Negara, saya mengusulkan Dian untuk menjabat jabatan ini. Dian hafal semua hari raya nasional, baik hari raya nasional Indonesia maupun Amerika. Dian selalu ikut memeringatinya. Meski sudah lama di Amerika, namun ke-Indonesia-annya tidak hilang.

Ah, kurang menarik kalau menampilkan sosok Dian hanya dari sisi maskulinitasnya. Meski memang dia adalah tomboy (terlihat dari foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini). Bagaimanapun Dian adalah tetap perempuan yang feminim dan puitis. Ini terbukti dari surat yang ditulisnya untuk anak-anaknya (halaman 196) yang mendayu-dayu dan sebuah puisi indah yang digubahnya berikut ini:

Banyak badai sudah datang padaku,

berkali-kali pelangi menghiburku,

bintang berkelip dan rembulan sering berbagi

keindahannya denganku,

 

Matahari pun selalu bersedekah hangat untukku…

Jalani saja hidup apa adanya,

bekalilah dengan semangat menuju sesuatu yang lebih baik,

Ikhlas, dan berbagi senyum tulus…

 

Nah kalau Dian menyatakan bahwa merokok (khususnya di kamar mandi) adalah juga sarana pain relief untuk jiwa, saya menyarankan rokok anda ganti dengan buku “This Is America, Bebieh.” Saya jamin jika anda membaca buku ini, terutama saat duduk di closet, sakit jiwa anda akan sembuh total.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

60 Comments to "Belajar dari Dian"

  1. Handoko Widagdo  19 December, 2013 at 08:57

    Maturnuwun sampun kersa paring koreksi. Kadang driji kula langkung kebat tinimbang utek kula. (Terima kasih sudah bersedia memberi koreksi. Kadang jari saya lebih cepat dari otak saya.)

  2. mochtar  19 December, 2013 at 08:53

    Nuwun sewu judulipun radi klintu, sanes Bebieh nanging Beibeh! …..lho

  3. Handoko Widagdo  20 October, 2013 at 08:59

    “Salam Penuh Cinta”, itulah yang membuat kita bisa menghadapi kondisi apapun dengan ‘nrima’ dan ‘mulat salira’

  4. Dian Nugraheni  20 October, 2013 at 02:39

    Terimakasih banyak Pak Handoko yang sudah bikin resensi yang baguuuusss…hixixixi..suka banget pokoknya…dan terimaksih banyak buat teman2 semua…smoga menghibur dan menginspirasi ya…Salam Penuh Cinta…

  5. Lani  12 October, 2013 at 04:50

    HAND, EL-NANO-NANO : wadooooooooh……..kompore mbulat2…….ini pakai disebul? apa pakai gas langsung wuuuuuuuus………kobar kabeh????? Menurutku klu ada niat ingsun pasti bisa……….tp sement ini mikir wae durung je……..hehehe……maturnuwun yo El…….belum2 udah dikatakan dahsyaaaaaat……….weleh2. Mungkin lbh bagus, klu aku bs menemukan org yg bs mendengarkan kisahku, kmd dia yg menuliskan outobiography ku pie????? hehehe njaluk enak-e tok……..opo iki ora tambah semakin dahsyaaaat?????? tambah ngawuuuuuur………

  6. Handoko Widagdo  10 October, 2013 at 15:04

    Ayo siapa lagi mendukung?

  7. elnino  10 October, 2013 at 15:03

    Setuju pak Han, nunggu yu Lani nulis buku. Pasti akan lebih dahsyat lagi. Perjuangan seorang perempuan Purworejo menggapai mimpinya di negeri jauh, bertemu pujaan hati dan tetap bertahan sampai sekarang di tanah Hula2, pasti sangat inspiratif dan menarik utk disimak. Ayo yu, kamu bisa!

  8. Lani  10 October, 2013 at 13:52

    HAND : mikir kesana saja belum pernah……

  9. Handoko Widagdo  10 October, 2013 at 12:54

    Lani, kalau dirimu mau menulis buku seperti Dian, maka dampaknya akan luar biasa.

  10. Lani  10 October, 2013 at 11:08

    HAND : efek ketemu langsung bs dibawa sampai mati………malah ditambah terkenang-kenang halaaaaaah…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.