Tiga Sahabat (22 – Tamat): Kembali

Wesiati Setyaningsih

 

Hari Minggu, Juwandi dan Aji sibuk di taman rumah Pak Handoko. Juwandi dan Aji mencabuti rumput liar dan memotong daun-daun untuk merapikan tanaman, sementara Sekar menyiram di sana sini.

“Hoii…! Selamat pagiii…!” terdengar sebuah teriakan yang membuat Aji dan Juwandi langsung menoleh.

I’m Lukito, you may call me Lucky Luke!”

Aji dan Juwandi langsung menghambur sambil berteriak “Lukitooo!”

Sekar yang melihat saja sambil masih menyiram dengan selang, tersenyum lebar.

“Juwandi ngapain di sini? Sekarang jadi tukang kebun di sini? tanya Lukito ketika mereka sudah puas berpelukan.

“Enak aja! Ini lagi ngecek apakah pemilik rumah peduli sama tamannya apa enggak. Kalo enggak rumahnya mau aku beli aja!” Juwandi tertawa.

Lukito dan Aji ikut tertawa. Pak Handoko keluar mendengar tawa riuh rendah. Dengan mengenakan kaos dan celana pendek, tangannya basah.

“Ada tamu, ya?” serunya.

Lukito menoleh. “Papa kamu, Ji?”

Aji mengangguk. “Kenalin tuh, Papaku.”

Lukito segera mendatangi Pak Handoko dan mencium tangannya.

“Ini yang cah Semarang itu, ya?”

“Iya, Om. Ini mampir ke sini sekalian saya ambil barang-barang yang tersisa di rumah sodara saya yang di sini.”

“Oh, gitu. Semarangnya di mana?”

“Kalifornia, Om. Eh, salah. Kalisari.…”

“Yang jual tanaman itu?”

“Iya, sekitar situ. Tapi saya nggak jualan tanaman. Hehe..”

“Saudara Om juga ada yang di Semarang. Di Kauman.”

“Kauman? Bukannya Gang Pinggir, Om?” Lagi-lagi Lukito bercanda.

Pak Handoko terbahak. “Kamu lucu sekali. Ayo masuk, sini.”

Mereka bertiga masuk dan ngobrol dengan semangat. Lukito bertanya tentang situasi sekolah terakhir, Aji dan Juwandi ingin tahu bagaimana sekolah Lukito di Semarang.

“Kapan-kapan kalian harus ke Semarang. Nanti aku antar ke manapun kalian mau. Kali aja ada teman di Semarang, kalian bisa cari dan temui. Ada?”

Aji memandang Juwandi dan bertanya dengan dagunya. Juwandi memicingkan mata berpikir.

“Kayanya dulu ada deh, teman dari Semarang. Tapi siapa ya?”

“Keponakan tetangga kamu, tuh…” kata Aji.

“Hah? Siapa?”

“Mbak siapa, gitu. Yang akhirnya terjadi kasus celana dalam itu..”

“Oh, iya!”

“Apa nih? Kayanya seru! Kasi tau doong, kasi tau! Mau tau bangeeet…!”

Maka mulailah Juwandi bercerita dengan berapi-api tentang Mbak Meita sementara Aji masuk untuk membuatkan minum. Aji mengambil nampan dan meletakkan tiga gelas di atasnya. Tiba-tiba Sekar sudah di sampingnya.

“Sini aku bikinin.”

Aji menoleh. Di tangan Sekar sudah ada botol sirup dan botol air es. Sekar tersenyum ke arahnya. Aji mengerutkan dahi, heran. Tapi dia tidak bertanya apa-apa. Dengan gerakan cepat Aji mencium dahi adiknya sekilas. Sekar berteriak kecil sambil menghindar. Sedikit kesal Aji menjitak pelan kepala adiknya. Sekar berteriak makin keras tapi Aji tidak menanggapi dan segera kembali ke luar.

Di ruang tamu Lukito sedang terbahak-bahak sambil memegang perutnya.

“Ya Tuhan, teman kamu  Anung itu lucu banget ya?”

Aji tersenyum.

Tiba-tiba di depan rumah ada mobil berhenti kemudian terdengar pintu mobil dibuka dan ditutup lagi. Aji melongokkan kepala mencari tahu mungkin ada orang bertamu. Seorang perempuan menenteng tas kecil dan menyeret tas besar.

“Woi, Mas Aji. Jangan diam saja, dong! Iyem dibantuin!”

Aji terperangah seperti tidak percaya pada penglihatannya.

“Mas Aji, ini Iyem! Dibantuin, kek.. Masih banyak bawaan Iyem tuh di bagasi.”

Juwandi dan Lukito melompat dari duduknya dan berlari keluar.

“Iyem pulang!” teriak mereka.

Mendapati Iyem berjalan kerepotan mereka berlari membantu. Aji masih saja berdiri mematung. Juwandi membawakan tas besar Iyem dan melewati Aji sambil berteriak tepat di telinga Aji, “Sadar, woiii!! Orang pintar itu benar, kan? Enggak ada yang pergi.”

Aji kaget dan menepuk punggung Juwandi. Dia segera berlari membantu sopir travel yang mengeluarkan barang-barang Iyem dari bagasi. Ada pisang satu tundun, ada singkong satu ikat, ada rambutan sepuluh ikat, ada kotak dus makanan.

“Itu dos isinya bandeng presto, satunya lagi isinya burung dara goreng,” kata Iyem.

Pak Handoko ikut keluar karena mendengar kehebohan di luar rumahnya.

“Ini Iyem kulakan?” gumamnya.

Melihat Pak Handoko ikut menyambutnya, Iyem mendekati Pak Handoko.

“Pak Han, Iyem mau bicara.”

“Baik, sini. Ada apa ini?”

Mereka masuk ke ruang tamu. Aji dan teman-temannya menyingkir di ruang tamu setelah selesai membantu memberesi barang-barang Iyem.

“Ada apa Yem?”

“Gini,” Iyem melihat ke arah Aji dan teman-temannya di teras yang sepertinya ikut mendengarkan.

“Biar,” bisik Pak Handoko. “Lanjutkan saja.”

“Jadi gini,” Iyem menatap Pak Handoko takut-takut. “Iyem belum nemu ganti untuk bantu-bantu di sini. Dan lagi, Iyem bosan di desa terus. Enggak banyak kerjaan. Iyem kangen kerja di sini lagi. Mmm… Iyem boleh tidak..” Iyem ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.

“Boleh!” tiba-tiba terdengar Aji berteriak dari teras ke arah Iyem.

Iyem dan Pak Handoko kaget dan menoleh ke arah Aji. Juwandi dan Lukito juga menatap Aji. Juwandi mendorong dada Aji. Aji seperti tersadar dan menutup mulutnya.

“Tadi maksudnya mau tanya boleh tidak apa, Yem?” tanya Pak Handoko.

“Boleh kerja di sini lagi tidak? Iyem terlanjur cinta sama rumah ini. Terlanjur sayang sama Mas Aji dan Mbak Sekar. Mereka sudah Iyem anggap anak, eh, adik, eh, ponakan sendiri..”

Pak Handoko tersenyum. “Tuh tadi Aji sudah bilang boleh. Ya boleh saja.”

Saat itu Sekar keluar membawakan tiga gelas sirup dingin.

“Iyem, Iyem pulang sini lagi, kan? Jangan pergi lagi ya..”

Aji bergegas memegang nampan yang sedang dibawa Sekar sementara Sekar menghambur memeluk Iyem.

“Iya, Mbak Sekar. Iyem pasti di sini lagi. Cuma suatu saat Iyem pasti keluar dari rumah ini dong kalo Iyem nikah.”

“Enggak. Enggak boleh!” Sekar terisak.

“Iya, enggak deh.” Iyem mengelus punggung Sekar.

Sekar menghentikan tangisnya dan melepas pelukannya.

“Pantes itu dus-dusnya enggak dibawa. Iyem memang mau balik lagi, ya?”

Iyem menggeleng. “Enggak gitu juga. Kemarin rencana, kalo Iyem bisa bawa ganti, Iyem ke sini nganter  dia sekalian ambil dus-dus itu. Ternyata di sana Iyem kesepian ingat Mbak Sekar dan Mas Aji mulu. Ndilalahnya nggak ada juga yang mau diajak kerja di sini. Lagi pada sekolah.”

“Ya sudah. Yang penting Iyem balik lagi. Jadi aku kalo tugas ke luar kota sudah tenang,” kata Pak Handoko.

Setelah berkata begitu Pak Handoko pamit masuk rumah lagi. Masih ada hal yang beliau kerjakan di dalam, katanya. Semua mengiyakan. Melihat ada Lukito, Iyem ikut duduk di teras. Sekar menempel pada Iyem tak mau lepas. Jadilah dia juga nimbrung bersama teman-teman kakaknya.

“Iyem sudah beli aja saja kemarin?” tanya Juwandi.

“Sempat nawar sapi sama kerbau, cuma belum sepakat. Jadi Iyem titip sama Emak kalo nanti orangnya setuju. Iyem tinggal bayar aja. Terus ada sawah yang sudah Iyem beli. Surat-suratnya belum beres. Terpaksa nanti Iyem pulang lagi kalo ada waktu. Nggak pa-pa ya Mas Aji, Mbak Sekar?”

Aji dan Sekar menggangguk bersamaan.

“Tenang Yem. Nanti kalo Iyem pas pulang kampung dan Pak Han nggak ada di rumah, aku nginap sini jagain mereka.”

“Wuu..” Lukito mendorong Juwandi sambil tertawa.

“Mbak Iyem, ini aku ke sini dalam rangka pamitan. Maafkan aku kalo ada salah-salah, ya?” kata Lukito seraya mengulurkan tangan.

Iyem menyambut tangan Lukito terperangah, “Lah, jadinya pindah ke Semarang, to?”

Lukito mengangguk. “Jadi Mbak. Tinggal sama Mama sekarang. Lebih nyaman, lah. Cuma ya itu, jadi kangen sama dua anak jelek ini.”

Aji dan Juwandi berteriak protes. Iyem tertawa.

“Ya, kalo kangen ke sini to.”

“Iya, aku kangen juga..” terdengar sebuah suara dari pintu gerbang.

Semua menoleh dan serentak berteriak, “Anuuunggg!!”

thereisnoplacelikehome

Kedatangan Anung membuat semua ribut riuh rendah. Suasana semakin hangat dan Iyem bergegas masuk menyiapkan minum dan makanan kecil. Sekar membantu. Anung melepas rindu pada Juwandi dan Aji, serta berkenalan dengan Lukito.

Tak lama Iyem sudah keluar membawa gelas sirup dingin dan pisang goreng hangat. Di teras kini ramai dengan Aji dan tiga temannya ditambah Iyem dan Sekar. Tidak biasanya Iyem dan Sekar ikut nimbrung bersama Aji dan teman-temannya. Tapi kali ini semua sedang melepas rindu. Semua tertawa gembira dan berbagi cerita.

Di dalam kamarnya, Pak Handoko mendengarkan celotehan mereka yang sedang di teras. Senyumnya sesekali mengembang kalau ada celetukan yang lucu. Di tangannya ada sebuah album lama. Matanya memandangi seraut wajah perempuan yang tak pernah pergi dari hatinya.

 

–TAMAT–

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Tiga Sahabat (22 – Tamat): Kembali"

  1. anoew  12 February, 2014 at 18:55

    Weh, scenario Anung pulang dari Paris bawa cewek bule kok nggak jadi?

    *frotesss*

  2. Nyai EQ  31 October, 2013 at 03:15

    sukaaaaaa….

  3. wesiati  9 October, 2013 at 19:36

    JC : ada. lagi dibuat. thanks for asking.

  4. J C  9 October, 2013 at 19:04

    Wesi, serial ini apik! Ada serial baru gak?

  5. Dj. 813  8 October, 2013 at 02:13

    Woooow…
    Jadi Anung datang dan Lukito pergi…
    Dan kalau mau cari si Mei di Semarang, dia sudah pindah ke Jatingaleh.
    Hahahahahahahaha….!!!
    Salam,

  6. Dewi Aichi  8 October, 2013 at 00:00

    Yem…bener lho….cerita persahabatan ini sungguh apik..hangat dan bener-bener mengharukan,

  7. Linda Cheang  7 October, 2013 at 23:13

    ada yang berisik, ternyata ada Iyem pulang….

  8. Lani  7 October, 2013 at 21:22

    WESIATI : bakal lbh panjang kemunculan penulis2 dr rumah ini, bravo!!!!!!! Hayo wujudkan impianmu itu………aku dukung dr Kona

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.