Satu Rahim, Tiga Cinta (4)

Endah Raharjo

 

Aku menelepon Mas Toro hanya bila ada kepentingan menyangkut Raysa dan di hari Lebaran. Mas Toro satu-satunya bekas suamiku yang hingga kini masih rajin menjalin komunikasi denganku. Asal aku menghubunginya pada jam dan hari kerja, istrinya tidak keberatan.

Sambil menyetir ekor mata Ferina melirikku. Ia pasti tahu siapa yang sedang berusaha kutelepon. Setelah tiga kali mencoba, teleponku baru dijawab.

“Halo, Mas Toro. Apa kabar?” Aku masih memanggilnya ‘mas’, menunjukkan rasa hormatku pada ayah anakku.

“Halo, Erlin. Kabarku baik. Kamu gimana? Maaf, tadi lagi nego sama calon pembeli. Bulan ini sedang ramai,” ujarnya.

Mas Toro mengelola showroom mobil milik mertuanya, khusus menjual mobil-mobil mewah bekas. Pasti beberapa tahun terakhir ini jualannya laris sebab ia sesekali mengajak Raysa berwisata bersama istri dan dua anaknya. Mas Toro beruntung. Istrinya anak tunggal yang mewarisi semua harta orang tuanya. Ia juga bisa menerima Raysa.

stk64827cor

“Raysa opname di rumah sakit. Keracunan obat,” aku berhenti sejenak, berat sekali mau bilang anaknya mencoba bunuh diri.

“Keracunan obat apa?”

“Ceritanya gini … dia diputus Aryo. Minggu lalu balik Jogja,” jelasku hati-hati. Berikutnya kuceritakan apa yang terjadi.

Teriakan Mas Toro nyaris memecahkan ponselku. Segala jenis umpatan berlomba keluar mulutnya. Ia bersumpah akan membunuh Aryo dengan tangannya sendiri. Masih Mas Toro yang dulu, emosinya gampang meledak tersulut hal-hal yang tidak sesuai kemauannya. Kutunggu sampai marahnya reda, baru kuminta ia menengok anaknya.

“Aku berangkat segera, dengan flight apa aja, yang penting ada seat.” Sambungan telepon ia tutup sebelum aku selesai bicara.

“Memangnya kita butuh dia?” tanya Ferina, pelan-pelan berbelok masuk ke halaman rumah sakit, mencari tempat parkir.

“Ray butuh ayahnya.”

“Kalau kita bertiga barengan nyoba bunuh diri, pasti asyik lihat Mama dikerumuni tiga mantan suami.” Ferina terkekeh oleh selorohnya sendiri. Aku sudah kebal dengan gayanya itu, namun kali ini aku merasa terganggu.

 

**

Ferina dan Nishiko saling berpelukan. Lama. Ferina sangat menyayangi adik bungsunya itu. Selisih usia mereka 8 tahun. Sampai Ferina lulus sarjana, mereka seperti punya dunia kecil yang hanya mereka huni berdua. Raysa sering merasa terkucil. Sesekali Raysa mengadu padaku telah diperlakukan tidak adil oleh kakaknya. Bila Ferina kuperingatkan, ia hanya cengengesan, atau kian berulah, memancing Raysa makin marah.

“Hai, Darmi. Apa kabar? Ngapain kamu di sini?”

“Kabar baik, Mbak Fer. Saya nemani Mbak Nishi njaga Mbak Ray.”

“Kamu pulang aja. Nih … buat beli buku anak-anakmu.” Ferina menyisipkan tiga lembar ratusan-ribu ke tangan kanan Darmi.

Istri Bang Daud itu menatapku, mencoba tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Ia paham polah-tingkah anak-anakku, terutama Ferina. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ferina punya cara membuat orang lain memilih diam, karena tahu bila menjawab hanya akan memancing debat tak sehat.

“Kamar ini kelewat kecil buat berlima. Jadi sumpek,” tukas Ferina menatapku dan Darmi bergantian. Ia bahkan tidak mendekati Raysa, langsung menjatuhkan tubuh semampainya ke sofa.

“Baik,” jawab Darmi, “Bu Erlin, saya pamit dulu. Kalau masih perlu saya langsung telepon saja, Bu. Terima kasih sangunya, Mbak Fer. Pulang dulu, Mbak Nishi.” Ia tarik tasnya dari bawah kursi, melangkah pergi sambil mengelus kaki kanan Raysa.

“Dari tadi Ray tidur mlulu. Kata dokter semuanya baik-baik aja,” kata Nishiko.

“Wah. Itu bagus. Malam ini aku bisa langsung balik Denpasar.”

“Mama mau kalian tinggal sampai Minggu.”

“Kelewat lama. Aku banyak urusan,” protes Ferina.

“Sekali-kali libur kan nggak apa-apa,” tukas Nishiko.

“Libur? Ngurus orang sakit kok dibilang libur.”

“Tidak ada yang nyuruh kamu ngurus Ray. Cuma menemani. Dia lagi butuh teman sekarang ini.”

Baru beberapa jam kami berkumpul di satu ruangan, namun sudah saling berbalah. Kalau kucatat semua perbantahan kami sejak anak-anakku mulai bisa dan berani menyanggah, seharusnya aku mendapat medali sebab hingga kini kami masih tetap saling menyayangi.

Keributan kami membangunkan Raysa. Tubuhnya menggeliat. Tangan kirinya berusaha menjangkau jarum infus di lengan kanannya. Nishiko buru-buru bangkit dari kursi, menahan tangan kakaknya. Erangan halus keluar dari mulut Raysa. Sepasang kelopak matanya bergetar. Dua tungkainya bergerak-gerak di bawah selimut.

“Ray,” bisikku ke telinganya. Nishiko pasti telah mengoles parfum ke leher kakaknya. “Ray. Ini Mama. Ada Nishi dan Fer juga.” Kuelus pipi pucat itu.

Mata Raysa pelan-pelan terbuka. Nafasnya sedikit terengah. “Maaa …,” rintihnya. Kepalanya menoleh, hidungnya nyaris menyentuh hidungku. Pada saat itu cintaku padanya meruah memenuhi rongga dadaku, membuatku ingin menangis.

Raysa berbeda dengan Nishiko dan Ferina. Selain rentan terhadap benturan hidup, ia pendiam, jarang membagi isi hatinya. Bila marah atau kecewa atau sedih, ia akan menyisih, berkubang dalam kekeruhan pikirannya sendiri.

Ia satu-satunya anakku yang terang-terangan menyatakan ingin menikah dan punya anak. Ia bilang padaku akan berhenti bekerja bila suaminya meminta. Saat itu hubungannya dengan Aryo makin serius. Mereka sering bertandang ke Jogja. Bila kuingat-ingat, Aryo memang jarang bicara tentang keluarganya. Setahuku mereka juga belum pernah mengunjungi orang tua Aryo di Bandung. Kalau kutelusur ke belakang, tanda-tanda itu sebenarnya sudah ada.

Raysa pula yang hingga kini menjalin hubungan dan secara rutin bertemu dengan ayahnya. Ia selalu tampak bahagia bila aku meluangkan waktu ikut menemui Mas Toro. Sehabis kencan bertiga – biasanya makan malam – Raysa suka menggoda, meminta kami ruruk lagi.

“Papamu sedang menuju ke sini,” bisikku tepat di telinganya.

“Hey. Ray. Untung cuma obat batuk. Coba kalau Baygon apa racun tikus. Udah bablas kamu,” gurau Ferina, menjumput perkedel tahu dari jatah makan siang Raysa.

Kuangkat wajahku, kutusukkan mataku ke mata Ferina. Aku tak tahan lagi dengan seloroh kasarnya itu. Senyum sinis di bibirnya menghilang. Sorot matanya melunak. Kali ini kulihat rasa sesal terpampang di wajah manis berbingkai rambut bob berponi menyerong itu.

“Sebaiknya aku keluar,” katanya, berkelebat lalu menutup pintu pelan-pelan.

Nishiko mencondongkan tubuhnya ke tempat tidur, tepat di seberangku, mengusap-usap punggung tanganku. Rambut ikalnya berjatuhan di atas selimut. Kami memusatkan perhatian pada Raysa, membiarkan Ferina mencari udara segar. Nishiko menawari kakaknya air putih yang disambut dengan anggukan. Hati-hati sedotan ia tempelkan ke bibir Raysa.

“Udah,” bisiknya, hanya minum sedikit.

Kubasahi tisu, kutempelkan lembut pada bibir keringnya. “Kamu akan baik-baik saja. Kalau mau, Tante Dita bisa bantu supaya kamu nanti sore pulang.”

“Mungkin di sini dua-tiga hari lebih baik. Paling tidak ada asupan makanan kalau kamu belum doyan makan,” sambung Nishiko melihat botol infus. “Terserah maumu gimana, Ray.”

Raysa mendengus, kembali memejamkan matanya. Aku berharap ia marah, atau berteriak, atau mengumpat. Apa saja. Yang penting ia menunjukkan perasaannya, berbicara dengan kami, menolak energi negatif yang mendekam di dalam dirinya.

“Ray. Jangan tidur lagi,” pintaku, “kamu harus makan sesuatu.”

Perempuan 27 tahun itu menggeleng lemah, memiringkan tubuhnya, memunggungi Nishiko. Tangan Nishiko mengurut-urut punggung itu.

Selain karakternya, Raysa juga mewarisi wajah ayahnya, terutama matanya yang sipit panjang dan alisnya yang melengkung tebal. Dengan kulit terang yang ia dapat dariku, ia sering disangka keturunan China.

“Kamu nggak capek, Nishi?” tanyaku, duduk ke sofa.

Nishiko menggeleng sambil terus mengurut punggung kakaknya. Selisih mereka 4 tahun. Namun dalam menghadapi persoalan hidup sikap Nishiko lebih dewasa.

“Ray ….” Nishiko mengguncang lembut tubuh kakaknya. “Kamu harus makan. Supaya kuat. Cepet pulih.”

“Udahlah. Nggak usah dipaksa,” sergah Ferina kesal. Tahu-tahu ia sudah kembali ke kamar. “Aku mau pulang aja, Ma. Nanti Bang Daud aku suruh langsung ke sini. Aku mau ngurus kerjaan.”

“Pulang ke Denpasar?”

Ia menggeleng. “Aku akan di Jogja sampai Minggu, biar Mama senang. Nanti pinjam laptopnya, ya? Aku nggak bawa apa-apa.”

“Semua yang di rumah Mama boleh kamu pakai,” jawabku. “Brongkosnya belum kamu sentuh.” Mataku beralih ke lunch box merah di atas meja.

“Buat Mama dan Nishi aja, aku makan di rumah. Belum lapar.” Ferina menyambar tas. Sebelum pergi, tangannya menarik pelan ujung-ujung jari kaki kiri Raysa. “Makan, Ray. Ntar bisa mati beneran, lho.” Tawa Ferina berderai. Selera humornya yang kasar tak urung membuatku dan Nishi meringis geli.

Wajah dan kulit anak sulungku itu persis ayahnya. Selama 31 tahun menjadi ibunya, aku masih belum bisa menemukan sifat apa yang ia warisi dari ayahnya. Tak banyak yang kuingat dari Mas Insan. Kami hanya pacaran setahun dan pernikahan kami berakhir sebelum genap dua tahun. Sejak itu, 29 tahun lalu, kami hanya dua kali bertemu: di hari Ferina wisuda sarjana dan di saat Ibu meninggal dunia. Ia bermukim di Kalimantan, menjadi pengusaha batu bara dan menikahi perempuan Dayak mantan ratu kecantikan lokal.

 

*****

 

18 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (4)"

  1. Endah Raharjo  15 October, 2013 at 16:20

    @ Mawar: udah ada itu di bagian 5

  2. Endah Raharjo  15 October, 2013 at 16:16

    Sama2, mbak Indri. Terima kasih sdh baca cerita saya. Erlina ini kyk kelapa, keras luarnya tp sebenarnya isinya lembut dan cair, dan penuh manfaat hahahahaaa…

  3. Indri  14 October, 2013 at 22:42

    Mbak Endah habis ngebut baca cerbernya, saya suka dg pribadi sang Ibu yg praktis dan tegas mempertahankan prinsip yg dia nyakini…….jadi ingat teman sekelas anak sulung saya, bersaudara tiga, beda bapak semua…… Saya selalu menikmati tulisan anda dan terima kasih telah dikenalkan dg Baltyra…….keep writing…..ga sabar nunggu lanjutannya……

  4. Mawar09  11 October, 2013 at 02:00

    Endah : ceritanya tambah seru, pengen tahu sikap ayahnya Ray nanti. Dengan sabar menanti lanjutannya. Salam!

  5. Endah Raharjo  10 October, 2013 at 20:16

    @Meli: syukurlah kalau Meli suka. Ferina? yaaaa… tunggu aja **kedip-kedip**

    @Linda: hahahahahahaaa… kenapa nggak sekalian kayak para petinggi itu ya, pakai yg lebih kuat biar telernya dahsyat

  6. Linda Cheang  10 October, 2013 at 16:30

    iya, cuma obat batuk, tapi isi dextrometorphane-nya bisa bikin fly, makanya Ray suka makan itu obat batuk, hehehehehehe…

  7. Meli  10 October, 2013 at 12:02

    Mbak Endah, suka dengan cerita yang ini. Perempuan sekali. Hehehee. Dan saya penasaran dengan si sulung Ferina. Sepertinya ada yang lebih besar di dirinya, semacam rahasia atau galau tingkat tinggi, yang disembunyikan di balik sikapnya yang skeptis dan sinis. Ya kan? Ya kan? Ya kan?

  8. Endah Raharjo  10 October, 2013 at 08:25

    @Aji: iki mung ayem tentrem ngene kok, ora dahsyat… :p

    @Alvina: wokeeeee…

    @Matahari: mantap bacanya detil, kata nyi dalang ‘materialistis’ memang bagian karakternya, sejak kecil dia belajar bhw materi salah satu ‘pilar’ untuk menegakkan keluarga

    @Elnino: aku anggap sebagai pujian, terima kasih sangat

    @Ariffani: semoga sabar nunggunya…

    Salam Kamis pagi unt semua teman2 Baltyra…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.