Peran

Wesiati Setyaningsih

 

Kenapa sebenarnya kita ada dalam kehidupan kita sekarang? Mengapa saya berperan begini dan anda berperan begitu? Apakah ini semua pilihan kita atau memang ada desain besar yang kita harus menerimanya? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan tak habis-habis ketika saya melihat potongan-potongan film “The Act of Killing” di YouTube.

Ceritanya tiap hari Sabtu, teman-teman dari Rumah Media mengadakan diskusi film dan buku berganti-ganti. Sabtu lalu, sesuai rencana, mereka akan memutar film ‘The Act of Killing’ dimulai jam 10.00 pagi. Film ini menarik karena merupakan film dokumenter tentang kehidupan para jagal PKI tersebut di masa sekarang.

act-of-killing

Karena saya mengajar sampai jam 11.45, saya pikir pasti saya ketinggalan nonton film dan cuma kebagian diskusinya saja. Maka saya cari di You Tube, siapa tahu ada full movie-nya. Setelah mencari-cari, saya tidak menemukan full movie-nya. Hanya ada potongan-potongan clip sepanjang beberapa menit itupun cuma beberapa adegan saja. Saya melihat seorang laki-laki bernama Anwar Kongo yang menjelaskan bagaimana orang-orang yang dituduh sebagai PKI dibunuh.

Dia menggambarkan dengan sangat detil bagaimana membunuh dengan menggunakan kawat yang diikatkan ke tiang besi, kemudian korban didudukkan tak jauh dari situ dan lehernya dililit kawat tersebut, sementara dia menarik ujung kawat satunya yang sudah diberi pegangan kayu. Dia tinggal menarik dan matilah korban itu tanpa menimbulkan banyak darah.

Tidak banyak video yang saya dapat. Video lain yang saya dapat adalah ketika Anwar Kongo menginstruksikan untuk membuat adegan berupa perempuan yang menangis-nangis karena suaminya dibawa pergi. Ketika adegan itu benar-benar dilakukan, Anwar Kongo yang berdiri agak jauh dari kerumunan orang yang menonton, beberapa kali mengalihkan pandangannya ke arah lain seperti tak tega.

Saya baru mendapat keseluruhan cerita besok paginya. Begitu selesai mengajar saya langsung pergi ke Lespi. Di sana film ini sedang diputar. Saya terlambat sekitar satu jam, namun setidaknya saya masih mendapatkan kisah yang sebenarnya.

Jadi si pembuat film, Joshua, melihat bahwa para pelaku pembantaian mengerikan terhadap ribuan orang di Medan kini bahkan bagai pahlawan. Dalam dunia politik mereka ikut berkiprah dan dari rampasan terhadap harta benda orang yang dilabeli sebagai PKI, mereka menjadi kaya raya. Maka Joshua menantang para algojo ini untuk melakukan reka ulang atas apa yang pernah mereka lakukan. Dari beberapa orang algojo yang melakukan ini, hanya Anwar Kongo yang tampak menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia tidak seperti temannya yang dengan bangga mengatakan bahwa definisi mengenai penjahat perang itu dibuat oleh pemenang dan katanya, “saya pemenang! Jadi saya harus bikin sendiri definisi menurut saya sendiri.”

Dalam salah satu adegan, Anwar Kongo mengalami kejadian saat dia menjalani adegan disiksa dan dibunuh dengan cara dililit kawat di leher. Dia juga muntah-muntah saat berada di tempat pembantaian di mana dia menunjukkan cara membantai, namun kali ini di senja hari. Kali ini dia menceritakan betapa banyak korban yang mati bergelimpangan di tempat itu dan bagaimana cara membuangnya. Anwar Kongo juga yang di ujung film tampil sendirian bertanya, “dosakah saya?”

Sampai di situ saya tercenung. Siapa yang tidak benci pada orang seperti ini? Orang-orang yang mereka bunuh itu bisa jadi sama sekali tidak bersalah. Hanya dengan sedikit hasutan, jadilah dia PKI dan layak dibunuh. Kalaupun kesalahan mereka berat, harusnya ada pengadilan dan bukan langsung dibantai begitu saja. Nyatanya, itulah yang terjadi.

Tapi dalam mata saya tampak sisi yang lain. para algojo itu juga manusia. Mereka hidup ke dunia ini tanpa gambaran detil apa yang akan mereka lakukan di dunia ini. seiring perjalanan waktu dia menjadi algojo bagi banyak orang. Saya tidak bisa membayangkan betapa besar rasa bersalah yang dia tanggung seumur hidup. Bahkan ada sebuah adegan di mana Anwar Kongo bercerita bahwa suatu ketika dia lupa memasang penutup mata pada korban yang dia bunuh. Mata itu yang terus membayanginya dalam mimpi-mimpi buruknya.

Saya tidak bisa membayangkan penderitaan yang dia alami. Bahkan setelah mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti orang lain saja saya merasa bersalah dan butuh waktu untuk menghapusnya. Apalagi dia yang menyaksikan mata orang yang sekarat di tangannya? Buat saya itu mengerikan.

Katakan, itulah balasan buat dia. tapi apakah jalan hidup itu yang dia pilih? Apakah ada sebuah ‘Great Design’ yang ‘mengharuskan’ dia begitu? Kenapa saya menjadi guru dan siapa yang mendorong saya menjadi guru? Kalau demikian adanya, layakkah saya membenci orang seperti Anwar Kongo yang dalam hidupnya ‘bertugas’ menjadi algojo dan kemudian tersiksa seumur hidupnya.

Sampai di sini saya jadi berpikir bahwa mereka yang jadi korban pembantaian itu sebenarnya menjalani peran yang lebih mudah karena begitu mati, selesai. Dengan mati itu mereka lebih bahagia. Mereka tidak lagi merasakan lapar dahaga, tidak lagi merasakan sakit fisik, tidak lagi berpikir bagaimana melanjutkan hidup. Begitu mati, maka urusan dunia mereka usai.

Sementara para pembunuh itu melanjutkan hidup bersama semua beban rasa bersalah mereka. Di sisa hidupnya, ketika tubuh menua, jiwa merenta, mimpi buruk makin memburu di sela tidur mereka. Jeritan-jeritan yang memenuhi benak mereka mulai menjadi kenangan yang mengusik. Mata orang-orang yang sekarat terbayang-bayang di depan mata. Siksa yang tak tampak ini justru makin lama makin berat.

Kalau sebelumnya saya sudah mendengar tentang penderitaan dari anak korban PKI karena luka hati yang tak mudah pergi, dari film ini pertanyaan saya mengenai apa yang terjadi para algojo itu terjawab. Ternyata beginilah yang mereka alami. Semua kamuflase kehidupan bahwa mereka merasa dianggap pahlawan dan orang terhormat bahkan juga kaya raya dari rampasan manusia-manusia yang mereka bantai, tidak ada yang tahu sebenarnya batin mereka seperti apa. Nyatanya ketika seorang sutradara dengan cerdik meminta mereka membuat reka ulang dari kekejaman yang pernah mereka lakukan, terjadi pergolakan jiwa dalam diri mereka.

Ujung film ini hampir mendekati apa yang saya bayangkan. Anwar Kongo berada di air terjun bersama para penari. Kemudian ada orang-orang yang digambarkan sebagai arwah-arwah yang sudah dia bunuh ikut menari di sebelahnya. Orang-orang itu mengalungkan medali pada Anwar Kongo dan mengatakan bahwa mereka berterima kasih karena Anwar Kongo sudah membebaskan mereka dari penderitaan kehidupan dengan membunuh mereka.

Film ini membuka mata saya, dengan peran yang selama ini saja jalani, sebenarnya peran yang saya lakukan sungguh mudah dan sangat menyenangkan. Saya melakukan peran sebagai guru selain sebagai anak, istri, ibu dua orang anak, dan teman. Andai saya melakukan semua dengan semestinya, semua pasti baik-baik saja. Setidaknya saya tidak perlu terbangun dengan mimpi buruk dan bertanya-tanya di sisa hidup saya, “dosakah saya?”, seperti Anwar Kongo.

 

act-of-killing01

Poster film dengan foto Anwar Kongo

 

act-of-killing02

Anwar Kongo ketika memerankan tokoh yang disiksa dalam reka ulang kejadian. di sini dia sempat pingsan.

 

act-of-killing03

Suasana serius waktu nonton bareng di Lespi

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Peran"

  1. Nur Mberok  15 October, 2013 at 15:06

    iyem ki ncen pitenah owk
    sapa sing sms an. Wong aku ntn pideo porno., wuu ngawur!

    Yang jelas ntn pilem ini mual. Kok ada ya membunuh bangga., tp entahlah, mgkn mrk skedar melakukan peran dg baik.

    Aku plg gasik, lha jare biasa plg j2. Ya exit permitnya itu jd g sesuai lha j4 aja blm slese. Haiaíaa

  2. wesiati  14 October, 2013 at 20:22

    di film memang cuma reka ulang kok. kita tau benar pas didandani dsb. imajinasi kita yang bikin kita kengerian ngebayangin berapa banyak orang digituin. saya sendiri enggak bayangin berapa banyak korbannya. baru tau dari teks nya kalo korbannya ratusan ribu. kalo cuma dari filmnya enggak tersirat sebanyak itu.

    JC : kadang jejeg kadang mboyak mbayik. biasa to. variasi.

  3. J C  14 October, 2013 at 14:36

    Sepertinya film ini benar-benar layak ditonton…

    Wesi, tumben kok jejeg lagi?

  4. Hennie Triana Oberst  11 October, 2013 at 18:41

    Sasayu, mau ah nontonnya kalau memang nggak mengerikan. Mau nyari filmnya.
    Thank you, Sa atas sarannya.

  5. Sasayu  11 October, 2013 at 17:56

    Kak Hennie, nonton deh, kalau dibilang graphic ya ga terlalu, yang bikin disturbing sebenarnya karena penonton dibuat mikir setelah flm selesai. Dokumentasi ini malah dibumbui dengan adegan-adegan lucu dan humornya. Mengutip dari apa yang Sutradaranya bilang, “There is nothing good about this movie”. Si joshua dan kru2 film yang lain, selama pembuatan film dia ikutan insomnia, susah tidur dan mimpi buruk selama bbrp bulan.

  6. [email protected]  11 October, 2013 at 08:29

    nggak tega nontonnya.

  7. ariffani  11 October, 2013 at 07:55

    Masya Allah.. ngeri sekali sepertinya, dosa kecil aja kita masih pikirkan bagaimana dengan mereka yang membunuh orang. semoga Allah mengampuni dosa mereka.

  8. Hennie Triana Oberst  11 October, 2013 at 03:03

    Filmnya pasti menarik sekali. Tapi aku bisa terbayang-bayang dan mimpi buruk terus jika adegannya brutal seperti satu foto di atas. Gimana ya sebenarnya perasaan yang tersembunyi para pelaku.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *