[The Kitchen] Love is Spice – 6

Yang Mulia Enief Adhara

 

Seperti biasa aku berkumpul dengan Rayi dan Tika, kami berkumpul Jumat sore satu minggu setelah ‘kencan’ ku dengan Ino di kawasan Glodok.

“Itu namanya kamu jatuh cinta, kamu mulai merasa nyaman, ada rasa rindu dan ada rasa cemburu”, Ujar Rayi dengan yakin.

Aku menelan makananku, ku teguk air sedikit lalu aku bicara dengan lambat, “Gitu yaa? Tapi sampai detik ini dia nggak bicara masalah perasaan sih, ya kita kaya temen aja. Sebenernya ini yang selalu aku takutin, aku jadi GR atau menjadi bergantung sama dia”.

“Santai aja! Going with the flow saja, yang penting kamu bisa menjaga hati kamu agar tetap realistis. Selama ini kamu deket sama kita berdua nah Ino bisa jadi yang ketiga. Sumpah aku tuh penasaran banged”, Tika bicara agak serius.

Aku terdiam, sepertinya benar kata kedua sahabatku. Ada rasa rindu saat Ino tidak ada, lalu muncul pertanyaan sedang apa dia? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sehat? Dan banyak lagi. Sepertinya aku mulai berharap lebih kepada Ino, tapi betul kata Tika, biarkan mengalir saja tidak perlu tergesa-gesa.

 

*****

Dan sore keesokan harinya Ino tiba tiba menelpon, aku nyaris berteriak kegirangan namun untungnya aku berhasil menguasai diri. Seperti biasa Ino membuat rencana dadakan. “Heii besok Minggu aku mau ke rumahmu yaa, aku mau kita masak. Aku juga mau ajak kamu jalan-jalan ke pasar tradisional, jadi jam 5 subuh aku udah di depan rumahmu, awas kalau belum bangun ya?!”, Ino bicara dengan semangat penuh.

Aku cuma tercengang, “Apa?? Jam 5 subuh? Ke pasar? Kenapa nggak jam 11 siang dan ke supermarket aja?”, Jawabku sambil ngeri merinding membayangkan pasar tradisional.

“Beda donk, pokoknya kamu bangun ya dan abis itu baru kita masak, udah ya aku masih ada urusan”, Ujar Ino dan langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawabanku setuju atau tidak.

Dan aku buru-buru menghubungi Tika bertanya tentang pasar tradisional dan sekaligus juga mengundang agar ke rumahku, “Yang jelas ke pasar itu tidak pakai high heel, pake baju rumah dan gak perlu make-up, Rayi biar aku aja yang nelpon, see u at Sunday”. Jawab Tika singkat lantaran dia lagi menyetir.

*****

Dan hari Minggu di pagi buta aku dan Ino sudah berada di pasar tradisional. Aku seumur hidup baru kali ini menginjakkan kaki ke pasar tradisional. Awalnya aku ngedumel di dalam hati namun lama-lama ternyata asyik juga. Ino membeli bahan-bahan masakan dan aku pasrah mengikuti saja. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah membantu menenteng belanjaan.

Sekitar satu setengah jam di pasar akhirnya kami selesai. Setiba di rumah aku langsung mengajak Ino menuju dapur. Ino langsung berkomentar kagum, “Ohh mai got!!! Dapurmu keren amat dan super lengkap? Bagaimana bisa orang benci masak tapi memiliki dapur seindah ini?”.

kitchen

Aku menjawab sambil sibuk mengambil wadah, “Aku kan disainer interior, gak lupa kan? Nah kalo peralatan dan tetek bengek aku emang senang membelinya tapi soal kegunaan sih kebanyakan aku nggak tahu”.

Dan selanjutnya Ino memasak ramen dengan udang yang lezat, lalu kami sarapan di dapur sambil mengobrol ringan.

*****

Aku akan ceritakan dulu suasana di rumahku. Halaman depan rumahku berukuran lebar 5 meter dan panjang 10 meter aku tata dengan taman gaya Inggris perpaduan gaya bali. Aku dari dulu senang nuansa agak ‘liar’ agar berkesan alami namun tetap tertata rapi.

Garasi memuat satu mobil dan dari garasi kita baru bertemu pintu kaca menuju ruang duduk serba guna. Aku hanya memasang jendela besar ke arah luar namun tanpa pintu demi keamanan. Dinding ruang duduk serba guna bernuansa kuning pucat. Di ruang itu aku meletakkan sofa warna merah anggur dan dua kursi tunggal warna biru muda dengan motif bunga gradasi biru. Aneka pernik antik mendominasi ruangan. Lemari kaca antik gaya 50-an menjadi tempat aneka koleksi keramik antik peninggalan Mama.

Menuju ruang berikut terdapat sofa berdisain moderen bentuk L warna maroon. Dinding bernuansa krem untuk memberi kesan ruangan lebih lapang. Beberapa bufet dan lemari antik mengisi ruang dengan pernik antik yang mendominasi ruangan. Ruang itu juga berfungsi sebagai ruang audio visulal.

Di area itu terdapat kamar tamu dan kamar mandi tamu yang aku disain dengan mozaik warna hijau dengan sanitary serba putih. Masih diruang yang sama terdapat area tangga yang mengantar ke lantai 2 yang didominasi nuansa abu-abu kebiruan. Lantai 2 hanya berisi kamar tidurku yang dilengkapi ruang duduk sekaligus ruang santai, sudut kerja dan area tidur yang sudah mencakup tempat aku menyimpan pakaian dan juga kamar mandi bernuansa merah putih.

Kembali ke lantai satu di dekat ruang tengah kita langsung bertemu dapur merangkap ruang makan yang sengaja didominasi warna putih dengan aksen warna perak. Aku memang tidak menyukai rumah yang terlalu besar namun juga bukan berarti rumah yang serba sempit.

Di taman belakang ada sebuah pergola dari besi berpadu dengan kayu Sonokeling yang tahan terhadap panas dan hujan, pergola itu dirambati tanaman bunga berwarna ungu dan merah. Di bawahnya terdapat meja dengan 4 kursi bergaya rustic tempat favorit di kala aku berkumpul dengan Rayi dan Tika.

*****

“Wah kalau dapur sebagus ini jelas memasak jadi kebutuhan, jadi terus semangat”, Ujar Ino sambil mencuci sayuran. “Tuh kulkas kamu besar tapi isinya soft drink sama makanan instant semua, itu nggak sehat lho?!!”, Lanjutnya lagi.

Aku hanya mengangguk, lalu aku pun menuang kopi ke dalam dua buah cangkir berwarna merah tua, “Apa sih kriteria seorang cewek ideal di mata kamu? Kenapa kamu bilang cewek pintar masak itu seksi?”, Ujarku memancing pembicaraan.

Ino kini nampak sibuk mencuci udang, cumi dan fillet ayam, “Jujur saja aku tuh memandang wanita bukan dari tampilan luar. Semua wanita bisa kok jadi cantik, modis dan penuh gaya, tapi bagiku wanita yang pandai memasak jelas segalanya dan itu tidak perlu cantik atau gaya. Why? Coz memasak itu cerminan cinta. Saat kita memakan masakan yang penuh cinta dijamin rasanya lezat walau itu hanya hidangan sederhana. Wanita yang gemar memasak biasanya hatinya lembut dan penuh cinta terhadap keluarga”, Urai Ino panjang lebar.

Aku menahan nafas, “Jadi secantik dan sesukses apapun wanita kalau dia nggak bisa masak, dia nggak seksi dan bukan Istri idaman?”, Tanyaku agak menyelidik.

“Yup! Begitulah seorang Ino menilai wanita, tapi tiap laki-laki pasti bedalah dalam menilai, don’t take it too hard coz semua ini kan dari sudut pandang aku aja”, Jawab Ino sambil merapihkan bahan dalam wadah siap untuk diproses.

Aku terdiam, dalam hati aku bicara, kalau mau dimiliki Ino maka aku harus belajar masak, Ino sudah terlanjur menyelipkan harapan di hatiku dan itu akan berkembang bila aku bisa memasak.

Aku teringat betapa Mama dulu sering mengomeli aku lantaran tidak memiliki minat belajar masak, “Mau dikasih makan apa suami dan anakmu kelak?”, Kata Mama waktu itu. Dan kini aku berhadapan dengan lelaki yang sangat menganggap penting wanita yang cinta dapur, andai dulu aku menuruti nasehat Mama ya??!

Aku mengelap keningku yang tidak berkeringat. Ino tiba tiba sudah ada di depanku, “Kenapa bengong? Yuk kita duduk dulu sambil ngopi, kita mulai masak saat dua sahabatmu tiba”. Aku pun mengangguk setuju dan segera menyimpan fillet ayam, udang dan cumi ke dalam kulkas agar tidak busuk.

Kami duduk di bawah pergola. Ino terus memuji seleraku dalam menata ruang dan taman, “Wah nggak heran kalo kamu jadi salah satu disainer paling diminati ya? Selera kamu bagus aja, kalau nggak salah kamu memadukan gaya maroko dan antik modern ya?”.

“Iya No, aku sangat peduli detail dan gaya penataanku rupanya banyak diminati. Terima kasih lho buat pujian kamu”, Sahutku dengan tulus.

****

Jam 10 pagi Tika dan Rayi datang dan segera saja mereka senyum-senyum saat akhirnya berjumpa dengan Ino yang selama ini membuat mereka penasaran. Dengan cepat Ino bisa membaur dengan kedua sahabatku. Mereka langsung menyatu tanpa ada jarak.

“Da asli ini orang baik banged, nggak mau tau kamu kudu nikah sama dia, nggak nyesel punya suami kaya Ino”, Bisik Rayi saat kami di ruang duduk. “Kali ini kamu jangan membantah, aku serius deh”, Lanjut Rayi sambil memandang Ino yang sibuk mondar mandir.

Tika tidak mau kalah, “Ayo rebut hati dia Da, kamu harus cinta masak, ini bener-bener lelaki idaman, kalau kamu tetap bertekad jadi jomblo, aku mau kok nikah lagi asal sama Ino”, Ujar Tika. Aku hanya mencubit lengan Tika sambil tersipu, sumpah aku malu setengah mati.

Dan mulailah Ino memasak dibantu Tika. Tika pun membuka obrolan dengan bertanya beberapa tips untuk mengolah bahan makanan. Aku hanya memandangi saja, ingin rasanya ikut sibuk memasak namun aku tidak tahu harus bagaimana. Rayi sibuk memotong sayuran sesuai perintah Ino. Dan tiba-tiba aku begitu malu, betapa aku ini tidak memiliki kemampuan dalam memasak, nol besar!

Menata rumah adalah hidupku namun apa artinya bila aku tidak bisa memberikan sesuatu yang menyentuh jiwa. Menurut Mama saat memasak seseorang harusnya memiliki cinta yang besar. “Lihat Papa kamu, biar udah dijamu sama koleganya di restoran mewah, sampe rumah tetap saja nyari masakan Mama, padahal Mama kadang cuma masak tempe dipenyet sama sayur asem aja, itulah keajaiban makanan yang dimasak dengan penuh cinta”, Kata Mama waktu itu.

“Yaaaahhh malah bengong!” Seru Ino yang tiba-tiba sudah berada di depan mukaku. Aku benar-benar kaget dibuatnya. “Ayo sini bantu irisin bawang merah, tuh cuma 5 siung kok”, Lanjut Ino sambil menyodorkan pisau.

Dan tidak sampai 5 menit aku menjerit karena tanganku tersayat pisau, bawang satu butir yang aku iris itu juga nampak tidak beraturan plus mataku berair karena pedasnya.

*****

Akhirnya terhidanglah Nasi Pedas ala Chef Ino. Nasi putih dimasak dengan sedikit terasi, garam dan irisan halus cabai rawit hijau. Kemudian atasnya ditaruh tumisan daun bayam yang dimasak dengan bawang bombay dan diberi sedikit maizena cair lalu sebagai topping teratas diletakkan udang, cumi dan filet ayam yang dimasak dengan saus tiram dan irisan cabe rawit.

Kami menikmati hidangan itu di meja di bawah pergola. Tika dan Rayi pun sibuk membahas masakan yang lezat yang tengah mereka nikmati. Dan aku bagai terlempar ke Planet asing.

Rasa minder begitu menguasai diriku, Tika, Rayi dan Ino bisa saling bersahutan bicara mengenai bumbu, proses masak, resep. Sementara aku hanya memiliki dapur indah namun itu hanya sekedar hiasan. Bagaimana aku bisa merebut hati Ino? Aku pun hanya diam, pura-pura asyik menikmati hidangan namun 3 orang yang duduk bersamaku tidak ada yang tahu kegundahan hatiku.

Sewaktu aku mencuci piring di dapur tiba tiba Rayi menepuk pundakku, “Da tadi aku sama Tika merhatiin kamu, well jangan berkecil hati, kamu pasti akan bisa masak selama ada niat. Aku sama Tika siap membantu kok”, Ujar Rayi seraya memelukku. Aku terharu ternyata sahabat sejati akan selalu tahu apa yang merisaukan kita, walau itu tak pernah diucapkan. Bersyukur aku memiliki Tika dan Rayi dalam hidupku.

*****

Aku sudah terbiasa hidup sendiri, aku sudah lupa bagaimana cara mencintai yang benar, bagaimana aku harus membawa diriku di hari-hari orang yang aku cinta. Aku benar-benar sudah lupa.

Dan itulah yang tanpa aku sadari sering diucapkan oleh Ino. “Kalo aku nggak nelpon kamu nggak nelpon, kalau aku nggak SMS kamu nggak SMS, kalau aku nggak ngajak ketemu kamu nggak bakal nemuin aku”. Ahh pusing!

Status kami yang sebatas teman dekat bagiku justru membuat posisiku tidak aman, Ino bisa setiap saat jatuh cinta dengan wanita lain. Dan untuk bisa melangkah ke jenjang berikut aku harus bisa masak, harus!!!Aku tak ingin mengingkari aku sudah jatuh cinta lagi, kehadiran Ino memberi warna baru … memberi harapan baru dan akan kuperjuangkan.

*****

“Tikaaaaa!!!! Aku mau buat pecel kok bayamnya jadi lembek dan hancur ya?”, Seruku kesal saat menelpon Tika.

“Lho kamu apain? Kalo aku sih cukup direndam air mendidih sebentar terus ditiriskan dan siram sama air es biar tetep hijau”, Ujar Tika dari seberang telepon.

“Hah??? Waduh! Aku sih tadi ngerebus bayam itu sampai 45 menit kalau nggak salah. Aku tadi ketiduran di sofa”, Ujarku dengan lesu.

Tika kemudian berbicara dengan tegas, “Jangan sekali-kali meninggalkan kompor dalam keadaan menyala! Kalau mau masak baiknya kamu berada di dapur Da”.

“Iyaa maap. Ohh iyaa aku masukin kacang ke blender aku kasih air kok hasilnya encer? Nggak seperti yang di tukang jualan. Aku kayanya gagal deh bikin pecel”, lagi-lagi aku bingung.

“Kamu pasti gak seimbang deh komposisinya? Lagian kalau mau buat bumbu kacang yang enak baiknya diulek hingga lembut, jangan lupa bumbunya. Lalu beri air sedikit saat dimasak. Hasilnya harus kental namun lembut di lidah”, Tika dengan sabar memberi tahu langkah-langkah membuat bumbu kacang.

Akhirnya aku tidak jadi melanjutkan memasak, melihat hasilnya saja aku sudah tidak selera. Dan sesiangan itu aku melotot di depan komputer demi mencari resep. Namun hampir semua resep membuat aku bingung. Beda lada sama ketumbar aku nggak tahu, jahe sama lengkuas aku nggak tahu, satu siung itu apa maksudnya aku juga nggak tahu, semua urusan dapur aku nggak tahu!

“Hmmm lebih baik aku kursus masak deh, kalau kaya gini terus bisa kacau” Gumamku pada diri sendiri. Besok aku akan benar-benar menjadi murid sekolah masak.

 

8 Comments to "[The Kitchen] Love is Spice – 6"

  1. J C  14 October, 2013 at 14:32

    Lhaaaa…semakin terpinthil-pinthil sama Ino…

  2. Dewi Aichi  10 October, 2013 at 23:58

    Demi cintaku padamu Ino…aku rela bau minyak goreng…(tapi rasaku ini masih rahasia kok) …jangan sampai Ino tau kalau aku naksir he he he..

  3. Matahari  10 October, 2013 at 23:45

    kulkas disebelah kanan mungkin product Siemens….

  4. Dj. 813  10 October, 2013 at 21:46

    “Hah??? Waduh! Aku sih tadi ngerebus bayam itu sampai 45 menit kalau nggak salah. Aku tadi ketiduran di sofa”, Ujarku dengan lesu.
    —————————————————

    Hahahahahahahahaha…..
    Ngrebus bayem 45 menit… Hebat mas Enief…!!!
    Dj. malah untuk sayuran biasa dikukus sebentar saja, agar vitaminnya tidak
    larut di air.

    Tapi itu dapur cantik sekali.
    Jadi ingat dapur saudara Dj. di Indonesia, mereka menamakan dapur cantik dan tidak dipakai.
    Yang dipakai pembantu malah masaknya masih jongkok.
    Paradok sekali, punya dapur hanya untuk dekorasi rumah saja…
    Agar kelihatan waaaaah…..!!! hahahahahahaha….!!!

    Terimakasih mas Enief.
    Salam Sejahtera dari Mainz dan semoga sehat selalu.

  5. Hennie Triana Oberst  10 October, 2013 at 20:03

    Dapurnya bagus…
    Jatuh cinta makin membuat rajin.

  6. [email protected]  10 October, 2013 at 11:54

    muantab…… lanjut ya…. lanjut….
    jangan pake lama please….

  7. James  10 October, 2013 at 11:15

    waduh foto dapurnya seperti Modern Kitchen, asal jangan dipakai masak Jengkol Pete saja, bisa amburadul baunya

  8. djasMerahputih  10 October, 2013 at 09:35

    Aaaah….. Ino. Ke rumah si ‘non nggak ngajak-ngajak…!!

    Ngga apa-apa deh. Tapi awas ya… jangan sering-sering ke rumah Dahlia lagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.