Di Kintamani Antalani Menangis

Atra Lophe

 

Antalani telah kembali dari kota yang ditempati sahabat-sahabatnya. Kota sahabatnya adalah kota yang tenang dan nyaman. Tenang karena aroma hiruk pikuk dunia modern tidak tercium. Dan nyaman karena kota itu tenang.

Sembilan hari lamanya, Antalani menjejaki kota itu. ia bernostalgia di setiap sudut kota dan kepada sahabat yang ditemui. Seperti biasanya, mereka akan bercerita tentang teater, filsafat, sastra, film dan bentuk-bentuk seni yang lain. Sambil bercerita mereka akan menghabiskan beberapa gelas kopi dan rokok. Bagi Antalani, wujud persahabatan itu nyata dalam rupa rokok dan kopi. Sebab dengan rokok dan kopi itulah mereka mampu menembus batasan-batasan tertentu. Usia dan pengalaman tidak lagi menjadi batasan tatkala semua orang mau membuka diri untuk belajar dan bertukar informasi. Sungguh, bentuk persahabatan itu terpatri dalam kalbu Antalani.

kopi dan rokok

Sahabat, sebuah relasi yang sangat agung. Sahabat menjadi teman dalam arti yang sebenarnya. Ia hadir tanpa dipaksa dan pergi karena terpaksa. Begitulah, persahabatan terjalin tanpa janji, kelak akan bersama. Tetapi hanya sebuah harap dan doa tulus bahwa nanti ketika berpisah, akan ada waktu membawa setiap pribadi untuk kembali.  Kembali bernostalgia menikmati segelas kopi dan sebatang rokok. Cerita-cerita akan menjadi bumbu pelengkap, sebab pertemuan raga akan menjadi yang utama bagi mereka yang sedang merindu.

Suatu hari, 28 September 2013, menjadi momen yang berarti bagi Antalani dan sahabatnya. Hari itu mereka diwisuda dan resmi meninggalkan status mahasiswa. Memasuki ruangan tempat berlangsungnya acara wisuda, Antalani sempat menangkap beberapa tatapan sendu. Tatapan itu seakan menegaskan akan ketidaksediaan untuk berpisah dari para sahabat. Tatapan itu juga menggambarkan kecemasan dan ketakutan untuk menghadapi hari esok. Semua berbaur lewat sebuah tatapan sendu dan senyuman hambar. Kegelisahan bergejolak dan tak bisa disembunyikan. Meskipun wajah ceria, senyuman dan ungkapan kebahagiaan dari siapa saja yang hadir membentur dengan tatapan mereka.

Semua tidak berhenti sampai di situ. Di luar ruangan, setelah acara berlangsung, satu persatu mulai berjabatan tangan. Ada ucapan perpisahan dan kata maaf. Kesedihan tak bisa dibendung. Kesedihan itu membuncah tatkala mereka tersadar bahwa besok tak ada lagi join kopi dan sebatang rokok. Tak ada lagi cerita-cerita dikedai kopi. Tak ada lagi nyanyian di pinggir jalan. Yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan konyol “Sudah kerja di mana? Gajinya berapa?”

Pertanyaan tersebut menjadi enteng bagi mereka yang sudah memiliki kerja. Tetapi akan menjadi sulit bagi mereka yang baru berencana untuk menyebarkan lamaran ke mana-mana. Ketika pertanyaan tersebut dijawab tanpa kepastian, sindiran pun datang bertubi-tubi. “Apa? Belum kerja? Percuma kuliah, nak..nak”. Ah, sungguh-sungguh aneh. Kuliah seakan hanya membentuk kita menjadi pekerja. Toh, tetap saja sindiran-sindiran itu menyisahkan beban psikologis yang berat. Lulus kuliah, harus bekerja. Apapun kerjaannya, yang penting kerja. Maka tidak heran, suatu saat nanti ketika Antalani dan sahabatnya kembali akan ada cerita, mereka telah bekerja sebagai pegawai bank, politisi, pilisi, guru, dan lainnya. Bagaimana mungkin mereka mengisi bidang-bidang tersebut yang bukan kapasitasnya untuk berada disana? Sungguh, negara ini tidak akan menjadi apa-apa jika kita hanya menjadi pekerja.

Ah, cerita di atas bukanlah cerita baru yang terjadi pada generasi Antalani dan sahabatnya. Cerita itu telah ada sejak dulu. Bukankah sejarah selalu mengulang ceritanya sendiri? Membungkus dirinya dengan rapi karena memang tidak ada yang menolak. Hidup seakan berjalan “begitu dan itu-itu saja”. Jika keluar dari yang “begitu dan itu-itu saja” akan dianggap gila. Gila dalam artian waras yang tanggung.

Mengingat itu adalah hal yang rumit, Antalani dan sahabatnya menjadi bingung. Kuliah, pertemuan dan perpisahan menjadi satu paket cerita. Cerita itu membentuk dari pecahan-pecahan lain dari satu sejarah hidup. Bahwa ketika ada pertemuan maka ada pula perpisahan. Perpisahan menjadi satu momen yang menyakitkan. Karena kita terlepas dari satu ikatan kuat. Ikatan yang menjadikan kita dekat satu dengan yang lainnya.

Dalam perjalanan pulang ke Kintamani, Antalani terus dirundung sedih. Apalagi ketika beberapa sahabat mengantarnya menuju bus, kendaraan yang membawanya pulang. Dari balik kaca jendela, lambaian tangan menyapu tatapan-tatapan sedih. Ada seuntaian doa terucap parau, kelak waktu membawa kita kembali.

Hari ini pun, Antalani sudah berada di Kintamani. Pekerjaan sebagai jurnalis menyita begitu banyak waktu. tetapi, kerinduan pada kota dan cerita sahabatnya masih melekat dalam hatinya. Di kintamani, tangisan Antalani pecah. Harum kamboja dan dupa tak terciumnya. Ia rindu kota sahabatnya. Di Kintamani, Antalani menangis.

“Butuh banyak waktu untuk mendapatkan sahabat seperti kalian,” ucapnya lirih

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Di Kintamani Antalani Menangis"

  1. awesome  14 October, 2013 at 21:55

    Usia dan pengalaman tidak lagi menjadi batasan tatkala semua orang mau membuka diri untuk belajar dan bertukar informasi.

    quote yg atas, di paragraf ke2 …… so true ….

  2. J C  14 October, 2013 at 14:39

    Tulisan yang apik dan menarik disimak…

  3. Linda Cheang  13 October, 2013 at 11:43

    hmmmm, lebih milih ngeteh, daripada ngopi, dan no smoking

  4. Dewi Aichi  12 October, 2013 at 10:33

    jangan menangis Antalani..

  5. Matahari  11 October, 2013 at 23:54

    Saya copy beberapa kalimat yang menurut saya memang typical Indonesian banget…:’
    “Yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan konyol “Sudah kerja di mana? Gajinya berapa?”

    Ketika pertanyaan tersebut dijawab tanpa kepastian, sindiran pun datang bertubi-tubi. “Apa? Belum kerja? Percuma kuliah, nak..nak”.

    Toh, tetap saja sindiran-sindiran itu menyisahkan beban psikologis yang berat. Lulus kuliah, harus bekerja. “..

    Yang ditulis penulis diatas menurut saya sangat benar…

  6. djasMerahputih  11 October, 2013 at 20:03

    Tepat seperti saat menulis komentar ini.. ditemani segelas kopi dan sebungkus rok**.
    Sayang ngga ditemani sepiring pisang goreng..

  7. Dj. 813  11 October, 2013 at 18:14

    28 September memang hari istimewa.
    61 tahun yang lalu Dj.lahir…
    Hahahahahahahahaha….!!!
    terimakasih dan semoga ehat selalu.

  8. ariffani  11 October, 2013 at 10:27

    hemmm… sebuah renungan yang mematri di hati.

  9. James  11 October, 2013 at 09:17

    SATOE, Kintamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.