Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (4 – habis)

Nyai EQ – certified neraka guide

 

Artikel sebelumnya:

Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (3)

Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (2)

Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (1)

 

Beda lagi dengan kepercayaan Hindu. Ajaran Vedic awalnya tidak memiliki konsep neraka. Rg-veda (kitab Wedhatama) menyebutkan 3 hal, yaitu bhūr ( bumi/tanah), svar (langit) dan bhuvas atau antarikça (semesta). Pada ajaran Hindu selanjutnya, terutama dalam buku-buku dan Purana (Tempat pemujaan/Pura), beberapa hal lagi ditambahkan, termasuk sesuatu yang mirip dengan neraka, yang disebut Naraka (hampir sama dengan ajaran Buddha). Tempat ini menjadi kekuasaan Dewa Yama.

Dalam ajaran Hindu, Yama terlahir sebagai manusia bersama adik kembar perempuannya Yamī. Pada kenyataannya, Yama kemudian berubah menjadi penguasa manusia yang sekaligus menjadi penentu keberangkatan setiap manusia ke alam baka, atau dengan kata lain menjadi Dewa Kematian. Pada awalnya Yama berdiam di Surga, namun kemudian pindah, boyongan ke kerajaan Naraka, tempat para orang mati berdiam.

Dalam kitab hukum Hindu (smṛtis dan dharma-sūtras, seperti misalnya Manu-smṛti) dikatakan bahwa Naraka adalah tempat penghukuman dosa-dosa. Tempat tersebut adalah tempat terendah dalam bangunan spiritual (disebut sebagai Naraka-loka), dimana jiwa-jiwa dihakimi atau menerima Karma mereka, yaitu akibat dari perbuatan sebelumnya.

Sudah menjadi kepercayaan, bahwa siapapun yang berbuat dosa pasti akan masuk ke dalam Naraka. Dewa Yama, yang juga disebut dengan nama Yamarāja adalah Dewa Kematian sekaligus juga menjadi penguasa neraka. Berat ringannya hukuman tergantung dari besar kecilnya dosa yang diperbuat, hal ini tercatat rapi dalam buku catatan Chitragupta, seorang dewa sekretaris yang menjadi notulen sekaligus penyimpan semua data dalam sidang Dewa Yama. Chitragupta akan membacakan seluruh catatan dosa-dosa seseorang, dan Dewa Yama akan menentukan jenis hukumannya. Hukuman-hukuman yang berlaku dalam ajaran Hindu ini termasuk kejam dan sadis, hampir sama dengan neraka Islam, yaitu ada yang direbus dalam minyak panas, dibakar dengan bara api, disiksa dengan berbagai macam alat dan lain sebagainya.

Jiwa-jiwa yang sudah menyelesaikan hukumannya akan dilahirkan kembali menjadi sesuatu sesuai dengan Karma masing-masing. Semua mahluk tidak ada yang sempurna, dan masing-masing setidaknya memiliki satu dosa dalam catatan mereka. Namun jika ada yang mau mengorbankan hidupnya demi kebaikan, maka ia berhak menuju ke Svarga, sebuah tempat sementara, setelah membayar dosa dalam siksa neraka, sambil menunggu waktu untuk dilahirkan kembali.

Ada 7 tingkatan neraka dalam ajaran Hindu, yaitu :

  1. Ratna prabha
  2. Sharkara prabha.
  3. Valuka prabha.
  4. Panka prabha.
  5. Dhuma prabha.
  6. Tamaha prabha.
  7. Mahatamaha prabha.

Tinggal di neraka, menurut ajaran Hindu tidaklah permanen, meskipun ukuran waktunya bisa sampai bilyunan tahun (?!), namun pada akhirnya akan selesai juga ketika saatnya dilahirkan kembali, sesuai karma masing-masing.

Ada jiwa-jiwa yang dilahirkan di neraka karena suatu alasan. Jiwa-jiwa tersebut terlahir di neraka karena karma mereka sebelumnya. Mereka akan tinggal sementara di neraka sampai karmanya terpenuhi dan mereka akan dilahirkan kembali ke dunia dengan tingkatan yang lebih tinggi, untuk menebus karma lain sebelumnya yang masih terhutang.

Para penghuni neraka terbentuk dari berbagai macam jenis jiwa yang berasal dari berbagai jenis tingkatan neraka. Para ahli neraka ini menjadi Vaikriya Body, yaitu mahluk yang dapat mengubah dirinya menjadi aneka macam bentuk dan dapat merasuki seseorang yang hidup.

Menurut kita Tattvarthasutra, ada beberapa macam sebab mengapa sebuah jiwa terlahir di neraka :

  1. membunuh atau menyebabkan orang lain menderita, dengan kesengajaan dan menikmatinya, semacam psikopat.
  2. Terus menerus melakukan segala kejahatan dengan sadar dan suka cita tanpa perasaan bersalah sedikitpun, termasuk dalam hal ini adalah pembunuh berantai.
  3. Tidak punya tujuan hidup dan tanpa kesetiaan terhadap apapun.

 

Pada candi Borobudur, pada bagian paling bawah terdapat struktur bangunan yang disebut dengan nama Karmawibhangga. Di situ digambarkan relief-relief dunia bawah yang berupa jenis-jenis dosa berikut cara-cara penebusannya dengan sejumlah penyiksaan yang mengerikan.

Di Jawa, dalam kisah pewayangan, gelar dewa kematian disandang oleh Yamadipati atau disebut juga Bethara Yamadipati. Menurut kisah, Sang Hyang Yamadipati adalah anak dari Semar dan Dewi Kinatri, dia memiliki istri bernama Dewi Mumpuni yang digambarkan sangat cantik. Dewi Mumpuni ini sebenarnya menikahi Sang Hyang Yamadipati dengan terpaksa sebab ia adalah istri pemberian Batara Guru untuk Sang Hyang Yamadipati. Yamadipati adalah seorang dewa yang digambarkan memiliki wajah yang menyeramkan dan memiliki tubuh yang besar dan menakutkan, bahkan jika seseorang yang melihat sosoknya dipercaya akan mendapat celaka. Arti dari namanya adalah Rajanya Neraka sebab dia bertugas menjaga neraka dan mencabut nyawa manusia yang sudah hampir mati. Ketika bertugas untuk mencabut nyawa dia membawa semacam tali kulit atau disebut juga dadhung.

 

Dewa Yamadipati

Suatu ketika dia diceraikan oleh istrinya Dewi Mumpuni yang kemudian menikah dengan Bambang Nagatatmala. Hati Sang Hyang Yamadipati pun sangat terluka dan ia mulai jarang pulang ke Khayangan Hargadumilah, tempat dimana ia tinggal. Dewi Mumpuni mengatakan bahwa dia terpaksa menjadi istri Yamadipati karena Ia menghormati Batara Guru. Meskipun Yamadipati merasa kecewa terhadap Dewi Mumpuni karena telah menceraikannya, Ia tetap mencoba untuk berbesar hati dan merelakan Dewi Mumpuni menikahi orang yang dicintainya.

Pada suatu waktu ketika Yamadipati melaksanakan tugasnya mencabut nyawa seorang manusia yang bernama Setyawan, Yamadipati sangat terkesan oleh istri Setyawan yang bernama Sawitri. Sawitri sangat mencintai suaminya, ia mengikuti kemanapun Yamadipati membawa nyawa suaminya. Meskipun jalan yang dilaluinya sangat sulit dan menyengsarakan, tetapi Sawitri tidak berhenti sekejab pun, demi cintanya pada sang suami, sehingga ia membuat Sang Hyang Yamadipati berbelas kasihan kepadanya. Maka, Setyawan pun dibiarkannya tetap hidup dan bahagia bersama istrinya.

Sang Hyang Yamadipati merupakan potret kehidupan manusia yang mampu berbesar hati dalam menerima sebuah keadaan. Walaupun merasa dirugikan atau tersakiti, Sang Hyang Yamadipati masih mampu untuk berbaik hati. Ini merupakan salah satu contoh sikap penyabar dan tidak memendam kekesalan. Meskipun tugasnya adalah menjadi dewa pencabut nyawa  dan menjadi penguasa neraka yang selalu digambarkan dengan begitu kejam, namun Dewa Yama ternyata juga memilik sifat welas asih dan penyabar. Seolah-olah dewa ini tidak benar-benar pantas menyandang profesi sebagai penguasa alam neraka. Atau ini merupakan sebuah ajaran lain dari filosofi Jawa, bahwa seseorang harus memilik watak welas asih, narimo (menerima semua hal dengan rasa syukur) dan jujur, dalam kondisi apapun.

Bagi saya, dosa atau tidak, sebenarnya bukan manusia yang menentukan, ukuran besaran dosa juga tidak bisa ditentukan oleh manusia. Bagi saya, manusia memiliki hukum berlaku yang harus ditaati dengan benar dan baik. Jika melanggar aturan dalam peraturan hukum, sudah pasti akan dihukum sesuai dengan aturan yang tertulis. Aturan tersebut dibuat oleh manusia untuk dijalankan selama manusia masih hidup. Ketika manusia sudah mati, siapa yang pernah tahu apa yang terjadi. Mati berarti lepas dari badan kasarnya. Tubuh akan membusuk dan kembali menjadi ketiadaan. Dan jika dipercaya bahwa urusan duniawi tidak lagi ada harganya dengan urusan surgawi dan nerakawi, maka mengapa masih juga ada gambaran 7 bidadari, sungai yang mengalirkan susu, buah-buah segar dan segala kesenangan duniawi? Apa yang sebenarnya dibutuhkan jiwa-jiwa setelah lepas dari raga kasarnya? Who knows?

Tak usah dipikirkan terlalu dalam, sebab Tuhan tahu.

 

13 Comments to "Neraka: Ke Mana Kita Akan Pergi? (4 – habis)"

  1. J C  14 October, 2013 at 14:40

    Nyai, kowe sudah jadi certified guide di neraka yo? Sudah jadi konsultan neraka dan jadi ahli neraka…

  2. Dewi Aichi  12 October, 2013 at 09:18

    Bagus banget Nyai tulisanmu, banyak sekali wawasan..

  3. Lani  12 October, 2013 at 04:45

    2 PAM-PAM : kumaaaaaaaat!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.