Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (2)

Dewi Aichi – Brazil

 

Artikel sebelumnya: Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (1)

 

Istilah Dekassegui berasal dari bahasa Jepang yaitu  (出稼ぎ), artinya adalah tenaga kerja yang tinggal di jepang yang memiliki keturunan Jepang maupun tidak. Orang Jepang yang bermigrasi dari provinsi yang jauh untuk bekerja di pusat-pusat besar – seperti Tokyo dan Osaka – juga disebut dekasseguis. Atau lebih mudahnya disebut buruh migran. Dan dekassegui paling besar jumlahnya berasal dari Brasil keturunan.

Pada pertengahan waktu tahun 80-an, keadaan berubah. Jepang telah menjadi negara yang lebih baik. Keturunan Jepang sampai generasi ketiga atau  pasangan pernikahan antara orang Jepang dan Brasil mulai memasuki negara Jepang dengan tujuan untuk mencari penghasilan yang lebih baik.

Keadaan itu dikarenakan Brasil mengalami krisis ekonomi dan juga inflasi yang disertai ketidakstabilan politik. Hal ini mengakibatkan orang Brasil atau keturunan mulai meninggalkan Brasil. Sebagai alternatif mereka memasuki Jepang terutama bagi mereka yang imigran Jepang atau keturunan Jepang.

Hari nasional Imigran Jepang

brazil-japan

Pada tahun 2005, Jepang menetapkan tanggal 18 Juni sebagai Hari Nasional Imigrasi Jepang. Tanggal yang dipilih adalah tanggal kedatangan kapal pertama,  yang disebut Kasato Maru, yang saat itu membawa 781 imigran pertama Jepang ke Brasil . Kapal berangkat dari pelabuhan Kobe pada tanggal 28 April 1908, menuju ke Brasil menempuh pelayaran selama 52 hari, sampai mendarat di Pelabuhan Santos pada 18 Juni 1908.

Gambar di bawah ini: Kasato Maru

kapal-jepang

Imigrasi  orang Jepang ke Brasil dimulai pada awal abad kedua puluh, dengan kesepakatan antara pemerintah Brasil dan Jepang. Pertama Jepang tiba di negara itu pada tanggal 18 Juni 1908. Pada tanggal ini, kapal “Kasato Maru” merapat di Pelabuhan Santos dengan rombongan pertama yang datang untuk bekerja di perkebunan barat São Paulo.

Saat ini, Brasil memiliki populasi Jepang terbesar di luar Jepang adalah sekitar 1,5 juta orang, dimana sekitar satu juta tinggal di negara bagian São Paulo. Namun, koloni Jepang juga memiliki kehadiran yang kuat di negara-negara lain seperti Paraná, Mato Grosso do Sul dan Pará.

 

Alasan imigrasi Jepang di Brasil

Dengan berakhirnya feodalisme dan awal mekanisasi pertanian, Jepang sedang menghadapi krisis demografi sejak akhir abad kesembilan belas . Populasi penduduk desa mulai bermigrasi ke kota-kota untuk keluar dari kemiskinan dan kesempatan kerja telah menjadi semakin langka,  mereka membentuk massa pekerja pedesaan yang pekerja keras dan tahan menderita, bahkan dengan modal pengetahuan tentang agraria yang dimiliki selama Era Meiji.

Brasil, pada gilirannya, menunjukkan kurangnya tenaga kerja terampil di pedesaan . Pada tahun 1902, pemerintah Italia melarang imigrasi bersubsidi dari Italia ke São Paulo, meninggalkan perkebunan kopi, produk utama yang diekspor oleh Brasil pada saat itu, tanpa  tersedianya jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Pemerintah Brasil perlu untuk menemukan sumber daya manusia yang terampil, yang dalam hal ini adalah Jepang.

Foto di bawah: Ryu Mizuno (tengah) adalah ketua kelompok imigran pertama yang tiba di Brasil

imigranjepang

Namun, ada banyak kendala untuk menerima tenaga kerja dari Jepang, disebabkan karena  budaya yang sangat berbeda dari Brasil. Selain itu, Jepang dianggap sebagai negara yang sangat tertutup, meskipun ada, itu hanya dibuka untuk perdagangan dunia pada tahun 1846.

Perjanjian Persahabatan pertama, yaitu perjanjian Perdagangan dan Navigasi antara Brasil dan Jepang yang ditandatangani pada tanggal 5 November 1895.

Selain menjadi negeri yang jauh, Jepang memiliki perbedaan budaya yang besar, agama, politik. Selain itu, ada hambatan lain yang mengakibatkan terlambatnya imigran Jepang masuk ke Brasil, yaitu adat istiadat yang sangat berbeda dan juga bahasa.

Hal tersebut mengakibatkan adanya kecurigaan dan prasangka buruk terhadap imigran Asia . Mereka menanggap Asia adalah ras rendah dan oleh karena itu ada rasa khawatir akan menumbulkan  ” bahaya kuning”, yaitu bahwa populasi Asia/oriental akan menyebar di seluruh Amerika, merusak “warna putih” yang ada di Brazil dengan menerima imigran Eropa.

 

bersambung…..

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

9 Comments to "Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (2)"

  1. J C  14 October, 2013 at 14:43

    Aku menantikan menyebarnya caipirinha dan minuman guarana ke seluruh dunia saja…

  2. Dewi Aichi  12 October, 2013 at 08:55

    Alvina, sepertinya sikap sebagian bangsa yang merasa superior memang ada, hingga sekarang. Benar adanya seperti yang kamu katakan itu.

  3. Dewi Aichi  12 October, 2013 at 08:53

    Pak Anwari, benar sekali, bahwasanya manusia apapun itu ágama, ras, bangsa, akan saling membutuhkan. Sejarah imigran Jepang ini sangat menarik. Seperti ada balas budi atau bagaimana, sebab sekarang berbanding terbalik, Jepang , melalui kesepakatan pemerintah keduanya, menerima tenaga kerja dari Brasil, dengan catatan mereka adalah keturunan Jepang, jadi Nikkei akan mendapatkan kemudahan dalam mengajukan visa kerja, sedangkan warga negara Brasil yang tidak ada keturunan Jepang, akan sulit mengajukan visa kerja ke Jepang.
    Dan memang seperti itu pak Anwari, seperti halnya di Indonesia, mereka yang masih muda belia, pergi mencari pekerjaan di kota-kota besar. Ini saya alami dengan mempunyai teman kerja yang mereka asalnya jauh dari luar kota, sehingga kalau natsu yasumi(liburan musim panas), atau tahun baru, mereka pulang ke kampung halamannya, istilahnya mudik kalau kita ya..hal seperti ini ada kok di Jepang.

    Pak Anwari he he..hontoni, sore wa hen na sitsumon deshita

  4. Alvina VB  12 October, 2013 at 01:50

    Sejarah yg menarik Dewi. Aku rasa gak hanya di Brasil, di N. America sama aja, masih ada rasa superior bangsa kulit putih terhadap org Asia dan Afrika dan juga rasa ketakutan yg terkadang sangat absurd.

  5. Dj. 813  11 October, 2013 at 13:59

    Mbak DA….
    Terimakaksih untuk kisah pendatang dari Jepang di Brazil.
    Salammansi dari Mainz.

  6. AWETTUA  11 October, 2013 at 11:07

    Dewi,
    Machigatte gomen neee. SITSUMON desu yooo

  7. AWETTUA  11 October, 2013 at 10:15

    Bukankah di Jepang juga mengalami: yang muda belia menyiapkan diri mereka bekerja di kota-kota besar menjadi pegawai Bank berdasi dan hidup di kamar-kamar kecil yang 4 setengah tatami saja. Mereka meninggalkan sawah ladang kepada kakek nenek, paman bibi yang pada suatu saat telah menuai tingkat kehidupan yang lebih baik. Mereka yang petani ini sering mendominasi kursi-kursi pesawat ke Eropa dan Amerika serta ke Bali. Ada yang tanya apakah Indonesia itu termasuk di dalam Bali? Hen na setsomon desu nee ….
    Anwari

  8. AWETTUA  11 October, 2013 at 10:05

    Manusia saling membutuhkan manusia lainnya apapun warnanya dan jenisnya serta apapun kepercayaan spiritualnya bahkan apapun jenis makanannya. Orang kaukasian eropa saja membutuhkan rempah-rempah dari Maluku yang memicu VOC “berdagang dan sekalian menjajah Nusantara” sekian ratus tahun lamanya. Sekarang Canada menerima orang China begitu banyaknya, sampai kuwalahan. Ada yang sudah generasi ke 5 atau lebih, juga ada yang datang secara illegal menyelundup masuk di dalam container kapal dan tidak bisa berkomunikasi dengan Chinese yang sudah generasu ke 5 itu. Podo Chino tapi ora biso ngomong, ORA NGERTI !!
    Salam,
    Anwari Awettua — 2013/10/11

  9. James  11 October, 2013 at 09:13

    SATOE, Japanese in Brazil

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.