Permainan Kata-kata

Anwari Doel Arnowo

 

Pada tahun 1953an ketika saya masih belajar di ESEMPE saya berkesempatan untuk pergi ke Gedung Parlemen Repoeblik Indonesia yang terletak di salah satu sisi Lapangan Banteng yang sekarang ditempati oleh Kompleks Kementerian Keuangan. Saya sungguh terkejut-kejut menyaksikan sidang yang dipimpimn oleh Mr. Sartono. {Mr. adalah singkatan dari Meester in de Rechten yang artinya Sarjana Hukum}.

Terkejut? Iya, bagaimana saya tidak terkaget-kaget melihat para anggota Parlemen berdebat tanpa putus dan sering memotong pembicaraan orang lain? Lalu yang paling top saya lihat seseorang berpakaian lengkap (berdasi, bercelana dan berjas memakai pici) berjalan agak jauh dari mana dia telah mulai bergerak dengan tenang. Yang aneh adalah dia berjalan di atas meja-meja para peserta sidang. Tidak ada yang protes atau bertindak sesuatupun. Semua diam saja termasuk Mr. Sartono.

Siapa yang berjalan di atas meja-meja itu? Dia adalah Muhammad Yamin, sang Professor yang kemudian malah terkenal sebagai ahli sejarah Indonesia. Buku tulisannya menjadi acuan pelajaran Sejarah indonesia di seluruh sekolah-sekolah di wilayah NKRI, yang bergambar Mahapatih Majapahit yang roman-mukanya bisa saja orang berpendapat profilnya sama persis dengan dia, Muhammad Yamin. Memang saya waktu itu tidak bisa menamai kejadian itu dengan kata istilah apapun, karena saya masih duduk di SMP!! Sekarang? Silakan ikuti yang berikut:

Pada awal jaman orde baru, sekitar 1965 sampai 1966, saya sudah menggunakan kata democrazy, yang saya ciptakan sendiri.

Memang saya ciptakan kata itu dari awang-awang, dimulai ketika bacaan media cetak koran yang boleh terbit hanya Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata saja. Saya tidak berhasil menemukan media cetak lainnya.

Para mahasiswa dan demonstran lainnya dengan bebas menyetop kendaraan siapa saja, mengambil alih kemudi dan si pemilik atau pengendara sebelumnya disuruh turun dan kendaraan dibawa pergi sesuka-suka hati mereka.

Saya juga mengalami sendiri. Saya mengendarai sebuah mobil yang saya bawa dari negeri Jepang setelah bermukim dan belajar di sana selama beberapa tahun. Mobil merek Chevrolet Bel Air buatan tahun 1958 itu dan masih berpelat nomor kota metropolitan Tokyo itu dengan huruf Jepang, distop beramai- ramai terus disuruh berhenti secara melintangi jalan Thamrin, persis di depan Gedung Bank Indonesia menghadap ke arah gedung yang sekarang dikenal sebagai Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kalau tidak salah, waktu itu masih gedung yang ditempati oleh kegiatan perusahaan SHELL. Lalu bagaimana yang terjadi dengan mobil saya? Para demonstran itu segera berkerumun di sekeliling mobil dan mulai mencoret-coret mobil bercat mulus itu dengan apa saja sekenanya, yang paling banyak adalah menggunakan kapur tulis, yang mutu buatannya jelek bercampur pasir tentu saja melukai cat mulus tadi. Saya biarkan saja mereka menulis banyak-banyak, kata-kata yang sebagian besar bunyinya MENTERI GOBLOG atau macam-macam yang lain. Saya keluar dari mobil dan duduk duduk saja di trotoar di depan gedung Bank Indonesia itu menyaksikan perbuatan zalim sedang berlangsung.

malari1974

Eh, malah ditambah mereka mengempesi dua ban mobil itu, saya juga tidak berdaya melarangnya karena jumlah mereka seperti semut. Ada yang mulai mengempesi ban ketiga, saya coba mencegahnya tetapi mata saya melihat seorang lain yang membuka pintu kiri depan, karena memang kemudi mobilnya terletak di sebelah kiri.

Di situ saya taruh tas saya yang berisi uang tunai dalam mata uang Rupiah dan Yen Jepang, jumlah seluruhnya cukup besar. Oleh karenanya saya melompat ke arah si pembuka pintu dan ketika dia mau masuk ke dalam mobil, saya langsung saja  memegang leher bajumya bagian belakang.

Saya tarik keras dia keluar dari mobil sampai dia terjerembab ke belakang. Dia bersuara keras berteriak, apa kata-katanya saya tidak ingat lagi, tetapi dari mulut saya juga mengeluarkan kata-kata makian yang setara kotornya. Dia bangun dari posisinya yang terlentang dan terlihat seterusnya akan menyerang saya.

Sempat pukulan tangan terbuka saya masuk di lehernya dan ketika dia melotot kesakitan itulah, tangan saya yang kanan dipegangi seseorang sambil meneriakkan nama saya. Terkejut saya ada yang mengenali saya di keributan seperti ini. “He, Riek, stop dulu!!” ternyata yang memegangi tangan saya dan memanggil nama saya adalah teman baik saya di SMA 3 Teladan Setia Budi di kelas terakhir selama setahun. Saya meneruskan belajar ke Jepang dan dia masuk menjadi mahasiswa dan lulus menjadi dokter. Nama teman ini adalah Marsilam Simandjoentak, yang sempat menjadi Menteri pada kabinetnya Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Jaksa Agung meskipun resminya hanya sehari dan ikut lengser ketika Gus Dur dilengserkan. Saya merasakan massa demonstan itu respek kepada Marsilam ini yang rupanya menjadi salah satu tokoh mahasiswa yang menentang pemerintahan Boeng Karno. Saya tetap siap berkelahi tetapi si “musuh” saya yang tidak saya kenal itu menunduk saja dan secara perlahan-lahan meninggalkan tempat. Uang saya selamat dan Marsilam meneruskan “kerjanya” berdemonstrasi, dan menaiki sepedanya. Mobil saya terlihat seperti mobil zombie, yang sukar sekali digambarkan.

Sayapun duduk-duduk kembali selama lebih dari dua jam di situ sampai datang pertolongan orang yang mampu memompa dan bisa membuat ban mobil saya kembali keras.

Saya kembali sering mengucapkan (waktu itu saya kan belum ber”profesi”  sebagai penulis) kata democrazy, ketika Presiden Soekarno dimintai pertanggung-jawabannya, dibaca dengan judul NAWAKSARA yang ditolak oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Haris Nasution. Para anggota MPRS sudah didominasi oleh orde baru yang dimuati terang-terangan oleh tentara dan para politikus pengikutnya.

Jalan masuk ke arah tempat sidang di Senayan saja dijaga baik oleh militer maupun para mahasiswa yang mencari keuntungan dengan cara menempel kepada para militer. Ternyata Marsilam tidak termasuk mahasiswa yang seperti ini. Dia tidak sealiran dengan TNInya Soeharto. Itu saya ketaui beberapa puluh tahun kemudian ketika dia berbicara dari hati ke hati dengan saya, ketika dia mendapat tugas sesuatu di Istana Presiden SBY, entah saya lupa apa jabatannya itu, saya hanya berbicara di Grand Hyatt Hotel, dengan teman saya bukan dengan yang kapasitasnya sebagai seorang pejabat. Waktu itu dia bilang bahwa dia sudah mendalami Undang-Undang Dasar RI 1945 sampai titik dan komanya sekalipun.

Kata democrazy itu masih amat lekat sekarang dengan situasi Negara kita. Dalam sejarah di manapun di dunia, menurut media hari ini, belum pernah ada seorang Ketua Mahkamah Konstitusi ditangkap oleh sebuah Badan seperti KPK karena kasus suap menyuap seperti yang menyangkut Akil Muchtar yang sudah akil (berakal, cerdik, pandai) itu, bahkan akil balig (sudah melebihi umur 15tahun). Rasanya berita seperti ini bukan unik, oleh karena ada pejabat yang korupsi itu kok terasa bukan berita hebat lagi. Dengan demokrasi itu sendiri saya pribadi sudah tidak percaya. Demokrasi yang saya alami selama puluhan tahun di Indonesia, dan demokrasi di negara-negara lainnya, menimbulkan kesan nyata bahwa mereka yang menang itu merasa besar dan merasa benar karena besar.

Fakta menunjukkan bahwa yang besar itu tidak selalu benar, malah condong memuji diri sebagai yang paling benar. Kejadian-kejadian sumbang yang timbul karena situasi seperti ini adalah timbulnya konflik mendatar, apalagi karena banyak pihak yang kalah tidak dapat menerima kekalahannya dengan rela dan besar hati. Demokrasi telah menyebabkan luar biasa  berkurangnya persatuan, padahal belum lagi kita masukkan unsur kepentingan dan materi.

Saya juga menengarai di koran Kompas Budiarto Shambazy banyak mengenalkan kata-kata yang jitu yang membuat saya menjadi kagum sekaligus sedih hati. Yang tercipta dari pandangannya yang cerdas adalah kata-kata Executhieves, Judicathieves dan Legislathieves.

tikus_koruptor

Banyak betul pencurinya, serta yang mutakhir saya baca di Kompas hari ini adalah Trias Koruptika.

Itulah sebabnya mungkin mengapa sudah pernah saya kemukakan dalam salah satu tulisan, agar tidak melantik semua para penjabat menggunakan Al Qur’an atau Injil, atau Kitab Suci lainnya, oleh karena hukumannya baru akan dilaksanakan bila dia “nanti” sudah mati. Bukankah perbuatan mencurinya adalah masa kini, di dalam masa di mana dia masih hidup?

Lantiklah para pejabat secepatnya menggunakan Kitab Undang-Undang Dasar NKRI karena soal Hukum di sebuah Negara seperti NKRI tentunya tercantum jelas ada di sana, bukannya “NANTI”. Hukuman di dunia pasti terasa lebih berat dan jangan khawatir dia akan lolos di alam baka di sana, di mana sistem I.T. nya tidak pernah hang atau salah sekalipun. Di alam baka catatan hidup manusia di dunia ada dan lengkap. Tidak mungkin salah atau dipalsukan. Begitulah ajaran di sisi lain yang telah tersebar luas.

 

Anwari Doel Arnowo — 9 Oktober, 2013

 

13 Comments to "Permainan Kata-kata"

  1. Handoko Widagdo  28 November, 2013 at 07:08

    Terima kasih sudah menambah detail sejarah yang tidak akan kita temukan di buku sejarah Cak Doel.

  2. Anwari Doel Arnowo  18 October, 2013 at 07:43

    Koreksi
    Saya bisa mengerti capeknya anda ….
    Anwari

  3. Anwari Doel Arnowo  18 October, 2013 at 07:41

    Ariffani,
    Sya bisacapeknya anda karena kondisi makin buruk bangsa kita setiap hari itu tak terbantahkan. merasakan. Saya bukannya bersikap sinis, tahun 1945 dulu bukannya tidak ada kelakuan kurang terpuji masyarakat. Akan tetapi kita mempunyai musuh bersama yaitu para penjajah di negeri kita: Kekaisaran Jepang, keratuan belanda, keratuan inggris dan Sektu yang menginvasi negara kita. Oleh karena kita tidak mempunyai musuh bersamalah maka kita gampang bermusuhan diantara kita sendiri sesama bangsa. Siapa musih bersala hari ini yang patut? Ini sekedar contoh: Moral bejat para penyelenggara Negara, sikap mengagungkan mereka yang berpangkat, bukankah kami rakyat Indonesia yang membayar gajinya? Menyusul kebodohan, terutama mereka yang berada di pemerintahan. Kemelaratan sebagai akibat dari ketidakadilan dsb. dsb. Heh memang capek, ya??
    Anwari yang awettua — 2013/10/18

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.