Satu Rahim, Tiga Cinta (5)

Endah Raharjo

 

Rabu malam aku dan Ferina menjaga Raysa. Ia tetap tidak bicara. Dokter mengatakan fisiknya baik-baik saja. Lemas tubuhnya lebih karena beban psikis dan asupan makanan yang minim.

Begitu Raysa terlelap, aku dan Ferina memburas. Semalaman. Ia mengenang masa lalu, terutama dua bekas pacarnya yang semua sudah berkeluarga. Kuyakinkan kalau aku tidak memersoalkan pilihannya melajang, yang penting ia bahagia menjalaninya.

Ada hal yang kupelajari dari tiga pernikahanku, yang kusampaikan pada Ferina. Pernikahan bisa mengubah rasa cinta jadi hasrat ingin memiliki, ingin menguasai, ingin mengatur. ‘Aku menikahimu maka kamu milikku,’ begitu yang terjadi. Tak heran bila orang memadukan kata pernikahan dengan tali: tali pernikahan, ikatan pernikahan. Dalam takaran tertentu, tali itu memagari, melindungi. Namun ia bisa menjelma belenggu bila dikunci oleh hasrat ingin memiliki yang terlalu ketat. Diperparah oleh tumbuhnya rasa cemburu, amarah, sakit hati, dan para sekutunya.

obsessive

“Jangan takut jatuh cinta. Jangan takut menikah. Sebelum menjalani sendiri, kamu tidak bakal tahu kalau kamu mampu. Kamu bukan Mama,” tegasku, tak ingin anak sulungku mengunci hatinya.

Aku tidak tahu diamnya Ferina itu berarti menyimak atau bosan.

Kami juga membahas rencana untuk memindahkan kepemilikan kantor cabang Denpasar dari tanganku ke tangan Ferina. Secepatnya. Keputusan itu kubuat demi membuktikan cinta dan perhatianku padanya. Ia meneteskan air mata. Pelukannya yang ketat dan lama membuatku bahagia.

Ferina sedang menangani proyek renovasi interior 40 kamar hotel di kawasan Nusa Dua. Selama di Jogja ia mengatur anak buahnya lewat telepon dan Skype. Teknologi jadi dewi penolong dalam situasi seperti ini. Bila ada masalah teknis di lapangan, pegawainya tinggal memotret bagian yang bermasalah itu, lalu mengirimkan ke Ferina untuk dicarikan solusi. Ia juga bisa mengatur berbagai transaksi harian lewat telepon dan internet.

Kamis siang Raysa diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Sorenya aku terbang ke Jakarta. Ferina berjanji akan menjaga adiknya.

Dari bandara Soekarno-Hatta aku langsung menuju restoran yang dipilih klienku untuk dinner meeting. Asistenku wajib kuberi bonus bulan ini. Ia cekatan menangani semua urusan yang kudelegasikan tanpa keluhan. Klienku hanya minta perubahan kecil di sana-sini, khususnya rancangan meja batu sebagai aksen di salah satu sudut ruangan. Sejak awal aku memang sudah merasa rancanganku kaku. Kujanjikan perbaikannya akan selesai Senin sore, agar batunya bisa segera dipesan dan seminggu kemudian mulai dipasang.

Jumat sore aku pulang ke Jogja dengan hati ringan. Ferina sama sekali tidak berkeluh-kesah. Ia memegang janjinya, menolak ajakan keluar teman-temannya, memilih menemani adiknya. Ia tidur sekamar dengan Raysa, di atas folding bed. Kalau perubahan sikapnya itu akibat dari keputusanku memberikan kantor cabang di Bali, aku bersyukur telah mengambil langkah tepat. Seperti obat, diawali dengan diagnosis yang jitu dan dosis yang tepat, materi bisa menyembuhkan. Namun bila diumbar penuh kerakusan, ia mematikan.

“Mama kelihatan seneng banget,” sambut Ferina begitu aku masuk ke rumah. Pasti ia habis mandi, wangi lavender menyebar dari tubuhnya.

“Wah! Kamu apain ruang tamunya?” seruku, terpesona oleh perubahan letak perabotan. Ruang tamu jadi terlihat lega. Sebuah vas besar penuh kembang sepatu ditaruh di atas meja sudut, memberi kesan segar dan lembut.

Ferina tertawa. “Tadi siang, dibantuin Bang Daud. Habis aku bosan, udah beberapa tahun gitu-gitu aja. Yu Nik yang ngatur bunganya, katanya hasil belajar dari Nishi.”

“Peri Baik Hati sedang menghuni hatimu. Semoga dia kerasan,” selorohku.

“Ray udah mulai kemaruk. Tadi siang soto sulung sepanci dihabiskan sendiri,” Ferina membuntutiku masuk ke kamar Raysa.

“Hai, Ray.” Kubuka lenganku, kurundukkan punggungku untuk memeluknya. “Katanya tadi makan soto sepanci?” kelakarku.

“Kangen masakan Yu Nik. Tadi juga dipijitin Yu Darmi,” ucapnya lirih.

“Waaah… pantesan aja kamu sumringah,” seruku.

Bertiga kami duduk di atas tempat tidur. Kata Raysa, Mas Toro masih di Jogja menginap di rumah kakaknya.

“Papa pingin ketemu Mama. Ada yang mau disampaikan. Penting banget,” ujar Raysa. “Tadi pagi Papa di sini sampai menjelang sembahyang Jumat. Tapi nggak mau kuajak makan siang.”

“Kamu tahu kira-kira apa yang mau diomongkan?”

Raysa mengangkat bahu. Matanya ke arahku tapi tidak menatapku, tembus ke belakang, entah mendarat di mana. Ia tarik selimutnya sampai ke batas pinggang. Ia benahi duduknya, juga letak bantal di punggungnya. Aku paham. Ia tahu yang akan disampaikan ayahnya tapi tak mau bicara perkara itu.

“Nanti biar Mama telepon aja,” kataku.

Kudengar hembusan napas lega ketika kutinggalkan kamarnya. Selintas kulihat Ferina mengangkat bahu sambil melontarkan bola matanya.

Sehabis ganti baju dan membersihkan diri, aku dan Ferina makan malam berdua. Raysa bilang masih kenyang. Ia di kamar, membaca The Casual Vacancy, novel pemberian papanya. Mas Toro tahu dan memerhatikan kegemaran anaknya.

Dulu, di pengadilan agama Mas Toro menudingku berperilaku buruk. Katanya aku suka membangkang, tidak memedulikannya, tidak membahagiakannya, cuma mementingkan pekerjaan dan mendahulukan anak-anakku. Aku tidak membantah semua tuduhannya. Mungkin saja apa yang ia rasakan benar. Kalau sudah sampai pada perasaan, hanya diri sendiri yang tahu.

Saat itu, dalam sehari kami punya waktu sekitar 11 jam bersama, setelah pukul 7 malam hingga pukul 6 pagi. Namun ia ingin aku memberinya waktu lebih banyak lagi. Tak sanggup kupenuhi. Aku berharap Mas Toro bisa menerimaku. Berharap ia tidak menyandarkan kebahagiaannya padaku. Harapanku sia-sia. Kami sama-sama gagal memenuhi harapan masing-masing.

Semua perceraianku kusesali, namun tidak membuatku terpuruk. Sudah jamak, diakui atau diingkari, umumnya orang mengharapkan perempuan bersikap manis, menurut, menomorsatukan suami, menahan keinginan sendiri, mengalah demi keharmonisan rumah tangga. Aku bukan perempuan seperti itu. Sejak remaja aku terlatih untuk tidak mengalah pada keadaan. Aku tidak mengharapkan Ibu untuk mencukupi kebutuhan kami. Aku mengandalkan diri sendiri.

 

***

Selepas makan malam aku mendekam di kamar. Kutinggalkan Raysa dengan bukunya. Ferina mencermati laporan yang dikirim pegawainya lewat surel. Ini saat yang tepat untuk menelepon Mas Toro.

“Hai, Erlin. Sudah pulang?” sambutnya, setelah deringan kedua.

“Sudah. Di Jakarta seperlunya,” jawabku, “Ray bilang ada yang mau disampaikan?”

“Ya. Sebaiknya jangan lewat telepon. Aku boleh ke rumah sekarang?”

“Tentu saja. Di rumahku tidak ada jam malam,” gurauku.

Ia tertawa. “Setengah jam lagi aku sampai sana.” Telepon ia akhiri. Ia selalu begitu, tak pernah bilang ‘terima kasih’ atau kata perpisahan lainnya.

Kusampaikan pada Ferina dan Raysa kalau Mas Toro mau ke rumah untuk bicara denganku. Raysa tidak ingin menemui ayahnya, minta agar aku bilang kalau dirinya sudah tidur. Ferina tidak berkomentar, bahkan matanya tidak berkedip. Namun ia ke dapur, menyeduh teh jahe favoritnya sambil memberitahu Yu Nik kalau ayah Raysa akan datang.

“Jangan lupa bikin kopi dengan air yang dijerang sampai mendidih dan berbuih,” pesannya pada Yu Nik sambil terbahak-bahak.

Semua anakku tahu cerita itu, tragedi kopi yang mengawali pertengkaranku dengan Mas Toro, yang berujung perceraian.

 

**

Kudengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mas Toro. Ia pasti meminjam mobil kakaknya. Langkah-langkah kaki yang amat kukenal terbirit menuju halaman lewat pintu samping. Yu Nik. Begitu pagar dibuka, lamat-lamat kudengar Mas Toro dan Yu Nik berbicara. Kubuka pintu depan.

Tubuh Mas Toro menggemuk. Rambut lurusnya dipotong cepak seperti tentara, menampakkan telinga lebarnya, uban terlihat berserak di sana-sini. Senyumnya terkuak, mata sipitnya makin menyempit.

“Wah. Kalau ubannya nggak disemir jadi tampak bijaksana,” sambutku, mengulurkan tangan.

Kami bersalaman. Sudah beberapa tahun terakhir ini kuputuskan berhenti memeluk bekas suamiku itu bila kami bertemu. Ia mengenakan pakaian ‘all-time favorite’: celana linen warna khaki dan kaus polo hitam. Pertanda suasana hatinya sedang baik.

“Bagus luriknya. Pantes buatmu.” Ia memuji gaunku.

“Ini hadiah dari teman yang sedang merintis usaha garmen. Lurik Pedan. Banyak yang bilang bagus.”

“Mungkin karena orangnya, bukan bajunya,” godanya. Kami tertawa. Yu Nik menyelinap ke dalam.

Mas Toro kupersilakan masuk. “Mau duduk di mana?”

“Di sini saja.” Ia duduk di ruang tamu. Matanya mengelilingi ruangan yang perabotnya ditata-ulang Ferina tadi siang. “Tadi pagi tidak seperti ini.”

Aku tertawa. “Ini ulah Fer. Tangannya gatal kalau tidak ngotak-atik perabotan.”

Kami berbasa-basi sebentar. Kusampaikan kalau Raysa sudah tidur dan tidak ingin diganggu. Ia mengerti. Setelah Yu Nik menyajikan kopi, dan segelas air putih dengan irisan jeruk nipis untukku, kuminta Mas Toro segera menyampaikan keperluannya.

“Begini, Erlin. Aku ingin Ray tinggal denganku. Di Jakarta.” Suaranya datar, dua tangannya saling meremas.

“Oh?” Aku sangat ingin menanyakan alasannya, namun berhasil kutahan. “Sudah bicara dengan Ray?”

“Sudah. Tadi pagi.”

“Apa katanya?”

“Dia nggak mau.”

“Oh?” Kuhirup udara kuat-kuat dan kulepaskan pelan-pelan. Kupersilakan ia minum kopinya mumpung masih panas. Kuraih gelasku, kuteguk sedikit isinya. Mata kami berusaha tidak saling menatap.

“Aku butuh bantuanmu, Er.”

“Apa itu?” tanyaku, memandangnya. Matanya tertambat di cangkir yang dipegangnya. Air mukanya menegang.

“Aku ingin kamu membujuknya.”

“Maksudmu?”

“Ya. Membujuknya … membujuknya … masak kamu tidak tahu. Supaya dia mau tinggal sama aku.” Suaranya bergetar.

“Dia bukan anak kecil, Mas. Mau kembali ke Surabaya, mau tinggal di sini, mau ikut Mas Toro, itu haknya. Dia bisa menentukan sendiri.”

“Kalau kamu yang membujuk pasti dia mau. Selama ini dia hanya nurut sama kamu. Apa beratnya mencoba? Cuma membujuknya. Nggak akan menyakiti.”

“Membujuk untuk kepentingan siapa? Mas Toro atau Ray?”

“Jelas untuk Ray ….” Suaranya meninggi. Matanya membeliak. Dua lututnya bergoyang ke kanan-kiri. Bahasa tubuhnya itu tak bakal kulupa. Pertanda ia hampir gagal menahan luapan emosinya.

 

 

*****

 

20 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (5)"

  1. Endah Raharjo  18 October, 2013 at 14:17

    @Kang Anoew: iyaaaaa…. ini nggak ada semriwingnya blas

    @Matahari: betul… betul… betul… kalau nggak nyicipi pahit, nggak tahu manisnya ini filsafat minum jamu, habis dicekoki jamu pahitan yg menyembuhkan, terus dikasih yg maniiis…

    @ Mawar: monggo, semoga bs dinikmati, nuwun

  2. Mawar09  16 October, 2013 at 23:22

    Endah : sangat menikmati alur ceritanya. Kelihatan Mas Toro/ayahnya Raysa memang orangnya ngotot! semua keinginannya harus di prioritaskan (mungkin maksudnya baik, tapi caranya itu loh). Anaknya ngga mau kok malah maksa suruh ibunya yg bujuk.

    Setuju dengan komentarnya JC dan Matahari !!

  3. Matahari  16 October, 2013 at 19:36

    Komen 10 : “@Matahari: aduuuh… antara deg-degan dan malu dipuji semacam itu. Terima kasih. Semoga sy jadi tambah rajin nulis, ya Cerita ini saya tulis sekitar 2 bulan (Desember 2012 sp Januari 2013) unt lomba cerber Femina, Tapi tidak menang… heheheee…

    Endah R :
    Wer nie bitter geschmeckt hat, weiß nicht, was süß ist.
    (Who has never tasted what is bitter….does not know what is sweet )

  4. anoew  16 October, 2013 at 17:51

    yaaaaaah nggak ada adegan semriwing blasss….

  5. Endah Raharjo  16 October, 2013 at 17:04

    @ Juragan JC dan DjasMerah: weleeeeh… makanya kupingku panas, jantungku kemot2, kepalaku cekot2… nyupir keliru masukin gigi, dari satu langsung empat… ternyata dipuja-puji sampai kelepekan… pingsan :p

    @DjasMerah: banyak yg bilang begitu. tapi sy tetap beranggapan, kalau tdk menang lomba atau ditolak penerbit, itu pertanda memang belum memenuhi kualitas. Harus terus berlatih, nggak mau nyari kambing hitam krn kekurangan diri hihihihihiiii… soalnya kambingnya udh disembelih kemarin

    @Paspampres: bukan cuma salah masuk Trubus… lha itu sampai salah masukin gigi…

  6. [email protected]  16 October, 2013 at 13:01

    Ya jelas… salah masuk segmen pasar….
    masak cerita kaya begini…. dimasukin di majalah edisi TRUBUS….
    ya jelas gak menang….

    coba di berikan kumplit ke JC dan pak Hand…. jadi buku nih udah….

  7. djasMerahputih  16 October, 2013 at 12:22

    13: ha ha ha… jangan2 orangnya udah pingsan “kegirangan..” sampe ngga sempet balas komentnya..

    Piisss mba Endah..

  8. J C  16 October, 2013 at 12:00

    * Endah langsung kesrimpet dan kejungkel-jungkel kali ini *

  9. djasMerahputih  16 October, 2013 at 11:47

    Sepakat dgn kang JC dan bunda Matahari..

    Analisa djas soal tulisan ngga dimuat oleh sebuah majalah bukan karena mutunya, melainkan temanya yg mungkin berada di luar segmen pasar majalah tsb..

    Maju terus mb Endah..

  10. J C  16 October, 2013 at 10:58

    Tuuuhhhh Endah, bukan aku saja khan yang memuji seperti itu…Matahari juga memuji demikian…memang aku merasakan hal yang sama dengan Matahari ketika membaca semua serial Endah, dan konsultasi waktu menyelesaikan buku’ku sungguh luar biasa masukan Endah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.