Antara Saya, Pak Inceu dan Profesi Kami

Evita Marcondes

 

Tadi siang saya menonton satu acara lomba menyanyi untuk menjadi’ instant idola’ di salah satu stasiun tivi ternama, yang secara tidak sengaja saya tonton, tapi malah akhirnya sangat amat menyentuh hati. Di acara tersebut, beberapa peserta yang memang sengaja dipilih karena memiliki profesi yang sama, mempertunjukkan kebolehannya dalam hal bernyanyi. Untuk episode minggu ini profesi yang dipilih adalah profesi GURU, tidak dibatasi apakah mereka guru TK, SD, SMP, atau SMA, dan apakah mereka mengajar mata pelajaran kesenian, matematika, IPS, dll. Asalkan mereka punya talenta di bidang menyanyi, mereka akan mendapat kesempatan untuk ‘sumbang suara’ di atas panggung, disiarkan secara langsung, yang pada akhirnya memasrahkan nasib peruntungan mereka di tangan para pengirim SMS.

Yang menarik perhatian saya adalah keikutsertaan seorang bapak guru muda, Pak Inceu (32 tahun) dari daerah Garut. Beliau begitu bersahaja, tulus, dan ketika beliau bercerita bagaimana susahnya kehidupannya yang berprofesikan seorang guru yang tidak mendapat gaji tetap (karena beliau bukan berstatus sebagai pegawai negeri, maupun berstatus sebagai guru honorer, melainkan beliaulah yang mendirikan sekolah untuk anak-anak petani yang tidak mampu di daerah Garut tersebut), seluruh penonton di studio, berikut sang presenter dan tiga komentatornya, sontak terenyuh dan tanpa sengaja menitikkan airmatanya. Begitu halnya dengan saya.

Saya dan Pak Inceu kebetulan memiliki profesi yang sama, yaitu seorang guru. Kemudian saya sadar, walaupun saya dan Pak Inceu tersebut memiliki profesi yang sama, kami sebenarnya sangat jauh berbeda.

Perbedaan yang saya maksud adalah :

– Pak Inceu tidak pernah menarifkan jasa yang dia berikan, bahkan beliau rela untuk tidak dibayar, dan mengandalkan biaya kebutuhan sehari-harinya kepada istrinya yang sangat mulia dan dengan ikhlas mensupport usaha yang dilakukan sang suami tercinta.

– Sedangkan saya selalu menarifkan jasa mengajar saya yang menurut sebagian orang adalah terlalu tinggi.

Justifikasi: Menurut saya hal tersebut wajar karena saya juga menghabiskan banyak biaya, usaha dan waktu dalam proses mendapatkan ilmu yang akan saya ajarkan, selain itu saya sudah mengajar lebih dari 15 tahun, jadi jam terbang saya sudah pantas jika dibayar dengan harga yang lumayan.

 

– Pak Inceu tidak pernah mengeluh walaupun untuk mencapai tempat beliau mengajar, beliau harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, hanya jika nasib beliau sedang beruntung beliau akan mendapat tumpangan dari penduduk sekitar (dimana terkadang beliau harus berada dalam satu kendaraan dengan kerbau-kerbau pembajak sawah)

– Sedangkan saya yang mampu untuk membayar taksi untuk mencapai tempat mengajar saya, sangat seringkali mengeluh, dan terus berandai-andai untuk mempunyai kendaraan sendiri agar saya tidak harus naik taksi ke mana-mana.

Justifikasi: Menurut saya hal tersebut wajar, karena dengan keadaan lalu-lintas Jakarta yang sangat tidak bisa diprediksi, ongkos taksi terkadang menjadi sangat mahal. Sedangkan untuk naik bis kota terkadang ada rasa takut.

 

– Pak Inceu selalu menempatkan urusan murid-muridnya pada prioritas utamanya. Alasan beliau, istrinya masih bisa ‘menghandle’ anak semata wayang mereka yang berumur 2,4 tahun, jika kehadiran pak Inceu dibutuhkan di dua tempat pada waktu yang bersamaan.

– Sedangkan saya selalu menempatkan urusan anak saya yang berumur 4 tahun pada urutan pertama. Dan jika saya dibutuhkan untuk berada di dua tempat pada waktu yang bersamaan, dengan tidak ada keraguan saya akan memilih untuk bersama anak saya.

Justifikasi: Menurut saya , segala urusan yang menyangkut anak saya harus menjadi prioritas utama saya, apalagi saya adalah seorang ‘single parent’, dimana tidak ada orang lain yang bisa saya andalkan untuk urusan buah hati saya tercinta.

Masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya antara saya dan Pak Inceu, tetapi saya hanya akan menutup tulisan saya ini dengan perbedaan terakhir yaitu : Saya selalu memiliki justifikasi atas setiap perbuatan saya.

Salam hormat saya untuk Pak Inceu di Garut…..
Terus berjuang Pak…

 

Note Redaksi:

Evita Marcondes, selamat datang dan selamat bergabung. Semoga kerasan dan senang menjadi bagian rumah kita bersama ini, ditunggu artikel-artikel lainnya ya. Terima kasih Dewi Aichi yang memperkenalkan Baltyra kepada Evita Marcondes…

 

12 Comments to "Antara Saya, Pak Inceu dan Profesi Kami"

  1. Linda Cheang  20 October, 2013 at 12:51

    salut buat para guru, baik mereka guru yang suka mengeluh atau yang mampu bersyukur atas apapun keadaan…

  2. Dewi Aichi  18 October, 2013 at 19:14

    Selamat datang Evita..senengggg banget…saya menggaet evita ke sini, biar saya ngga sendirian dari Brasil he he..

    Pak Handoko…Evita ini sekarang tinggal di Brasil, tapi pengalaman hidupnya cukup banyak dan menarik, semoga Evita selalu berbagi di sini….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.