Senandung Rindu di Ujung Malam

Wendly Jebatu Marot

 

Senja baru saja berlalu bersama perginya sang mentari pulang ke peraduannya. Kepergiannya menyisahkan seberkas kabut jingga di atas bukit tepi barat di atas puncak Poco Likang tempat mentari bersandar saban senja. Kesejukan angin senja berganti dan dinginnya malam pun tiba. Sungguh dingin!

Di kamar sumpek itu aku duduk sepi sendiri. Aku duduk termenung menggores sebuah curahan hati untuk kekasih jiwa yang telah pergi dan tinggal entah di tepi mana dunia ini. Dia pergi tanpa pesan, tanpa memberi tahu dia mau ke mana. Dia tak  seperti mentari yang meninggalkan jejak jingga indah di langit senja. Yang dia tinggalkan cuma kegetiran.

guitarandwoman

Itulah kekasihku.

Dia telah pergi. Aku tak tahu apakah dia masih menyimpan semua kisah kebersamaan kami. Waktu masih bersama dulu, kami sempat menaruh janji untuk sehidup semati bersama, dalam duka dan suka, malang dan untung. Kami pernah bermimpi untuk berbulan madu ke langit biru biar tak ada yang mengganggu. Kami punya mimpi bersama, memetik bintang dan menaruhnya di samping ranjang tempat kami mengungkap janji.

Kini semua itu tinggal kenangan. Kekasihku telah pergi seperti mentari. Mentari pergi dan besok kembali. Sedangkan kekasihku pergi meninggalkan tanya yang tak terjawab. Kemana? Ia pergi tanpa memberitahuku ke mana. Tak ada pesan kapan atau entakah ia akan kembali pulang.

Aku teringat, dulu ketika masih bersama, pada malam sepi seperti ini dia selalu menanyakan padaku tentang mana yang lebih aku suka dari antara lampu yang bersinar di langit.

“Kekasihku, yang lebih kamu suka, bulan, bintang atau mentari?”

Pertanyaan itu tak pernah aku jawab. Bagiku merasa terlalu sulit untuk menentukan mana yang lebih aku suka. Rembulan menerangi malam, bintang memberi warna pada langit kelam dan mentari menjadi sumber cahaya yang menghangatkan walau kadang membakar kulit. Hingga kepergiannya, tak ada jawaban.

Barang kali dia pergi karena kecewa aku tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya? Sungguh aku tak tahu, karena dia pergi tanpa meninggalkan kesan dan pesan buatku. Hanya kenangan yang tersisa. Pahit terasa seperti empedu.

Setelah kepergiannya, malam-malamku diliputi kesunyian. Aku sering menatap langit malam. Ketika malam berbintang, aku memandang bintang dan kedipan bintang malam mengingatkanku pada mata lentik kekasihku itu. Indah!

Ketika malam terang, aku membayangkan paras kekasihku itu menjelma pada rembulan pasi. Mempesona! Kadang ketika bulan purnama aku mengharapkan mukjizat agar tanganku menjelma menjadi sepasang sayap kokoh biar aku bisa terbang ke sana dan bertemu kekasihku. Tapi itu angan dan aku tahu itu mustahil. Maka aku pun hanya bisa menatap rembulan itu lewat celah gorden jendela lusuh..

Kadang aku bermimpi menjadi malaikat yang bersayap dan terbang ke bulan, bertemu kekasihku yang selalu terseyum.

Kekasihku itu memang menyiksaku!

Kepergiannya membuatku selalu punya waktu untuk berpikir tentang dia. Aku tak tahu apakah waktu dia pergi dia masih mencintaiku atau tidak. Dia pergi pada sebuah subuh, ketika aku terlelap dalam tidur dan terbuai mimpi bersama dia. Waktu itu, aku bermimpi tentang dia yang sedang berlari entah ke mana. Dia pergi melintasi pelangi dengan gaun pengantin rermbulan emas.

Ia pergi ditemani kesunyian subuh!

Subuh itu, aku bangun tapi kekasihku tak ada. Aku mendapati kehampaan, kekasihku telah pergi. Tak ada pesan! Ta ada jejak! Aku tak tahu harus cari ke mana. Saat aku bermimpi, dia pergi. Aku pun merasa kosong.

Tak adil! Sungguh tak adil! Dia pergi tanpa memberiku pesan! Keluhku.

Aku akhirnya sadar, ternyata mimpiku melihat dia berlari melintasi pelangi menjadi pratanda buruk. Dia pergi! Dia pergi di ujung malam. Paginya ku mencari di seluruh kampung. Aku bertanya pada anak-anak yang sedang berjalan menuju sekolah, apakah mereka melihat kekasihku. Mereka menggeleng. Kemudian aku bertanya pada ibu-ibu yang sedang manimba air di sumur umum, apakah mereka melihat kekasihku. Mereka menggeleng..

Aku bertanya pada mentari yang baru menggeliat di ufuk Timur. Dia diam saja dan justru mengganas. Deru nafasnya membuatku tak berkutik. Brengsek!

Sepanjang hari aku terus mencari. Tapi pencarianku menemui jalan buntu. Kekasihku tak tahu rimbanya kini. Jawabanku pada akhirnya pada mentari di siang hari, bintang di malam gelap dan rembulan di malam terang.

Malam berikutnya aku tak bisa tidur, aku meratapi ranjang tempat aku dan dia sering bersama, berbagi cerita tentang cinta, tentang masa depan. Waktu itu aku menangis dan menangis.

Tetapi aku sadar! Kekasihku memang telah pergi tetapi aku selalu membayangkannya selalu hadir pada cahaya mentari, pada rembulan dan pada bintang. Kadang kekasihku itu ganas, saat aku menatapnya sampai aku tak sanggup. Ia menjelma dalam paras matahari. Kadang juga ia lembut dan memancarkan cinta. Ia menjelma pada rembulan. Dan kadang ia terlihat begitu angkuh dan kecut. Ia tampak menjelma pada bintang yang tersenyum sinis. Seakan ia menertawakan kesendirianku. Itulah yang membuatku tambah pilu.

Ia pergi melintasi pelangi dan menjelma dalam mentari yang ganas, rembulan yang lembut dan bintang yang angkuh.

Tetapi aku tetap mencintainya! Aku mencintainya dalam keganasan, kelembutan dan keangkuhan. Dia tetaplah kekasihku. Seperti tak mampu menjawab mana yang terbaik di antara bulan, bintang dan mentari, akupun tak mampu menilai apakah kekasihku baik atau buruk. Ia kekasihku yang dulu pernah mengisi relung hatiku.

Kekasihku itu sudah pergi!

Tetapi dia tetap hadir dan sering membisikan kata cinta lewat bisikan angin sejuk. Bisikannya lembut, seperti pertama kali ia mengungkapkan kata cintanya langsung di telingaku.

Dan malam ini aku kembali teringat padanya. Aku teringat semua kisah kasih bersama dia saat kami masih bersama dulu.

Aku duduk di balik jendela, dan mengintip rembulan pasi yang sedang bersinar. Aku melihat paras kekasihku di bulan itu. Ia tersenyum! Ia membisikkan lagi lewat sinarnya dan lewat angin malam yang dingin sebuah senandung rindu tanpa nada. Aku mendengar bisikannya, membuatku terhanyut dalam kesejukan. Hanya aku yang bisa mendengarnya dan suaranya begitu lembut. Aku lupa bahwa dia dulu sudah pergi. Aku tak merasakan adanya pengkianatan dalam kepergiannya karena aku merasakan kehadirannya.

Dia selalu hadir! Parasnya menjelma dalam mentari, rembulan dan bintang. Kemarahannya menjelma dalam panasnya mentari dan tikaman angin malam yang dingin. Cinta dan perhatiannya menjelma dalam angin yang berhembus begitu sejuk, dalam cahaya rembulan , dalam kerdipan bintang-bintang.

Aku mencintai kekasihku dan sungguh mencintainya.

Kini lewat semiliran angin malam yang dingin ini, kulantunkan buat kekasihku itu senandung rinduyang dari kedalaman hati.

Denting-denting yang berbunyi

dari atap rumahku

sadarkan diriku dari lamunan panjang

tak terasa malam kini semakin larut

aku masih terjaga

            sayangku kau di mana aku ingin bersama

aku butuh semua untuk tepiskan rindu

mungkinkah kau di sana merasa yang sama

seperti diriku di malam ini

rintik gerimis mengundang

kekasih di malam

datanglah kasih i miss u

Setelah mencurahkan semua rasa dalam secarik kertas lusuh itu, aku sekali lagi menatap rembulan malam dan aku melihat senyumannya. Dan aku merasakan kehadirannya dalam hembusan angin malam yang menyentuh kulit tubuhku. Begitu lembut! Menembus sampai ke jantungku. Aku terbuai dibuatnya dan aku mendengar bisikannya yang begitu lembut dalam desiran angin malam dan suara binatang malam dari kejauhan. “I’m coming!

Kelembutan sentuhannya membuatku terlelap. Dalam lelap aku bermimpi, kekasihku datang melintasi pelangi dengan wajah seperti rembulan dengan mahkota bintang di kepala. Ia menghampiriku, memelukku dan membisikakkan ke telingaku kata-kata yang dulu pernah diucapkannya ketika pertama kali kami bertemu:

Aku cinta padamu!

Kata-kata itu membuatku terbangun dan pada tengah malam aku kembali mengintip rembulan dan aku mendapatkan rembulan sudah ditutupi awan kelam. Tetapi aku masih merasakan kegembiraan di hatiku. Lalu aku berpaling dan pada tengah malam itu aku mengambil catatan harianku dan menuliskan senandung rindu untuk kekasihku yang kini berada di hatiku.

cinta ku sudah lama tumbuh atas namamu

sekian hari…sekian waktu…                         

namamu tetap berdegub bersama jantung yang berdetak..

mengingatmu membawa ku melambung tinggi ke angkasa…

taukah kau….

apa ini yang disebut cintaa..

atau kah hanya sebuah angan kosong

yang terukir atas nama cinta

cinta selamat datang ke hatiku.

Kekasihku mari kita merayakan cinta

Setelah aku menulisnya aku baru sadar ternyata aku sudah berada di ujung malam. Inilah senandung di ujung malam!

 

****Wisma Agustinu

Awal Mei 2011****

 

9 Comments to "Senandung Rindu di Ujung Malam"

  1. Lani  19 October, 2013 at 09:20

    6 DA : heheh……dasar wong kenthir…….panas njepret, sama pacar jelas dianggap saja padang mbulan………..

  2. J C  19 October, 2013 at 09:09

    Sepertinya yang bisa nulis begini adalah yang masih dalam tahap yang-yang’an atau pengantin baru yang pisah karena tugas… kalau sudah berkeluarga beberapa tahun, cara rindu kangennya beda…

  3. Dewi Aichi  17 October, 2013 at 20:35

    Wendly….ku tunggu tulisan-tulisanmu selanjutnya…bagusssss…aku suka sekali membacanya..

  4. Dewi Aichi  17 October, 2013 at 20:34

    Inget mantan pacar dulu, kalau jemput sekolah, panas-panas, dia merangkulku sambil berkata “anggap saja terang bulan ya!”..

  5. djasMerahputih  17 October, 2013 at 16:17

    Kalau disuruh memilih, djas akan memilih Bulan Purnama.
    Soalnya sering mendengar kata-kata, Rembulan menerangi gelap malam.
    Belum pernah dengar Matahari Menerangi terangnya siang. (Kan ngga gelap, ngapain diterangin lagi..?? )

    Bunda Matahari jangan tersinggung yaa… he he he…

    Salam Purnama

  6. Dj. 813  17 October, 2013 at 15:04

    Empat.
    Uro-uro ditengah malam.

  7. Bagong Julianto  17 October, 2013 at 14:32

    Rindu karena ditinggal kekasih….. sulit tidur?!

  8. James  17 October, 2013 at 11:39

    DOEA, Gitar Diatas Dada

  9. Lani  17 October, 2013 at 10:06

    Satoe Senandung rindu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.