Surat dari Ayah

Atra Lophe

 

Selamat petang anakku,

Sebentar lagi malam akan datang dengan warnanya yang pekat. Tidak ada bintang ataupun bulan purnama. Hanya awan yang menggantung lalu kemudian pergi. Hanya ada suara jangkrik dan beberapa kodok usil yang bersuara di musim kering seperti ini. Juga, dari balik dapur suara ibumu sedang menanak nasi sambil sesekali menggesekan kayu bakar ke tungku. Dia masih seperti biasanya, menyiapkan makan malam untuk kita semua meski warna senja begitu indah dan dia seharusnya ikut menikmatinya. Menikmati yang ayah maksudkan adalah bersantai di teras rumah dan melihat senja itu pulang ke pangkuan sang empunya. Tetapi, ibumu lebih memilih untuk sibuk di balik dapur. Dia selalu saja memikirkan perut kita semua, meski kadang kita tak mau ambil pusing. Ah, ibumu selalu saja membuat ayah merasa jadi pria beruntung setiap harinya. Bukankah kalian juga merasakan kasih sayang yang ia tumpahkan pada keluarga kita? Karena kasih sayang yang besar itulah, ayah selalu takut untuk kehilangannya.

 

Anakku,

Ayah bersyukur bisa memiliki kalian dan menjadi bagian dari sejarah hidup kalian. Ayah tidak mengharapkan kalian bangga ataupun bersyukur akan kehadiranku. Sebab, ayah masih saja merasa memiliki kekurangan dalam mendidik dan memenuhi segala permintaan kalian. Andai saja ayah bisa melakukan segalanya, ayah pasti lakukan. Tetapi engkau tahu anakku, ayah memiliki banyak keterbatasan yang kadang pun ayah tak sadari itu. karena itulah, sebelum engkau mengucapkan kalimat kekecawaan, lebih dahulu ayah akan mengakui dan meminta maaf. Biarlah ini menjadi bahan refleksi bagi ayah. Jangan lupa pula, setiap kekecewaanmu terhadap ayah, jangan sampai terulang pada cucu-cucu ayah, anakmu kelak. Jadilah orangtua yang baik bagi mereka.

Nak,

Semalam ayah merenung, ketika engkau mengabari bahwa engkau telah wisuda. Ayah bangga sekaligus terharu mendengarnya. Rasa syukur saja rasanya tak cukup ayah ucapkan pada Tuhan. Dia begitu baik pada kita. Ibumu juga menangis ketika mendengar kabar itu. Kami sama-sama berdoa, tangis pun pecah di hadapan patung keluarga kudus Nazaret. Hingga akhirnya, karena kebahagiaan itu ibumu sampai lupa menawarkan makan malam untuk ayah dan adik-adikmu. Rasa bahagia itu ternyata bisa bikin manusia kenyang. Tetapi mengapa keluarga kita yang penuh kebahagiaan masih saja membutuhkan makan? Ah, anakku. Tak perlu engkau menjawab pertanyaan itu. Ayah memang masih konyol seperti dulu.

 

Anakku yang baik,

Saat ini engkau telah menyelesaikan tugasmu. Wisuda menjadi bentuk pertanggungjawabanmu terhadap jerih payah ayah dan ibu. Sesungguhnya, ayah tak membutuhkan lembaran ijazah yang telah kau terima. Ayah hanya membutuhkan ilmu yang telah engkau dapat di bangku sekolahmu dan di tanah perantauan. Ilmu itu tentu sangat dibutuhkan disini. Jangan lupa nak, pengalaman yang kau dapat di sana harus dibagikan kepada teman-temanmu di kampung. Janganlah engkau menyimpan ilmu itu sendiri saja.

Anakku, ayah memang lebih tua dari padamu. Tetapi pengalaman ayah sangat sedikit. Ayah hanya tahu membaca musim. Jika hujan ayah bertanam dan jika kering ayah melaut. Hanya itu pengalaman dan ilmu yang ayah dapatkan. Bukankah pengalaman itu tidak tergantung dari usia? Ayah mengalami ini sendiri bahwa engkau yang masih mudah memiliki segudang pengalaman dari pada ayah. Ayah tidak mengenal Socrates, Plato, Newton, Nietzsche ataupun Pramoedya (nama itu ayah bacakan dari buku-buku yang kau tinggalkan dulu saat pulang berlibur). Dari sekian nama itu, ayah hanya mengenal Pramoedya, karena dia orang Indonesia. Juga karena yang ia tuliskan seakan-akan telah mewakili penderitaan ayah ketika kecil dulu. Ayah sangat suka membaca tulisan-tulisannya. Jika nanti engkau bertemu dengannya, sampaikan salam ayah. Bila perlu kirimkan ayah sebatang kretek yang dia suluti. Hahaha, sekali lagi maaf anakku. Ayah sangat mengaguminya.

Anakku yang ayah sayangi,

Kata tetangga, di tanah perantauan tempat engkau tinggal tidak lagi orang yang berjalan kaki. Mereka juga bilang tidak ada lagi dongeng dan buku-buku seperti yang kita miliki. Katanya juga, orang-orang di sana sudah sedikit yang menggunakan bahasa Indonesia. Mereka lebih menggunakan bahasa yang tak tahu dari mana datangnya. Nak, kuharapkan engkau masih mencintai bahasa tanah airmu ini. oh ya, mereka juga bilang, di tempat engkau tinggal orang-orang hanya menggunakan papan dari besi (maaf nak, ayah lupa namanya. Ketika disebutkan oleh tetangga kita, ayah tak bisa merekamnya. Namanya juga asing dan sepertinya belum ada dalam kamus yang kita miliki di rumah). Hanya dengan papan besi itu, kita orang bisa melihat siapa saja yang kita mau. Benarkah demikian? Jika engkau kembali kelak, tunjukan papan besi itu untuk ayah.

 

Anakku,

Malam sudah turun. Sebentar lagi ibumu akan menawarkan makan malam untuk kita semua. Satu yang ingin ayah katakan, engkau sudah dewasa nak. Engkau akan merasakan bagaimana dunia ini mengoyak kita tanpa ampun. Dunia tidak peduli pada kita. Karena itu, ayah selalu takut kalian tumbuh dewasa dan merasakan penderitaan seperti ayah dan ibu. Nak, Gunakan ilmu yang kau dapatkan dengan bijak. Berhati-hatilah, dunia ini masih memiliki orang jahat. Ingatlah pesan ibumu ”tetaplah jadi anak yang baik untuk dirimu sendiri”.

 

Oh ya anakku, malam ini ayah ingin sekali menceritakan dongeng tentang Pondik dan timung te’e pada kalian. Juga ayah ingin sekali kita bisa ber-bundu mengelilingi tungku api sambil makan latung sero dan saung tago. Anakku, ayah dan ibu sangat merindukanmu.

 

Salam rindu

Ayah

Catatan:

Pondik dan Timung Te’e : Dongeng dari Manggarai-Flores,NTT

Bundu         : teka-teki

Latung sero         : jagung goreng

Saung tago     : daun kacang panjang

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Surat dari Ayah"

  1. Atra Lophe  20 October, 2013 at 11:55

    bang JC,

    untuk membuat pengakuan pun ia selalu merasa dirinya tidak pantas….

  2. Atra Lophe  20 October, 2013 at 11:54

    mba Dewi,

    hahaha, “surat dari kekasih” nanti mba, setelah dikasih surat dulu.. heheh

  3. Atra Lophe  20 October, 2013 at 11:53

    Djas merah putih…
    makasih ya, hujan dan kering… semoga baik2 saja. hahaha

  4. Atra Lophe  20 October, 2013 at 11:51

    ayah DJ…

    terimakasih banyak… Itu yang membuatku berpikir, ketulusan itu tidak mengenal pada siapa dan sedang apa. Ketulusan mengalir begitu saja… makasih banyak untuk ceritanya.

  5. J C  19 October, 2013 at 09:35

    Ini bapak mengesankan seperti “tidak berpendidikan” atau “tidak makan sekolah”, tapi justru dari penuturannya, ilmu si bapak jauh lebih tinggi dari lulusan S2 sekalipun. Mana ada ngaku “tidak makan sekolah” bacaannya Pramoedya Ananta Toer dan bisa menyebutkan Socrates dan Nietzsche…

  6. djasMerahputih  19 October, 2013 at 06:59

    4: just virtual forex… perdagangan moderen tapi tetap dengan falsafah kuno, seperti yang tokoh ayah katakan dalam tulisan ini. “Kalo hujan ayah bertanam, kalau kering ayah melaut”

    Yang enak kalau pepatah buat anak-anak:
    “Kalau hujan aku bermain, kalau kering aku tetap bermain…!!!”

    Salam Sedjuk!

  7. Dewi Aichi  19 October, 2013 at 00:28

    djasMerahputih pemain saham ya hi hi…

    Atra….begitulah ungkapan seorang bapak, bekerja tanpa mengenal lelah untuk keberhasilan pendidikan anak-anak. Setelah itu kutunggu ceritanya, judulnya “Surat Dari Kekasih”

  8. djasMerahputih  18 October, 2013 at 23:53

    Jika hujan ayah bertanam dan jika kering ayah melaut..
    ==========================================

    Mirip teori perdagangan forex. Kalo harga turun (hujan) berarti tanam (buy).
    Kalo harga naik (kering) artinya melaut (sell)

    untuk paragraf terakhir:
    Aaaah… Jadi pengen ikut mendongeng…!!!

  9. Dj. 813  18 October, 2013 at 23:35

    Atra Lophe ….

    Kalimat-kalimat pertama, sungguh indah.
    memang demikianlah sifat yang dimiliki seorang ibu.
    Kadang Dj. juga sering teriak ke istri agar sama-sama menikmati
    renungan dimeja makan kami sekeluarga.
    Tapi dia lebih sibuk menyiapkan makanan dan apa aja didapur.
    Agar setelah renungan selesai, kami semua bisa bersantab bersama.
    Kadang saat kami bersantab pun, dia masih sibuk dangan apa saja…

    Kadang memang membuat kami semua bahagia, tapi kadang juga membuat kami malu.
    Kadang kami ( Dj. dan anak-anak ) saling berebut untuk meringankan pekerjaan Susi.

    Okay…
    Berbahagialah, mereka yang memiliki pasangan yang selalu melayani dan bukan minta dilayani.
    Salam,

  10. James  18 October, 2013 at 09:50

    SATOE, Tidak Pernah mendapat Surat dari seorang Ayah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.