Surat Kedelapan dari Desa

Angela Januarti Kwee

 

Dear David…

Como vai, David? Aku sedang belajar bahasa portugues dari seorang kakak. Aku gembira bisa membagikan beberapa kalimat yang sudah kupelajari dalam surat ini. Seperti biasa, aku ingin bercerita tentang pengalamanku mengunjungi sebuah kampung.

Aku dan seorang teman berangkat pukul satu siang menggunakan motor. Ia membawaku melewati jalur yang belum pernah kulalui. Medannya cukup ekstrem, mengingat jalanan baru mulai kering setelah diguyur hujan kemarin. Ada banyak tanjakan dan turunan. Rasanya seperti lirik lagu film kartun Ninja Hatori saja – ‘mendaki gunung, lewati lembah.’ Kami juga harus menyeberangi sungai menggunakan perahu. Saat-saat seperti ini terasa menyenangkan. Panas dan lelah menghilang seketika.

suratkedelapan (1)

Perjalanan ditempuh selama satu jam. Aku salut melihat teman yang memboncengku. Benar-benar wonder women. Sekali pun aku tahu dia kelelahan, namun semangatnya tetap menggebu-gebu.

Sebelum sampai di kampung, kami disuguhkan permandangan ladang-ladang yang sudah dibakar dan siap ditanami padi. Bulan September – Oktober ini masyarakat memang disibukkan dengan menugal. Hal ini juga menjadi kendala untuk bertemu mereka pada siang hari. Maka, sebelum berangkat kami mengirimkan pesan akan kedatangan kami.

Aku dan temanku sempat beristirahat sebentar, memandangi ladang dan beberapa pondok sederhana yang dibuat untuk beristirahat melepas lelah bagi para warga. Kamu tentu tahu aku pasti mendokumentasikan semua itu.

suratkedelapan (2)

Sudah setahun aku tidak berkunjung ke kampung ini. Saat kami tiba, masyarakat yang kebetulan berada di rumah menyambut dengan sangat ramah. Mereka tetap mengingatku. Kami bersantai di beranda rumah, menikmati secangkir teh hangat, sirih dan buah pisang pemberian seorang warga. Sambutan seperti ini benar-benar membuatku serasa pulang ke kampung halaman. Terlebih sukacita yang mereka hadirkan saat berbincang dan menceritakan pengalaman lucu.

Berambih bon?” beberapa warga menanyakan apakah kami akan menginap.

Biasanya, kalau teman-teman tiba di kampung sore hari mereka memilih menginap. Tahun lalu pun aku pernah menginap di tempat ini. Sayangnya, kali ini kami tidak ada rencana menginap. Cuaca sangat bagus untuk pulang pergi dalam sehari. Kulihat ada raut kekecewaan pada wajah mereka. Lantas, aku berinisiatif mengajak beberapa warga berfoto bersama. Anggaplah berfoto ini sebagai ganti kami tidak menginap. Seketika wajah-wajah mereka kembali tersenyum bahagia.

Saat hendak pulang, kami dihadiahi singkong mentah yang baru saja dipanen. Wah, betapa gembiranya hati kami berdua. Hari ini aku merasa sangat bahagia.

“Lain kali, kita harus membawa oleh-oleh juga untuk mereka. Paling tidak buah-buahan untuk kita makan bersama sambil bersantai di berada rumah,” tuturku dalam perjalanan pulang.

“Iya, itu ide yang bagus,” timpalnya.

Aku melampirkan beberapa foto untukmu, David. Semoga kamu menyukainya. Sudah pukul sebelas malam. Aku harus bergegas menyelesaikan surat ini. Boa noite, David.

Eu te amo!

suratkedelapan (3)

Mawar

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Surat Kedelapan dari Desa"

  1. Angela Januarti  29 October, 2013 at 13:58

    @Pak Tony : Terima kasih sudah membaca artikel ini

  2. Lani  28 October, 2013 at 11:50

    3 PAM-PAM : jelas kamu suka…….la wong kinyis2 hahaha………

  3. Lani  28 October, 2013 at 11:49

    11 AL : yo mmg podo = sama hehehe………menebak asal ngawur…….pissssss ya buat Mawar

  4. Tony "Sibolang"  28 October, 2013 at 11:20

    Sukses selalu buat mawar

  5. Tony "Sibolang"  28 October, 2013 at 11:16

    Senang bisa membaca tulisan nya,akan menjadi sebuah insfirasi untuk sibolang,karna bolang sendiri mempunyai banyak pengalama serupa dengan mawar,salam buat mawar

  6. Angela Januarti  19 October, 2013 at 15:11

    Pak JC : David dalam kisah ini sudah bekerja. Hmmm, moga dia tidak lupa makan. Kalo sampai sakit, Mawar akan khawatir

  7. J C  19 October, 2013 at 09:39

    Betapa beruntungnya David dikirimi senyum foto paling bawah itu, bisa kliyengan, klepek-klepek, lupa sekolah (kalau masih sekolah) atau lupa ke kantor, memandangi surat ini terus…

  8. Angela Januarti  19 October, 2013 at 07:17

    Dear. Pak DJ
    Angel mengunjungi perkampungan untuk urusan pekerjaan.
    Secara detailnya angel tidak bisa cerita
    Sampaikan salam sayang Mawar untuk David cucunya bapak. Hehehe

    Kak Alvina VB : Kalau David yang maya bisa menjadi nyata barulah bisa ditemukan jawabannya.

  9. Alvina VB  19 October, 2013 at 07:08

    Kl seandainya Mawar = Angela…. David = ????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *