[Xixi Diary Sang Superstar] Ikhtiar Seorang Ayah

Masopu

 

Sejuk udara pagi berhembus perlahan dari arah pepohonan pinus. Aromanya yang segar perlahan menjalar ke seluruh tubuh Xixi bersama tiap sesapan nafasnya. Lelah yang sempat terasa selama dalam perjalanan akhirnya tertuntaskan. Jalanan berbatu yang dilaluinya menjelang sampai ke tujuan, membuat perjalanan terasa sangat lama. Guncangan mobil yang miring ke kiri atau ke kanan membuat tubuhnya terasa pegal.

“Xi kita sudah sampai di rumah Haji Rahmat. Ayo kita turun.” Pak Ismail berkata sambil membuka pintu mobil yang berhenti di halaman sebuah masjid kecil. Sesampainya di luar, segera dia bergerak seperti orang sedang bersenam. Lamanya perjalan yang hampir 2 jam, ditambah dengan kondisi jalanan yang berbatu di seperempat jalan terakhir membuat badannya terasa pegal.

Xixi mengikuti langkah pak Ismail turun dari mobil. Setelah di luar, dipandanginya bunga-bunga beraneka warna yang menghiasi halaman masjid kecil tersebut. Sisa-sisa embun cantik menghiasi pucuk rerumputan. Sementara kupu-kupu terbang bermain dari satu kelopak bunga ke kelopak bunga yang lain. Kicauan burung gelatik dan prenjak bersahutan meramaikan suasana di pagi yang dingin.

“Pak di mana rumahnya haji Rahmat?” tanya Xixi sambil mengedarkan pandangannya berkeliling. Tampak beberapa rumah dengan model dan ukuran yang sama. Sementara di sudut lain tampak pula beberapa rumah berdiri berjajar dengan bentuk dan keadaan yang berbeda. Semakin jauh matanya memandang, rumah dan obyek lainnya terlihat semakin samar. Sisa-sisa kabut masih menyelimuti beberapa bagian perkampungan di lereng barat gunung Raung.

Pak Ismail tidak menjawab pertanyaan Xixi. Dia hanya memberi tanda agar Xixi mengikuti langkahnya menuju ke sebuah rumah. Rumah sederhana yang tadi Xixi lihat dikelilingi beberapa rumah dengan bentuk dan ukuran yang sama. Setibanya di pintu rumah, seorang lelaki yang berusia lebih tua dari pak Ismail menyambut mereka dengan merentangkan tangan. Rambutnya yang memutih membuatnya terlihat bijaksana. Garis-garis keriput tampak jelas menghias sekitaran kelopak matanya. Sementara tulang-tulang di pipinya terlihat semakin menonjol. Kulitnya yang hitam tidak mengurangi sinar wibawa yang terpancar. Meski usianya lebih tua, tapi jalannya jauh lebih tegap dan cekatan dibandingkan cara jalan pas Ismail.

ikthiar

“Assalamu alaikum pak Haji.” sapa pak Ismail sambil mengulurkan kedua tangannya. Setelah bersalaman, segera dipeluknya lelaki yang berada di depannya.

“Waalaikum salam warrahmatullah. Angin apa yang membawamu ke mari?” tanya pak Haji Rahmat. Tangan kanannya segera memberi isyarat pada pak Ismail, Xixi dan sopir mobil yang mengantar mereka untuk duduk.

Setelah berbasa-basi sebentar, pak Ismail segera menceritakan maksud kedatanganya bersama Xixi. Semua diceritakan dengan runut dan jelas, termasuk juga asal-usul Xixi yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. Mendengar penjelasan pak Ismail, Haji Rahmat hanya manggut-manggut saja. Namun nampak jelas raut muka kekagetan tergambar di wajahnya saat pak Ismail menceritakan siapa sebenarnya Xixi. Haji Rahmat pernah beberapa kali datang ke rumah pak Ismail, namun tak pernah bertemu dengan Xixi. Hal inilah yang membuatnya terkejut. Tapi kekagetan itu tak berlangsung lama, sebentar kemudian haji Rahmat telah bisa mengusai diri dan kembali mendengarkan cerita pak Ismail dengan takzim.

“Cerita yang sangat menyentuh. Ya begitulah garis hidup yang harus dijalani manusia nak Xixi.Tapi kamu harus bersyukur, karena kamu masih diberi kesempatan untuk kembali ke jalan-NYA. Sangat jarang orang yang diberi kesempatan sepertimu. Sekarang yang terpenting bukan apa yang terjadi di masa lalumu. Dan bukan pula tentang apakah nantinya kamu akan sembuh atau tidak. Sejujurnya bukan itu semua.” Haji Rahmat memulai perkataannya sesaat setelah pak Ismail menyelesaikan ceritanya.

Xixi, Pak Ismail dan Sopir yang mengantarnya hanya saling pandang saja mendengar perkataan Haji Rahmat tersebut. Mereka tak habis pikir dengan perkataan tersebut. Apa maksud dari perkataan tersebut pun mereka tak mengerti. Yang terlintas dalam benak mereka hanya rasa heran saja.

“Kalian tentu berpikiran aku gila mengatakan bahwa kesembuhanmu tak penting. Hal itu menurut kalian sama saja dengan menganggap kehidupan Xixi yang tak lagi penting. Sejujurnya bukan itu yang aku maksudkan. Yang aku maksudkan adalah yang terpenting untuk kalian adalah berusaha untuk mencapai kesembuhan dan berserah diri. Dan jangan lupa untuk mengisi sisa hidupmu dengan sesuatu yang bermanfaat.” Haji rahmat diam sebentar. Dipersilahkannya ke tiga tamunya untuk menikmati hidangan yang baru saja disajikan putrinya Haji Rahmat.

“Sejujurnya aku tak bermaksud melemahkan usaha kalian demi kesembuhan Xixi. Jangan sia-siakan waktu yang tersisa hanya untuk mengejar kesembuhan semata. Tapi hiasilah sisa waktu yang tersisa dengan banyak kegiatan lain. Di sela-sela ikhtiar, di sela-sela itu banyak waktu yang bisa Xixi dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Agar nantinya jika usaha yang dilakukan gagal dan penyakit ini menjadi perantara kematiannya Xixi, setidaknya dia punya bekal untuk menghadapinya. Dan hal itu tentunya tidak akan meninggalkan sesal yang berkepanjangan. Satu hal yang harus selalu kita sadari, kita hanyalah sekedar berusaha dan diiringi do’a, tapi kesembuhan itu hak prerogratifnya Allah. Kematian dan musibah bukan pertanda Allah tak sayang kita. Bukan pertanda Dia menghukum kita atas sebuah kesalahan, bisa jadi itu adalah wujud kasih sayang-NYA terhadap kita. Jadi yakinlah apapun yang Allah beri itulah yang terbaik untuk kita.” tatap mata lelaki tua tersebut lurus mengarah ke Xixi. Kata-katanya yang halus dan penuh penekanan begitu mengena ke Xixi. Dia yang tadinya hanya berkeyakinan kalau Haji Rahmat bisa menyembuhkan, perlahan meluruskan tekadnya bahwa dia hanya berusaha. Haji Rahmat hanya perantara. Dan keputusan tetap di tangan Allah.

“Kedatanganmu ke sini hanya bagian dari ikhtiar, masalah kesembuhan bukan dariku. Itu semua semata-mata dari Allah nak.” lanjut haji Rahmat. Nasehat-nasehat yang lain segera meluncur dari bibirnya. Semua yang ada di ruangan itu bersamanya hanya mendengarnya dengan seksama. Setelah cukup memberi nasehat Haji Rahmat berdiri dan melangkah masuk ke ruang tengah rumahnya. Tak lamu kemudian dia keluar sambil membawa 5 bungkus ramuan yang ditempatkan di kotak mika.

“Ramuan ini berasal dari berbagai tanaman obat yang berada di sekitar lokasi sini. Ini bisa dibilang hanyalah ramuan jamu yang berfungsi untuk menguatkan daya tahan tubuh. Sekali lagi kesembuhan Xixi dari penyakitnya bukanlah karena ramuan ini. Kesembuhannya adalah sugesti dari dalam hatinya yang diijabah oleh ALlah. Jadi bagaimana mau sembuh, jika kita tidak yakin dengan usaha kita untuk memperoleh kesembuhan. Dan semua kesembuhan itu datangnya dari Allah. Bukan dari obat ini.” nasehat Haji Rahmat sambil menyerahkan ramuan obatnya.

Sebelum mereka pamit, Haji Rahmat menceritakan beberapa kisah orang yang berikhtiar mencari kesembuhan dengan perantaraannya. Dan sebagian berhasil sementara sebagian yang lain gagal. Tak lupa pula diajarkannya bagaimana menyeduh ramuan tersebut dan anjuran cara minumnya. Setelah Pak Ismail dan Xixi benar-benar memahami cara penggunaannya, mereka pamit undur diri. Sementara untuk biaya berobat, Haji Rahmat tidak memungut biaya sama sekali. Tapi pak Ismail yang sudah tahu kebiasaan Haji Rahmat segera memasukkan uang yang telah disiapkannya ke kotak amal masjid di depan rumah. Setelah itu mereka berpamitan pulang. Haji Rahmat mengantar mereka sampai ke mobil yang mereka tumpangi.

 

Denpasar, 18012012.0232

 

2 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Ikhtiar Seorang Ayah"

  1. J C  23 October, 2013 at 11:25

    Semoga ikthiarnya didengar olehNYA…

  2. Dj. 813  21 October, 2013 at 13:00

    Satoe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.