Ketika Fian Mulai Bernegosiasi dan Nilai Hidup Mulai Tertanam

Yeni Suryasusanti

 

Tadi malam, Debby Cintya lewat di depan rumah saya bertepatan dengan saat guru privat Ifan pulang diantar Fian ke teras. Kost Debby memang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami, yang hanya ditempati 2 minggu setiap 2 bulan sekali saat dia cuti dari tempatnya bekerja di Kalimantan.

Oleh Fian, Debby diminta untuk mampir masuk ke rumah tepat ketika saya baru saja masuk ke kamar mandi. Akibatnya, Debby “disandera” Fian disuruh menunggu saya.

Padahal saya kasih tau ya, saya itu menganggap waktu di kamar mandi sambil membaca buku sebagai salah satu “Me Time” saya yang paling berharga dan sungguh tidak tenang jika diburu-buru.

Values

Debby yang sudah mengetahui betapa berharganya “Me Time” saya itu (heheheh…) menyampaikan kepada Fian bahwa dia ingin langsung pulang karena sejak awal pun memang tidak ada rencana mampir, dan dari kamar mandi saya pun berusaha membujuk Fian dengan mengatakan bahwa saat itu sudah malam jadi tante Debby mau beristirahat.

Debby berpamitan di pintu kamar mandi, tapi ternyata Fian masih belum rela melepasnya pergi.

Kedekatan hati ini terjadi karena waktu dan perhatian yang diluangkan Debby bagi mereka sejak pertama kali saya diserahi tugas mendidiknya oleh Mentor Paskibra 78, sehingga Debby memang sudah seperti keluarga dekat saja bagi Ifan dan Fian.

 

Ternyata, bakat negosiasi bisa menurun tanpa diajari, hanya dengan menyerap kejadian sehari-hari.

Karena saya tidak bersedia terburu-buru keluar dari kamar mandi, Debby terpaksa membujuk Fian agar mengizinkan dirinya pulang ke kost.

Pagi ini Debby bercerita kepada saya tentang kejadian tadi malam ketika saya sedang di kamar mandi.

Dengan gaya khasnya, Fian akhirnya mengizinkan Debby pulang namun berkata kepada Debby,

“Fian ikut ke kost tante Debby. Bentaaaaaar aja kog. Terus tante Debby pulangin Fian ke rumah, Fian kunci gembok, terus tante Debby pulang lagi…” :D

 

Kata Debby, cara Fian membargaining Debby dengan kalimat diatas menunjukkan skill planning dan negosiasi Fian.

 

Kemudian, ketika sampai di kost Debby, Fian berkeliling kamar kost Debby, memegang hair dryer lalu menemukan bel / klakson berbentuk bola untuk sepeda dan terlihat tertarik dengan benda tersebut dan memainkannya.

Debby otomatis bertanya, “Fian mau klakson-nya?”

 

Daaannnn…..

“Jawabannya aja dong yang bikin salut… Salut ihh sama yang mendidik…” cerita Debby antusias kepada saya.

 

“Boleh, kalau tante Debby sudah tidak perlu lagi…” demikian jawaban Fian atas tawaran Debby.

 

Jujur saya katakan, saya tidak mengajarkan secara khusus tentang tehnik negosiasi maupun jawaban Fian yang spektakuler untuk anak usia 5th 4bln itu :D

Kemungkinan besar Fian menyerap dari nilai-nilai yang terimplementasi pada kejadian sehari-hari.

Saya ingat dulu waktu Ifan dibelikan suling yang baru karena sulingnya agak retak, saat saya ingin memberikan suling lama kepada Fian, Ifan sempat sedikit kurang rela. Mungkin karena membayangkan Fian pasti akan berisik karena sudah punya suling sendiri sehingga tidak bisa dilarang meniup suling :D

Saat itu ada Fian disana, mendengar keberatan abangnya.

Saya berkata kepada Ifan, “Abang, kan sulingnya sudah nggak Ifan pakai lagi… Ifan sudah nggak perlu suling yang lama ini karena udah punya suling yang baru… Boleh dong suling lamanya dikasih ke Fian… Fian kan mau belajar suling juga… Nggak hanya suling, mainan dan buku juga gitu. Pokoknya, setiap Barang yang udah nggak Ifan gunakan lalu diberikan dan bermanfaat untuk untuk orang lain, itu akan lebih bagus daripada didiamkan nggak berguna… Mubazir lho…”

 

Demikian juga dengan makanan. Saya selalu mengajarkan kalau makanan ada yang berlebih, tolong jangan langsung di buang, tapi ditanyakan apakah ada mau, atau bisa memberitahu saya.

Sesekali Ifan atau Fian menawarkan makanan / minuman kepada saya, memang saya terkadang berkata, “Ifan / Fian udah nggak mau?” sebelum memutuskan memakannya.

Yah, mungkin inilah salah satu bentuk kasih seorang Ibu kepada anaknya, yang lebih rela tidak mendapatkan bagian jika sang anak masih ingin memakan bagiannya.

 

Sepertinya hal itu menancap kuat di benak Fian sehingga terucap secara otomatis dalam percakapan.

 

Saya terharu, takjub, bahagia…

Karena kami sungguh tidak pernah menargetkan “hasil” dari pendidikan karakter yang saya terapkan kepada Ifan dan Fian.

Kami hanya menanamkan nilai-nilai dasar yang baik semaksimal mungkin.

Terkadang dengan pengajaran lewat kata-kata dalam percakapan filosofis yang sesekali memang saya lakukan dengan Ifan dan Fian. Namun lebih banyak lagi lewat sikap dan tindakan atas kejadian normal sehari-hari.

Ternyata, hasilnya dahsyat ya…

Mungkin ini adalah hadiah dari Allah sebagai buah dari komitmen, kesabaran, keikhlasan dan ikhtiar yang tidak mengenal menyerah dari orang tua dalam menjalankan amanah dari Allah…

 

Alhamdulillah

 

Jakarta, 18 Oktober 2013

Yeni Suryasusanti

 

6 Comments to "Ketika Fian Mulai Bernegosiasi dan Nilai Hidup Mulai Tertanam"

  1. Yeni Suryasusanti  24 October, 2013 at 10:19

    Alvina : Soalnya, prinsipku kalau nggak mau repot terlibat mendidik anak, ya jangan punya anak lah… mereka kan nggak minta dilahirkan…
    Sebenarnya masih bisa banget kog perempuan bekerja hands on pendidikan anak. Pilihan kita aja mau hands on atau nggak. Tapi memang butuh niat yg kuat banget supaya bisa menganggap mendidik dan mengurus anak adalah hal yang menyenangkan bukan sebagai beban… ilmu ikhlasnya itu lho yang katanya susah di dapat terutama bagi pasangan muda yg butuh “me time” lebih banyak sepertinya… hehehehe…

  2. Alvina VB  23 October, 2013 at 20:42

    Salut masih ada ibu spt Yenny yg ‘hands-on’, masih punya waktu mendidik anaknya dgn baik. Banyak kenalan bahkan kel. deket saya di tanah air adl ‘part-time’ parents – 5 hari poll sama baby-sitter dan weekend (Sabtu-Minggu) sama org tuanya, gak heran cara anak2nya ngomong dan bertindak-tandukpun kaya baby-sitternya, prihatinnnnn….

  3. Yeni Suryasusanti  23 October, 2013 at 14:42

    James : EMPAT
    Sumonggo : yang Afgan itu biasanya Ibu-Ibu kalo nawar di pasar hehehehhe…
    JC : Alhamdulillah, tujuan ditulis memang karena itu kog, siapa tau bisa bermanfaat buat orang lain… we never know

  4. J C  23 October, 2013 at 12:19

    Yeni, aku selalu memetik pelajaran baru dari tiap artikel parenting darimu…

  5. Sumonggo  23 October, 2013 at 11:34

    Salut dengan Fian, boleh nego tapi jangan Afgan …. ha ha …….

  6. James  23 October, 2013 at 11:32

    SATOE, he he ini juga kelewat ama mbak Lani

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.