Matahari Terbit di Punthuk Setumbu dan Sikunir

Nia

 

Libur Hari Raya Idul Adha kemarin saya mengajak teman-teman untuk melihat matahari terbit di Punthuk Setumbu, Magelang dan Sikunir, Dieng – Wonosobo. Perjalanan menuju kedua tempat ini relative mudah tapi karena kami melakukannya dalam 2 hari berturut-turut jadi capeknya lumayan :) Selain karena harus bangun dini hari kami juga harus naik mobil dari Magelang ke Wonosobo. Untung (masih saja ada untungnya) kami tidak harus mengendarai mobil jadi bisa istirahat sepanjang perjalanan.

Malam sebelum ke Punthuk Setumbu kami menginap di Hotel Grand Artos Magelang. Selain karena harganya lebih murah dari hotel-hotel lain, di bawah hotel ini juga ada mall dan supermarket jadi kami tidak perlu repot keluar hotel untuk membeli lampu senter. Jalan setapak menuju bukit Punthuk Setumbu tidak terlalu gelap karena ada beberapa lampu jalan tapi jalan ke bukit Sikunir sangat gelap jadi lampu senter diperlukan.

Punthuk Setumbu terletak di sebelah barat candi Borobudur. Dari arah kota Magelang di jalan raya Magelang-Yogyakarta belok ke kanan ke jalan Letnan Tukiyat. Ada plang petunjuk ke arah Borobudur di pertigaan jalan ini dan kalau tidak salah ada replica candinya juga. Setelah melewati jalan Letnan Tukiyat yang panjaaanggg dan laaamaaa (iklan coki-coki :) ) ada pertigaan yang ada petunjuk ke arah Borobudur. Belok kanan di pertigaan ini melewati jalan Syailendra Raya. Ada pertigaan lagi belok ke kiri ke arah Hotel Manohara. Ikuti jalan itu sampai ada perempatan dengan petunjuk ke arah desa Ngadiharjo. Belok kanan di perempatan itu menuju arah desa Ngadiharjo dan ikuti jalan sampai menemukan tanda bertuliskan PARKIR MOBIL. Pengunjung bisa memarkir mobilnya di situ tapi bisa juga parkir di atas bukit. Petugas keamanan dan parkir akan memberitahu pengunjung apakah bisa parkir di atas atau harus di bawah. Kalau kita bisa parkir di atas maka kita bisa menghemat waktu dan tenaga setengah dari kalau harus jalan dari tempat parkir di bawah.

Di tempat parkir atas ada loket penjualan tiket naik ke bukit Punthuk Setumbu. Harga tiket untuk wisatawan local adalah Rp.15.000 dan untuk wisatawan asing adalah Rp.30.000. Setelah membeli tiket kita bisa mulai mendaki menuju puncak bukit. Jalan santai menuju puncak bisa ditempuh kurang lebih 20 menit. Saya rasa siapapun dalam kondisi fit bisa menempuh perjalanan ini dengan mudah karena kemiringan tidak terlalu curam.

Ketika kami sampai di puncak ternyata sudah banyak wisatawan lain. Untungnya pagi itu tidak terlalu ramai pengunjung jadi kami bisa leluasa foto-foto. Saya agak kecewa sedikit karena ternyata dari bukit ini Candi Borobudur tidak terlihat dengan jelas. Jadi foto-foto yang ada di internet itu diambil dengan lensa tele. Berikut foto-foto yang saya ambil dengan kamera saku dan kamera HP saya.

baltyra 1

Pemandangan ketika kami baru saja sampai di puncak bukit Punthuk Setumbu

 

baltyra 2

‘Jangan ganggu! Sedang bermesraan’

 

baltyra 3

Matahari mulai muncul. Puncak Gunung Merapi dan Merbabu mulai terlihat

 

baltyra 4

Matahari semakin tinggi

 

sarapanpagi

Sarapan pagi

 

pose

Ini teman saya yang manut disuruh pose dengan gaya apapun

 

Setelah puas menikmati pemandangan dari Punthuk Setumbu kami kembali ke hotel lalu melanjutkan perjalanan ke Wonosobo. Teman saya menginap di Hotel Parama sedangkan saya tentu saja tidur di rumah :) Saya menawari teman saya untuk menginap di rumah saya tapi dia tidak mau. Ya sudah… tidak masalah karena sekarang di Wonosobo sudah ada taxi. Kebetulan juga sopir taxi yang kami sewa untuk mengantar ke Dieng mau untuk menjemput di 2 tempat berbeda.

Ada beberapa cara untuk melihat matahari terbit di Dieng dari Wonosobo. Pertama adalah dengan kendaraan sendiri tapi kalau yang nyetir tidak kenal dengan jalanan Dieng dan ingin santai menikmati pemandangan maka bisa juga menyewa mobil dengan sopirnya atau menyewa taxi. Harga sewa mobil dan taxi sekitar Rp. 400.000. Harga tersebut untuk penjemputan di rumah/ hotel di Wonosobo, naik ke Dieng, jalan-jalan di 4-5 objek wisata di Dieng, turun ke Wonosobo, dan diantar lagi ke rumah/ hotel. Tidak termasuk biaya tiket masuk ke Dieng dan ke objek wisata dan tidak termasuk biaya parkir. Untuk menghindari kesalahpahaman lebih baik ketika negosiasi diperjelas harga yang sudah disetujui berlaku dari pukul berapa sampai pukul berapa. Sopir taxi yang kami sewa menjelaskan harga Rp. 400.000 untuk penjemputan dari pukul 03.00 di Wonosobo dan turun dari Dieng pukul 10.00 – 11.00.

Jika menginap di Dieng bisa juga menyewa mobil dan sopir dari Dieng dengan harga yang sama. Bisa juga membayar tukang ojek. Biaya untuk tukang ojek sekitar Rp. 125.000 untuk ke Sikunir dan putar-putar objek wisata di Dieng. Sama dengan sewa mobil atau taxi, ketika negosiasi dengan tukang ojek juga harus diperjelas rute dan waktunya.

Kami berangkat dari Wonosobo pukul 03.00 dan sampai di desa Sembungan di bawah bukit Sikunir sekitar pukul 04.00. Desa Sembungan letaknya agak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Kalau dari arah Wonosobo di pertigaan Dieng belok ke kiri (belok kanan ke arah kompleks Candi Arjuna) lalu ikuti jalan melewati Dieng Theatre hingga masuk ke desa Sembungan. Biaya masuk ke bukit Sikunir adalah Rp. 4000 per orang. Di bawah bukit Sikunir tersedia tempat parkir mobil dan motor yang luas. Saya lihat ada beberapa orang yang mendirikan tenda di area parkir yang dekat dengan Telaga Cebongan.

Kami berjalan bersama rombongan petani dan pengunjung lain yang membawa lampu senter dan head light tapi tetap saja tidak mampu menerangi jalan tanah menanjak dan di beberapa tempat berbatu. Banyak pengunjung yang mendaki hanya bersandal jepit atau sepatu trepes (sepatu perempuan yang tipis sol-nya). Saya lihat mereka tidak kesulitan mendaki entah bagaimana ketika turun. Saran saya kalau bisa lebih baik memakai sepatu dengan sol yang tidak licin. Sepatu hiking lebih baik. Selain sepatu yang harus dipersiapkan adalah penghangat tubuh seperti jaket, kaos tangan, topi kupluk, dan shawl. Di bulan October suhu di Sikunir relatif tidak terlalu dingin. Hanya sekitar 10-15 derajat Celcius. Di bulan Juni-September suhu bisa turun sampai 1 derajat Celcius.

Mendaki Sikunir lebih berat dari pada Punthuk Setumbu tapi bagi yang kondisi tubuhnya fit pasti bisa sampai puncak Sikunir asal berjalan semampunya dan beristirahat seperlunya. Tidak boleh dipaksakan untuk naik dalam waktu singkat karena terburu-buru takut kehilangan moment matahari terbit.

Saya tidak tahu persis berapa lama kami berjalan hingga sampai puncak Sikunir. Mungkin sekitar 30 menit. Selama perjalanan naik kami tidak terlalu sering bertemu pengunjung lain. Rupanya para pengunjung sudah lebih dulu mendaki jadi ketika kami sampai puncak sudah penuh dengan pengunjung. Kami hanya bisa duduk di tepi jalan setapak. Area dengan view tak terhalang ke arah timur sudah dipenuhi pengunjung dan tripod kamera mereka.

Saya sarankan mengunjungi Sikunir tidak di hari libur jadi diharapkan jumlah pengunjung lebih sedikit dari pada di hari libur atau akhir minggu. Sebenarnya pemandangan dari puncak Sikunir sangat indah tapi karena sikap pengunjung yang menurut saya capede yang membuat saya tidak betah berlama-lama di sana. Sebagian besar pengunjung sangat urakan. Teriak-teriak, bersiul-siul, dorong-dorongan, foto-foto narsis (pemandangan indah hanya untuk background) dan merokok! Begitu matahari muncul saya beranjak menuruni bukit meninggalkan teman saya di puncak bukit.

Pemandangan dari jalan setapak Sikurnir justru lebih indah karena bisa lebih dinikmati tanpa polusi suara dan asap rokok dari pengunjung lain. Saya berhenti di beberapa tempat untuk memotret atau sekedar menikmati pemandangan sambil merasakan semilir angin dingin dan suara-suara binatang hutan. Berikut foto-foto Sikunir.

baltyra 5

Foto saya ambil dari puncak Sikunir. Pemandangan terhalang siluet pengunjung lain

 

baltyra 6

Foto ini saya ambil ketika berjalan menuruni bukit Sikunir

 

baltyra 7

Matahari muncul dari balik pegunungan Dieng dan Gunung Sindoro

 

baltyra 8

Pemandangan dari lereng bukit

 

baltyra 9

Pemandangan bukit dan lembah

 

baltyra 10

Seniman local dari Dieng

 

baltyra 11

Jalan setapak dari bukit menuju tempat parkir. Tampak Telaga Cebongan

 

baltyra 12

Parkir motor

 

baltyra 13

Parkir mobil

 

baltyra 14

Jaga tenda

 

baltyra 15

Teman baru saya yang ganteng. Namanya Anoew

 

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

50 Comments to "Matahari Terbit di Punthuk Setumbu dan Sikunir"

  1. nia  6 November, 2013 at 08:47

    makasih kang mangstaf-nya

  2. anoew  5 November, 2013 at 09:16

    Quote:
    “Ini foto teman saya yang manut disuruh gaya apapun”

    Di foto keenam dari atas, membuatku fokus ke gunung. Obyek itu tampak kecil dari jauh namun menjulang tegak menantang awan.

    Ini foto luar biasa. Mangstaf.

  3. Lani  25 October, 2013 at 10:34

    Aku plg seneng jadah bakar+tempe bacem= cocok galicok……….tp klu adanya cm jadah basah ditabur parutan kelapa jg ora kalah enak-e sama dgn yg dibakar

  4. nia  24 October, 2013 at 13:53

    Bu Meita… sy ke Semarang sebelom balik sini jane mau mampir tapi gak bias kapan-kapan ya tak mampir.
    jangan takon taon piro

    Yu Lani… sy kurang suka jadah yg lembut. kurang mantep hahaha… hooh emang jadah goreng atos tp sedep

  5. Lani  24 October, 2013 at 13:16

    43, 44 : uyah bleng, bentuknya spt batu kapur hanya warnanya kuning, gendar klu krupuk ya digoreng, tp klu yg basah ini ya langsung dimakan. Belum pernah tau klu gendar semacam ini hrs digoreng.
    Jadah/juadah bahasa Indonesianya apa ya? Ndak hrs digoreng, bs dimakan basah, atau dibakar.
    Aku tdk suka klu digoreng krn keras, yg aku suka ktk baru dideplog, trs ditabur kelapa biar tambah gurih, ato dibakar dibungkus daun pisang wah legittttttt……..
    Juadah bs dibkn lembut, atau agak kasar, selera masing2 aja, tp buatku semuanya enakkkkkk……..krn di Hawaii ora ono wong dodol, klu ngidam jadah ya bikin sendiri, nah iki aku malazzzzzzz

  6. Nur Mberok  24 October, 2013 at 12:51

    Borobudur tuh dekat lho ama Semarang…Knapa ya gak mampir?

  7. nia  24 October, 2013 at 12:38

    yu Lani… kalo jadah Wonosobo beda dengan jadah Pakem (liat produk e wae bedo, siji sudrun koyo mbak Dewi sijine alim kayak sy).
    jadah Wonosobo gak sehalus jadah pakem. pertama makan jadah Pakem dulu bingung. kok ngene???
    dan heran juga kok dimakan sama tempe bacem haha…
    Jadah memang lebih enak di goreng. kalo gak buat sy rasane aneh

  8. nia  24 October, 2013 at 12:35

    wahhh baru tau nek gendar bisa dimakan tanpa digoreng.
    uyah bleng kalo gak salah inget bentuke padat gak kayak uyah biasa kan ya… dijual ukuran dadu gitu trus diplastiki kayake gitu deh di Wonosobo.
    makai bleng kan dikit to mbal El? gak sak byuk an kayak garam ya

    yu Lani… podo sy juga baru tau kalo uyah bleng itu borax.

  9. Lani  24 October, 2013 at 09:57

    EL-NANO-NANO : wadoh, klu begitu aku wis mangan borax hikkkkkks…….baru tahu sekarang……..moga2 tdk ada side efek nanti kedepannya.

  10. elnino  24 October, 2013 at 09:37

    Yu Lani, Dewi, Nia, iya bleng sing warnane kuning itu nama lainnya borax, fungsinya utk pengenyal n wis dilarang. Kadang dipake utk campuran bakso atau tahu, itu penyalahgunaan. Bahaya. Makane wis dilarang. Tapi mungkin secara sembunyi2 masih dipake.
    Gendar basah ki abis ditumbuk ya langsung iso diirisi kayak getuk singkong itu Nia. Rasane semu sengir2 bleng gitu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.