Sakit Hati Membawaku pada Reksadana

Kembangnanas

 

Aku hanya ingin berbagi cerita. Semua berawal dari sakit hatiku pada Asuransi suatu bank.

Pada awalnya dulu pas anakku yang gede lahir aku ditawari oleh Marketing Asuransi sebuah Bank yang kebetulan ada di lantai 1 kantorku, dengan segala janji manis dan pinternya nawarin produk Unit Link (UL)-nya membuatku terpikat dan akhirnya membuka polis di sana dengan rencana untuk dana pendidikan anak lanang. Premi yang ditawarkan juga tidak besar, aku pikir ok deh aku buka, anggap aja duit hilang per bulan dan dapat hasil yang lumayan pada saat dibutuhkan.

Nah, beberapa waktu lalu aku ketemu temen yang kebetulan cerita dia kecewa dengan Unit Link yang sama dan akhirnya mengambil seluruh uang di Unit Link tersebut yang telah berjalan 6 tahun. Dia bilang “Akunnya aku tutup, aku buat beli Logam Mulia aja”.

Berdasar dari omongan tersebut, akhirnya aku mikir berapa uang yang aku kumpulkan di asuransi tersebut? Akhirnya aku nanya ke marketingnya, berapa dana yang telah berkembang. Betapa terkejutnya aku, bahwa antidaka yang aku peroleh selama hampir 5 tahun sama sekali belum ada 50% dari uang yang sudah aku setorkan. Yowis aku terusin aja UL-ku, nanti kalau sudah balik modal baru aku pindahkan untuk alokasi lain.

Akhirnya aku browsing mengenai UL, salahku juga sih selama ini terpikat dengan bujuk rayu marketing produknya. Dan saat aku browsing itulah aku menemukan banyak web perencana keuangan dan kok aku jadi keranjingan baca yang kaya gini ya. Sedikit demi sedikit mulai terpengaruh dengan para perencana keuangan, aku mulai rajin buat catatan pengeluaran dan berusaha untuk mengeluarkan pos-pos yang tidak perlu untuk menyehatkan keuangan keluarga.

Mengurangi belanja di Mall, mengurangi belanja online, aku pikir selama ini betapa banyak barang yang ternyata tidak aku perlukan tetapi aku beli hahaha. Akupun mulai memisahkan antara rekening operasional dengan rekening tabungan, setelah aku cek ternyata aku punya 3 (tiga) ATM dari bank yang berbeda dan semuanya tidak ada isinya. Akhirnya aku hanya menyisakan dua rekening dan hanya 1 ATM ada di dompet, untuk ATM yang lainnya aku sembunyikan tidak tau dimana. Sedangkan untuk kartu kredit, aku menyisakan kartu kredit yang free annual fee seumur hidup buat jaga-jaga aja sih.

logo-reksadana

Selain menyehatkan aku jadi tau tentang produk Reksa Dana, dari beberapa financial planner menyarankan untuk memisahkan antara Asuransi dan Investasi. Kalau kata Ligwina Hananto, Tentukan tujuan lo!

Selama ini emang aku cuek dengan investasi, kalau ada uang operasional lebih ya dimasukkan saja ke tabungan (bukan operasional), apalagi ada program pensiun juga dari kantor, membuatku semakin cuek dengan investasi. Aku cuma nabung dengan mengumpulkan setiap duit 20 ribuan aku terima, aku masukkan dalam toples, prinsipku adalah “Save si ijo untuk kehidupan yang lebih baik”.

Tetapi beberapa waktu lalu ada gonjang-ganjing di program pensiun kantor, diubah dari manfaat pasti ke iuran pasti, membuatku jadi bertanya apa ya kira-kira investasi untuk duit yang tidak banyak. Setelah sibuk cari informasi sana-sini dan kebetulan si ijo sudah lebih dari 100 lembar aku bertanya mau diapain ini si ijo. Bosku yang ternyata sudah lama punya Reksa Dana, menyarankan buat beli Reksa Dana aja, Si Ijo buat pembelian pertama aja, selebihnya autodebet aja, ada kok yang per bulan cuma 100 ribu aja, beliau bilang yah high risk high return lah. Akhirnya aku putuskan beli Reksa Dana.  tapi masalahanya adalah aku tidak tau dimana bisa membeli Reksa Dana.

Awal pertama aku datangi CS Bank Man****, yang kebetulan hanya bersebelahan dengan kantorku. Aku ingin nanya-nanya dulu tentang Reksa Dana, tetapi betapa kecewanya aku tanggapan yang aku dapatkan tidak seperti harapanku. Waktu aku datang nanya akan membeli Reksa Dana, ekspresi CSnya langsung berubah drastis, atidak kaget dan langsung menawarkan produk Asuransi Unit Linknya, meskipun pada akhirnya dia mengatakan bisa membeli Reksa Dana di cabang tersebut. Setelah ngobrol sana-sini mengenai Reksa Dana, dia baru bilang kalau mau membeli Reksa Dana sebaiknya datang saja ke Kantor Cabang Utama Palembang. Nah loh, piye to mba?

Berhubung betapa ribetnya pembelian Reksa Dana di bank tersebut akhirnya aku mengurungkan niatku membeli di bank tersebut, sambil mencari informasi tetntang produk Reksa Dana yang akan aku ambil, meskipun dalam Reksa Dana kinerja di situu masa lalu tidak mencerminkan masa depan, tapi paling tidak aku punya gambaran produk apa yang akan aku beli.

Setelah terkatung-katung belum bisa membeli Reksa Dana, temenku menyarankan ke Bank Comm*****th aja gampang kok pembeliannya. Akhirnya dengan berbekal segepok si ijo, aku bersama bojoku tercinta datang ke Kantor Cabangnya di Palembang.

Saat aku ke CS menyampaikan maksud dan tujuanku ke bank tersebut, CSnya dengan suka rela menjelaskan mengenai produk Reksa Dana yang dijual di bank tersebut dan dengan sabar menjelaskan setiap pertanyaan yang kami ajukan. Wah bener-bener kebanting deh pelayanannya dengan Bank sebelah.

Syarat pembelian Reksa Dana hanya 2 (dua) macam, punya rekening bank tersebut dan punya NPWP itu aja. Sengaja aku ambil Reksa Dana Saham untuk persiapan pensiun 20 tahun lagi, katanya reksa dana itu sesuai untuk tujuan jangka panjang dan pembelian Autoinvest per bulannya pun relatif kecil mulai 100 ribu saja. Yah itung-itung duit ilang, coba bayangkan saja berapa banyak duit untuk makan di mall, tidak cukup 100 ribu.

Sebagai emak-emak dan Menteri Keuangan di rumah, aku mencoba untuk bisa menjadi Financial Planner buat keluarga.

 

 

20 Comments to "Sakit Hati Membawaku pada Reksadana"

  1. Handoko Widagdo  23 October, 2013 at 20:04

    Kemb…kemana aja gak pernah mencungul? Sedang mereksa dana ya?

  2. Dewi Aichi  23 October, 2013 at 19:19

    Wah..menarik pengalaman seperti ini. Aku ngga ada pengalaman dan ngga tau tentang reksa dana. Dulu aku justru punya beberapa polis, termasuk di Comm itu aku punya 2, polis ada yang aku bayar 3 kali dalam setahun tapi jumlahnya besar, ada yang setahun 2 kali, dan ada yang per 3 bulan.

    Aku harus menyisihkan dana untuk semua itu, aku pikir tindakanku itu hanya rasa ketakutanku, menghadapi masa depan yang belum tentu ada, ketakutan jika besok akan mati, dan kepikiran gimana hidup anakku nanti? Biaya sekolah dll dari mana? Seiring berjalannya waktu, ada beberapa hal yang memaksaku memilih. Ibu sakit, butuh biaya rmah sakit dan lain-lain, jika aku membiayai ibuku, aku tidak akan bisa membayar asuransi asuransiku, ada adik yang masih butuh biaya sekolah, atau misalnya ada beberapa dana sosial, waktu sekarang. Semua itu adalah kebutuhan “sekarang”, kenapa aku harus menyisihkan danaku untuk kebutuhan nanti yang belum tentu akan ada? Kebutuhan sekarang yang jelas –jelas nyata, aku ngga bisa? Itu yang aku pikirkan saat menarik polis-polisku. Sekarang aku ingin hidup seperti ini, hidupku adalah “sekarang” bukan besok, apa yang kaan terjadi nanti, pasrah saja. Daripada aku tidak bisa berbuat banyak hal sekarang, demi masa depan yang belum tentu ada. Wah..bisa dikepruki sama pihak asuransi nih há há..

    Ini hanya kasusku lho ya..sebab selama aku membayar asuransi, aku tidak bisa berbuat banyak untuk kebutuhan “sekarang” yang kadang-kadang sekelilingku membutuhkannya.

  3. kembangnanas  23 October, 2013 at 14:12

    yu nut, wah yuu itu perjalanan panjang akhirnya membuatku memilih RD, wis pokoke nek gk ono ontran2 dana pensiun kantorku dan kasus UL-ku, aku gk akan beli RD. Bener2 deh, pengin beli LM sii tp apa daya duit gk cukup, secara tuku emas paling tidak 2,5 juta untuk 5 gr, gk akan kumpul2 duitnya nek meh tuku emas (halah malah curcol)

  4. kembangnanas  23 October, 2013 at 14:04

    Yu Lani, selamat dapat nomer satu, anda berhak dapat mangkok hehehehe

    Pak sumonggo, wak pak nanggung kalo cuma 1000 %, kayanya masih kurang banyak.

    Om Buto, matur nuwun… kok ya munculnya pas hari ini.

    Pak Dj, iya pak, emang sakit hati tuu, gk melulu menyakitkan, malah membuat saya jd belajar banyak.

  5. Lani  23 October, 2013 at 13:36

    KANG MONGGO : mengapa cm 1000%?????

  6. elnino  23 October, 2013 at 13:11

    Wah, top Nas, kesadaran investasi sudah muncul lebih dini. Aku termasuk orang yg gak begitu sadar investasi. Ada asuransi unitlink, tabungan pendidikan utk anak yg dilengkapi asuransi plus program pensiun. Tak pikir wis cukup. Uang lebih, sekedar masuk tabungan atau deposito. Padahal kita perlu banyak dana utk pendidikan anak n biaya setelah pensiun nanti yg otomatis pendapatan akan menurun drastis.
    Sedang berpikir utk mengonversi unitlink-ku ke LM atau reksadana. Tinggal cari referensi mana produk yg paling cocok utk financial planningku.

    Kang Monggo, gak mau ah Reksadana Bunda Putri. High return, high risk. Siap2 dicokok KPK

  7. Dj. 813  23 October, 2013 at 13:06

    Kembang Nanas….
    Semua pengalaman ada sisi positivnya…
    Coba kalau tidak mengalami kekecewaan, maka tidak akan bisa belajart mengatur
    keuangan lebih baik.
    Dengan pengalaman yang mengecewakan, maka kita belajar untuk lebih hati-hati.
    Semoga sukses rencana yang diaharap dimasa depan.
    20 tahun memang lama, tapi daripada tidak sama sekali kan,

    Salammanis dari Mainz.

  8. J C  23 October, 2013 at 12:22

    Selamat ulangtahun, Kembangnanas! Hahaha…ikut ngakak saja dengan produk reksadana mas Sumonggo…

  9. Sumonggo  23 October, 2013 at 11:32

    Cobalah “Reksadana Bunda Putri”, 1000 persen sangat menguntungkan …. he he ….

  10. Lani  23 October, 2013 at 11:17

    Satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.