Satu Rahim, Tiga Cinta (6)

Endah Raharjo

 

Mas Toro masih ingin mengaturku meskipun sudah 25 tahun berpisah. Aku tak mau terseret arus emosinya yang mulai menderas. Kutenangkan diriku. Mungkin di matanya aku masih ia anggap perempuan teguh hati yang keberatan diatur lelaki.

Bagiku, antara menyepakati aturan dengan ingin mengatur itu berbeda. Ketika hendak menikah kami menyepakati beberapa hal. Di antaranya yang masih kuingat: aku tak keberatan jadi istrinya meskipun penghasilannya kecil dan tidak tentu; makan malam di rumah kecuali ada hal penting yang tak bisa ditunda; menghormati jadwal kerja masing-masing; dan saling mengabari bila bepergian dengan pegawai atau kolega lawan jenis, untuk menghindari fitnah.

Memasuki bulan kedua pernikahan kami, Mas Toro pelan-tapi-pasti ingin mengaturku, terutama urusan pekerjaan. Tiap hari ada saja yang ia ributkan. “Terserah gimana caranya, pokoknya kamu harus pulang lebih awal.” Atau, “Suruh asistenmu yang kerja. Buat apa bayar orang kalau tiap hari masih repot.” Dan yang ini, “Jangan dinner sama klien, lunch aja, kenapa?”

Aku kuat menahan berbagai benturan hidup. Namun aku tak tahan dengan keluhan-keluhan Mas Toro, yang dari hari ke hari makin gencar. Sampai pada titik tertentu, aku menyerah.

“Kamu nggak mau bantuin aku, Er?” Suara Mas Toro yang mirip gertakan menyadarkanku dari lamunan.

“Maaf. Aku nggak mau. Ray udah 27 tahun. Ia udah punya kehidupan sendiri. Mas Toro tadi pagi udah minta. Dia nolak. Ya, udah. Bukan aku yang minta dia tinggal di sini. Dia sendiri yang memutuskan pulang ke sini.”

“Kalau dia punya keluarga lengkap mungkin saja Aryo berubah pikiran.”

“Maksud Mas Toro?”

“Ya. Ada bapak-ibunya … kalau dia tinggal dengan kami, mungkin kesan orang jadi beda.” Matanya menatap ubin.

“Aku paham. Keluarga Aryo menolak Ray karena aku janda tiga kali. Kalau Ray tinggal dengan Mas Toro, hal semacam ini nggak bakal terjadi. Gitu, kan?”

“Memang kenyataannya begitu. Bila nggak punya urusan pernikahan atau hal-hal sepenting itu, orang bisa menghargai pilihan hidupmu, Er. Namun kalau harus besanan, mereka tetap akan berpikir ulang. Banyak yang keberatan.”

Suara Mas Toro kali ini lembut – bahkan nyaris mengelus – namun setajam sembilu, merobek perasaanku. Bila dia percaya hal semacam itu, mengapa tidak dulu-dulu ia berjuang agar Raysa tinggal bersamanya? Mengapa tak membujuk istrinya yang katanya tak sanggup hidup dengan anak tiri? Mengapa baru sekarang ia bicara seperti itu? Apakah ia hanya ingin memojokkanku? Ingin sekali kulontarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Namun tak ada gunanya, hanya akan memicu pertengkaran; serupa menggali bangkai yang sudah lama kupendam dalam-dalam.

Sejak remaja aku sudah menghidupi keluarga, hingga kakak dan adikku selesai sarjana dan Ibu hidup sejahtera. Sekian lama aku sendirian membesarkan tiga anak perempuanku, menyayangi mereka sepenuh jiwa-raga. Belum lagi puluhan karyawan yang kupekerjakan, yang kuanggap keluarga sendiri, yang semuanya hidup berkecukupan. Mungkin itu semua belum cukup untuk menjadikanku perempuan yang baik. Mungkin perceraianku itu – sebanyak tiga kali … oh… aku tak akan lupa – serupa tsunami yang menyapu bersih bangunan-bangunan kebaikan yang susah payah kudirikan sepanjang hidupku. Semacam malapetaka yang diingat-ingat dan diperbincangkan orang.

Aku tiga kali bercerai, tapi tiga pernikahanku sah, pun semua lelaki yang kunikahi lajang, bukan suami orang. Sejak pernikahan terakhirku dengan ayah Nishiko kandas 22 tahun lalu, hingga kini aku tak berusaha menjalin cinta lagi. Dua kali aku pernah menyukai laki-laki, tapi rasa suka itu kusembunyikan sebab mereka beristri.

“Aku tidak mencemooh, Er. Memang kenyataannya seperti itu.”

Aku mendengus keras. “Tapi ini bukan tentang aku. Ini tentang Ray. Kalau orang dan Mas Toro hanya melihat kelemahanku, baik … aku terima. Tapi kalau anak-anakku dihukum atas kelemahanku, aku tidak rela.”

Kami saling memandang. Mas Toro lebih dulu mengalihkan matanya. Meraih cangkir dan menyesap sisa kopinya. Aku yakin ia tahu bukan aku saja yang punya kelemahan. Di lubuk hatinya ia pasti mengakui bahwa kelemahannya andil dalam perceraian kami.

“Kalau Mas Toro tetep mau ngajak Ray tinggal di Jakarta, silakan. Dia anak Mas Toro juga.” Aku berhenti sebentar, minum air jeruk yang masih setengah penuh. “Dan … tolong, jangan berteriak atau melotot lagi.”

“Maaf.” Mas Toro berusaha tersenyum. “Lalu baiknya gimana?”

“Coba bujuk lagi aja. Siapa tahu dia berubah pikiran” jawabku malas. “Sekarang aku hanya akan fokus menemaninya, kalau dia mau di sini. Sampai dia merasa kuat untuk kerja lagi atau melakukan hal lainnya seperti sebelum kejadian ini.”

“Oke. Nanti aku pikir lagi.” Tubuhnya condong ke depan. “Maaf kalau aku kelewatan. Aku hanya ingin anak kita bahagia.”

“Kalau benar begitu, sebaiknya kita cari solusinya. Berkeluh kesah dan ngungkit kesalahan masa lalu cuma bikin tambah runyam.”

Ia mengangguk-angguk. “Aku balik Jakarta Minggu pagi. Jam 10. Sambil ke bandara aku mau mampir sini. Mau ketemu Ray. Boleh, kan?” tanyanya.

“Kalau mau sekalian sarapan di sini, monggo.” Aku tertawa, berharap kunjungannya malam ini berakhir baik. Aku tak ingin ada kerak-kerak amarah yang menempel di hati kami.

Ia melongok ke ruang tengah sebelum pamit. “Salam untuk Fer, ya. Tadi pagi aku lihat sekelebatan. Tapi dia langsung masuk ke kamar.”

“Mungkin sedang sibuk. Dia banyak pekerjaan. Disambi nunggu Ray.”

“Ah. Dia pasti tidak mau ketemu aku.”

Aku tertawa. Aku tahu, Ferina belum berubah, masih tetap tidak suka pada suami-suamiku, termasuk ayahnya sendiri.

Tanpa menimbulkan suara, Yu Nik menyusulku dari belakang, langkahnya cepat menyeberangi halaman. Mengucap salam pada Mas Toro sambil menutup dan menggembok pagar.

Yu Nik kutunggu di ambang pintu. Kulihat ia mematikan lampu taman, pertanda ia ingin segera tidur meskipun baru pukul 9.

“Biar aku aja, Yu,” ujarku, menutup jendela dan menarik gorden.

Yu Nik memungut gelas dan cangkir kopi, bertanya kalau-kalau aku ingin menghabiskan air jerukku. Kugelengkan kepala sambil mengunci pintu dan memasang gerendel.

Kutengok Raysa di kamar. Sudah terlelap dengan novel tergenggam di tangan kanan. Kurapikan selimutnya, kumatikan lampu utama, dan kunyalakan lampu tidur. Hati-hati pintu kamar kurapatkan.

“Aku kira Om Toro bakal ngamuk-ngamuk,” celetuk Ferina, kepalanya muncul dari balik punggung sofa.

“Kamu nguping?”

“Sengaja tiduran di sini. Kalau dia ngamuk mau kutimpuk pakai itu.” Ia tertawa, menuding arca kuda di atas meja, hadiah salah satu temannya, pemahat batu yang tinggal di Bali.

“Kamu tahu kalau dia minta Ray ke Jakarta?”

“Tahu … tadi sepagian dia di sini, membujuk. Ray bukan anak balita. Enak aja!”

Meskipun cara menunjukkannya tidak biasa, ia memihak adiknya. Sembari mengambil es krim dari freezer, aku berpikir beberapa saat, lalu bergabung di sofa di samping Ferina.

“Mama mau bicara, kalau kamu ada waktu.”

“Halaaah … ngomong aja. Kayak apa aja.” Ia menutup majalahnya.

“Ini penting,” ujarku, memasukkan sesendok es krim ke mulutku. “Tapi ini muncul spontan, bukan sesuatu yang udah lama Mama pikirkan.”

“Iyaaa. Diomongin aja.”

“Mama mengibaratkan hidup ini suatu perjalanan. Biasanya orang merencanakan perjalanan dengan hati-hati, semua bekal disiapkan. Tapi bisa saja tiba-tiba muncul halangan, atau musibah, apa saja yang mengganggu. Lalu orang terpaksa berganti jalur, atau balik lagi, atau mengubah arah, atau malah berganti tujuan.” Aku berhenti sebentar, Ferina menyimakku. “Itu yang Mama lakukan. Mengubah arah. Berganti tujuan. Tapi Mama lupa kalau Mama tidak sendirian. Ada kamu, Ray dan Nishi yang jadi penumpang. Mama lupa tidak menanyakan pendapat kalian. Asal belok. Lupa kalau kalian mungkin ingin terus, atau mampir ke tempat tertentu yang tidak dilewati oleh jalan yang Mama pilih ….” Aku tak bisa meneruskan. Tiba-tiba aku ingin menangis. Goblet es krim kuletakkan.

“Ma, hidup tidak sesederhana perjalanan ke Denpasar.” Ferina menegakkan punggungnya, meletakkan majalahnya. “Bukan cuma Mama, semua orang sering memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang. Berubah arah begitu saja.”

Aku mengangguk-angguk. “Mama sudah berusaha mengatasi tiap halangan yang muncul, Fer. Kalian harus percaya. Mama sudah berusaha.”

“Aku percaya. Aku tahu,” tegas Ferina. “Seperti yang aku bilang. Masalah Ray ini bukan salahnya, apalagi salah Mama. Ini karena orang tua Aryo tidak bisa menerima keluarga kita dan Aryo tidak berani melangkah tanpa restu orang tua. Kenapa Mama tiba-tiba jadi begini, menyalahkan diri atas kelemahan orang lain?”

“Ini tidak adil untuk Ray.”

“Siapa bilang dunia itu adil. Justru karena tidak adil maka kita harus bisa bersikap adil pada diri sendiri. Jangan terus-terusan nyenengin hati orang sementara diri sendiri tersakiti.”

“Ini akar masalahnya ada di Mama. Seandainya Mama tidak kawin cerai sampai….”

“Hey!” potong Ferina, “aku juga bisa berandai-andai…. Seandainya orang tua Aryo bisa menerima keluarga kita. Seandainya mereka melihat kelebihan Mama. Tidak menghukum Ray atas apapun yang Mama lakukan di masa lalu.” Wajah Ferina serius. Matanya menembus jauh ke inti hatiku.

Aku terkesima oleh semua kata-kata Ferina. Ia punya sisi bijaksana yang jarang terlihat. “Mungkin yang kamu katakan dulu itu benar. Ini pertanda Mama mulai merasa tua.”

Ferina terpingkal-pingkal mendengar kata-kataku yang serupa bisikan. “Mama kayak nenek-nenek di sinetron ngomongnya, sambil melilitkan scarf ke leher dan batuk-batuk dikit ….”

Tawanya menghangatkan perasaanku. Ferina cenderung realistis melihat persoalan. Itu kelebihannya yang kadang dilihat sebagai kekurangan. Dianggap tidak peka pada perasaan orang.

 

***

 

 

15 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (6)"

  1. Endah Raharjo  25 October, 2013 at 10:59

    @Mawar: seneeeeeng ada yg nungguin lanjutannya

    @Hennie: lhoooo… jangan sedih, mereka tdk sedih kok…

  2. Hennie Triana Oberst  25 October, 2013 at 03:10

    Kok jadi sedih membaca cerita ini.

  3. Mawar09  25 October, 2013 at 00:02

    Endah : terima kasih untuk lanjutan ceritanya, ngga sabar nunggu minggu depan. Suka dengan Ferina yang sangat realistic. Salam!

  4. Endah Raharjo  24 October, 2013 at 14:27

    @DjasMerah: hari ini mbah Gugel sdg cuti melahirkan

  5. djasMerahputih  24 October, 2013 at 11:37

    Ha ha ha… nanyanya bukan sama mbah Gugel…?!!

    Lanjuuut…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.