Jodohku Datang dari Pintu Mesjid

Jemy Haryanto

 

Tak pernah terpikir olehku akan menikah. Meski dalam hati  ini sangat ingin. Pernah dihina, juga fokus mengurus ibu dan adik, membuat aku harus menahan diri. Tapi setelah bertemu dengan pak Deni, segalanya pun berubah

Menikah, memang sudah lama menjadi keinginanku. Apalagi saat itu umurku sudah masuk kepala tiga. Namun kondisi ekonomi keluarga yang kurang beruntung, membuat niat itu hanya bisa sampai pada tenggorokan. Aku seperti hilang keberanian untuk mengucap cinta pada seorang wanita.

Bagai buah simalakama. Hari-hariku hanya habis berkutat pada konflik batin yang tidak pernah usai. Di satu sisi keinginan itu menggebu-gebu, di sisi lain ada beban dan tanggung jawab yang harus kupikul pada ibu dan adikku. Andai saja bapak masih hidup hingga saat ini, mungkin ruang untukku bisa bernafas akan sedikit terbuka.

Tapi nyatanya, bapak meninggal dunia beberapa tahun lalu, akibat sakit berkepanjangan. Tepat ketika aku duduk di bangku Sekolah Teknik Mesin kelas dua. Tidak ada santunan yang didapat. Hanya ucapan bela sungkawa dari pihak pabrik tempat ia bekerja. Kesal, marah, tapi apa daya. Mungkin begitulah nasib para outshourching di akhir usia. Masih kuat akan dipandang, hilang tenaga akan dicampakan begitu saja.

Setelah bapak pulang ke pangkuan Tuhan, memang telah merubah segalanya. Terutama mamak. Ia jarang sekali tersenyum. Padahal dulu, ia wanita yang ceria. Perubahan sikap yang ditunjukannya di hadapanku itu bukan lantaran mamak tidak terima Tuhan mengambil bapak, bukan. Bukan itu alasannya. Melainkan rasa lelah. Rasa lelah karena seharian bekerja.

Yah di umur tuanya, seharusnya mamak dapat berbagi suka, bersendagurau bersama anak-anak dalam keluarga, tapi malah harus bekerja keras sendiri di ladang. Itu sebabnya gurat keriput pada pipinya yang halus terlihat begitu jelas. Tak terkecuali tubuhnya pun mulai kurus dan kulitnya menghitam. Hanya ketika mamak mengajar anak-anak kampung membaca al Quran di rumah, sesekali aku menangkap simpul pada bibirnya. Bahkan tanpa segan ada renyah tawa.

Sementara aku. Aku harus berjuang bersimbah peluh, mengambil upah apa saja yang halal untuk menyelamatkan pendidikanku dan adikku. Karena sebelum wafat bapak menitip pesan, jika kami harus selesai sekolah. Meskipun tidak sampai lanjut perguruan tinggi seperti impian anak-anak kebanyakan, setidaknya pendidikan 12 tahun itu bisa kami capai.

Hal lain membuat aku phobia pada wanita, karena sebuah pengalaman. Pengalaman yang aku pikir cukup membuat hatiku sakit, dan itu kupendam selama bertahun-tahun.

Yah usai tamat sekolah dulu, tidak ada pilihan bagiku selain bekerja. Namun untuk mendapat pekerjaan layak saat itu bagai mendulang intan di sungai keruh, sangat sulit sekali. Untuk menjadi PNS saja harus sarjana. Belum lagi praktek suap-menyuap yang barang tentu tidak bisa kupenuhi, karena itu dilarang oleh agama apapun.

Hanya sekali saja dalam hidup aku mencoba mendaftarkan diri menjadi polisi. Itupun selalu dicecar berbagai pertanyaan. Siapa yang membawamu? Ada berapa uangmu? Kalau tidak punya uang jangan coba-coba daftar jadi polisi!

Begitulah seorang teman memberondongku, dan nyatanya aku memang tidak lulus. Apakah faktor kurang beruntung? Aku tidak tahu. Tapi jelasnya temanku itu lulus setelah orang tuanya kasak kusuk mencari pinjaman uang 10 juta rupiah, yang mereka katakan pasaran masuk polisi waktu itu nominalnya memang sebesar itu.

Akupun mulai mengembara mencari pekerjaan lain. Namun yang kudapat, malah menjadi tukang cat. Awalnya hanya ikutan teman-teman bekerja sebagai buruh, yang di situ mereka menugaskanku untuk memberi warna pada bangunan, setelah bangunan itu rampung. Lama kelamaan, aku terinstitusi pada profesi itu.

Meski demikian aku tetap besyukur, karena begitu aku dikenal banyak orang, dan order pun berdatangan, mulai dari memberi warna pada rumah dengan cat hingga pagar. Memang tidak setiap hari keberuntungan itu berpihak, namun dalam satu bulan pasti ada orang butuh tenagaku, terutama ketika hendak masuk hari raya, Idul Fitri maupun Natal. Uang upah itulah kemudian kuberikan pada mamak untuk dikelola sehemat mungkin. Bayar listrik, beli lauk pauk juga sekolah adikku. Jika ada sisa, uang itu aku simpan.

Sampai suatu hari aku berkenalan dengan Santi, seorang gadis yang tinggal di kabupaten Bengkayang. Pertemuan itu tanpa disengaja. Terjadi ketika aku berkunjung ke rumah sahabat. Entah kenapa Santi begitu memikatku. Terlihat dari wajahnya, aku pikir biasa-biasa saja. Bicaranya pun tidak teratur seperti orang daerah kebanyakan. Namun sikap pendiamnya itu yang membuat bunga-bunga cinta dalam hati ini merekah.

Santi, adalah alasanku jadi sering ke Bengkayang. Jarak yang jauh sedikitpun tidak menyurutkan keinginanku untuk berkunjung. Bahkan empat minggu kenal, aku langsung menyatakan cinta padanya. Tanpa kuduga gayung pun bersambut. Santi menerimaku dengan segala kekuranganku. Intensitas hubungan kami juga semakin rapat, setelah ia memutuskan melanjutkan pendidikan di universitas negeri di Pontianak. Senang. Bahagia. Itu yang kurasakan waktu itu.

Setahun berpacaran. Mungkin itu waktu yang terlampau lama bagiku dalam menjalin sebuah hubungan. Namun untuk mengajak Santi menikah, tentu akan banyak hal-hal menjadi pertimbangan. Ia masih kuliah. Uang simpananku di bawah kasur juga, jumlahnya masih sangat sedikit. Sementara orang tua Santi hanya tahu hubungan kami berdua selama ini, hanya sebatas pertemanan saja, tidak lebih.

Tapi karena niat ini sudah bulat, dan merasa sudah menemukan kecocokan. Aku pun mengajak Santi untuk berbicara serius. Di rumah kost tempat Santi tinggal itulah kami pun berdiskusi.

“Jadi.., gimana, dik?” tanyaku yang saat kenal dulu, telah terbiasa memanggil dirinya adik.

“Gimana apanya, bang?”

“Menikah!”

Santi diam saja. Aku tidak marah. Tapi mencoba untuk paham. Memang tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Mengingat Santi baru enam bulan di bangku kuliah. Apalagi lagi kedua orang tuanya begitu menaruh harapan besar agar anak pertamanya itu segera mendapat gelar sarjana. Dengan menikah, tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada konsentrasi belajarnya.

Tapi di luar dugaan, Santi setuju menikah. Bukan main senangnya hatiku. Bagai pelangi di siang hari, seketika hatiku penuh dengan warna.

“Terima kasih, dik,” ucapku, kemudian mengecup keningnya dengan lembut.

“Aku juga, bang. Kini, tinggal bagaimana abang membuat yakin orang tuaku, terutama bapak.”

“Itu sudah abang pikirkan,” ucapku, mantab.

“Kalau tidak ada halangan, minggu ini abang berniat ke rumah. Jadi, sampaikan saja ke orang tua adik, maksud dan tujuan abang.”

Setelah mendapat restu mamak, aku berkunjung ke rumah Santi, tepat pada hari yang dijanjikan. Perasaan senang bercampur gugup tidak dapat kuelakan lagi. Mereka berkecamuk menjadi satu di hati dalam perjalanan itu. Bahkan ketika kaki ini mulai menapak pada teras rumahnya, aku seperti melayang di udara. Ingin rasanya kukenakan kembali sepatu lalu pulang ke Pontianak. Tapi ……

“Assamu’alaikum,” ucapku, dengan lutut gemetar.

“Oh, kau, Sup. Masuklah,” celetuk pak Sudri, bapak Santi, ketus.

Aku segera duduk di atas sofa. Sementara mataku tidak berhenti mengamati seisi ruang tamu. Entahlah, hari itu mendadak semuanya terasa asing bagiku. Dinding, meja, kursi, dan segala macam benda yang tergantung di sana. Padahal sudah beberapa kali berkunjung ke rumah itu, tidak seharusnya aku bertingkah norak.

“Santi tak ada,” celetuk pak Sudri sekonyong-konyong muncul di hadapanku. Sementara keningku mengerenyit mendengarnya.

“Dia pergi dengan Mira dari pagi. Jadi, ada perlu apa kau ke sini?”

Ia kemudian merebahkan tubuh di atas sofa, lalu membakar sebatang rokok. Aku sedikit kaget atas apa yang kudengar. Karena itu merupakan hari special. Tapi aku mencoba untuk tenang.

“Apa…, Santi sudah memberitahu rencana kedatangan saya, pak?” Aku balik bertanya.

“Tidak ada.”

Ya Tuhan habislah aku, karena semua tidak seperti yang diharapkan. Sebelumnya aku berpikir pembicaraan dengan pak Sudri akan mengalir seperti air. Setidaknya ia sudah tahu maksud dan tujuanku. Tapi nyatanya, tidak. Sedikit kesal memang, sebab aku tidak tahu harus mulai darimana. Apalagi tubuhku telah basah oleh keringat. Tapi dengan kekuatan tersisa akhirnya kukatakan juga.

“M..maksud saya kemari, tak lain tak bukan, ingin melamar Santi, pak,” ucapku, gugup.

“Apa…,” pak Sudri kaget.

Kedua matanya melotot kearahku, membuat wajahku pias. Begitu pula tangan dan lututku terus saja gemetar, sementara jantungku berdetak tidak karuan. Kemudian ia memandangku, dari kaki hingga ujung rambut.

“Sup! Aku tak melarang kau berteman dengan Santi. Tapi, aku tak pernah setuju kau pacaran, apalagi menikah!” Ucap pak Sudri penuh api, sembari mengarahkan telunjuknya di mukaku. Aku hanya bisa tertunduk. Kemudian ia melanjutkan.

“Tidakkah kau bercermin. Kerja kau saja serabutan, eh malah mau menikahi anakku! Mau kau kasi makan apa dia nanti. Batu?! Jadi jangan mimpi, Sup. Jangan mimpi!”

Tegas lelaki bertubuh tinggi itu, seketika membangunkan aku dari tidur panjang selama ini. Sementara hati ini bagai digores kepingan-kepingan cermin yang pecah. Sakit. Harga diriku tercabik-cabik. Sungguh sakit. Aku tidak menyangka jika pak Sudri tega menghinaku sedemikian rupa. Meski demikian aku tidak menyeka, apalagi melakukan pembelaan diri, karena apa yang ia katakan mungkin ada benarnya. Yah aku miskin.

“Nah, sekarang kau keluar! Jangan injak rumah ini lagi. Jangan pula kau berhubungan lagi dengan Santi. Sudah diberi kaki, malah minta hati kau. Keluarrr!”

Bagai seorang hina kutinggalkan rumah itu dengan langkah gontai. Sementara bening tidak lagi sanggup dibendung dari kawah keindahan. Mereka terus saja menetes dan membentuk alur pada pipiku. Begitu lembut. Begitu hangat. Selembut belaian mamak. Sehangat kasih sayang mamak.

Sesampainya di rumah, kupeluk mamak dengan erat dan enggan kulepas. Laksana seorang prajurit yang hilang di medan perang, kemudian dikabarkan tewas, yang ternyata masih hidup dan kembali saat ibu bapaknya sedang dirundung duka. Seperti itulah suasana menyelimuti kami berdua.

“Aku dipermainkan, mak. Aku dipermainkan,” ucapku yang tidak kuasa menahan tangis, juga kesal, hingga butiran-butiran bening itu membasahi pundak mamak.

Mamak melepaskan pelukannya, kemudian dengan lembut menyeka air mataku. Ia tersenyum.

“Sudahlah, Sup. Mungkin dia bukan jodohmu. Kamu harus ikhlas.”

“Apa kamu lupa? Ada tiga hal yang kita tidak bisa ikut campur dalam keputusan, hanya bisa berusaha? Adalah rezeki, jodoh, maut. Sehingga kita tidak bisa memaksakan kehendak sebagaimana kita inginkan, tapi Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Dan adikmu masih sangat membutuhkanmu saat ini.”

Aku terdiam sejenak sambil menyeka air mataku.

“Tapi, mak. Bukan itu masalahnya. Yang membuat aku sampai menangis karena kita dihina, kita dipandang sebelah mata. Sakit hatiku, mak.”

Kali ini mamak terdiam. Kedua matanya mulai tampak berkaca-kaca. Aku tahu ia hendak menangis, tapi berusaha menutupinya di depanku. Dengan bibir gemetar, mamak tersenyum kembali.

“Sup. Terima saja apa yang dikatakan orang-orang pada kita. Toh memang, kenyataannya demikian. Yang penting kamu kerja yang rajin. Sekarang, lebih baik kamu ambil wudlu sana, dan sholat.”

“Baiklah, mak.” ****

Hari demi hari kulewati dengan hati yang galau. Seperti layang-layang putus tali yang tertiup angin. Ke sini oke. Ke situ oke. Tapi untunglah aku bisa menahan diri atas keinginan yang muncul, sehingga tidak sampai terjerumus pada prilaku-prilaku negatif.

Sebaliknya, aku malah sering menghabiskan waktu di mesjid, berdiskusi dengan kawan-kawan, juga sholat berjamaah. Dan mulai detik itu aku memutuskan untuk tidak lagi mencari pendamping hidup.

Hingga sampai suatu hari, tepatnya di tahun kedua. Ibrahim, sahabatku yang juga remaja mesjid datang ke rumahku.

“Assalamu’alaikum.”

“Alaikum salam,” ucapku, sembari membuka pintu.

“Eh, kamu Ib. Masuk, masuk.”

Setelah duduk di atas kursi rotan reot peninggalan bapak, aku langsung mempertanyakan maksud dan tujuannya.

“Aku ke sini membawa berita baik untukmu,” jawab Ibrahim, dengan wajah ceria.

“Berita baik? Apa itu?” Tanyaku, penasaran.

“Begini, Sup. Tempat aku bekerja, membutuhkan satu orang lagi karyawan. Aku langsung ingat kamu, makanya aku kesini.”

Bagai kejatuhan bulan, aku sangat senang mendengar berita itu. “Lalu, lalu.”

“Yah, tapi kamu tahu sendirilah. Namanya saja universitas Politeknik, tapi kerja kita tetap saja tukang bersih-bersih di bengkel. Jadi, bagaimana, kamu mau tidak? Kalau mau, siang ini langsung kusampaikan kepada pimpinan. Kalau sip, besok kamu sudah bisa kerja.”

“Aku mau, Ib,” Jawabku, antusias.

“Sip kalau begitu,” respon Ibrahim.

“Dan kupikir, kamu akan kerasan bekerja di sana. Selain orangnya baik-baik, juga banyak mahasiswinya, Sup. Siapa tahu. Ini siapa tahu ya, kamu kecantol jodoh.”

Aku menggelengkan kepala sembari menarik nafas panjang. Ibrahim paham. Kemudian buru-buru beranjak mohon pamit.

“Oh iya,” Ibrahim berhenti sejenak.

“Kira-kira akan menganggu aktivitas kamu tidak? Karena dengar-dengar, kamu sudah mulai jalankan profesi jeprat jepret orang kawin.”

“Tenang, aku bisa atur. Terima kasih, Ib.” Ia lalu mengangkat jempolnya. Setelah mengucap salam, lelaki bertubuh kecil itupun bergegas pergi meninggalkan aku yang tengah sumringah.

Aku tidak henti-hentinya mengucap syukur atas limpahan rahmat itu dari Tuhan. Karena jujur, aku memang perlu uang banyak untuk beberapa bulan kedepan. Adikku Rafli, sebentar lagi akan menghadapi ujian dan akan masuk SMP. Jika semuanya tidak dipersiapkan mulai sekarang, aku khawatir, ia tidak bisa melanjutkan sekolah, dan itu akan menjadi kegagalan terbesar bagiku karena tidak mampu menjalankan amanah bapak.

Hari terus berlalu. Tanpa ada sedikitpun rasa malu, juga gengsi, kujalankan profesi sebagai cleaning service itu, dengan penuh suka cita. Memang capek, terutama dalam hal membagi waktu. Senin-Jumat, dari pagi hingga sore, aku harus di bengkel, bersih-bersih mesin beserta ruangan, dan mengemas berbagai peralatan usai praktek. Sementara Sabtu Minggu, aku harus mencari order foto pernikahan. Meski demikian padat, sampai-sampai untuk melihat wajah mamak pun terbatas, aku tetap berusaha menjaga kewajiban atas lima waktu.

Tak heran, jika mesjid selalu menjadi tempat peristirahatanku kedua setelah rumah. Itu kulakukan sebelum sholat, atau sesudahnya. Biasanya sambil membaca buku-buku, kadang juga menggelar obrolan ringan dengan para mahasiswa. Dan jika bertemu para dosen, itu keberuntunganku. Karena mereka akan mengajakku makan siang di kantin. Salah satunya pak Deni yang tiba-tiba menghampiriku.

“Gimana kerja di sini, Sup?” Tanya pak Deni, kalem.

“Saya senang sekali. Terima kasih.”

Pak Deni tersenyum. “Apa yang membuat kamu betah?”

“Ibu dan adik saya, pak.”

“Mmm,” pak Deni sambil menganggukan.

Aku melanjutkan.. “Selain itu, dulu.., saya punya mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di sini. Setiap bapak tanya, kamu mau kemana usai tamat nanti, Sup, aku selalu jawab ‘Politeknik’. Tapi yah, bapak keburu wafat.”

Pak Deni tersenyum lagi. Tanpa diduga ia menepuk-nepuk pundakku, lalu bergegas pergi. Begitulah awal mula aku ngobrol dekat dengan pak Deni. Setelah itu, tidak pernah. Namun mendekati Idul Fitri, tiba-tiba lelaki bertubuh gempal itu memanggilku ke ruang kerjanya lewat Ibrahim.

“Benar, Ib?” aku bertanya pada Ibrahim.

“Benar. Tapi aku tidak tahu, keperluan apa. Yang jelas, wajah pak Deni tidak seperti biasanya, kecut.”

“Mati aku!” sambil menepuk jidad. Yah panggilan mendadak itu benar-benar memunculkan kekhawatiran dalam hatiku. Ada dua alasan yang menggelanyut di otakku, kalau tidak dimarahi, aku dipecat.

Dengan perasaan was-was, kulangkahkan kakiku menuju ruangan pak Deni di lantai dua. Dengan sangat hati-hati kuketuk pintu ruangan itu. Setelah mendapat jawaban dari dalam, kubuka pelan-pelan lalu masuk.

“Duduk, Sup!” Pinta lelaki berkaca mata itu, dengan suara berat.

“I..iya, pak.”

Di dalam ruangan ber-AC itu, jantungku dag dig dug sangat kencang. Membuat aku hanya bisa tertunduk, tidak berani menatap wajahnya, walaupun sekali. Benar yang dikatakan Ibrahim, pak Deni terlihat angker.

“Sup, ada apa? Kamu terlihat tegang sekali. Ayo, santailah.”

Mendengar ucapan itu, aku langsung merasakan kehadiran pak Deni yang pernah ngobrol dekat denganku tempo hari. Dan ketegangan yang sebelumnya memuncak, perlahan-lahan turun, tidak lama kemudian kondisi pun kembali normal.

“Saya hanya takut dipecat saja, pak,” ucapku, polos.

Ia kemudian tertawa, namun tetap menjaga wibawa. “Siapa yang mau pecat kamu? Ayo, siapa yang bilang.”

“Tidak ada, pak. Hanya firasat saya saja,” ucapku, sedikit malu.

“Soal anak-anak bilang tadi bapak tidak seperti biasanya. Karena itu aku pikir..,”

“Sudah, sudah,” ia memotong.

“Itu karena saya belum tidur. Banyak koreksian mahasiswa.”

Aku pun tidak dapat menahan geli, kemudian tertawa dalam hati, yang tentu saja mentertawakan diriku sendiri. Ternyata alasan pak Deni memanggilku, tak lain tak bukan adalah, ingin memintaku mengecat rumahnya. Dan dengan senang hati, tawaran itu kuterima.

Setelah satu tahun lebih bekerja di bengkel itu, aku jadi sering membantu pak Deni, juga teman-temannya, dan hubungan kami pun semakin akrab. Tapi hanya sebatas hubungan kerja, sebatas bos dan anak buah, tidak lebih. Hingga pada suatu hari, tepatnya usai sholat zuhur di mesjid, saat aku tengah bergegas melangkah, tiba-tiba pak Deni memanggil dan memintaku duduk di dekatnya.

“Ada apa, pak?” tanyaku, sungkan.

“Gimana kabar ibumu?”

Seketika hatiku tersentak. Yah jujur saja aku kaget. Selama dekat dengan pak Deni, sekali saja pun tidak pernah ia bertanya soal kondisi keluargaku, apalagi tentang mamak. Tapi itu kujawab.

“Kondisi mamak baik, pak.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Oh iya Sup,” ia menghentikan langkah, kemudian berbalik badan.

“Sesekali, saya ingin bersilaturahim ke rumahmu. Mungkin kalau tidak ada halangan, Sabtu ini,” ucap lelaki berkulit putih itu.

Kali ini tidak saja membuat aku kaget, tapi setengah tidak percaya. Pak Deni yang berprofesi sebagai dosen, memiliki kehidupan mapan, ingin bertandang ke gubuk reotku. Ada apa gerangan? Sungguh aku tidak tahu. Yang jelas di lingkungan kampus, ia dikenal sebagai pribadi yang tegas dan bersungguh-sungguh.

Pada hari yang dijanjikan, Pak Deni berhalangan datang, karena harus menghadiri sebuah seminar. Sebaliknya, ia malah memintaku datang ke rumahnya. Aku pun memenuhi undangan itu usai Maghrib, berharap dapat melakukan sholat Isya berjamaah dengannya. Usai makan malam, ia mengajakku duduk di ruang tamu, diikuti sang istri, bu Nisa.

Kami kemudian berbincang seperti biasanya, tentang banyak hal. Mulai dari kenakalan mahasiswa, pengalaman, sambil diselipi guyonan. Dan jujur, baru malam itulah aku melihat pak Deni tertawa begitu lepas. Namun tidak lama, suasana di ruang tamu itu berubah hening. Di sela-sela itulah pak Deni bertanya padaku.

“Berapa usia kamu, Sup?”

“32, pak.”

“Mmm, usia itu sudah wajib, Sup. Lalu, kenapa belum nikah?”

Aku terdiam sejenak. Terasa berat untuk menjawab pertanyaan itu. Karena jika kujawab, pengalaman tempo dulu bersama Santi, dan sikap angkuh pak Sudri akan muncul lagi di kepalaku, dan itu selalu menimbulkan rasa sakit. Meskipun hati kecilku sudah sangat ingin menikah.

“Ditolak cinta ya?” celetuk bu Nisa, membuat aku kaget.

“Mmm, mungkin itu salah satunya.”

“Alasan lain?” Lanjut wanita yang juga seorang dosen itu, sembari tersenyum.

“Mamak dan adik saya, bu.”

Bu Nisa terdiam. Aku melanjutkan.

“Jika saya menikah, lalu siapa yang mengurus mereka di rumah. Memang, menikah katanya akan membuka pintu rezeki, tapi saya mencoba berpikir rasional saja. Bapak mungkin tahu berapa penghasilan saya. Selain itu, saya ingin adik saya sarjana, bu.”

Suami istri itu kemudian saling tatap. Terdengar tarikan nafas panjang dan dalam dari mereka berdua. Pak Deni mengangguk dan tersenyum. Tanpa kutahu, ia menepuk pahaku.

“Saya bangga pada kamu, Sup. Saya bangga.”

“Kamu sudah bisa mengalahkan egomu. Padahal kalau dipikir, kamu bisa saja kuliah dengan hasil kerja kerasmu, tapi tidak kamu lakukan. Ini, ini yang tidak ditemukan pada anak-anak sekarang. Sehingga mereka banyak salah kaprah mengartikan mandiri itu sendiri.”

“Mandiri itu tidak harus hidup jauh dari orang tua, Sup. Tapi tatkala kita bisa memberi nafkah, merawat dan menjaga mereka setiap hari. Beruntung bagi anak yang orang tuanya masih bekerja atau dapat pensiun, bagi yang tidak, bagaimana?! Jadi semua itu harus dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan. Tapi untuk laki-laki, itu wajib hukumnya menafkahi orang tua. Saya setuju dengan kamu,” lanjut pak Deni.

Setelah berbicara panjang lebar, pak Deni segera menyampaikan maksud tujuannya mengundangku malam itu. Tanpa banyak basa basi ….

“Begini, Sup. Maksud saya memanggil kamu kesini, untuk mengambil kamu menjadi bagian dari keluarga.”

Aku mengerenyitkan kening tanda tidak mengerti apa yang telah dikatakan pak Deni.

“Maksud bapak?” tanyaku, penasaran.

“Saya ingin menjodohkan kamu dengan Rumi, adiknya ibu. Bagaimana Sup,” sembari pak Deni memegang lengan bu Nisa.

Menikah? Dengan Rumi? Adik ipar bu Nisa? Bukan main kagetnya aku. Dan itu seketika menjalar tidak saja membuat tubuhku mulai panas dingin, tapi hingga lututku yang juga ikut gemetar. Bagaimana tidak, aku hanya orang miskin, sedang mereka berpendidikan tinggi. Demi Tuhan.. tidak. Aku sudah kapok.

Cibiran dan prasangka-prasangka juga akan muncul. Kasihan mamak yang akan ikut mananggung beban. Akupun berusaha untuk tidak menjawab tawaran itu.

“Saya tahu, ini akan membuat kamu sulit untuk menjawab. Tapi saya tidak memintanya malam ini. Renungkan, dan pikirkan masak-masak. Jika kamu sudah punya keputusan, segera kabari saya, iya atau tidak,” ucap lelaki berambut ikal itu, lembut tapi tegas.

“Sup,” bu Nisa menimpal.

“Kami mencoba memahami apa yang membuat kamu bimbang. Tapi kami memilihmu bukan tanpa alasan. Mungkin kamu tidak pernah tahu, jika selama ini, bapak mengamati kamu ketika di mesjid, ketika kamu bekerja, bahkan beberapa kali bapak mencari informasi tentang kamu lewat Ibrahim, juga teman-temanmu.”

“Tapi, bu..”

“Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya..,” aku berhenti, karena tidak sanggup meneruskannya.

Bu Nisa tampak menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.

“Tidak. Tidak. Kami tidak pernah memandang seseorang dari status. Status dan harta itu bisa dicari, Sup, tergantung bagaimana keuletan kita. Tapi kami butuh suami yang bisa menjadi pemimpin buat Rumi, sekaligus bertanggung jawab. Dan itu ada pada kamu. Kami memang tidak berhak untuk memaksa, tapi pikirlah.”

Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tidur. Kepalaku terasa berat. Hatiku gelisah. Bahkan sempat menangis di atas sejadah, di sepertiga malam. Permintaan pak Deni dan bu Nisa itulah yang menjadi penyebabnya, membuat aku berada dalam dilema.

Meskipun suara hati kecilku, tak dapat dipungkiri sangat ingin berumah tangga. Tapi tentu wanita yang akan menjadi istriku itu bukan Rumi. Melainkan wanita yang sederajat denganku, yang lahir dari kandungan wanita yang nasibnya sama seperti mamak. Apalagi saat aku mencoba meminta masukan, mamak justru menyerahkan semua keputusan itu padaku, dan menyuruhku meminta petunjuk pada Tuhan, agar diberi ketetapan hati.

Empat hari aku terus bermunajat pada Zat Penguasa Alam Semesta. Sehingga pada hari kelima, aku telah mengantongi sebuah keputusan, dan segera menghubungi pak Deni.

“Jadi gimana, Sup?” Tanya pak Deni, di seberang telpon.

“Sepertinya Tuhan sudah memberi ketetapan hati pada saya, pak.”

“Jadi..?” Ia menunggu jawabanku.

“Saya terima tawaran bapak.”

“Saya senang mendengar itu…,” ucap pak Deni, bahagia.

Pada lusa, pak Deni dan bu Nisa berkunjung ke rumahku, untuk bertemu dengan mamak, sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan mereka. Selanjutnya aku dibawa terbang ke Bogor.

Aku pun dipertemukan dengan Rumi. Ya Tuhan.. Rumi terlihat anggun sekali dengan balutan jilbab putih. Dia duduk di hadapanku dengan menundukan wajahnya. Sementara aku sibuk menenangkan hatiku. Karena jujur aku gugup. Itu terbukti dari lubang poriku yang terus saja mengeluarkan keringat dingin. Hal lain, karena acara itu dihadiri seluruh keluarga besar Rumi.

jodoh

Setelah Rumi menerimaku. Kami lantas melangsungkan pernikahan di Binjai, kampung halaman Rumi, dengan memboyong serta mamak dan adikku. Sangat meriah. Pak Deni dan bu Nisa, juga adiknyalah yang mengeluarkan biaya tersebut. Dan aku sempat pingsan dalam acara itu, karena tidak percaya. Bahkan sampai saat ini pun, genap usia pernikahanku 4 tahun, aku masih tidak percaya.

Sungguh Tuhan bekerja sangat rahasia. Dia mengirimkan jodohku di pintu mesjid lewat pak Deni.  (Seperti dituturkan sahabatku, Jusup di Binjai)

 

24 Comments to "Jodohku Datang dari Pintu Mesjid"

  1. Jemy Haryanto  8 November, 2013 at 22:08

    Mbak Lani : Iya mbak. hehe

  2. Lani  8 November, 2013 at 10:33

    JH : o, dpt dr lintas benua juga to?????? hehe

  3. Jemy Haryanto  8 November, 2013 at 10:02

    Angela : Saya saat ini tinggal di Kalbar.

  4. Angela Januarti  30 October, 2013 at 08:40

    Ceritanya sangat menarik. Awalnya aku pikir Jemy orang Kalbar karena nama-nama daerah dalam kisah ini sangat akrab untukku. Ternyata kisah dari sahabat. Keren. Salam kenal

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.