Kakek

Fidelis R. Situmorang

 

“Halo, Ibu…”
“Ya, Nathan. Sudah bagaimana?”
“Martha baru saja masuk ruang operasi. Tolong bantu doa ya, Bu…”
“Iya, Nathan. Ibu doakan yang terbaik.”
“Surya dan Bintang di mana, Bu? Apa sudah makan?”
“Sudah… Sekarang lagi main sama kakeknya di depan.”
“Oh, lagi main sama ayah ya… Iya, deh kalau begitu… Sudah dulu ya, Bu, masih ada yang harus aku siapkan di sini. Nanti aku telepon lagi ya.”
“Iya, Nathan. Kamu juga jaga kesehatan ya…”
“Iya, Bu… Aku tutup telponnya ya…”
“Iya…”

Aku selalu senang bercampur iri setiap kali melihat anak-anakku bergelayutan manja di lengan atau di punggung ayah, kemudian dengan lincah bergerak masuk ke dalam pelukannya. Bercanda setiap hari, menarik-narik tangan ayah, minta dibelikan ini itu di warung dekat rumah, melompat-lompat dan bernyanyi penuh gaya di hadapan kakeknya, dengan sinar bahagia memancar terang dari mata mereka.

Aku tak pernah merasakan itu. Kakek meninggal ketika aku masih berumur tiga tahun. Kami tak pernah bertemu. Berita meninggalnya kakek terlambat tiga hari diterima ayah. Waktu itu belum ada ponsel. Jaringan telkom pun masih sangat terbatas. Alat komunikasi antara keluarga yang terpisah jauh biasanya dilakukan dengan cara surat menyurat. Itu pun dititipkan melalui teman sekampung ayah yang kebetulan datang ke Jakarta. Setelah menerima kabar itu, kami sekeluarga pulang ke kampung ayah. Tidak ada yang kuingat waktu itu. Aku masih terlalu kecil untuk bisa mengingat peristiwa itu.

Nenek meninggal saat ayah masih kecil, ketika ayah masih duduk di bangku SMP. Itu saja yang aku tahu. Selebihnya aku tak tahu cerita tentang nenek. Ayah tak pernah bercerita banyak tentang kedua orangtuanya.

Begitu juga kakek dan nenek dari ibu. Aku tak pernah mengenal mereka. Tak banyak cerita tentang mereka yang kuketahui, kecuali bahwa kakek adalah orang yang suka sekali mengendarai kuda dan orang pertama di kampung ibu yang memiliki mesin penggiling padi. Orang yang disegani di kampungnya karena kebaikannya. Hanya itu yang aku dengar dari ibu. Jadi berbeda dengan anak-anakku yang sangat beruntung itu, aku tak tahu rasanya punya kakek dan nenek.

Ingatan tentang kakek yang tak pernah kukenal itu tiba-tiba kembali datang saat aku membaca buku memoar Sidney Sheldon, The Other Side of Me, buku yang dipersembahkan kepada cucu-cucunya.

“Untuk cucu-cucuku tercinta, Lizy dan Rebecca; agar mereka kelak tahu, betapa ajaib perjalanan hidupku.”

Begitulah kalimat Sidney Sheldon di halaman pembuka memoarnya. Lantas, tiba-tiba saja aku merindukan kakek yang tak pernah kukenal pelukannya, yang tak kukenal suaranya, yang mungkin saja ia juga menyimpan rindu, membayangkan tingkah lucu masa kecilku, cucunya, walau pun akhirnya kami tidak pernah bertemu.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah ajaib juga perjalanan hidupnya seperti hidup yang dijalani Sheldon? Aku mencoba menerka-nerka sambil memandang langit biru. Tapi kakek hanyalah seorang petani di dusun kecil. Apa mungkin ada banyak keajaiban di sawah-sawah dan dusun kecil itu?

Kata ayah, kakek menyimpan fotoku waktu masih bayi yang dikirim ayah beberapa bulan setelah aku lahir. Gambar diriku yang berpipi bulat sedang tengkurap, tertawa mamandang ke kamera. Kembali aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang ia rasakan ketika melihat gambarku itu? Apa dia tertawa melihat pipiku yang bulat? Apa gerangan harapan dan doa yang diberikannya untukku? Di mana kira-kira kakek simpan fotoku itu? Banyak sekali pertanyaan untuk kejadian-kejadian yang tak pernah kumiliki.

Suatu hari, pada waktu liburan sekolah, ayah mengajakku pulang ke kampung untuk melihat makam kakek. Kampung yang kurasa indah tapi sangat sepi. Hanya terlihat beberapa anak kecil bermain-main di halaman rumah. Kata ayah, pemuda-pemudanya pergi merantau, mencari pekerjaan ke kota.

Di depan satu rumah besar berdinding papan, ayah memberi salam dan memanggil satu nama. Seorang laki-laki yang perawakannya mirip ayah datang menyambut. Ia tampak terkejut tak menduga kedatangan kami. Aku menduga bahwa ia adalah adik tiri ayah yang pernah diceritakan oleh ayah. Ia tak pergi merantau ke kota seperti teman-teman masa mudanya karena tak diijinkan kakek. Kakek merasa kesepian karena semua anak-anaknya telah merantau ke kota.

Kemudian kami dipersilakan masuk. “Kami tidak lama,” kata ayah setelah kami di dalam. “Tapi makanlah dulu di sini,” kata adik ayah menyahut. “Bu, potong ayam kita satu,” katanya kepada istrinya yang datang menyalami kami.
“Tidak usah repot-repot,” kata ayah lagi.
“Tidak apa-apa,” sahut adik ayah. “Ini Nathan ya?” katanya memegang kepalaku.
“Iya, Paman,” jawabku mengangguk. “Sudah besar kau ya… Mirip sekali kau dengan kakekmu,” katanya lagi. Aku tersenyum lalu mencari foto kakek di dinding. Tapi tak ada.
“Kakak tidak ikut?” tanyanya lagi kepada ayah, lalu mereka berbincang-bincang menanyakan kabar masing-masing, bercerita tentang anak-anak, saudara-saudara di perantauan dan nama-nama yang tidak kukenal. Mungkin nama-nama teman mereka. Aku permisi ke depan untuk melihat-lihat halaman rumah, duduk-duduk di beranda.

Sejuk sekali kampung halaman ayah. Burung-burung berkicau merdu dari antara rimbun pepohonan. Sinar matahari yang menembus lebatnya dedaunan membentuk garis-garis sinar yang indah sampai ke tanah. Seorang lelaki tua lewat di depan rumah dengan membawa seekor kerbau. Ia melihat ke arahku cukup lama lalu memberikan senyum. Kubalas senyumnya. Lalu terbersit dalam benakku, pasti di beranda inilah kakek sering menikmati pemandangan senja sepulang dari bekerja di sawah, menikmati kopi atau secangkir teh.

Setelah beberapa lama menikmati pemandangan di beranda rumah, kudengar namaku dipanggil. Pasti disuruh makan, pikirku. Benar saja, di lantai bertikar telah terhidang makanan dengan gulungan tipis uap panas yang menebarkan aroma sedap, terlihat sangat nikmat untuk segera disantap. Paman memintaku untuk memimpin doa makan.

“Memang mirip sekali Nathan ini dengan kakeknya,” kata paman menatap lekat ke wajahku, setelah kami selesai makan.

“Ada foto kakek, Paman? Boleh aku lihat?”

“Itulah…” desah paman, “kakekmu tak suka difoto. Setiap diminta berfoto, kakekmu selalu menghindar. Padahal jarang sekali ada kesempatan berfoto, harus ke kota. Tak ada tukang foto keliling yang mau datang ke kampung kita ini. Mungkin karena jauh.”

“Oh… ” sahutku kecewa.

“Tapi ini ada foto adik-adikmu,” katanya, memberikan satu album foto kepadaku. Lalu kulihat foto-foto adik-adik sepupuku.

“Mereka sekolah di Medan, tinggal di asrama. Mungkin besok pulang, kan sudah mulai libur sekolah. Menginaplah di sini supaya kalian besok bisa bertemu.”

Aku mengangguk sambil membuka lembar-lembar foto berikutnya. “Fotoku tak ada di sini, Paman?”

“Fotomu yang mana?”

“Fotoku waktu bayi…” jawabku sambil menoleh ke ayah.

“Aku mengirim surat dan foto Nathan tak lama setelah Nathan lahir,” kata ayah membantuku memberi penjelasan.

“Tidak ada foto, tidak ada surat. Tidak pernah ada kabar dari kalian. Kau tahu, Bang, kalian seperti menghilang begitu saja. Aku baru tahu tentang Nathan ketika kalian datang waktu ayah meninggal. Setelah itu pun tak pernah ada kabar lagi dari kalian.”

Wajah ayah berubah. Tiba-tiba suasana menjadi tidak nyaman. Bibi mencolek pinggang paman. Paman lantas diam tak melanjutkan omongannya.

“Aku mau melihat makam ayah,” kata ayah sambil berdiri memecahkan kesunyian.

“Aku tak bisa menemani,” kata paman, “ada sesuatu yang penting yang harus aku kerjakan.” Paman ikut berdiri, lalu berjalan ke arah dapur dan keluar membawa parang dan pacul.

“Bawa ini,” kata paman, “mungkin sudah tumbuh banyak semak di sana.”

Ayah menerimanya lalu mengajakku mengikutinya. “Ayo kita lihat kakek.”

Setelah melewati kebun melalui jalan setapak di samping rumah kakek, akhirnya kami sampai ke tempat yang agak terbuka tapi ditumbuhi banyak semak ilalang.

Di hadapan kami terdapat dua makam yang sudah disemen setinggi pinggangku. Ayah menggunakan parang di tangannya membabati ilalang yang mengelilingi kedua makam itu. Lalu ayah membersihkan bagian kepala makam, mengusap dengan telapak tangannya untuk membaca nama yang tertera di situ. Wajah ayah terlihat berubah. Kemudian ayah melanjutkan lagi membabat ilalang di salah satu sisi makam. Gerakannya semakin cepat seperti sedang terburu-buru. Lalu dilemparnya parang itu ke tanah dan ganti menggunakan pacul. Aku heran kenapa ayah seperti orang yang sedang panik. Napasnya memburu. Keringat-keringat besar mengalir di wajahnya. Kemudian kulihat ayah terengah-engah, tapi terus mengayunkan pacul menghabisi semak ilalang. Lalu ayah melepaskan pacul dan menggunakan tangannya mencabut semak-semak itu sampai ke akar-akarnya. Tangannya diusap-usapkan ke tanah seperti sedang mencari sesuatu. Ayah berlutut terdiam. Wajahnya tertunduk memandangi tanah yang menyisakan akar-akar semak. Lama kulihat ayah terdiam menunduk seperti itu.

Kemudian dengan tubuh yang nampak letih ayah berdiri, menatap ke arah makam dan berkata, “Ayah, aku datang, Ayah… Bersamaku ada Nathan, cucumu. Dia sudah besar sekarang, sudah kelas tiga SMA. Wajahnya sangat mirip denganmu dan sering bertanya tentangmu. Ayah, maafkan aku yang telah lama tak mengunjungimu. Baru hari ini lagi aku bisa datang ke sini. Aku sudah bersihkan tempat istirahatmu, tapi tak kutemukan makam ibu. Tak kulihat lagi tanda-tandanya. Seharusnya dia ada disampingmu.”

Suara ayah bergetar. Kulihat ada bayangan air di matanya. Aku terkejut mendengar perkataan ayah. Ternyata makam di samping makam kakek bukanlah makam ibu kandung ayah.

“Banyak dosaku kepadamu, Ayah… Juga kepada ibu,” lanjut ayah lagi. “Kalau hidup ini boleh diulangi, Ayah, sungguh aku tak ingin berada jauh darimu. Maafkan aku ayah…”

Ayah terdiam lagi. Lalu memandang ke arahku. Wajahnya terlihat sangat sedih. “Ayah…” katanya lagi, kembali memandang makam kakek. “Kami pamit pulang, tapi nanti kami akan kembali lagi untuk membangun makam ibu, menempatkannya tepat di sampingmu. Beristirahatlah dengan dengan tenang, Ayah…”

Lalu ayah meraih tanganku, membawaku meninggalkan tempat itu. “Kita pulang,” kata ayah. Satu lengannya kulihat mengusap wajahnya, menyembunyikan air yang mulai mengalir dari matanya.

grandfather

 

“Martha Nauli… Ibu Martha Nauli…” tiba-tiba terdengar satu panggilan membuyarkan lamunanku.
“Saya suaminya, Bu…” kataku menghampiri perawat yang memberikan panggilan.
“Operasinya sudah selesai,” jawabnya. Lalu dia membuka lebar pintu ruang operasi dan membawa keluar Martha yang terbaring di ranjangnya. Kubelai kepala Martha. Ada senyum diberikan kepadaku dari wajahnya yang tampak lemah.

 

10 Comments to "Kakek"

  1. Fidelis R. Situmorang  28 October, 2013 at 20:52

    @ Bung James: Belum kelihatan seperti seorang kakek ya…

    @ J C: Makasih, Om J C

    @ Mbak ariffani: Hehehe… Pasti asik kalau jadi cucunya Om Dj ya…
    Makasih, Mbak

    @Om Dj: Iya…gapapa, Om, ngobrol di sini. Anggap aja rumah sendiri

  2. Fidelis R. Situmorang  28 October, 2013 at 20:48

    @ Bu Matahari: Halo, Bu Matahari. Apa kabar?

    @Om Dj: Iya, Om, makasih atas koreksinya… Harusnya ditambah dengan kata keluarga ya, Om, biar bacanya lebih enak.

    Seperti kata Mbak ariffani, tentang pemanggilan ayah pada suami atau ibu pada istri, hanya masalah kebiasaan aja. disini agak sungkan kalau memanggil nama.

    Wahhhh… Ganteng banget David ya… bisa kebetulan banget namanya belakangnya dengan tokoh di cerita ini. Senangnya David merasakan kasih sayang kakek

    Makasih ya, Om. Salam sejahtera juga dari sini

  3. Dj. 813  28 October, 2013 at 04:13

    ariffani Says:
    October 27th, 2013 at 12:38

    Jadi ini masalah kebiasaan saja pak Dj. memang di Indonesia seperti itu, apalagi film2 sinetron, cucunya pak DJ ganteng sekalii
    ——————————————————————

    Ariffani….
    Terimakasih, karena opanya juga ganteng…
    Hahahahahahahaha….!!!

    Maaf Bung Fedelis, ini jadi ngobrol dengan Ariffani dilapak anda.

  4. ariffani  27 October, 2013 at 12:38

    Jadi ini masalah kebiasaan saja pak Dj. memang di Indonesia seperti itu, apalagi film2 sinetron, cucunya pak DJ ganteng sekalii

    terimakasih Pak Fidelis atas ceritanya, saya jadi mengenang tentang kedua kakek saya, dan belum pernah merasakan rasanya kedekatan antara cucu dn kakek.. hehehehe…

  5. J C  26 October, 2013 at 22:35

    Tulisan Fidelis R. Situmorang selalu mengalir apik sekali…

  6. James  26 October, 2013 at 06:44

    mas DJ adalah seorang Kakek Muda…..ha ha ha

  7. Dj. 813  25 October, 2013 at 21:55

    Ini saat David masih kecil, selalu ingin pakai topi kakeknya.

  8. Dj. 813  25 October, 2013 at 21:48

    Ini cucu Dj.
    Namanya sama David Nathanael ( Nathan ), tapi dia dipanggil David.
    Ganteng seperti kakeknya kan….???

    Hahahahahahahahahahaha….!!!

  9. Dj. 813  25 October, 2013 at 21:38

    Bung Fidelis R. Situmorang….

    Terimakasih untuk ceritanya yang selalu indah untuk diikuti.

    Maaf, hanya saja yang agak aneh di telinga Dj.
    Kok perawatnya memanggil nama Marta Nauli…???

    *** “Martha Nauli… Ibu Martha Nauli…” ***

    Kan ibu Marta yang dioperasi, bukannya memanggil keluarga ( suami, anak atau adik-kaka )
    bu Martha…???
    Apa di Indonesia memang demikian adanya.
    Karena sering Dj. dengar, suami memanggil istrinya dengan kata ibu atau mama.
    Padahal kan istrinya, mengapa tidak memanggil namanya.
    Atau Dj. baca di Kompas.com , istri yang menengok suami di tahan oleh KPK.
    Si istri berkata: ini kesukaan ayah “,
    Ayah…???
    Kan yang ditengok adalah suaminya.
    Kkadang kedengaran aneh.

    Maaf kalau Dj. yang kurang paham, tapi cerita diatas, Dj. sangat sukam
    Salam Sejahtera darai Mainz.

  10. Matahari  25 October, 2013 at 18:28

    Hore ada tulisan FS…tapi harus pergiii…ntar malam dibaca…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.