Haumeni Ana: Paha Kanan di Indonesia, Paha Kiri di Timor Leste

Alfred Tuname

 

Perbukitannya cukup menantang jika arah mata memandangnya dari kota Kefamenanu. Itulah desa Haumeni Ana, kecamatan Bikomi Nilulat, Timor Tengah Utara (TTU), NTT. Jalan berliku dengan debu-debu kering siap menambal wajah. Pepohonan mekar di tanah yang nyaris sedikit air. Jalan berliku dengan aspal yang sudah pecah dan berlubang. Sebagian jalan masih berkerikil dan dalam proses pengerasan. Mobil merayap ke arah perbukitan. Pandangan luas mencakup semua jangkauan mata. Rumah-rumah berjarak dan cukup jarang. Itulah perjalanan menjemput desa di perbatasan negara, Haumeni Ana.

Perbatasan-Istimewa

Haumeni Ana sendiri berarti kayu cendana kecil (haumeni = kayu cendana, ana = kecil). Sedangkan, di sebelah lain terdapat sebuah desa bernama desa Haumeni. Cerita desa ini pada dasarnya mirip. Sejarahnya, sebelum pembasmian (pemutihan) tanaman cendana, di desa Haumeni Ana terdapat banyak tanaman cendana yang berukuran kecil di desa itu. Tetapi karena terjadi perdagangan “liar”, “pasar gelap”, yang dilakukan oleh warga desa, maka pemerintah memerintahkan warga untuk menebang tanaman cendana. Akibatnya, hingga saat ini tananam cendana pun nyaris tidak tersisa di daerah itu. Yang ada tinggal nama desa, Haumeni Ana.

Sebelumnya, wilayah Haumeni Ana bernama Obekilo. Saat itu, Nilulat (Usif Nilulat) dibagi menjadi tiga kampung yaitu Nilulat, Tubu dan Obekilo. Kampung dikepalai oleh seorang kepala kampung yang disebut temukung. Kemudian, kampung diubah menjadi desa dalam sistem pemerintahan baru. Saat itulah nama kampung Obekilo berubah menjadi desa Haumeni Ana.

Desa Haumeni Ana berada di sekitar gunung Biluku, pada barisan pengununan Miomaffo. Gunung Biluku nan hijau memendam sumber air yang irit bagi kehidupan sekitarnya. Karena sumber air itu, sawah-sawah mengering menantikan musim hujan datang yang biasanya di awal bulan November. Meski pun begitu, hasil bumi berupa tanaman umbi-umbian, kayu, pinang dan lain-lain masih merupakan berkat nan manis bagi warga desa. Kerajinan tenun ikat pun menggeliat di desa ini. Kerajinan tenun ikat membantu meringankan beban ekonomi di daerah perbatasan negara ini. Sekaligus, tenun ikat menjadi pemarka kehidupan berbudaya dan seni pada warga Haumeni Ana.

Seperti pada daerah Timor lainnya, persoalan air di desa Haumeni Ana merupakan sebuah persoalan yang cukup rumit dan penting. Di desa yang sangat irit kandungan air ini, pemeritah membangun cekdam atau embung bernama cekdam kiuana (kiu ana = pohon asam kecil). Letaknya tepat di lembah bukit Nuael yang terbelah oleh garis batas dua negara, Indonesia dan Timor Leste. Cekdam Kiuna ini, jika dilihat, memiliki volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air warga sekitar. Pemerintah pun menyediakan pipa-pipa air untuk menyalur air itu ke rumah-rumah warga. Sayangnya, entah persoalan apa, pipa-pipa itu hanya berisi angin kosong dan penghias halaman rumah warga. Sebenarnya, ada satu lagi pipa air di desa Haumeni Ana yakni pipa yang menyalurkan air bersih dari sumur bor. Tetapi faktanya padha wae, sama saja. Pipa hanya mengalirkan angin. Mungkin saja, pemerintah sedang membutuhkan dana untuk membangun daerah perbatasan. Sementara, dana pembangunan daerah perbatasan sudah terlalu banyak habis pada seminar-seminar tentang pembangunan daerah perbatasan.

Haumeni Ana01

Jika mata memandang ke arah timur dari badan jalan Haumeni Ana, terdapat dua buah gunung di daerah Oecusse, Timor Leste yang mitosnya sangat dekat dengan orang-orang perbatasan. Dua gunung itu bernama gunung Faku dan Falain. Dikisahkan bahwa sebelum menjadi dua gunung, hanya ada satu gunung yang berdiri kokoh menjulang dengan nama gunung Faku. Gunung Faku diajak oleh sebuah gunung berbatu bernama Fatu Sinai untuk pindah ke arah pantai. Tetapi gunung Faku tidak menerima ajakan Fatu Sinai. Menyadari ajakannya ditolak, Fatu Sinai pun membelah gunung Faku dengan bambu menjadi dua. Gunung Faku pun terbelah menjadi dua dan warga memberinya nama gunung Faku dan Falain. Hingga sekarang, di antara gunung Faku dan Falain masih terdapat barisan pepohonan bambu. Sementara itu, Fatu Sunai berada sendirian di lautan yang sekarang sudah menjadi wilayah lautan negara Timor Leste.

Cerita menarik lain juga mencubit pengalaman ketika berada di tanah perbatasan, Haumeni Ana. Tanah ini merupakan bukit perbatasan antara negara Indonesia tercinta dengan negara baru Timor Leste. Perbatasan itu ditandai dengan jalan raya, pilar besar dan beberapa pohon. Sebelah timur badan jalan raya adalah tanah yang sudah menjadi asing, Timor Leste. Sedangkan sebelah barat badan jalan raya adalah tanah tumpah darah tercinta, Indonesia. Pos tentara penjagaan kedua negara saling berhadapan. Satuan para tentara itu bernama Satgaspur (satuan tugas tempur) Haumeni Ana. Para tentara itu bersiaga mengamankan tanah air masing-masing. Sebuah keadaan berdamai dengan, seakan, siap berperang. Si vis pacem para bellum. Nyatanya, penduduk di sekitas itu berada dalam damai. Trauma lama sudah nyaris sirna. Hanya tertinggal pada catatan sejarah dan cerita-cerita kenangan. Meskipun masih ada sikap siaga sebab perkara tanah berikut tapal batas negara masih dalam perdebatan.

Di daerah perbatasan, warga Haumeni Ana bermukim sangat dekat bahu jalan yang menjadi batas antara dua negara, Indonesia dan Timor Leste. Sementara warga negara Timor Leste bermukim sangat jauh dari perbatasan kedua negara itu. Dari bukit desa Haumeni Ana, rumah-rumah warga Timor Leste tampak berjauhan satu sama lain. Letaknya berada di wilayah lembah. Warga Timor Leste di Oecusse sebenarnya masih satu rumpun dengan warga Indonesia di dataran tinggi Kefamenanu. Mereka memiliki budaya yang nyaris sama dan masih menggunakan bahasa dawan (bahasa daerah orang-orang di kabupaten Timor Tengah Selatan-Soe dan Timor Tengah Utara-Kefamenanu). Karena budaya dan bahasa yang sama itulah, mereka biasa memenuhi pasar rakyat pada hari Sabtu. Setiap hari Sabtu dari pagi hingga siang hari, kedua warga negara itu berkumpul tepat di jalur perbatasan dekat gerbang negara Timor Leste yang disebut Bolson Biko yang berarti sarang burung layang-layang. Dulu tempat itu banyak dijumpai burung layang-layang. Di situlah mereka melakukan transaksi ekonomi sekaligus saling berkomunikasi nan intim. Saat itulah orang-orang kedua warga negara itu tidak sadar bahwa paha kanan berada di Indonesia, paha kiri berada di Timor Leste. Atau bisa jadi, orang merokok di Indonesia, buang puntung di Timor Leste. Apa pun itu, warga dua negara tersebut tetap saling berkomunikasi dalam jalinan kekeluargaan dan toleransi, meski geliat politik bilateral kedua negara belum seutuhnya ber-rekonsiliasi.

 

 

Kefamenanu, September 2013 for Sumpah Pemuda Oktober 2013

Alfred Tuname

 

11 Comments to "Haumeni Ana: Paha Kanan di Indonesia, Paha Kiri di Timor Leste"

  1. Bruno fredrik  31 March, 2017 at 13:14

    Khusus kampung nuail struktur tanahnya sangat berpotensi utk dijadikan daerah serapan air yg akan bisa dimanfatkan baik utk lahan pertanian maupun kebutuhan air minum jika dikelola secara profesional oleh org2 terlatih..sy pikir dana desa bisa dijadikan sbg sumber dana ddlm mengelola lahan tsbt…salam bae2 dari jauh…sias nalle.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.