“Captain Phillips” dari Indonesia

Osa Kurniawan Ilham

 

Kalau hari-hari ini Anda menonton film di bioskop dengan judul Captain Phillips, ingatlah bahwa kita juga memiliki seorang “Captain Phillips” yang sama-sama pernah merasakan bagaimana sengsaranya menjadi sandera perompak Somalia. Perkenalkan, namanya Captain Slamet Jauhari.

 captain-phillips (1)

Capt. Slamet Jauhari

(Sumber: www.detik.com)

Film Captain Phillips dibuat berdasarkan memoar yang ditulis oleh Capt. Richard Phillips berdasarkan kesaksian pengalamannya saat menjadi sandera perompak Somalia saat kapal kargo yang dipimpinnya berusaha dibajak mereka pada bulan Maret 2009. Film ini sangat menarik walaupun kemudian ada kontroversi yang membayangi validitas kesaksian sang kapten. Siapa lagi kalau bukan para anak buahnya yang melakukan protes keras terhadap film itu. Mereka berpendapat bahwa Capt. Phillips bukanlah berjiwa pahlawan seperti yang ditunjukkan dalam filmnya. Menurut mereka film itu sendiri banyak dipenuhi oleh adegan kebohongan yang indah dalam film tapi jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Captain Phillips dianggap menonjolkan kepahlawanannya sendiri dan menyembunyikan kepahlawanan anak-anak buahnya selama proses pembajakan itu.

 captain-phillips (2)

Poster film Captain Phillips

(Sumber: www.collider.com)

Sementara itu Capt. Slamet Jauhari juga memiliki pengalaman yang mirip dengan yang dialami Capt. Phillips. Tanggal 16 Maret 2011 bersama 19 anak buah kapal (ABK) dia menakhodai kapal kargo MV Sinar Kudus (berbobot 8911 ton dengan muatan bijih nikel seharga Rp 1,4 triliun menuju Roterdam) memasuki perairan Somalia. Lewat siang 10 orang perompak Somalia berhasil menaiki kapal dan membajaknya.   Jumlah mereka kemudian terus bertambah sampai mencapai 80-an orang dan bersenjatakan AK-47 dan beberapa RPG-7. Sejak itu MV Sinar Kudus resmi dibajak.

 captain-phillips (3)

Kapal MV Sinar Kudus

(Sumber: www.pelabuhanku.com)

Di Indonesia pada hari itu juga berita pembajakan sudah masuk ke Markas Komando Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL. Komandan Denjaka memerintahkan seluruh personelnya bersiap dan melakukan persiapan awal. Di sisi lain belum banyak media yang memberitakan kejadian ini.

17 Maret 2011 MV Sinar Kudus digunakan para pembajak sebagai mother ship untuk membajak kapal lain tetapi gagal karena kapal yang satu dikawal pasukan bersenjata sementara yang lain sudah lebih dulu ibajak oleh kelompok yang lain.

18 Maret 2011 diadakan rapat koordinasi awal di Istana Cipanas untuk membahas misi penyelamatan sandera. TNI AL akan menjadi tulang punggung untuk misi tersebut.

23 Maret 2011. Satgas Duta Samudera-I; terdiri dari KRI AH Perdanakusumah (355) dan KRI Yos Sudarso (353) berangkat menuju Somalia dengan tugas mengumpulkan semua informasi di tempat kejadian serta membuka komunikasi dengan Combined Task Force yang beranggotakan 25 negara NATO dan Eropa.

18 – 29 Maret 2011 latihan pembebasan sandera dilakukan di Tanjung Priok diikuti oleh 100 personel gabungan Denjaka TNI AL dan Satuan 81 Kopassus TNI AD. Berita pembajakan kemudian menjadi berita hangat di dalam negeri, semua mempertanyakan kelambanan pemerintah dalam membebaskan sandera.

Presiden SBY kemudian memerintahkan diberangkatkannya KRI Banjarmasin (592) dengan pasukan pemkul berjumlah 800 personel terdiri dari prajurit Marinir, Kopaska, Taifib, Kopassus, Kostrad, 5 tank pendarat BMP-3F, delapan LVT-7, sepuluh BTR-50, lima pucuk Howitser 105, 30 perahu karet dan sepuluh Sea Rider, dipimpin langsung oleh Komandan Korps Marinir dengan nama Satgas Merah Putih. Rencananya, kalau terjadi korban di antara sandera maka atas nama negara Indonesia, mereka akan menyerbu pantai El Danan Somalia yang saat itu dimanfaatkan sebagai benteng darat para perompak.

28 Maret 2011, kedua kapal perang RI berlabuh di Kolombo untuk melaksanakan bekal ulang.

29 Maret 2011, dari Lanud Halim Perdanakusumah diberangkatkan 96 anggota Denpursus (Detasemen Tempur Khusus) yang terdiri dari 4 tim Denjaka dan 1 tim Sat 81 Gultor Kopassus.

27 April 2011 malam, jumlah perompak semakin banyak menaiki MV Sinar Kudus sebagai persiapan pembayaran tebusan yang disepakati akan dilakukan pada 28 April 2011. Ternyata pada saat yang bersamaan ada 23 kapal lain yang juga sedang dibajak. Mereka mengacak para anak buah kapal di kapal yang berlainan. Informasi ini menguatirkan karena bisa-bisa ada ABK Sinar Kudus yang tidak berada di kapalnya.

28 April 2011, terjadi perselisihan antara kelompok pembajak karena tidak sepakat dengan besarnya nilai tebusan. Pembayaran tebusan pun gagal dan diundur 30 April 2011.

30 April 2011 pada jam 12 pesawat helikopter milik perusahaan yang telah dipilih oleh pembajak mendrop uang tebusan ke atas kapal MV Sinar Kudus. Menurut direktur utama PT Samudera Indonesia, uang tebusan itu lebih dari 40 milyar rupiah atau sekitar 4,5 juta dollar. Tapi angka sebesar itu katanya jauh di bawah angka yang diminta para pembajak.

Tetapi para pembajak ternyata masih belum meninggalkan kapal sebagaimana yang dijanjikan sebelumnya. Oleh karena itu pada malam harinya Satgas Duta Samudera-I memutuskan mengambil opsi militer untuk merebut MV Sinar Kudus. Sayang satu dari tiga Sea Rider yang diluncurkan pecah dihantam ombak sehingga misi dibatalkan.

1 Mei 2011 pukul 13.30, semua pembajak akhirnya meninggalkan kapal. Pukul 13.55 Komandan Satgas Duta Samudera memerintahkan tiga Sea Rider untuk menuju MV Sinar Kudus. Helikopter BO-105 juga lepas landas dari KRI Abdul Halim Perdanakusumah membawa penembak sniper dan penembak mesin untuk memberikan air cover  kepada pasukan di Sea Rider.

Pukul 14.20 Captain Slamet Jauhari kembali meminta pertolongan lewat radio setelah melihat ada speedboat bersenjata mendekati kapal mereka untuk kembali membajak. Untuk itu tim Sea Rider diperintahkan melindungi MV Sinar Kudus. Ternyata speedboat itu berisi empat orang perompak bersenjata. Tiba-tiba seorang perompak tewas oleh tembakan penembak sniper dari atas helikopter. Kemudian tiga perompak yang lain tewas setelah adu tembak dengan tim Sea Rider.

Pukul 16.00 Tim Jihandak melakukan penyisiran kapal MV Sinar Kudus dan dinyatakan aman. Lalu dengan dikawal oleh kedua kapal perang MV Sinar Kudus melanjutkan pelayaran ke Salalah Port Oman.

 captain-phillips (4)

MV Sinar Kudus dikawal dua kapal perang

(Sumber: www.garudamiliter.blogspot.com)

4 Mei 2011 pukul 14.00 ketiga kapal tiba di Salalah Oman. MV Sinar Kudus dibersihkan dan diperbaiki sebelum melanjutkan pelayaran. Kru kapal yang baru juga didatangkan dari Jakarta, sementara Capt. Slamet Jauhari dan 19 anak buahnya dipulangkan ke Jakarta.

6 Mei 2011, MV Sinar Kudus kembali melanjutkan pelayaran ke Roterdam dengan dikawal oleh satu tim Kopaska dan satu tim Taifib. Bersamaan dengan itu ketiga kapal perang bertolak kembali ke tanah air.

7 Mei 2011, dua puluh awak kapal MV Sinar Kudus yang mengalami pembajakan tiba di Jakarta. Mereka pun kembali berkumpul dengan keluarganya.

 captain-phillips (5)

20 awak kapal MV Sinar Kudus

(Sumber: www.tribunnews.com)

21 Mei 2011. KRI Abdul Halim Perdanakusumah, KRI Yos Sudarso dan KRI Banjarmasin merapat di Tanjung Priok. Mereka pun dikunjungi oleh presiden SBY yang memberikan ucapan selamat dan terima kasih atas keberhasilan misi mereka.

Setelah peristiwa pembajakan ini; berbeda dengan rekannya Capt. Phillips yang mendapat publikasi luas di Amerika Serikat dan seakan menjadi selebritas dan pahlawan baru; Capt. Slamet Jauhari tetap menjalankan tugasnya sebagai nakhoda seperti biasa. Dia menjauhi publisitas walau telah berhasil memimpin 19 anak buah kapal melewati masa pembajakan selama 46 hari. Apakah dia trauma melaut? Dia menjawab,”Kemampuan saya hanya di laut. Insya Allah saya akan kembali melaut.”

Ciri khas seorang pahlawan dari negeri bernama Indonesia.

 

Sumber:

  1. Majalah Commando, Edisi No 3 Tahun VII 2011
  2. www.detik.com
  3. http://nypost.com/2013/10/13/crew-members-deny-captain-phillips-heroism/
  4. www.tribunnews.com
  5. www.kompas.com

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 21 Oktober 2013)

 

11 Comments to "“Captain Phillips” dari Indonesia"

  1. Evi Irons  30 October, 2013 at 20:06

    Seru!

  2. djasMerahputih  30 October, 2013 at 08:34

    Salut buat Capt. Slamet… tak lupa juga bravo untuk TNI yang berhasil melumpuhkan para perompak..

    Jangan lupa salah satu manusia pertama yang mendarat di bulan adalah orang Indonesia bersama dua orang Amerika lainnya.

    Diberitakan bahwa: “Kedua astronot Amerika berhasil mendaratkan kakinya di bulan dengan Slamet…!!”

    Salam patriot

  3. EA.Inakawa  30 October, 2013 at 03:55

    @ Mas Osa : Terima kasih liputan heroik ” Captain Selamat ” salam sehat……dan semoga KITA semua senantiasa SELAMAT selalu,aamiin

  4. Alvina VB  30 October, 2013 at 00:05

    Belum sempet nonton filmnya. Mas Osa terima kasih buat tulisannya ttg Kapten Slamet. Kita denger berita tsb di sini ttp tidak lengkap ceritanya.

  5. Dj. 813  29 October, 2013 at 22:47

    Bung OsaKI…
    Terimakasih untuk artikelnya…
    Untung namanya ” SLAMET ”
    Kalau tidak, bisa dibunuh oleh pembajak.
    Kadang memang nama juga ada pengaruh dalam kehidupan ini.

    Jadi inat lagu kanak-kanak…

    Aku seorang Kapiten…
    Mempunyai pedang panjang..
    kalau berjalan…
    Gondal… gandul… gondal… gandul….
    hahahahahahaha…!!!

    Salam Sejahtera dari Mainz..

  6. ah  29 October, 2013 at 13:18

    hebat orang2 somalia, dulu dikenal dengan bencana kelaparan dan busung lapar, sekarang menjadi pembajak kapal2 besar.. salut

  7. Linda Cheang  29 October, 2013 at 12:16

    Pahlawan sejati nggak perlu publikasi. Salut dan hormat untuk Capt. Slamet Jauhari.

  8. osa ki  29 October, 2013 at 12:00

    Makasih mas. Ide muncul saat nonton film ini.

  9. J C  29 October, 2013 at 10:55

    Wuiiiihhh…ada hero seperti ini…muantep mas Osa…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *