Cinta, Tanpa Kata, Hanya Rasa

Muhammad Asikin

 

Di sunyi, saat kutermangu dan dimangsa sepi, kulangkahkan kaki ke depan pintuMu, dan kuadukan hidupku, hidup sebagai anak manusia. Kubasuh dan kubasahi bibir dengan ratapan dan harapan.

Dalam nyata dan maya, kumerasa Kau memandangku, dan mulailah kumeratap, meratap. “Tuhan…, mengapa Kau menghembuskan nafas hidup padaku jika hidupku penuh derita? Kuberusaha mencari jalan baik dalam menghidupi hidupku, tapi hidup menamparku dengan tipu, khianat, dusta, kepuraan, persekongkolan. Inikah hidupku, Tuhan? Tuhan…, aku tak minta pada manusia, aku malu bila meminta pada manusia, karena Kau janjikan Kau tak meninggalkan manusia yang tak meninggalkanMu. Kau juga janjikan di Lembar Mulia tentang keadilan. Tapi… tapi mengapa begini?”

Belum puas, kuterdiam sesaat, untuk kemudian mengharap, mengharap harapan. “Tuhan…, nista sungguhlah diri ini karena meratap padaMu. Tapi Tuhan…, Kau tau mengapa kumeratap. Kumeratap karena kumengharap. Mengharap sentuhanMu. Kutak perduli pada harta bila kelak meliarkanku sebagai manusia, kutak perduli pada tahta bila kelak membuaskanku sebagai manusia. Kuhanya mau janjiMu Kautepati, janjiMu setiap insan berpasangan. Kini…, kumenangis mencumbu rindu, kumenangis mencium rindu, kumenangis dipasung cinta. Kau tak mungkin membiarkan diri ini terjatuh dan terjatuh dalam jurang dosa. Ya Yang Memiliki Kesempurnaan, disini, di pintuMu kumenunggu jawabMu, menunggu kegenapan janjiMu.”

lovewithoutwords

Jatuh tersungkur muka ke tanah, menyelami hidup yang hingga kini kujalani, dan… suara itu, ya suara yang kutak tau sumbernya, perlahan dan berbisik, menghampiri telingaku dan secara lembut terdengar, “Hai anak manusia, menangislah. Menangislah. Karena tangisanmu adalah tangisan dalam sayup kehidupan yang ‘kan membuatmu mengerti-dengan diiring waktu-hidup.

Kutau kau tak berambisi menjadi orang kaya, namun kukayakan kamu dan kau mampu, kutau pula kau tiada berkeinginan menjadi pemimpin, dan kujadikan dirimu penguasa. Kutau kekayaan hatimu dan kepemimpinan sabarmu, hingga Kuuji kau dengan seorang wanita. Kauperlahan meliar dan membuas karenanya dan hingga membuatmu untuk tersungkur di saat ini. Kautak perlu menggapai-gapai rindu, karena tlah Kupersiapkan seorang pendampingmu, pendamping dalam hidupmu, bukan saja sebagai pendamping di bumi ini tapi juga pendampingmu di alam kekal. Kau mungkin bertanya wanita itukah pendampingmu. Biarlah Kukata padamu bahwa itu rahasiaKu padamu, yang kelak terkuak dalam sinar cahaya suci.

Tapi…, ‘tuk saat ini Kumenyimpannya, karena Kutau apa yang terbaik untukmu dan yang terbaik untukmu adalah janjiKu yang niscaya tertepati pada waktunya. Angkatlah wajahmu, lihatlah karunia yang telah Kucurahkan padamu. Kau kujaga semenjak dalam dinding rahim ibumu hingga saat ini. Tak pernah Kumeninggalkanmu walau kadang(?) kau menjauh namun tak pernah sedikit pun penjagaanKu padamu lengah. Jadi…, tetapkanlah hatimu untuk tetap turut sesuai Lembar Mulia yang tlah turun dan Kukaruniakan. Kau tak akan menyesal. Itu janjiKu. Dan janjiKu selalu Kutepati.”

Secara perlahan, kuangkat wajah dan kemudian menembus masa lalu di masa kukecil saat kuhampir meregang nyawa namun keajaibanNya membuatku hingga kini masih bernafas; kemudian ke masa di mana kupernah ditipu, dikhianat, didusta, namun kumasih menjadi berarti bagi kehidupan dan sekitarku; tak puas memoriku memutar tentang orang-orang yang tlah berkorban untukku, dan kulihat di sana ada ibu/mama yang penuh welas asih mengajarku kebajikan dan mencumbuku dengan belai kasih hingga seorang pedagang asongan di persimpangan yang tak kukenal yang berlari terengah padaku hanya untuk menyerahkan dompetku dan dengan keras kepala menolak pemberianku.

Kini…

Secara perlahan ‘ku mengikhlaskan rindu ini menjadi penguat dalam menuju kemanusiaanku yang tak sempurna. Secara perlahan pula ‘ku bersabar menikmati rangkaian rencanaNya untukku. Dan… secara perlahan-lahan ‘ku mensyukuri berkat yang tlah kuterima dariNya dalam hidupku.

 

: : Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Terj. an-Nahl (16):18) : :

: : “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.” (Mikha 6:8 LAI TB) : :

 

3 Comments to "Cinta, Tanpa Kata, Hanya Rasa"

  1. djasMerahputih  30 October, 2013 at 08:39

    IKHLAS…

    sebuah kepasrahan yang tidak kehilangan DAYAnya…
    Sebuah pengalaman hidup yang dalam….

    Salam sedjuk

  2. Dj. 813  29 October, 2013 at 23:07

    Ooooooo…….

  3. J C  29 October, 2013 at 10:47

    Tanpa kata…hhhmmm…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.