Satu Rahim, Tiga Cinta (7)

Endah Raharjo

 

Sabtu pagi ini tampak lebih terang, juga lebih hangat. Pasti karena terbitnya tiga matahari tambahan mengelilingiku: anak-anakku. Sehabis sembahyang subuh aku langsung membantu Yu Nik di dapur, masak nasi liwet komplit. Sesuai permintaan Raysa. Kami akan sarapan bersama di teras belakang.

Menunggu masakan siap, Raysa duduk di ruang tengah meneruskan membaca novel. Rambutnya masih setengah basah, ia jepit ke belakang. Lega hatiku melihatnya punya keinginan. Mau keramas. Sedikit berdandan. Pertanda kembalinya semangat hidup.

**

 

Jumat malam Nishiko muncul sekitar pukul 10. Tiga hari ini dia melajo Semarang-Jogja. Berangkat ke Semarang dengan bis Joglosemar paling awal dan kembali ke Jogja diantar Bryan atau supir kantor. Tadi malam ia diantar Bryan. Lelaki yang cukup fasih berbahasa Indonesia itu menolak ketika kutawari menginap. Ia punya banyak teman yang tinggal di Bantul, di Nitiprayan, kampung para seniman.

Ketika Nishiko tiba, aku dan Ferina tengah meringkuk di sofa. Begitu Bryan pamit, Nishiko buru-buru membersihkan diri, berganti baju, lalu mendesakkan tubuh mungilnya di antara aku dan Ferina.

“Mama bahagia sekali kalau kalian manis begini.”

“Kami semua manis sejak bayi,” tukas Nishiko.

“Ah! Cuma kamu yang manis. Aku dan Ray waktu kecil nggak ada manis-manisnya. Lihat, nih ….” Ferina menjangkau sesuatu dari atas meja di samping sofa. Dua buah album foto. Aku tidak memerhatikan barang itu tergeletak di situ. Semua album keluarga kusimpan di dalam peti jati, di kamar yang dipakai Ferina. Sudah bertahun-tahun tidak kubuka lagi. Mungkin Ferina membongkar isi peti itu saat aku di Jakarta.

“Niiih ….” Ferina membukai halaman album. Nishiko menggeser duduknya, merapat pada kakaknya. Ia cekikikan sambil menuding foto-foto itu.

Pemandangan itu melumerkan hatiku. Sudah lama kami tidak berdekatan sehangat ini. Ferina dan Nishiko sesekali meledekku bila ada fotoku bersama ayah-ayah mereka; atau baju dan gayaku tampak aneh. Terkekeh Ferina memuji penampilan ayah Nishiko sewaktu muda. Katanya unyu-unyu, mirip boyband Korea.

Kini mas Bram – begitu dulu aku memanggil ayah Nishiko – tinggal di Hokkaido, Jepang, mengelola peternakan sapi milik sebuah keluarga Jepang kaya raya. Menurut Nishiko ia sudah pindah kewarganegaraan, belum menikah, lebih suka hidup sendiri. Berpetualang. Nishiko merupakan perpaduan kami: bebas, luwes, sekaligus tegas dan mandiri. Tak heran ia lebih dewasa dalam menyikapi hidup meskipun usianya paling muda.

Album foto itu serupa pintu yang mengantar kami mengunjungi masa lalu, diikuti oleh perbincangan malam yang mesra.

Nishiko menceritakan rencananya ke depan dengan Bryan.

“Bryan tidak memersoalkan masa lalu Mama. Dia nggak nanya-nanya, aku yang cerita duluan. Aku juga udah ketemu Sharon, ibu Bryan. Dia baik sekali. Aku udah cerita tentang Mama. Dia terkagum-kagum. Bener, Ma.” Nishiko mengangguk kuat-kuat. “Tunggu aja, ya. Dia pingin ketemu Mama. Kami udah bikin rencana.”

Sharon tinggal di Melbourne, hidup dari uang pensiun janda dan hasil mengelola rumah keluarga yang tiga kamarnya disewakan untuk mahasiswa asing. Ayah Bryan meninggal dunia dalam kecelakaan downhill ski lima tahun lalu, di Guthega, salah satu resor ski di New South Wales. Kakak perempuannya belum menikah, menjadi guru SMP di Ferntree Gully, sebuah desa kira-kira 30 kilometer sebelah timur kota Melbourne.

“Masyarakat kita hipokrit. Coba aja, orang nyeleweng di mana-mana. Di kantor-kantor orang pacaran dengan suami atau istri orang, paling-paling digosipin. Tapi kalau mereka ketemu, pura-pura nggak tahu, seperti nggak terjadi apa-apa. Yang penting mereka nggak cerai. Pokoknya pernikahan mereka kelihatan harmonis. Tapi begitu cerai … udah … semua jadi salah.” Nishiko geram.

“Hey.” Kuelus lengannya yang menumpang di pahaku. “Jangan menggeneralisir. Banyak juga keluarga yang tetep bahagia meskipun orang tuanya bercerai. Mereka tetap berteman, malah keluarganya jadi tambah besar.”

Kami lalu berbincang tentang pentingnya menjaga harmoni dalam masyarakat Indonesia. Termasuk dalam perkawinan, segala keburukannya susah-payah disembunyikan. Meskipun hubungan suami-istri sudah keropos, harus tetap tampak utuh. Mahligai yang miring dan berkarat itu disangga dengan rasa pedih yang disembunyikan dan dipoles dengan airmata. Jelas bukan suatu perkawinan yang kudambakan. Aku tidak mau menjalani hidup penuh kepalsuan demi martabat yang ukurannya ditakar oleh orang lain.

Obrolan kami berubah serius. “Kita ini kayak ahli sosiologi yang paham teori,” celetukku. Disambut tawa dua anakku.

“Yang beginian nggak perlu teori, Ma,” cetus Ferina. “Keluarga Aryo juga hipokrit. Kakek si Aryo itu cerai dua kali. Adik bapaknya poligami. Kakak ibunya pernah dua kali cerai, yang sekarang itu istri ketiga. Tapi mereka nggak bisa berempati sama kita. Aneh, kan?”

“Dari mana kamu tahu soal itu?” tanyaku.

“Dari Ray. Sebelum tidur tadi dia sempat cerita dikit. Itu yang bikin Ray tambah sakit hati.” Rahang Ferina menegang. “Itulah. Memang lebih gampang melihat cacat orang,” rutuknya.

“Sudahlah.” Kutatap Ferina sambil berpikir. “Hey!” seruku, “kalau Ray udah mau cerita sama kamu, itu pertanda bagus. Itu melegakan. Cerita apa lagi?”

“Waktu kutanya soal Aryo, dia bungkam. Tadinya mau aku becandain, tapi untung aku bisa njaga mulut.” Ferina menatapku. Kuelus lengannya.

Kami bertiga saling pandang. Mereka menunduk, mempermainkan dua album tua yang membawa kembali masa kecil mereka.

Di foto-foto itu terekam bagaimana aku ada untuk mereka di saat-saat penting yang mereka lalui. Ulang tahun. Ikut karnaval. Sepeda pertama. Pentas seni di sekolah. Terima rapot. Pertama berkebaya. Pertama naik pesawat. Belajar naik sepeda motor dan mobil. Wisuda. Dan banyak lagi. Ayah-ayah mereka hampir tak ada di situ.

albumfoto

Terlihat juga baju-baju mereka bertiga kerap kembaran, atau sama model tapi beda warna. Ada beberapa foto Raysa waktu bayi dipeluk Ferina dalam aneka gaya.

“Kalian mungkin lupa. Udah 22 tahun Mama hidup sendiri,” kataku.

“Selama itu?” tanya Nishiko, menghitung waktu. “Wah! Iya!”

“Dan nggak pernah punya pacar,” lanjut Ferina.

“Kok kamu tahu?” Nishiko menonjok kakaknya.

“Tahu aja.”

“Dengan kalian bertiga dan menanggung hidup puluhan karyawan, Mama nggak punya waktu untuk memikirkan laki-laki,” kataku, mengangkat bahu.

“Sama sekali nggak ada yang menarik hati Mama atau suka sama Mama?” Nishiko penasaran.

“Mungkin ada yang suka sama Mama dan yang Mama suka juga. Tapi setelah perceraian ketiga, Mama rasanya nggak bisa menyintai laki-laki lagi. Atau mungkin laki-laki jadi takut sama Mama.” Aku tak bisa menahan tawa, teringat dua laki-laki yang kusukai, yang dua-duanya sudah beristri.

“Nurut Mama apa sih kejelekan Papa?” tanya Nishiko.

“Nggak perlu dijawab kalau Mama keberatan,” tukas Ferina.

“Mama nggak ingin menjelek-jelekkan ayahmu, Nishi. Atau ayahmu.” Kutatap mereka bergantian. “Mungkin kelemahan Mama adalah terlalu praktis, nggak betah dengan laki-laki yang nggak mau ngurus diri sendiri, yang maunya dilayani istri.” Aku berhenti sebentar. “Kalau lelaki bekerja keras dan kaya, mereka dipuja istrinya. Juga orang lain. Kalau perempuan yang seperti itu, kebanyakan suami jadi minder. Lalu jadi sensitif. Merasa tidak dihargai. Orang lain ikut-ikutan menuding si istri. Kalau ada laki-laki kuat itu wajar, tapi kalau perempuan yang kuat dibilang sok kuasa. Mungkin itu yang terjadi pada ayah kalian. Tapi… mungkin Mama memang bukan pasangan mereka. Buktinya Mas Insan dan Mas Toro sampai sekarang rukun dengan istri mereka.” Aku berhenti, tak mau membuka bagian kisah hidupku yang sudah lama tamat itu. “Mama juga masih sangat muda waktu itu.”

Kami lalu mengenang ayah Ferina dan ayah Nishiko. Mereka jarang menghubungiku. Kata Ferina, ayahnya terakhir meneleponnya setahun lalu. Lelaki yang setahuku punya tiga anak itu sering berganti nomor telepon. Kalau Nishiko sesekali saja menerima foto-foto lewat surel dari Hokkaido.

“Dengar, ya. Hubungan suami-istri itu unik. Tak ada orang bisa menilai kualitas pernikahan orang lain. Kalau Mama gagal tiga kali, tidak berarti kalian akan gagal juga. Jangan takut. Kalian harus yakin itu. ”

“Ah! Obrolan kita jadi berat,” seru Ferina. “Aku sampai sekarang nggak minat nikah. Aku lebih parah dari Mama. Aku mungkin terlahir nggak untuk mencintai siapapun kecuali diriku sendiri.”

Kami tertawa bersama. Entah untuk apa. Mungkin mensyukuri suasana malam yang mesra. Mungkin menertawai diri. Berikutnya kami saling berpelukan dan pamit untuk tidur.

 ***

 

“Hey! Mama ngiris telurnya acak-acakan,” ujar Nishiko. Tahu-tahu dia sudah muncul di sampingku. “Mama ngelamun aja dari tadi. Itu meja udah ditata Bang Daud di teras belakang. Cepetan.” Tangannya terulur mencomot irisan telur dadar.

“Waaah … kok didadar. Bukannya dikukus?” protes Ferina.

“Halaaah … yang penting telur,” sahut Nishiko.

Dapur jadi ramai. Kulihat Raysa meletakkan novelnya. Ia menggeliat, bangkit dari sofa, meliuk-liukkan tubuh ke kanan-kiri.

“Kursinya berapa, Mbak Nishi? Lima?” Bang Daud melongokkan kepalanya ke dapur.

“Kok lima?” tanyaku.

“Mas Bryan katanya mau ikut sarapan,” jawab Bang Daud.

“Nggak usah pakai mas,” protes Nishiko, “Bryan aja. Bingung dia kalau dipanggil mas.”

“Bryan mau datang?” tanyaku.

“Iya. Lagi di jalan.”

“Wadoh! Bisa kurang kalau ada Mas Bryan,” seru Yu Nik.

“Mas lagi … mas lagi!” teriak Nishiko. “Jangan kuatir. Dia bawa gatot-thiwul sebakul. Katanya beli di dekat rumah temannya.”

“Wadoh! Nasi liwet campur gatot-thiwul … pasti mak nyuuusss,” gurau Yu Nik, mengangkat tinggi-tinggi bakul penuh nasi di tangannya.

Hatiku lebih hangat dari sinar matahari yang menerobos kerimbunan dedaun mangga di halaman. Kami beriringan menuju teras belakang. Raysa membawa tumpukan piring. Nishiko berlari ke depan, menyambut Bryan yang baru datang.

*****

 

15 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (7)"

  1. Endah Raharjo  1 November, 2013 at 22:50

    @Pak Selogiri: heheheee… smg makin banyak laki2 spt bapak, soalnya skrg makin banyak perempuan mandiri yg sebenarnya penuh kasih sayang tp tdk bisa/mau ‘pura2 lemah’ di depan laki2… nanti saya sampaikan Erlina yaaa…

  2. selogiri  31 October, 2013 at 21:51

    Sebelumnya membaca sampai seri ke-5 dan masih menunggu lanjutannya..hingga seri terakhir, karakter erlin semakin menawan hati..buat saya, erlin tipe ideal seorang istri..ngga keberatan juga kalo jadi suami ke-4nya..hehehe..terima kasih ceritanya ibu Endah..ditunggu lanjutannya..cheers..!

  3. Endah Raharjo  30 October, 2013 at 14:41

    @Pak DJ: hahahahahaaa… ayooo… Pak DJ kan suka nulis dengan hiasan foto2 keluarga. Nulis tentang jaman pacaran sama Bu Susi. Bongkar2 foto lama dan di-scan untuk sahabat Baltyra, Pak

    @Alvina: Erlina mungkin bukan istri yang baik, tapi ia ibu yang bijaksana dan perempuan yg mandiri

    @Hennie: syukurlah kalau tidak bikin Hennie bersedih lagi

  4. Endah Raharjo  30 October, 2013 at 14:36

    @ AriffanI: nari-nari… lalalalala-lililililiiiii….

    @DjasMerah: enak yg pakai gigi, kalau ompong susah makan nasi goreng babat

    @Matahari: hahahahahaaaa… takut kalau dipuji begitu… ini bukan petak umpet, kok. Tadinya saya kuatir kalau gagal mengisahkan pada pembaca bhw si Erlina ini sbg perempuan punya kelemahan tp kelebihannya juga banyak, terutama dlm hal menyintai anak2nya. Kalau Matahari ‘akhirnya’ bisa menangkap itu, saya seneng. Cerita ini saya niatkan sebagai semacam ‘curhat’ seorang perempuan yg scr profesional sangat sukses, namun gagal menikah 3x dan punya 1 anak dari masing2 suami.

  5. Endah Raharjo  30 October, 2013 at 14:28

    @JC: ojo banget2 ngono kuwi to didiemin aja aku tetep sering nulis ke sini kok, Aji

    @ Hai Fia…

    @Linda: waaaah… kapan2 nulis cerpen yg lucu, tapi sulit je

    @Anis: makasih, Anis

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.