Lelaki Jangkung di Atas Batu (Episode Kabut Masuk Kampung)

Wendly Jebatu Marot

 

Awan di langit, kabut di gunung menyatu di senja. Kampung kecil di atas bukit itu pun berubah menjadi putih. Tapi gelap. Kabut menyelimutinya. Jarak pandang cuma beberapa meter. Seisi kampung duduk terpekur di dalam rumah.

Seperti biasa, kesempatan seperti ini adalah waktu yang pas untuk bertamu, saling mengunjung antar tetangga, menikmati kopi sore dengan rokok bagi para lelaki. Anak-anak bermain kelereng dari biji kemiri di emperan rumah berlantai tanah.

desa

Sore itu terjadilah demikian..

Dari dalam rumah kami, terdengar suara riuh tawa dari orang-orang sekampung yang sore ini tanpa diundang datang bersendagurau bersama. Inilah hidup di kampung. Pas musim hujan, tak ada lagi yang dikerjakan selain menjalin bina akrab dengan para tetangga. Seperti senja itu. Suara riuh tawa kemudian berubah menjadi hening. Ada isu penting yang sedang dibicarakan.

Untuk kami anak-anak, situasi mendung seperti ini adalah bencana dan mungkin tepat kalau disebut neraka. Kami tidak bisa keluar dari rumah dan pergi cari kayu api sambil bermain petak umpet, main mondo ara (tarik tambang) atau ke lapangan sekolah untuk sekedar menendang bola sambil bermain lumpur.

Kami harus tetap di rumah.

Apa lagi, kami sering ditakut-takuti oleh orang tua.

Kalau ada kabut, jangan keluar rumah! Awas poti wolo (setan penculik manusia)!

Demikian para orang tua mewanti-wanti kami dan ini diwariskan secara turun temurun. Anak-anak pun, seakan sudah memahami alasan mengapa tak boleh keluar saat kabut, kami akan saling mengingatkan jika kabut sudah mulai turun. Jika kami sedang di hutan, kami akan berteriak, memanggil satu sama lain untuk segera pulang karena kabut sudah turun. Entah kayu api sudah ada atau belum, tidak peduli. Bubaarrrrrrrrrrr..

Sore itu kabut begitu tebal menyelimuti kampung kami. Orang-orang tua berkisah tentang lelaki jangkung di atas batu. Ya, itu dia…

Kami masih sibuk bermain kelereng. Namun kami berhenti bermain karena seorang bapak menakut-nakuti kami dengan ancaman…Awas, lelaki jangkung sudah datang! Tahu saja anak-anak, ancaman seperti itu pasti menyeramkan dan jalan terakhir pasti lari. Tanpa basa-basi, kami langsung kabur ke dalam rumah.

Saat seperti ini, tidak mungkin bagi anak-anak untuk lari ke rumah masing-masing. Apa lagi, senja sudah mendekat. Serem… Bunyi burung-burung senja sudah mulai berkumandang. Dan ayam-ayam sudah mulai memanjat pohon untuk beristirahat malam. Jangan pulang rumah, awas!! Lelaki jangkung itu sudah datang! Seruku pada teman-teman. Kami pun masuk ke dalam rumah dengan badan kotor.

Kami duduk di antara para orang tua yang lagi asyik berceritera sambil minum kopi yang sudah setengah gelas dan isap rokok yang tinggal setengah batang. Dan benar, mereka sementara berceritera tentang lelaki jangkung di atas batu. Inilah alasan satu-satunya mengapa gelak tawa berubah menjadi hening.

Kisah berawal dari ceritera seorang ibu yang mengaku melihat seorang pria  jangkung di atas batu di tengah kuburan umum. Ibu itu bernama Nelly.

Katanya, dia pernah melihat laki-laki jangkung itu pada suatu pagi hari Minggu ketika dia pagi-pagi berjalan kaki mengejar mobil di Ulumbu. Dia hendak ke kota untuk menjual kemiri. Ya, untuk ke kota memang kami harus berjalan kaki 5 km demi mengejar satu-satunya mobil yang melayani kami di Desa Wae Ajang. Kalau tidak mau terlambat, ya harus bangun jam 03.00 dini hari dan jalan menembus gelap malam, meniti kerikil, menyepak lumpur, menerjang angin dan menabrak embun dedaunan.

Pagi itu tante Nelly sendirian. Secara kebetulan, senternya diarahkan ke batu itu yang berada di tengah kuburan. Katanya, di atas batu itu, dia melihat lelaki jangkung entah umur berapa, sedang duduk terpekur memeluk lutut.

Dia tidak tahu, apakah itu manusia atau kah hantu.
Kalau dia manusia, mengapa dia duduk di atas batu di tengah kuburan pada kelam sebelum subuh seperti itu?
Kalau dia hantu, kok bisa dilihat?

Ceritera tante Nelly, demikian kami memanggilnya, menimbulkan banyak ceritera lain. Ada pula di antara kami yang duduk sore itu mengaku pernah mengalami hal yang sama bahkan berulang-ulang. Akhirnya hampir semua seisi rumah sore itu, mengaku pernah melihat pria jangkung di atas batu di tengah kuburan itu. Kisah itu menimbulkan banyak ceritera lain……

Om Sam mengaku pernah melihat lelaki jangkung itu sore hari. Katanya, sore itu hari kamis menjelang malam Jumat, dia pulang terlambat dari kebun kopi di lereng gunung Poco Mompong. Waktu itu, kebetulan sekali dia melintasi jalan dekat kuburan untuk mengambil kambingnya yang diikat di padang dekat kuburan. Ketika dia mengangkat kepala setelah tunduk melepaskan tali kambing, dia melihat lelaki jangkung itu melambaikan tangan. Spontan Om Sam, lari ketakutan. Tiba di rumah dia langsung pingsan. Ketika sadar, istrinya tanya mengapa. Dia bilang kalau dirinya baru melihat lelaki jangkung di batu di kuburan kampung. Seremnya lagi bahwa lelaki jangkung itu melambaikan tangan kepada Om Sam. Malam hari, keluarga Om Sam melakukan ritus adat, tolak bala dengan mempersembahkan seekor ayam bulu tiga warna.

Bukan hanya Om Sam yang pingsan karena takut. Seorang nenek, juga mengaku pernah pingsan sepulang timba air karena sempat bertemu dengan lelaki jangkung yang berjalan menuju  kuburan.

Begitulah ceritera tentang si lelaki jangkung di atas batu di tengah kuburan.
Ceritera-ceritera itu begitu banyak versinya. Seperti yang kami dengar sore itu di rumah kami.

Begitulah kampung kami. Kisah tentang lelaku jangkung di atas batu selalu heboh apa lagi musim seperti ini.

Konon katanya, lelaki itulah yang mengundang kabut itu. Lelaki jangkung dan kabut yang menyelimuti kampung itu adalah satu. Lelaki tua ada pada saat kabut, kabut datang karena lelaki jangkung itu mengundang. Malah bapa-bapa bilang bahwa kabut yang setia menyelimuti kampung kami adalah asap rokok sang lelaki jangkung di atas batu di tengah kuburan.

Malam menjelang tidur, mama memanggil saya untuk tidur di kamarnya

“Jangan jalan sendiri, jika ada kabut! Demikian pesan mama saat saya sudah pulas.

Kabut di luar semakin tebal dan tidak ada lagi suara yang terdengar dari rumah-rumah tetangga.

Burung hantu berbunyi dari puncak pohon kemiri di belakang rumah.

Dan mama merangkulku hangat, kisah lelaki jangkung lenyap bersama senyap karena aku tetap terlelap dalam rangkulan itu.

Aku tak tahu, apakah mama juga takut dengan lelaki jangkung di atas batu itu atau tidak. Bagiku, lelaki jangkung yang membuat heboh itu tidak akan mampu menembus tembok kasih yang kami bangun di dalam rumah kami.

Tengah malam aku terjaga, kulihat lampu pelita masih menyala di ruang tengah. Aku mendengar suara mendesis, dari situ. Aku tidak melihat kekasihku di sisiku. Aku menjadi cemas, jangan sampai dia dibawa lelaki jangkung.

Lalu aku spontan melompat dari tempat tidur dan menerobos masuk ruang tengah.

Dan ternyata, kekasihku sedang menganyam tikar pandan sambil mendesis berdoa.

Mama, tidak takut lelaki jangkung dari kuburan? Tanyaku dengan suara parau karena masih mengantuk.

Dia menoleh dan tersenyum.

Ini rumah kita! Lelaki jangkung itu rumahnya di kuburan! Jadi tidak mungkin dia kemari! Jawabnya.

Berarti di dalam rumah dilarang takut?

Ya, di luar rumah jangan pergi saat kabut turun! Jawabnya sambil tersenyum.

Lalu kami berdua berpelukan.

Ayo, kamu makan! Tadi kamu tidur tapi tidak makan.

Semua gara-gara lelaki jangkung di atas batu di tengah kuburan umum.

Heboh.

 

3 Comments to "Lelaki Jangkung di Atas Batu (Episode Kabut Masuk Kampung)"

  1. J C  4 November, 2013 at 06:38

    Hahaha…komentar no 2, pak Djoko memang paling bisa…hahaha…

    Tapi memang banyak sekali fenomena seperti ini, yang seharusnya biasa-biasa saja tapi karena dibesar-besarkan jadi terdengar dan kelihatan sangat menyeramkan…

  2. Dj. 813  1 November, 2013 at 00:05

    Hallo Wendly Jebatu….
    Terimakasih untuk cerita laki-laki jangkungnya.
    Di Mainz hari ini juga berkabut sangat tebal.
    Tapi sekitar 50 Mtr. tidak bisa lihat apa-apa lagi.

    Laki-laki jangkun ada di Baltyra, lurah kita.

    Salam,

  3. James  31 October, 2013 at 10:49

    SATOE, Lelaki Jangkung diatas tangga

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.