Sinengker

Chandra Sasadara

 

Artikel sebelumnya:

Pindah Rumah

Dukun

 

Rep sidhem premanem,

Tan ana sabawane walang ngalisik,

Gegodhongan datan ana obah,

Samirana datan ana lumampah

 

Sunyi senyap, tak seekor belalang pun bersuara. Daun-daun tak bergerak, angin seolah berhenti. Semua orang yang hadir di gubuk nenek juga diam. Mereka menunggu nenek. Aku sendiri mulai gelisah. Apa yang dilakukan nenek di dalam gubuknya? Bukankah kami semua datang karena diundang oleh nenek. Setidaknya itulah yang dikatakan ibu. Menurut ibu, nenek meminta datang Pakde Wahab, Mas Ribon, enam orang berpakaian serba hitam yang katanya murid Mbah Dongkol.

Pakde Wahab duduk gelisah. Sedangkan Mas Ribon, entah mengapa sejak datang tidak berhenti meneteskan air mata dan sesekali memegang tangan ibu. Enam laki-lagi setengah baya yang berpakaian hitam itu juga mengeraskan rahangnya, wajah mereka memerah dengan air mata yang hampir jatuh. Mereka seolah diliputi kecemasan.

Hanya ibu yang kelihatan tenang, tidak ada ombak yang menyapu wajahnya. Mata itu, aku kenal mata itu. Tenang, damai dan dalam. Mata ibu kelihatan berbinar, sesekali ibu membagi senyum kepada semua yang hadir di gubuk. Mas Ribon, enam orang murid Mbah Dongkol dan Pakde Wahab seolah menebarkan kegelisahan, namun ibu mengimbangi dengan ketenangan. Kepada ibu aku berusaha memahami apa yang akan terjadi dengan nenek malam itu. Kalau ada sesuatu yang begitu penting akan terjadi pada nenek, mungkin ibulah orang yang paling gelisah malam ini. Tapi justru wajah ibu menujukkan tanda bahwa tidak akan terjadi apapun kepada nenek.

Kalau bukan karena wajah ibu yang begitu tenang, aku pun pasti khawatir dengan suasana seperti ini. Suasana yang mengingatkanku pada peristiwa meninggalnya Mbah Dongkol beberapa tahun lalu. Semua orang dipanggil oleh Mbah Dongkol, seolah benar-benar akan pindah rumah. Namun nyatanya setelah semua keluarga berkumpul Mbah Dongkol melepas kehidupanya. Mbah Dongkol meninggal di depan anak, cucu dan orang-orang yang mencintainya.

Mungkin aku berlebihan. Tapi untuk apa nenek memanggil orang-orang ini? Apakah nenek punya rencana untuk menjelaskan sesuatu. Setahuku nenek bukan orang yang banyak bicara. Terhitung tiga bulan ini aku tidak melihat nenek bicara dan selama waktu itu hanya enam atau  tujuh kali aku melihat nenek keluar dari gubuk. Hanya ibu yang tiap pagi mengantarkan sirih, gambir, kapur dan kencur yang telah dikupas ke dalam gubuk. Ibu juga tidak cerita apa pun tentang nenek yang tidak bicara selama tiga bulan terakhir.

Setelah kami menunggu beberapa lama, akhirnya suara gesekan dipan bambu dari dalam gubuk berderit. Nenek keluar dari gubuknya. Wajahnya begitu bersih. Rambut digelung di atas ubun-ubun, tiga melati tertancap di atasnya. Mulutnya bersih dari warna merah bekas sirih. Wajahnya nampak lebih muda dibanding usianya. Tapi entah mengapa, hatiku gelisah dengan keadaan ini.  Ada sesuatu yang begitu kuat memancar dari kilatan matanya.

*****

Perempuan itu telah beberapa hari duduk di batang pohon waru yang melengkung di pantai desa. Ia seperti sedang mengukur batas cakrawala, mengitung datangnya ombak atau mungkin menunggu kumpulan camar melintas di atas riak air laut yang sedang dimainkan sekawanan lumba-lumba. Orang-orang di desanya menyangka ia sedang memikirkan perjodohanya dengan kepala desa sebagai istri kedua.

Perempuan muda itu sebenarnya sedang memikirkan mimpinya sekaligus belitan perjodohannya. Berkali-kali ia mendapat mimpi yang sama. Mimpi yang seolah mendorongnya untuk melakukan tindakan drastis dalam hidupnya. Mimpi itu tidak menghantuinya, tidak juga membuatnya takut, tapi menggedor-gedor hatinya. Semakin ia tolak mimpi itu, seperti sengaja mimpi itu datang lagi dan lagi.

Ia melihat awan pekat mengepung gugusan manusia di atas tanah lapang. Seseorang yang dikenalnya mencoba menembus awan itu dan yang terjadi adalah peristiwa mengerikan. Orang itu tersambar petir, tapi mungkin juga bukan petir. Seperti gulungan cahaya yang keluar dari awan pekat. Orang itu  mengerang sebelum pecah menjadi serpihan dan hilang. Namun yang  tidak disangka, cahaya itu melesat dan masuk dalam tubuhnya. Tubuhnya bergetar dan ia pun roboh, namun seketika awan pekat yang memayungi langit dan mengepung manusia di tanah lapang hilang. Langit kembali terang dengan warna biru membentang di antara kilau cahaya matahari.

Ya, mimpi itu. Mimpi itu telah memberikan pentunjuk bahwa ada sesuatu yang besar menunggu dalam hidupnya. Sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan batinya. Tentu saja itu pilihan yang tidak bisa ditolak sebab menurut cerita ibunya, moyangnya dulu merupakan orang-orang yang hidup dengan laku batin yang kuat. Perempuan muda itu meyakini bahwa dirinya hanya sekedar melanjutkan warisan laku batin yang selama ini dipraktekkan moyangnya. Namun perjodohan dengan kepala desa sebagai istri kedua yang telah diatur oleh orang tuanya membuat dirinya goyah. Melakukan laku batin artinya meninggalkan hidup enak sebagai istri kepala desa, sedangkan menjadi istri muda kepala desa sama saja dengan masuk kedalam kenikmatan dunia, kenikmatan badani dan kemewahana benda-benda.

Langit berwarna lembayung. Matahari telah meredupkan cahayanya di ujung barat, namun jawaban yang dicari tidak kunjung datang. Bimbang masih menyelimuti hatinya. Menjadi istri muda kepala desa atau memilih jalan batin. Perempuan itu menarik nafas sambil tidak henti-hentinya menatap ombak yang silih berganti menghempas pantai. Ia bertekad tidak akan beranjak dari duduknya sampai jawaban yang ia inginkan datang. Perempuan muda itu bertekad bermalam di pantai yang sepi itu. “Gusti, aku serahkan kepada-Mu.”

*****

Perhelatan di balai desa itu tidak mewah meskipun ia dinikahi oleh seorang kepala desa kaya. Itu satu syarat yang diajukan kepada kepala desa. Pesta pernikahan yang sederhana. Pilihan itu diharapkan bisa membuat madunya tidak lebih sakit hati. Sebagai perempuan, ia bisa merasakan bagaimana sakitnya berbagi ranjang dengan perempuan lain untuk laki-laki yang dicintai dan dibanggakan.

Pernikahanya dengan kepala desa berjalan baik sampai ia mendengar kabar bahwa madunya, istri tua kepala desa meminta untuk diceraikan. Hatinya ikut sakit. Ia berusaha untuk bertemu dengan istri tua kepala desa, namun tidak berhasil. Padahal ia hanya ingin mengatakan, kalau perceraian itu karena kehadiranya sebagai istri muda lebih baik dirinya saja yang bercerai dengan kepala desa. Istri pertama kepala desa telah memiliki seorang anak sedangkan dirinya belum. Lagian dirinya tidak mau merebut kebahagiaan perempuan lain dari orang yang dicintainya.

Perceraian istri pertama kepala desa tidak bisa dicegahnya. Meskipun dirinya ikut merasa sakit atas perceraian itu, pernikahanya dengan kepala desa harus berlanjut apalagi ia sendiri sedang hamil muda. Ia mulai belajar bahwa menjadi istri kepala desa harus bersedia untuk berbagi ranjang dengan perempuan lain yang lebih muda dari dirinya. Tekadnya sudah bulat, berapapun perempuan yang kelak akan menjadi madunya tidak akan menggoyahkan batinya.

Setelah bayi perempuanya lahir, perceraiannya pun tidak dapat dicegah. Ia memilih bercerai dengan kepala desa, bukan karena ada perempuan lain. Ibu muda itu memilih bercerai dengan suaminya karena dianggap tidak mampu melindungi warganya dari pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang dari desa tetangga.  Banyak laki-laki di kampungnya yang meregang nyawa hanya karena menjadi anggota serikat petani. Ia kecewa kepada suaminya yang tidak menggunakan wewenang dan kekuasaanya untuk melindungi warga dari pembunuhan tidak berguna. Ia juga kecewa kepada orang-orang yang dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain.

Bersama bayinya, ibu muda itu menempati gubuk di tengah pategalan di pinggir desa. Gubuk yang biasa digunakan oleh  para tukang angon hewan ternak milik kepala desa. Jauh dari hiruk pikuk desa, di tengah pategalan yang sepi, ibu muda itu mulai menggerus kekecewaannya. Menata batinnya untuk memenuhi garis hidup seperti yang ia lihat dalam mimpi. Ia bertekad untuk mencapai kaweruh kang sinengker, pengetahuan tersembunyi.

*****

Opo tho kang kasebat kaweruh sinengker?” Kalimat nenek itu tak urung membuat aku kaget. Apa maksud nenek bertanya tentang itu. Pertanyaan yang tidak mungkin kami jawab di depan nenek. Lagi pula siapa yang tahu jawaban dari pertanyaan semacam itu, mungkin hanya ibu. Aku merilirik ke ibu, tidak ada tanda-tanda ibu akan menjawab pertanyaan nenek.

Kaweruh sinengker itu pengetahuan yang tidak dibagi oleh Gusti Allah kepada semua manusia, mung manungso kang kinasihan Gusti yang kebagian pengetahuan itu.” Itu penjelasan paling utuh yang pernah aku dengar dari nenek selama ini. Tentu saja itu penjelasan seperti itu tidak biasa, nenek biasanya hanya memberikan senepo, perlambang ketika menjelaskan atau menasehati orang lain.

“Salah satunya yang sinengker itu adalah kematian.” Kalimat pendek itu diucapkan secara datar oleh nenek, tapi tak urung membuat jantungku berpacu lebih cepat. Aku menduga, kami semua dikumpulkan untuk mendengar nenek berpamitan. Tidak mungkin nenek menjelaskan tentang kematian kalau tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat. Aku duga nenek telah mengetahui kematinya.

Setelah mengucapkan kalimat itu nenek diam, memjamkan mata sebentar kemudian menatap kami satu persatu. Semua yang hadir di gubuk nenek tidak ada yang berani mengangkat dagu kecuali aku yang sesekali melirik kearah nenek. Kira-kira apa yang diperhatikan nenek terhadap kami. Enam orang laki-laki berpakaian hitam itu kelihatannya tidak lagi mampu menahan air matanya setelah mendengar kalimat nenek tentang kematian. Sedangkan Mas Ribon menahan ledakan tangisnya dengan tubuh bergoncang. Ibu memejamkan mata sambil memegang tangan Mas Ribon. Aku tahu ibu berusaha untuk menenangkan Mas Ribon dari goncangan perasaan.

Bagi orang lain, kematian nenek merupakan sesuatu yang wajar mengingat usia yang telah memasuki 92 tahun. Namun bagi orang seperti  Mas Ribon, nenek merupakan ibunya meskipun bukan perempuan yang melahirkannya. Mas Ribon pernah mengatakan bahwa nenek adalah ibu yang membimbing jalan cintanya kepada Gusti Allah.

“Ribon, kamu sambut tamu yang akan datang.” Tiba-tiba nenek mengalihkan pembicaraan. Kami semua terperanjat, tamu siapa? Siapa yang bertamu di gubuk reyot pada tabuh ketiga dini hari. Lagi pula, tidak ada tanda akan datang tamu. Apakah tamu yang dimaksud nenek ini terkait dengan penjelasan tentang kaweruh sinengker dan kematian? Kalau benar begitu, mengapa kami semua memiliki pikiran yang sama, bahwa penjelasan nenek tentang kematian itu justru isyarat nenek untuk berpamitan. Atau mungkin kami saja yang berlebihan, entalah.

Benar saja, sejumlah orang masuk halaman gubuk nenek. Mereka tamu yang dimaksud oleh nenek. Seseorang dibawa dengan tandu, diikuti oleh tujuh orang laki-laki dan dua orang perempuan. Kelihatanya laki-laki dalam tandu itu sedang sekarat. Suara mendekur keras keluar dari kerongkongan, mulut terbuka dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Mas Ribon dengan cepat menggelar tikar pandan dan meminta ketujuh tamu laki-laki untuk memindahkan orang sakit itu di atas tikar di lantai bambu di depan nenek.  Nenek tetap pada posisi semula, duduk simpuh, mata terpejam dan tangan di atas paha. Kami semua diam menunggu apa yang akan dilakukan oleh nenek.

“Ibu, keadaan ini telah diderita bapak selama hampir dua minggu.” Salah seorang perempuan  menyampaikan kondisi orang tua yang terlentang di depan nenek.

“Dokter menyarankan bapak dirawat di rumah saja dan kami telah pasrah dengan keadaan ini” Perempuan satunya itu menambahkan.

“Ibarat orang yang sedang berjalan bapakmu terlalu banyak memikul beban.” Kata nenek pelan dengan mata tetap terpejam.

“Apa yang harus kami lakukan Ibu.” Salah seorang tamu laki-laki memberanikan diri bertanya pada nenek.

“Kasian bapakmu, bawa pulang dia.”  Nenek mengucapkan kalimat itu sambil mengelus ubun-ubun laki-laki tua yang sedang sekarat itu. Suara mendekurnya tiba-tiba hilang. Sedetik kemudian Mas Ribon dan Ibu secara bersamaan mengucapkan kalimat innalilahi wa innailahi roji’un lalu disusul dengan jeritan dan tangisan para tamu lainya yang menyertainya.

Aku masih terpaku dengan peristiwa di depan mataku, tidak mengerti dan tidak bisa menalar. Bagaimana caranya nenek melepaskan tali kehidupan laki-laki yang telah berminggu-minggu sekarat hanya dengan mengusap ubun-ubunnya. Apakah kemampuan itu juga masuk dalam penjelasan tentang kaweruh kang sinengker yang barusan dijelaskan nenek, entahlah.

Kami kembali diam di depan nenek setelah mayat laki-laki tua dan keluarganya meninggalkan gubuk. Aku sendiri lega, dugaanku salah. Penjelasan nenek tentang kematian berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Bukan kematian nenek sendiri.

“Yang berat itu sembilan tahap kehidupan di antara mijil dan pocung.” Nenek mulai menjelaskan tahap kehidupan dan kesadaran manusia berdasarkan susunan tembang macapat mulai dari mijil, maskumambang, sinom, asmaradana, kinanthi, durma, dhandhanggula, dan pangkur.

“Setelah tahap dan kesadaran pengkur dicapai, manusia masuk ke dalam kesadaran gambuh. Gambuh itu kesadaran mbuh atau tidak peduli. Suatu kesadaran manusia yang sudah lepas dari semua keterikatan duniawi, termasuk keterikatan dengan agama itu sendiri.” Nenek menjelaskan tentang kesadaran gambuh dengan mata bersinar-sinar dan tidak berhenti tersenyum.

“Sedangkan megatruh itu saat-saat akhir hidup manusia. Lepasnya badan kasar dengan dengan Ruh, pada tingkat ini diharapkan kesadaran sudah mampu lepas dari semua keterikatan.” Entah mengapa, ada perasaan tenang saat mendengarkan penjelasan nenek. Aku mencoba melirik Mas Ribon, laki-laki 40-an tahun itu kembali berurai air mata. Apa yang ditangisi Mas Ribon, pikirku.

“Tahap terakhir adalah kesadaran tentang puputnya perjalanan manusia dan akan mamasuki tahap kehidupan selanjutnya dengan kesadaran yang lebih tinggi. Kesadaran itu yang disebut dengan pocung.” Selesai dengan kalimatnya, nenek tersenyum dan menatap kami satu persatu.  Tiba-tiba Mas Ribon meraih dan mencium tangan nenek yang sedang duduk bersandar di dinding bambu gubuknya. Secara bersamaan ibu, Pakde Wahab dan enam orang laki-laki berpakaian hitam  mengucapkan kalimat innalillahi wa innailaihi roji’un. Nenek menelepaskan tali hidupnya sendiri bersamaan dengan terucapnya kata pocung dari bibirnya.

 

10 Comments to "Sinengker"

  1. J C  4 November, 2013 at 06:51

    Kang Chandra, kalau saja lebih banyak orang yang bisa mencapai pemahaman seperti si nenek, alangkah damainya Indonesia ini…cara penyampaian dan pemahaman Panjenengan untuk spiritualitas memang duahsyuat sekali…muanteeeepp bacanya…

  2. Chandra Sasadara  2 November, 2013 at 13:32

    Bu alvina : kalimat pertama dan kedua pada paragrap awal itu terjemahanya

  3. Alvina VB  2 November, 2013 at 11:42

    Mohon diterjemahkan mas:

    Rep sidhem premanem,

    Tan ana sabawane walang ngalisik,

    Gegodhongan datan ana obah,

    Samirana datan ana lumampah

  4. Chandra Sasadara  31 October, 2013 at 20:27

    Pak DJ terima kasih.. senang mendengar ada yg menikmati tulisan saya

  5. Chandra Sasadara  31 October, 2013 at 20:26

    Ah :
    Secara etimologi (bahasa), makna Zuhud tidak ada arti jika tidak disandarkan dengan idiom lainnya. Kata tersebut mesti disandarkan dengan idiom Az-Zuhdu ’an atau Az-Zuhdu min (menghindar dari) . Menurut bahasa Az-Zuhdu fid Dun-ya artinya: menjauh, melupakan, tidak peduli, menghindari (dunia) dll.

    kalau mengikuti arti di atas konsep zuhud sama dengan tingkat gambuh dalam ajaran Jawa. allah a’lam

  6. Chandra Sasadara  31 October, 2013 at 20:19

    Bu’ Lani dan Kang James Matur suwn telah singgah di Sinengker

  7. Dj. 813  31 October, 2013 at 19:54

    Mas Chandra Sasadara…
    Terimakasih untuk cerita yang sangat bagus…
    Dj. hanya heran,bagaiamana seseorang ( mas Chandra ) biisa membikin cerita yang seperti ini.
    Walau panjang, tapi tetapp enak untuk dibaca dan dimengerti.
    Salam Sejahtera dari Mainz.
    Dan ditunggu cerita berikutnya.

  8. ah  31 October, 2013 at 11:57

    gambuh sama nggak dengan zuhud mbah makin?

  9. James  31 October, 2013 at 10:44

    DOEA, senengkerja

  10. Lani  31 October, 2013 at 10:02

    Satoe Sinengker

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *