Berguru Pada Alam: Air (4)

djas Merahputih

 

I K H L A S

Tak ada zat yang melebihi keikhlasan sebuah unsur alam yang bernama AIR. Jika pada umumnya sebuah zat dapat berwujud padat, cair atau gas saja, maka air dapat kita temukan dalam ketiga wujud tersebut. Air begitu ikhlas untuk menuruti apa saja pesan ataupun kehendak alam pada dirinya.

Saat alam sedang gembira dan tenang air akan menjadi dirinya sendiri. Ketika semesta mulai kepanasan (marah) maka sebagian dari dirinya akan berubah wujud menjadi gas dalam bentuk uap air yang melayang ke angkasa. Lalu, saat dingin menusuk (sedih) sedang menyelimuti pertiwi air berubah wujud dan memadat menjadi es yang akan berkumpul di ujung samudera.

 air4 (1)

img01. Gunung Es

 

Ikhlas adalah sikap pasrah namun tanpa kehilangan dayanya. Suasana hanyut tapi tetap terkendali. Sebuah kekalahan yang sedang mencari celah kemenangannya. Bukan sebuah cahaya redup yang perlahan-lahan akan menemui ajalnya. Ada kekuatan dahsyat dibalik jejak-jejak keikhlasan, entah itu pada air maupun pada jiwa seorang manusia.

Ikhlas adalah kondisi kesiagaan jiwa untuk menjadi peluru peradaban yang dikendalikan olah Sang Pencipta. Jiwa yang ikhlas akan senantiasa tenang, tenang dan tenang. Seperti air yang bergerak perlahan dan anggun dari sebuah mata air kecil menuju tempat yang sedikit lebih rendah. Grafitasi kemudian menuntunnya, terus mengalir hingga bertemu dengan kawan-kawannya yang lain. Mereka bergandengan tangan dan kemudian bergabung, bergabung, dan bergabung lagi dengan sahabat lainnya yang terkadang juga berasal dari tetesan embun di dedaunan sepanjang sungai kecil di tengah hutan. Lalu, Ketika saatnya tiba kelembutan itu bisa saja segera berubah menjadi amarah berupa banjir bandang yang datang dengan tiba-tiba.

 air4 (2)

img02. Ikhlas dan Tenang

Mereka tak pernah membangkang apalagi tiba-tiba bergerak melawan arus. Semangatnya tak pernah pudar. Ia bisa saja diam sejenak saat bertemu dengan cekungan, namun akan segera berjalan kembali ketika cekungan itu telah terisi penuh. Mengalir bagaikan air, begitulah pesan kehidupan yang sering kita dengar.

Air mengajarkan kepada kita sebuah cara sederhana untuk menyikapi setiap persoalan yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Air mengabarkan bahwa alam semesta memiliki kehendaknya sendiri. Terkadang manusia bisa takabur dan mengatakan bahwa mereka telah menaklukkan alam. Namun Sang Pencipta sebagai pemilik mutlak alam semesta dengan mudah akan memusnahkan manusia-manusia sombong dan takabur tadi. Banjir dan Tsunami cukup menjadi pelajaran bagi mereka.

Keikhlasan air, sekali lagi, bukanlah sikap pasrah tanpa daya. Air mengalir dengan iklhlas mengikuti tuntunan alam semesta. Namun saat alam sedang murka maka Sang Air cukup mengenakan jubah anginnya untuk memporak-porandakan apapun yang bersentuhan dengannya. Badai angin sendiri mungkin masih meninggalkan kehidupan di darat, namun Badai Lautan, perpaduan ganasnya angin dan ikhlasnya lautan akan menjadi monster menakutkan bagi pelaut manapun.

 air4 (3)

img03. Badai di Lautan

Keiklhlasan jiwa seorang anak manusia bukanlah kepasrahan total terhadap nasibnya. Jiwa itu hanya diam sejenak seperti seorang penari ketika menanti dengan siaga sesaat sebelum tarian dimulai. Sang Jiwa penuh Keikhlasan akan segera menunjukkan pesonanya saat tabuhan musik mulai berbunyi mengiringi Tarian Kehidupan. Jiwa yang menari dengan jubah gemerlapan. Pesona Jiwa Keikhlasan tak akan dimiliki oleh jiwa-jiwa kerdil yang memilih untuk hanya menjadi penonton.

Bung Karno berpesan, “Gali! Bekerja! Gali! Bekerja…! dan kita adalah salah satu tanah air yang paling cantik di dunia…”. Tanah air yang cantik tak akan dinikmati oleh jiwa-jiwa kerdil yang hanya pasrah dan menunggu durian jatuh dari pohonnya. Tanah air yang cantik hanya akan dijumpai dan dinikmati oleh jiwa-jiwa merdeka yang ikhlas dan giat bekerja menumbuhkan serta merawat cita-cita Bangsa. Sedangkan jiwa yang hanya bisa tertawa dan memaki niscaya akan tersisih ke tepian panggung untuk menerima takdirnya sebagai penonton.

Samudera, ya…. samudera. Sebuah kekuatan yang dikagumi oleh Bung Karno, adalah sekumpulan jiwa-jiwa ikhlas yang telah sukses melalui liku dan terjalnya perjalanan kehidupan di setiap aliran sungai yang dilaluinya. Mereka gembira dan tak lupa menghibur siapapun yang tengah menyaksikan ombaknya berkejaran di tepi pantai. Ombak kecil yang lembut, namun kekuatan sesungguhnya cukup untuk menuntaskan sebuah Revolusi. Sebuah hal yang ditakuti, namun siapakah yang bisa menentang kehendak Alam Semesta..? Kehendak dari yang Maha Ada….??

 air4 (4)

img04. Ombak Samudera

Air telah menyampaikan pesan tidak tertulis dari alam semesta. Di sisi lain pesan semesta sebenarnya telah tertulis dalam kitab-kitab suci umat manusia. Namun cakupannya berbeda-beda sesuai dengan tempat dan pada kaum mana kitab-kitab suci itu ditujukan. Diciptakan berbeda untuk saling melengkapi seperti halnya sebuah kepingan puzzle dalam kehidupan antar bangsa. Identitas tercipta untuk mengenal perbedaan masing-masing dan seperti dua buah kutub magnet yang berbeda maka seharusnya perbedaan itu menyatukan mereka dengan lebih erat.

==================

 

Artikel berguru pada alam: air, sebelumnya :

(1) Mengenal wujud, peran dan manfaat air

(2) Berkomunikasi dengan air        

(3) Kebersamaan

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Berguru Pada Alam: Air (4)"

  1. djasMerahputih  6 November, 2013 at 12:45

    5: thanks sdh mampir kang JC..

    Benar kata kang JC. Semua tercipta berpasang-pasangan..
    Yin dan yang saling menguatkan satu sama lain, jika proporsinya seimbang.

    Salam Sedjuk

  2. J C  6 November, 2013 at 05:46

    Pada dasarnya sifat di dunia ini berimbang yin dan yang, sama juga dengan air. Air jelas “teman yang sangat baik” untuk manusia sekaligus “menakutkan” jika sedang mengamuk (banjir, tsunami, dsb). Sama halnya dengan tubuh kita dan makanan yang kita telan setiap hari, bisa menjadi kawan baik namun juga bisa “mengamuk” dan “mutung” (ngambek) menunjukkan protes dengan sakit ini dan itu…

  3. djasMerahputih  5 November, 2013 at 22:14

    3: Thanks sudah mampir mba Dewi..

    Permukaan Bumi dan tubuh manusia didominasi oleh air.
    Tapi kebanyakan kita belum mengenal sifat-sifat air itu sendiri.
    Lewat beberapa tulisan ini djas mencoba sharing opini,
    berdasarkan renungan dan telaah tentang perilaku air tersebut.
    Mudah2an bisa bermanfaat dan merangsang keingintahuan kita semua.

    Salam Sedjuk

  4. Dewi Aichi  5 November, 2013 at 22:00

    Mengikuti tulisan djasMerahputih dari 1 sampai yang 4 ini, banyak hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran hidup, terima kasih djas…..sharing tulisan yang sangat bermanfaat.

  5. djasMerahputih  5 November, 2013 at 21:43

    1: Makasih sudah mampir om DJ…
    Semoga tetap sehat dan bahagia di Mainz

    Benar kata Om DJ, sikap fleksibel bukan berarti tidak bisa tegas.
    Terutama dengan prinsip hidup yang diyakini masing-masing,
    sebab prinsip hidup itulah yang membentuk karakter seseorang.

    Salam hangat dari tanah air.

  6. Dj. 813  4 November, 2013 at 19:52

    djas Merahputih….
    Terimakasih selalu diingatkan dengan contoh air yang kelihatan sangat tenang.
    Tapi bisa menghanyutka dan bisa melanda menjadi malapetaka ( Tsunami )
    Ada saatnya seseorang bisa duduk diam dan tenang, hanya sekedar memakai pendengarannya saja.
    tapi ada saatnya manusia harus tegas,

    Salam Sejahtera dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.