Sinta Ridwan Menyingkap Aksara Kuno

Kurnia Effendi

 

Perjalanan hidup adalah sebuah proses dan kematian adalah final.
Kematian adalah jodoh yang pasti datang mendampingi kita untuk melangkah di kehidupan yang baru.

 

Dua kalimat di atas dikutip dari prolog novel Berteman dengan Kematian: Catatan Gadis Lupus karya Sinta Ridwan yang terbit 2010. Sinta menulis novel itu tentu dengan sejumlah alasan. Prosesnya pun cukup panjang. Sesungguhnya, ia sedang menuangkan rasa cemas sekaligus harapan-harapannya yang ingin diraih. Ia sedang berlomba dengan waktu.

 

BERSANDING LUPUS

Sejak divonis menderita lupus pada 2005, Sinta giat mencari tahu tentang penyakit tersebut. Dimulai dari hal-hal yang dirasakannya sebagai pengalaman sendiri. Kemudian berkonsultasi dengan paradokter yang merawatnya. Selain itu, ia juga mencari informasi dari berbagai buku dan referensi melalui internet. Dari banyak sumber disebutkan bahwa dalam dunia medis belum ditemukan obat untuk melerai penyakit lupus.

Seperti diungkap dalam buku kecil Carefor Lupus (ditulis oleh Syamsi Dhuha), “lupus” adalah suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus. Seseorang dikatakan menderita penyakit LupusErythematosus saat tubuhnya menjadi alergi terhadap diri sendiri. Lupus adalah istilah dari bahasa Latin yang berarti serigala. Penderita penyakit ini umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi. Serupa yang terjadi di pipi serigala, tetapi berwarna putih.

Sinta tak pernah menduga sama sekali dirinya akan menerima musibah ini. Ia masih sangat muda saat itu, 20 tahun. Masih menjadi mahasiswa STBA Yapari Bandung, mengambil bidang studi bahasa Inggris. Ia baru saja meninggalkan masa remaja, sedang bergairah menuntut ilmu dan membangun harapan. Di saat orang-orang seusianya mencari jati diri, menjadi kreatif dan produktif, ia justru harus menghadapi proses pengobatan. Wajar jika dia sempat merasa shock.

Ketika penyakit ini menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia, disebut Systemic LupusErythematosus (SLE). Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada kasus lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan memproduksi terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah melawan jaringan tubuh sendiri. Lupus disebut sebagai autoimmunedisease (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan).

Jenis penyakit lupus memiliki tiga macam bentuk. Pertama, CutaneusLupus yang kerap disebut discoid dan berpengaruh terhadap kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, DrugInduced Lupus (DIL) yang timbul akibat penggunaan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian obat dihentikan, umumnya gejala akan hilang. Biasanya, odapus (orang hidup dengan lupus) akan menghindari hal-hal yang dapat membuat penyakitnya kambuh. Antara lain dengan menghindari stress, menjaga agar tidak langsung terkena sinar matahari, mengurangi beban kerja yang berlebihan, dan menjauhi pemakaian obat tertentu.

Odapus dapat memeriksakan diri pada dokter-dokter spesialis penyakit dalam. Melakukan konsultasi hematology, rheumatology, ginjal, hipertensi, dan alergi imunologi. Biasanya penderita lupus minum obat dari dokter secara teratur (seumur hidup), untuk bergiat layaknya orang normal.

Konon senjata untuk melawan lupus adalah perasaan bahagia. Alternatif yang terpikir oleh Sinta adalah obat itu harus dicari dari dalam dirinya. Sesuatu yang bersifat spiritual, yang terlahir dalam bentuk semangat hidup untuk meraih kebahagiaan.

“Saya ingin sekali mendapatkan obat itu, karena saya ingin sembuh. Dan obat itu adalah kebahagiaan,” ujarnya dengan optimis. Ia lebih memandang sisi positif dan harapan masa depan ketimbang meratapi dan menghabiskan waktu untuk berputus asa.

Persoalan serius yang dihadapi Sinta adalah serangan lupus terhadap organ tubuh dengan ancaman kematian. Secara psikologis, masalah ini tentu tidak sederhana. Siapa pun akan sulit menerima atau menyikapinya. Serupa seseorang yang menerima hukuman tanpa tahu kesalahannya. Ini sangat mengganggu masa depannya yang masih panjang. Namun dalam perjalanan perenungannya, Sinta memutuskan untuk mengisi dan memaknai waktu yang disongsongnya. Dengan menjalani kehidupan yang bermanfaat bagi diri dan orang lain, ia yakin akan mendapatkan kebahagiaan. Ya, Sinta harus mengatasi ketakutan bukan dengan cara melawannya. Ia ingin mewarnai hidupnya, dengan cara berdamai dengan kematian.

Warnai hidup dengan pelangi.
Bahagia adalah obat.
Siapa yang tidak ingin bahagia?
Tujuan hidup ini adalah mencapai puncak kebahagiaan hingga pada akhirnya melepaskan semuanya. 

Demikian ia tuliskan perasaannya yang terdalam. Sinta bagai menemukan tujuan yang paling hakiki dalam hidup.

Keputusan itu yang membuat Sinta menikmatiwaktu yang diberikan Tuhan untuk terus bergiat dengan semangat dan ringan hati. Ia mengaku, sebetulnya merasa kurang nyaman berada di tengah kawan-kawan pengidap penyakit dalam perkumpulan yang dilembagakan. Sebab ia tidak ingin turut larut dalam suasana murung. Namun jiwanya merasa terpanggil untuk sesekali bergabung dan berbagi pengalaman mengenai lupus. Dalam pertemuan sharing seperti itu, Sinta harus menyiapkan mental supaya tegar, tidak gelisah, apalagi sampai kehilangan harapan.

“Saya tidak boleh ikut cemas, justru harus menerima semuanya dengan lapang dada. Dulu ketika divonis mengidap lupus, saya marah dan kecewa sekali. Tapi sekarang, ia saya jadikan teman,” katanya. Tentu sangat manusiawi jika Sinta pun merasa takut pada kematian.

 

PILIHANLANGKA

Setelah empat tahun (2005-2008) berlangsung dalam perjuangan, Sinta mendapatkan kesadaran dan menemukan jalan yang tepat untuk ditempuh. Selepas dari STIBA Yapari Jurusan Sastra Inggris di Bandung, sembari bekerja ia mengambil master di bidang filologi. Sebuah pilihan langka yang tidak populer bagi kaum muda. Di tengah dinamika anak-anak muda berebut bidang studi teknologi informatika atau komunikasi dan audio visual, Sinta justru memilih ilmu filologi yang ‘hanya’ mengurusi naskah kuno. Baginya, itu erat hubungannya dengan kegemarannya membaca dan menulis. Ia memang sudah lama menyukai sastra. Awalnya Sinta suka membaca komik dan cerita anak ketika masih SD. Memasuki SMP, bacaannya bertambah dengan cerpen remaja. Itu sebabnya, saat SMA, Sinta memilih kelas Bahasa. Di SMA itu pula ia mulai menghayati puisi-puisi Chairil Anwar dan prosa-prosa Pujangga Baru.

Tidak aneh jika ia berkisah tentang dirinya melalui puisi dan novel. Sampai kini, sesekali Sinta menulis cerpen yang dimuat oleh media cetak di halaman sastra.

Minat Sinta tidak cukup berhenti di situ. Setelah meraih ijazah sarjana S2 Jurusan Filologi Universitas Padjadjaran Bandung, ia bahkan memutuskan melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3. Untuk memperdalam spesialisasi yang sama: mempelajari kebudayaan di masa silam yang tersurat dengan aksara kuno.

Setidaknya ada satu alasan lagi mengapa Sinta memilih kajian filologi, selain karena ia menggemari karya sastra. Menurutnya, warisan leluhur ini akan musnah begitu saja bila tidak ada lagi yang berminat mempelajarinya. Ia memiliki passion di sana dengan upaya membuka cakrawala pengetahuan mengenai khazanah naskah dan aksara di masa lampau. Dan Sinta tidak menyimpan pengetahuannya untuk diri sendiri.

Hal yang patut kita kagumi dari Sinta Ridwan adalah semangatnya untuk tetap hidup. Meski ia tahu bahwa seorang pengidap lupus sewaktu-waktu akan dijemput maut, ia memilih berdamai dengan kematian. Lebih penting mengisi “sisa” hidupnya dengan segala hal yang dapat dikenang panjang. Perubahan gaya hidup kesehariannya juga mendukung pertahanan fisiknya. Sinta yang dulu suka begadang, kini membatasi kegiatan agar tidakterlalu memforsir tubuhnya. Ia juga menghindari sengatan matahari yang kandungan ultravioletnya menjadi “musuh” lupus.

Dari waktu ke waktu, Sinta terus belajar dan berkarya. Selain bergelut menekuni naskah-naskah kuno yang pernah ada di Nusantara, Sinta juga menulis puisi. Secangkir Bintang adalah judul kumpulan puisinya yang terbit tahun 2009. Satu tahun sebelum novelnya dirilis. Puisi-puisi mengenai dirinya tentu.

Dalam memburu dan mempelajari aksara kuno, Sinta telah berkeliling sendiri ke berbagai daerah. Untuk mencari dokumen aksara dan naskah Sunda, misalnya, ia mendatangi wilayah Jawa Barat bagian utara dan selatan seperti Cirebon, Ciamis, dan Panjalu. Kemudian ia juga melanglang sampai ke Yogyakarta, Solo, Mojokerto, Malang, Bali, Lombok, bahkan sejumlah tempat di Kalimantan (seperti Banjarmasin dan Kutai Kertanegara).

Penyakit lupus yang dideritanya tak lagi menjadi hambatan bagi Sinta. Ia menjalani hidup dengan tabah dan bersahaja. Parasnya yang cantik dengan kepribadian hangat dan ceria tidak menampakkan bahwa di dalam tubuhnya terdapat masalah yang belum ada penawarnya. Sehari-hari Sinta aktif mengikuti berbagai kegiatan, berpakaian santai, berbicara diiringi senyum, kadang terkesan manja. Namun ia bisa penuh semangat saat bicara tentang nasib naskah-naskah kuno yang tak terawat dan banyak diperjualbelikan ke negara asing. Hanya para peneliti filologi yang mengetahui praktik perdagangan aset budaya itu.

Dengan pilihannya yang unik, Sinta berangan-angan memperdalam pengetahuan filologi ke Leiden, Belanda. Perjalanannya meneliti naskah kuno ke berbagai kota menuntun cita-citanya hendak mendirikan perpustakaan naskah-naskah Nusantara. Tentu perpustakaan yang berbeda dengan yang pernah ada. Dari Cirebon, kota kelahirannya, Sinta mendapatkan naskah yang menantang untuk dieksplorasi menjadi sebuah novel.

“Saya ingin menulis novel tentang Wangsakerta,” ujarnya bersemangat. Wangsakerta adalah seorang pangeran Kesultanan Cirebon yang merupakan tokoh penting dalam proses penulisan sejarah Nusantara tahun 1677.

sintaridwan01


KELAS AKSARA

Keinginan Sinta menyosialisasikan pengetahuannya tentang aksara kuno dan naskah kuno diawali dengan banyak bermain bersama kelompok metal di Ujung Berung, Jawa Barat. Banyak pemain band metal di kampung itu yang sering berkumpul dan melakukan sharing pengetahuan satu sama lain. Mengetahui Sinta menekuni filologi, mereka ingin tahu lebih jauh mengenai bidang studi itu. Maka terbentuklah “kelas” yang dibimbing oleh Sinta Ridwan untuk mempelajari aksara dan naskah kuno.

Bagai gayung bersambut, respon mereka saat diskusi cukup positif. Ada yang tertarik dan ingin belajar. Kebetulan saat itu komunitas metal sedang merintis upaya mengangkat budaya lokal, terutama kesenian dan bahasanya. Lalu, Ketua Komunitas Musik Metal “Bandung Death Metal Syndicate” yang bernama Man Jasad menyampaikan rasa ingin tahu serta mendukung kelas aksara yang Sinta bentuk itu. Dengan dukungan teman bernama Kimung, maka di bulan April 2009 dibukalah kelas dengan memanfaatkan tempat milik seorang pekerja network foundation di kawasan Dago. Sinta mengumumkan sendiri untuk mengundang calon murid menggunakan fasilitias jejaring sosial sepertiFacebook. Pada pembukaan kelas pertama kali, pesertanya sebanyak 35 orang. Mayoritas dari komunitas musik metal dan band senior yang berasal dari Ujung Berung.

Kepada mereka yang berminat, Sinta mengajarkan aksara Sunda. Lantaran peminatnya terus bertambah, meluas sampai para mahasiswa di luar komunitas, kelas dijadwalkan rutin setiap Jumat malam. Hasil pengajaran aksara Sunda di kalangan musisi metal rupanya dipraktikkan untuk membuat poster dan spanduk. Sinta senang karena ada manfaat langsung dari pengajarannya. Namun menurutnya, walaupun sekarang sudah ada program mengetik dengan aksara Sunda, masih diperlukan pemahaman tentang bahasa Sunda agar tidak asal tulis.

Sinta menerapkan metode pengajaran aksara Sunda dengan cara meminta peserta membaca satu kalimat. Apabila terdapat kesalahan, ia mengoreksi. Sinta melakukan pendekatan personal dalam mengajar, sehingga peserta merasa nyaman.

Melihat animo yang tinggi, pemilik tempat itu bermaksud menarik biaya dan meminta funding pada lembaga kebudayaan di luar negeri yang suka memberi dukungan dengan cara funding public space. Tentu Sinta menolak, karena tidak sesuai dengan tujuan awalnya. Sinta menginginkan kelas itu independen, tidak dimiliki oleh siapa pun. Ia tidaksetuju bila kelas itu digunakan untuk mencari uang. Dan apabila mereka harus membayar pada setiap pertemuan, kemungkinan satu per satu mundur. Oleh karena itu, Sinta akhirnya menghentikan kegiatan.

Sekitar setengah tahun kelas diliburkan karena belum mendapat tempat pengganti. Semangat Sinta sempat merosot. Sampai suatu saat puisi Sinta dilagukan oleh seorang musisi balada bernama Mukti-Mukti. Rupanya Mukti-Mukti telah lama berhasrat mempelajari aksara Sunda. Sebagai orang yang sudah sering main musik di Gedung Indonesia Menggugat (GIM)—yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung—Mukti-Mukti kemudian menawarkan tempat untuk membuka kelas kembali di gedung itu. Hanief bertindak selaku ketua yayasan karena dia pengelola GIM yang memberi fasilitas ruangan gratis di gedung itu untuk belajar aksara.

Alangkah gembira Sinta memperoleh kesempatan yang ditunggu-tunggu itu. Maka, walaupun jarak tempat kos Sinta dengan GIM cukup jauh, Sinta menyambut tawaran itu. Sinta memerlukan waktu sekitar 45 menit naik sepeda motor dari tempat kos ke GIM, tapi tidak menyurutkan semangatnya. Niat Sinta untuk mengajarkan aksara dan bahasa Sunda kuno jauh lebih besar. Kelas Aksara Kuna atau Aksakun, demikian mereka menamainya, dibuka kembali. Man Jasad kembali mendukung penuh sejak Oktober 2010. Setelah berlangsung beberapa kali, Mukti-Mukti ikut memberi support.

Promosi kelas aksara merambah gencar lewat dunia maya, membuat Sinta ditawari mengajar sampai ke luar Jawa. Tentu permintaan itu tidak semuanya dapat dikabulkan mengingat kondisi badan Sinta terbatas akibat lupus yang dideritanya. Selain itu, diperlukan dukungan finansial untuk mengajar di daerah, sebagaimana yang pernah dilakukannya di Raja Ampat. Namun ternyata ada pula orang asing yang rela datang ke Bandung untuk belajar aksara kepada Sinta. Bahkan menginap di tempat kontrakan Sinta.

Tidak setiap orang yang berminat pada aksara Sunda memiliki kesempatan belajar secara formal. Itulah motivasi Sinta, mengapa ia bersedia berbagi ilmu. Sinta sudah merasakan, betapa mahal dan sulit untuk belajar mendalami filologi.

 

MUSEUM DIGITAL

“Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Sinta Ridwan menyitir larik salah satupuisi Chairil Anwar untuk memompa semangatnya. Semangat seorang gadis yang sejak remaja sudah ditempa berbagai pengalaman pahit. Ayah dan neneknya meninggal dalam waktu yang berdekatan. Sementara dia harus menghadapi kenyataan menderita penyakit lupus. Hal itu terjadi ketika ia sedang tumbuh untuk menyusun hari depannya.

Sebagaimana yang tertulis dalam novelnya, Sinta telah berdamai dengan ketakutan menghadapi kematian. Problem terberat dalam hidupnya dapat ditangkis dengan sikapnya yang selalu riang. Gadis penggemar band indie pop Cherry Bombshell ini tidak pernah mendramatisasi nasibnya demi memperoleh simpati dan empati. Oleh karena itu, ketika iamendapatkan bantuan berupa 3 buah laptop dan uang lima puluh juta rupiah, ia merasa terkejut dan terharu. Matanya berkaca-kaca, meski dengan bibir terus tersenyum, menyampaikan terima kasih atas perhatian yang tak terduga itu. Penghargaan itu diterima di depan murid-muridnya seusai pelajaran di kelasnya.

”Saat saya mengawali kegiatan ini, saya tidak bermaksud meminta bantuan,” kata Sinta menahan haru. Bantuan dari PT. Datascrip dan perusahaan farmasi itu ditujukan untuk menunjang kegiatan Sinta bersama Kelas Aksara Kuna yang dirintisnya sejak 2009. Terkait dengan kuliahnya, Sinta memang sedang meneliti naskah dan aksara kuno yang ada di Nusantara. Uang sumbangan itu kemudian digunakan Sinta untuk kegiatan kunjungan ke perpustakaan dan museum di wilayah Nusantara.

Sinta bercita-cita hendak membuat “museum” digital berisi tentang data naskah-naskah kuno dari berbagai daerah di Nusantara. Kunjungannya ke beberapa daerah, selain meneliti juga dalam rangka mengumpulkan data dan bahan sebanyak mungkin.

Sinta sangat prihatin melihat kenyataan di perpustakaan atau museum-museum yang dia kunjungi. Banyak naskah dari zaman lampau tidak dirawat dengan layak. Dokumen bersejarah itu ditumpuk ala kadarnya, tanpa ditangani secara khusus. Keadaan dokumen asli itu terlihat lusuh dan bau apak karena berdebu.

”Ada perpustakaan di Kalimantan Timur yang berusaha merawat arsip kuno, tapi caranya salah,” tutur Sinta.  ”Perpustakaan itu menumpuk arsip kuno berbahan kertas dan daun lontar di dalam plastik. Padahal dengan cara itu justru akan mempercepat kerusakan karena lembap.”

Pengelola Perpustakaan Nasional di Jakarta menunjukkan kepada Sinta cara perawatan yang lebih baik. Sejumlah naskah kuno disimpan di dalam ruangan berpengatur suhu udara. Namun, karena banyaknya naskah yang dimiliki perpustakaan itu, tidak semuanya dapat disimpan di dalam ruangan yang sejuk. Tampaknya ini perlu perhatian lebih dari pemerintah, agar dokumen naskah kuno tentang sejarah Nusantara terpelihara dengan baik.

Ketika ditanyakan kepada Sinta mengenai bentuk dokumen yang disimpan dalam museum digital, Sinta menjelaskan dengan sangat antusias. Intinya, ia tidak perlu membawa naskah asli. Naskah-naskah itu cukup di-copy dan disimpan dalam bentuk perangkat lunak, niatnya hendak diunggah ke sebuah situs yang sudah dia siapkan. Setiap orang kelak dapat mengakses, melihat, membaca, dan mengunduh untuk berbagai kepentingan. Biarlah naskah otentik tetap berada di tempat asalnya. Tetapi, untuk menampilkan naskah kuno juga belum mendapatkan izin, sehingga Sinta lebih fokus pada sosialisasi aksara kuno.Mengenai naskah kuno hanya diumumkan datanya saja.

Dengan mengesplorasi naskah-naskah kuno, gadis kelahiran Cirebon, 11 Januari 1985 ini juga berharap kelak bisa menjadi pengajar atau peneliti profesional. Ia akan berkeliling dunia sebagai seorang filolog. Puisi dan perihal nasib naskah-naskah kuno, bagi Sinta merupakan topik obrolan yang paling menarik. Jauh lebih menarik daripada membicarakan penyakit lupus yang disandangnya.

”Jangan terlalu memikirkan sakitnya. Saya, berusaha tahu diri saja. Yang penting jangan terlalu capek. Paling telat kelas sudah harus selesai pukul 10 malam,” katanya. Kegiatannya memang lebih banyak dilakukan sore hingga malam hari untuk menghindari cahaya matahari. Oleh karena kulitnya sensitif terhadap sinar, saat hendak difoto, dia juga mengingatkan agar tidak menggunakan lampu kilat.

Sinta selalu berusaha memandang hari depan yang lebih baik dengan cara memaknai hidup. “Saya masih ingin hidup.Hidup harus hidup. Tapi jika memang kematian itu akhirnya datang, yang saya takuti adalah mati sendirian tanpa ada siapa pun.”

 

UPAYA PELESTARIAN

Dengan kemampuan membaca dan menerjemahkan naskah-naskah kuno, Sinta secara mandiri dan suka rela mengajarkan ilmunya itu kepada anak-anak muda yang mayoritas mahasiswa. Menurut Sinta warisan dari para leluhur itu sudah semakin sulit ditemukan. Sangat disayangkan andai tak diperkenalkan kepada generasi muda sebagai pewaris bangsa. Menurut Taufik Abdullah, salah satu sejarahwan Indonesia, bahwa mempelajari sejarah adalah cara dialog kita dengan masa lalu. Dengan mempelajari naskah-naskah kuno yang menyimpan dokumen penting di zaman lampau, generasi muda seperti sedang berhadapan dengan jejak yang menjadikan negeri ini tumbuh dan berdiri. Dengan pengetahuan itu, mereka akan menghargai negaranya.

Sampai saat ini Sinta masih mengajar dalam kelas Aksakun setiap Jumat malam, tempatnya di Balai Bahasa UPT Unpad. Setiap Minggu pagi di Museum Konperensi Asia Afrika. Kadang-kadang keliling ke berbagai tempat sesuai yang meminta secara khusus. Peserta atau muridnya kini mencapai lebih dari 500 orang. Apalagi kalau ditambah sama kelas semacam kuliah umum yang sekali mengajar bisa diikuti 1000 orang. Kegiatan mengajar dijalani dengan sarana dan prasarana yang terbatas seperti kurangnya tempat duduk. Para remaja yang mendapatkan ilmu dari Sinta tidak diwajibkan untuk membayar.

Sinta memulai upaya penyelamatan penggalan-penggalan sejarah Nusantara yang terabaikan itu. Berbekal kamera digital, Sinta memotret halaman demi halaman arsip kuno dari berbagai tempat. Dibantu dua orang untuk media digital. Namun untuk mewujudkan cita-cita itu ternyata tidak segampang membayangkannya. Saat mendokumentasikan naskah kuno itu, ada saja halangan yang Sinta dan teman-teman hadapi. Umumnya terbentur masalah aturan birokrasi museum atau perpustakaan.

Izin untuk memotret selalu menjadi kendala utama. Meskipun dengan alasan penelitian, memotret satu halaman naskah dikenai biaya sampai 10.000 rupiah. Jadi, untukmemotret satu naskah utuh, biayanya bisa lebih dari Rp 3 juta. Pihak perpustakaan atau museum juga menanyakan tujuan pendokumentasian. Urusan tidak selesai di situ, karena untuk mengunggah foto arsip ke dalam internet memerlukan izin berikutnya. Bahkan tak jarang mereka dimintai biaya tambahan.

”Ada juga yang tidak berkenan naskahnya terpampang di ruang publik. Biasanya kerabat keraton bersikap seperti itu kalau menyangkut urusan pribadi leluhurnya,” kataSinta.

Bagi orang-orang tertentu. membaca sejarah melalui naskah kuno memang menarik. Dari artefaks itu biasanya terkuak sisi lain yang disembunyikan oleh penguasa di masa lalu. Sinta mengaku pernah membaca hasil penelitian filolog tentang naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional tentang struktur tanah di Pulau Jawa. Naskah itu menyebutkan daerah-daerah yang layak huni dan tidak boleh dihuni. Informasi seperti itu tentu penting sebagai pedoman tata ruang wilayah. Sayangnya tidak dibeberkan kepada para ahli planologi di masa sekarang.

Bagi Sinta pribadi, banyak manfaat yang ia petik dari memburu dan membaca naskah-naskah kuno. Dia sering mencari resep obat-obatan tradisional dari berbagai wilayah. Sebagai penyandang penyakit lupus, kebugarannya kerapt erganggu. Sinta pernah terserang sakit maag yang cukup parah. Dia mencoba meramu resep yang didapatkannya dari sebuah naskah kuno. ”Ternyata manjur,” kata Sinta.

Upaya pelestarian naskah kuno terus dilakukan dengan cara memburu, mendokumentasi, dan menyimpan dalam arsip yang lebih tahan cuaca. Bahkan, dengan menyimpannya dalam sarana dan prasarana media maya, keabadiannya cukup terjamin. Apa saja isi “museum digital” itu?

Setelah beberapa bulan Sinta mengumpulkan data dari berbagai tempat, dibantu penggiat Aksakun (Arief Budiman dan Indra P. untuk membuat website), mimpi tentang kamus digital aksara kuno yang rencananya dinamai Filologia Nusantara bisa diwujudkan. Nama Filologia Nusantara dipilih, mengingat nama Museum Digital harus memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai standar museum. Namun ternyata seorang filolog senior tidak mengizinkan nama itu digunakan, sehingga akhirnya kamus aksara kuno digital itu diberi nama Aksakun.

Selain berisi data-data naskah kuno di beberapa daerah di Indonesia, di situs Aksakun (www.aksakun.org) tercantum penjelasan yang dilengkapi gambar-gambar peninggalan naskah kuno, juga terdapat hasil wawancara dengan filolog dari berbagai negara. Salah satucara menarik minat dan memudahkan pemahaman masyarakat terhadap naskah-naskah kuno beserta aksaranya, dalam website Aksakun dilengkapi game interaktif.

Untuk menunjang perjuangan Sinta dan komunitasnya, PT. Datascrip untuk kedua kalinya menyumbang sejumlah peralatan digital. Direktur PT. Datascrip, Merry Harun mengatakan, pihaknya membantu 2 kamera digital, paint and touch (alat tulis digital), serta 1 unit alat pencetak (printer).

“Cita-cita Sinta begitu besar, mulia, dan sangat menginspirasi. Itulah yang mendasari kami ikut membantu. Mudah-mudahan bisa membantu dan berguna,” kata Merry Harun.

Di sisi lain, Sinta berpendapat, dengan mencari naskah kuno, mempelajari, dan mengajarkannya kepada orang lain, ia dapat memetik kebahagian. Bahkan ternyata bermanfaat buat orang banyak. Itulah pilihan yang tepat. Gairah dan makna untuk mengisi hidup, terus diwujudkan dalam semangat, sebagaimana yang ditulis Sinta dalam prolog novelnya.

 

Ketika kematian sudah tersusun rapi dalam dekapan sangwaktu, hanya mampu menunggu rindu yang kian memuncak untuk meletus dan melelehkan penantian panjang seorang aku yang menumpang hirup udara di dunia ini.

Tiap bulir ayat terpanjatkan saat benak semakin memikirkan apa yang sudah aku perbuat. 

Memohon diberi waktu sedikit lagi untuk mengisi tiap detiknya dengan menyelesaikan tanggung jawab, tujuan hidup, dan doa-doa. 

Yakini diri agar semakin siap hadapi ujung jalan di dunia ini. 

Dunia yang telah memberiku beragam kegelapan dan pencerahan. 

Dunia yang patut disyukuri setelah mendapat kesempatan yang sudah dikirimkan lewat tangan malaikat untuk orang seperti ku. 

Sebuah diskon tambahan waktu untuk tetap hidup dan terus.

Kini Sinta memasuki usia 28 tahun. Ia hampir melupakan lupus dalam dirinya karena begitu banyak kegiatan yang dijalaninya. Tanpa terapi khusus dan obat-obatan, ia melakukan olah raga secukupnya dan tetap gembira menghadapi hidup. Hambatan terhadap rutinitas membuat Sinta lebih memilih menjadi freelancer untuk menulis dan pembicara di berbagai tempat. Atas prestasinya ia memperoleh beasiswa dan biaya hidup dari DIKTI, termasuk untuk pembelian buku dan keperluan belajarnya.

Kini kita tahu, Sinta Ridwan tidak pernah menyerah. Ia semakin percaya bahwa lupus dapat terhapus dengan kebahagiaan yang diciptakannya. Kita pun berharap, Sinta bisa hidup seribu tahun lagi.

 

***

Kurnia Effendi untuk Kick Andy
(tulisan ini telah mendapat konfirmasi dari Sinta Ridwan untuk meluruskan informasi sebelumnya yang mengandung kekeliruan data, termasuk dalam buku Hope yang terbit Februari 2013)

sintaridwan02

 

4 Comments to "Sinta Ridwan Menyingkap Aksara Kuno"

  1. J C  6 November, 2013 at 05:39

    Very inspiring…

  2. Alvina VB  4 November, 2013 at 21:51

    Salut sama usahanya Sinta Ridwan, tetap berkarya dan jangan putus asa, masih ada harapan.
    Terima kasih buat tulisannya Bung Kurnia!

  3. elnino  4 November, 2013 at 15:29

    Sosok yang sangat inspiratif.. Semoga Sinta Ridwan masih diberi banyak kesempatan menjalankan darmanya utk masa depan Nusantara yg lebih menghargai sejarahnya.

  4. James  4 November, 2013 at 12:18

    SATOE, aksara kuno

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.