Gurindam Duabelas

Teguh Afandi

 

Akhir-akhir ini sering kita dapati pantun menjadi salah satu media mencaci-maki, cara merayu dan menjilat pasangan, media menjelekan kawan, tak jarang juga menjatuhkan. Contoh saja salah acara-acara gombal di tivi, atau acara di ANTV “Pesbuker” yang dengan terang memakai pantun untuk menjelekkan. Saya ambilkan contoh:

Masak Air biar mateng,

Jambu biji dari Haji Bolot

Loe Sapri jangan sok ganteng

muka loe kaya kutu codot (dr Pesbukers ANTV)

 

atau

 

Paling enak minum kopi,

Kopi legit dari lampung,

Eh aye mau nanya sama bang Opie

itu kumis apa kadal bunthung (dr Comedy Project Trans TV)

 

Padahal sejarah pantum, gurindam, talibun, seloka dan hikayat adalah tuturan penuh hikmah yang disampaikan sebagai nasihat. Nasihat untuk orang yang lebih muda, untuk mereka yang sedang dirisau gelisah. Ya semua bermakna baik. Maka kali ini saya sampaikan sebuah Gurindam yang sangat bagus, GURINDAM DUA BELAS karya Maestro Sastra Melayu Klasik Raja Ali Haji:

gurindam-duabelas

 

Gurindam Fasal Yang Pertama

Barang siapa tiada memegang agama

Sekali kali tidak boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat

Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal diri

Maka telah mengenal tuhan yang bahri

Barangsiapa yang mengenal dunia

Maka taulah dia barang yang terperdaya

Barangsiapa yang mengenal akhirat

Maka tahulah dia barang yang mudharat

 

Gurindam Fasal yang Kedua

Barangsiapa mengenal yang tersebut

Tahulah dia makna takut

Barangsiapa meninggalkan sembahyang

Bagai rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan puasa

Tidaklah mendapat dua termasya

Barangsiapa meninggalkan zakat

Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barangsiapa meninggalkan haji

Tiadalah ia menyempurnakan janji

 

Gurindam Fasal ke tiga

Apabila terpelihara mata

Sedikitlah cita cita

Apabila terpelihara kuping

Kabar yang jatuh tiadalah dumping

Apabila terpelihara lidah

Niscahya dapat daripadanya faedah

Bersungguh sungguhlah engkau memeliharakan tangan

Dari pada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh

Keluarlah fiil yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat

Disitulah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah pelihara kaki

Daripada berjalan membawa rugi

 

Gurindam Fasal yang Keempat

Hati itu kerajaan dalam tubuh

Jikalau zalim segala anggotapun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah

Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir

Karena disitu banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan di bela

Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong

Maka dapat diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka

Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah

Itulah perompak yang amat gagah

Barangsiapa yang sudah besar

Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barangsiapa perkataan kotor

Maka mulutnya bagaikan ketor

Dimana tau salah diri

Jika tidak orang lain yang berperih

Pekerjaan takabur jangan direpih

Sebelum mati didapat juga sepih

 

Gurindam Fasal Ke Lima 

Jika hendak mengenal orang yang berbangsa

Lihatlah budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia

Sangat memeliharakan yang sia sia

Jika hendak melihat orang mulia

Lihat pada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu

Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal

Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak melihat orang yang baik perangai

Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

 

Gurindam Fasal Ke Enam 

Carilah olehmu akan sahabat

Yang boleh dijadikan obat

Carilah olehmu akan guru

Yang boleh tahukan tiap seteru

Carilah olehmu akan istri

Yang boleh menyerahkan diri

Carilah olehmu akan kawan

Pilih segala orang yang setiawan

Carilah olehmu akan abdi

Yang ada baik sedikit budi

 

Gurindam Fasal Yang Ketujuh 

Apabila banyak berkata kata

Disitulah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih lebih suka

Itulah tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat

Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih

Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang

Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang banyak tidur

Sia sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan kabar

Menerimanya hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan

Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabilah perkataan lemah lembut

Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar

Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar

Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar

Tidak boleh orang berbuat honar

 

Gurindam Fasal yang Kedelapan

Barangsiapa khianat akan dirinya

Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya

Orang itu jangan engkau percaya

Lidah yang suka membenarkan dirinya

Dariapada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar

Biar daripada orang dating kabar

Orang yang suka menampakan jasa

Setengah daripada syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunyikan

Kebajikan diri diamkan

Keaiban orang jangan dibuka

Keaiban diri hendaklah sangka

 

Gurindam Fasal yang Kesembilan

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjaikan

Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua

Itulah Iblis punya penggawa

Kepada segala hamba hamba raja

Disitulah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda mudi

Disitulah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan

Disitulah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat

Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru

Dengan syaituan jadi seteru

 

Gurindam Fasal yang Kesepuluh

Dengan bapa jangan durhaka

Supaya ALLAH tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat

Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai

Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan isteri janganlah alpa

Supaya malu jangan menerpa

Dengan kawan hendaklah adil

Supaya tangannya jadi kapil

 

Gurindam Fasal yang Kesebelas

Hendaklah berjasa

Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala

Buang Perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat

Buanglah khianat

Hendak marah

Dahulukan hujah

Hendak dimalui

Jangan melalui

Hendak ramai

Murahlah perangai

 

Gurindam Fasal yang Keduabelas

Raja mufakat dengan menteri

Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja

Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat

Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu

Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai

Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati

Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata

Kepada hati yang tiada buta

 

Dalam Kawruh Basa Jawa juga ada pantun dengan sebutan Parikan. Sama, empat baris ada sampiran ada isi. Bisa juga dua baris….sebagai contoh:

Timun sigarane,

Ayo bangun negarane

 

Keteklek kejegur kalen,

tinimbang golek, aluwung balen

 

Dodol pace, pacene dhewe

diborong kabeh karo mbok Rondho

aja ngece karo wong ra duwe

nek mati bondone ora digowo

 

ono Petruk gawe pager

besuk ketekuk, pinter kebliner

 

Maka mari kita gunakan kembali budaya-budaya baik kita dengan benar. Itu saja, cuma mengingatkan. (*)

 

8 Comments to "Gurindam Duabelas"

  1. Dewi Aichi  7 November, 2013 at 07:31

    Pengen tau apakah masih dikenalkan sastra gurindam duabelas ini disekolah? Pertanyaanku sama seperti komen no 3..

  2. Handoko Widagdo  7 November, 2013 at 07:03

    Terima kasih Teguh Afandi. Syukurlah bahwa Macapat belum dirusak oleh mereka yang suka bersikap suka-suka.

  3. Matahari  6 November, 2013 at 12:14

    gara gara judul tulisan ini..saya jadi teringat bahwa dalam bahasa Indonesia ada kata gurindam yang saya sering dengar dulu….Saat saya SMP sering dapat PR membuat gurindam ( pantun)…kelihatan gampang tapi sulit…mencari kata kata yang ujungnya berakhiran sama…akhirnya malah ditegur guru karena gurindam saya kacau balau…baris pertama sampai ke 4 pada tidak berhubungan…yang penting ujungnya semua a a a a atau u u u u atau e e e e…

  4. Lani  6 November, 2013 at 09:38

    2 MAS DJ : wakakakak………..

  5. Lani  6 November, 2013 at 09:37

    3 AKU BUTO : mau bikin pantun sendiri ora iso, jd ya cm co-pas waelah………

  6. J C  6 November, 2013 at 05:51

    Komentar 1 dan 2 malah berpantun sendiri…hahaha…

    Gurindam 12 rasanya tidak dikenal oleh generasi muda sekarang. Entah masih sama atau tidak pelajaran bahasa Indonesia dulu di jamanku sekolah dengan sekarang. Masih diajarkan sastra seperti ini, jenis-jenis sastra, periode sastra Indonesia (Pujangga Baru, Balai Pustaka, dsb, dsb).

  7. Dj. 813  5 November, 2013 at 20:15

    Pring gapuk, ra keno digawe sujen.
    Timbang remuk, luwih becik urip ijen. ( Koko Tole )

    Hahahahahahahaha…..!!!

    Salam

  8. Lani  5 November, 2013 at 13:36

    Ini yg paling menarik buatku:
    Dodol pace, pacene dhewe

    diborong kabeh karo mbok Rondho

    aja ngece karo wong ra duwe

    nek mati bondone ora digowo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.