Ketika Saya Belajar Tentang Nilai Sebuah Kecantikan dan Harga Perawatannya

Yeni Suryasusanti

 

Menjadi seorang anak, saya membuktikan bahwa perkara “keturunan” bukanlah semata-mata mengenai hal-hal yang berbau genetika seperti wajah yang mirip dan kulit yang bisa jadi sejenis, namun sifat dan skala prioritas dalam hidup juga bisa kita adopsi tanpa kita sadari.

Ibu saya adalah wanita yang termasuk beruntung dianugerahi kecantikan alami, dengan jenis kulit yang normal dan tidak bermasalah. Sementara papa saya memiliki kulit yang cenderung berminyak dan berjerawat. Alhamdulillah, saya menurunkan jenis kulit Ibu, sementara kakak saya Yesi menurunkan jenis kulit Papa.

perawatan kecantikan

Saya masih ingat betapa karena itu kakak saya terpaksa harus meluangkan waktu, usaha dan biaya yang lebih besar untuk mengatasi persoalan kulitnya. Facial dan kunjungan ke dokter kecantikan secara rutin merupakan salah satu usahanya untuk merawat kecantikan. Membersihkan wajah dengan lebih ekstra teliti setiap kali habis keluar rumah dan setelah menggunakan make up merupakan keharusan baginya.

Sementara saya, karena anugerah Allah tersebut menjadi sedikit lebih santai.

Perawatan wajah yang saya lakukan hanyalah menggunakan pelembab wajah – tanpa foundation karena saya tidak suka efek tebal di wajah yang ditimbulkan olehnya – sebelum memakai bedak, menggunakan susu pembersih 2 in 1 sebelum tidur (itupun tidak selalu saya lakukan hehehehehe), dan membersihkan wajah dengan sabun muka setiap kali mandi. Untuk perawatan rutin (yang saya lakukan dengan tidak terlalu rutin hehehehe…) saya hanya mengerjakan sendiri peeling wajah dan masker praktis yang tinggal dioles dengan kuas saja.

Sedangkan facial? Jujur, saya baru melakukannya 2 kali seumur hidup saya : pertama kali ketika menjalani paket perawatan pengantin saat hendak menikah, lalu ketika saya sedang berlibur ke Pekalongan ke tempat seorang sepupu yang merupakan dokter kecantikan dan memiliki spa di sana. Alhamdulillah, dia bersikeras agar saya menjalani perawatan wajah dengan tanpa biaya tentunya.

 

Ibu saya adalah seorang wanita bekerja juga seperti saya. Dan sedikit banyak saya menduplikasi nilai-nilai hidup beliau dan skala prioritas dalam hidupnya. Managemen rumah tangga yang beliau lakukan terbukti sukses menempatkan dirinya sebagai Istri, Ibu dan Wanita Karier yang seimbang. Saya tidak pernah melihat Ibu pergi ke salon untuk melakukan perawatan kecantikan. Sepanjang ingatan saya, perawatan kecantikan rutinnya adalah dengan menggunakan “bedak dingin” secara rutin sebelum tidur malam hari.

Meski demikian, Ibu tetap cantik, kulitnya tetap bercahaya menurut saya. Entah karena saya melihatnya dengan mata cinta atau memang demikian adanya.

Hal ini menjadikan perawatan kecantikan yang memerlukan waktu, usaha dan biaya yang ekstra menjadi bukan prioritas utama bagi saya karena saya juga memiliki jenis kulit yang sama tidak bermasalahnya.

Dulu ketika saya belum menikah dan masih memiliki banyak waktu luang saya memang cukup senang ke salon, tapi yang saya jalani adalah cream bath jika saya ingin santai sejenak, blow rambut jika saya perlu ke pesta yang memerlukan penampilan ekstra dan potong rambut jika model rambut saya sudah berantakan bentuknya.

 

Pelajaran tentang hidup memang tidak pernah berhenti begitu saja.

Ketika saya menikah, saya menemukan kenyataan yang berbeda, bahwa bagi sebagian orang, perawatan kecantikan sama pentingnya seperti bernafas. Ibu mertua saya adalah seorang ibu rumah tangga ideal. Beliau selalu sudah cantik berdandan ketika muncul pagi-pagi keluar dari kamarnya. Waktu yang lebih leluasa pun membuat beliau sempat meluangkan waktu untuk perawatan kecantikan ke dokter sehingga hasilnya, kulit wajah yang putih bersih dan bercahaya diperolehnya.

Selama ini saya tidak pernah terlalu mempedulikan bagaimana orang lain merawat kecantikannya, sampai suatu ketika Emak – demikian saya memanggil Ibu mertua saya – meminta saya agar melakukan cauter pada tumpukan lemak di kulit wajah saya.

Kulit saya memang jenisnya demikian, ada bintik-bintik sewarna kulit seperti komedo namun bukan yang katanya berasal dari lemak di wajah saya. Dulu sekali – sekitar tahun 2001 – saya pernah melakukan cauter ketika bintik tersebut tumbuh di bawah garis mata sehingga menghalangi pandangan mata saya. Duh, rasanya sakit luar biasa!

Setelah tindakan yang menyakitkan tersebut saya sama sekali tidak pernah memikirkan melakukannya lagi dalam waktu dekat. Prinsip saya, jika tidak mengganggu saya dan suami saya, maka masih bisa saya abaikan.

Namun, penumpukan lemak di wajah ini rupanya tidak luput dari pandangan emak yang kritis.

“Ayo Yen, kita ke dokter Ronny biar di-cauter… Nanti nyesel…” kata Emak kepada saya hampir pada setiap kesempatan kami bertemu.

ibu-anak

Saya belajar dari Emak, bahwa kata-kata yang diucapkan terus-menerus ternyata bisa mempengaruhi alam bawah seseorang seperti hipnotis.

Meski saya masih merasa tidak terganggu dengan penumpukan lemak di kulit wajah saya di bagian pipi, namun hal itu terpikirkan setiap kali saya hendak bertemu Emak dalam acara santai keluarga dimana akan ada kemungkinan kami mengobrol ringan panjang lebar tentang segala hal, terbayang bahwa Emak akan sekali lagi mengajak saya ke dokter kecantikan langganan beliau.

Saya menyadari hal itu beliau lakukan sebagai bagian dari rasa sayangnya kepada saya, menantunya yang paling tidak memprioritaskan kunjungan ke salon dan dokter kulit sebagai perawatan kecantikan.

Jangankan ke dokter, di tas saya saja tidak selalu ada bedak dan lipstik hehehehe… karena saya hanya menggunakannya di rumah, dan hampir tidak pernah memulas ulang memperbaharui make up demi penampilan saya, sekali lagi alhamdulillah karena di masa dewasa saya, saya dianugerahi kulit wajah yang putih dan tidak berminyak, sehingga make up awet menempel di wajah saya meskipun telah terkena air wudhu berulang kali.

 

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendatangi klinik 24 jam di dekat rumah saya. Kebetulan disana ada dokter spesialis kulit dan kecantikan juga. Saya berkonsultasi pada hari kerja setelah pulang kantor. Dokter Maria berkata, saya sebaiknya datang pada hari sabtu pagi, karena tindakan cauter harus didahului dengan pengolesan gel penghilang sakit. Saya berkata saya mengerti dan akan datang ketika bisa.

Namun, kembali hari-hari saya dipenuhi dengan berbagai hal lain yang saya anggap jauh lebih penting dibanding perawatan kecantikan ekstra tersebut.

Hingga hari Sabtu, 12 Oktober 2013 yang lalu, saya ingat bahwa kami akan berkumpul di rumah mertua saya untuk merayakan Hari Idul Adha bersama-sama seperti biasanya… dan tentu akan bertemu Emak yang mungkin akan kembali mengingatkan saya akan pentingnya merawat kecantikan wajah saya…

Siang itu kebetulan saya dan Fian ada rencana pergi ke rumah Mas Saleh (mentor Paskibra 78) bersama Debby Cintya dan Dewi Damayanti. Disana kami akan bertemu juga dengan Mbak Ayu Magdina, yang merupakan salah seorang Pendiri Paskibra 78. Rencananya saya akan dijemput sekitar Pk. 11.00 WIB.

Pagi itu akhirnya saya memutus secara mendadak untuk melakukan cauter demi menyenangkan hati Emak, juga demi ketenangan hati saya sendiri setiap hendak bertemu beliau.

Ketika suster memulas gel penghilang rasa sakit untuk persiapan tindakan cauter, saya bertanya berapa lama proses ini memakan waktu hingga selesai.

Cauter-nya sih hanya sebentar, paling 15 menit. Yang lama menunggu gel ini bekerja dulu, sekitar 45 menit, jadi nanti nggak sakit tindakannya…” demikian kata suster.

Saat itu baru jam 9 lewat.

“Oh oke, soalnya saya nanti jam 11 mau ada acara…” kata saya.

Suster itu terbelalak menatap saya.

“Lho, habis di-cauter gimana bisa pergi?” serunya kaget.

“Lho, emang kenapa suster?” tanya saya heran melihat reaksinya.

“Kan nanti selama 3 hari nggak boleh pakai bedak, hanya boleh pake Bioplacenton dan gel yang untuk mata aja…” jelas suster tersebut.

“Lah, emang kenapa kalau pergi nggak pakai bedak? Kan nggak masalah?” tanya saya semakin bingung.

“Nanti kan banyak bekas luka bakarnya hitam-hitam… Pasti bakal banyak yang tanya…” katanya sekali lagi mengungkapkan kebingungannya.

“Kalau ada yang tanya nanti saya tinggal bilang habis di-cauter…” kata saya enteng.

Sang suster menatap saya takjub. Ternyata jawaban saya itu terdengar aneh baginya.

“Tenang aja suster… Di tempat saya acara nanti, nggak ada yang perduli seperti apa tampang saya… Mereka hanya peduli apa isi otak dan hati saya kog…” seloroh saya sambil tertawa.

 

Meskipun saya mengucapkan kalimat itu dengan bercanda, namun memang demikian adanya.

Di Paskibra 78, kami tidak terlalu mempedulikan kecantikan seseorang.

Yang penting penampilan kami pantas dan sopan, itu sudah cukup. Kami lebih mempedulikan karakter.

 

Setelah tindakan cauter yang menyakitkan – meski telah dibubuhkan gel penghilang sakit – selesai, Dokter Maria menyampaikan pesan-pesan untuk merawat wajah saya. Selama 3 hari saya tidak boleh mengenakan kosmetik apa pun. Tidak boleh membersihkan wajah dengan sabun muka. Wajah saya hanya boleh dibersihkan dengan menyiramnya dengan Aqua tanpa diusap, dan termasuk ketika berwudhu yang juga harus dilakukan dengan Aqua!

Luka di wajah harus dibubuhi Bioplacenton, sementara yang disekitar mata dibubuhi Gentamicin dua kali sehari, pagi dan malam hari.

Bekas luka bakar tidak boleh dikelupas hingga terkelupas sendiri.

Dan saya diminta datang untuk kontrol pada hari Kamis berikutnya.

 

Dari penuturan dan kecerewetan Dokter Maria saya belajar hal lain. Saya belajar membedakan antara Dokter Spesialis Kulit yang melakukan pengobatan untuk penyakit kulit secara umum dengan Dokter Spesialis Kulit yang mengkhususkan diri untuk Kecantikan. Dulu, saat melakukan cauter yang pertama, saya dibantu oleh Dokter Spesialis Kulit biasa, bukan yang khusus menangani Kecantikan.

Saran-saran medisnya sederhana – cocok dengan saya yang tidak pernah mau repot – dan saya tidak perlu datang untuk kontrol lagi kecuali bekas luka bakar saya terasa mengganggu lebih dari kewajaran.

Saya tidak diminta mencuci muka dengan air steril seperti Aqua, dan boleh mencuci wajah dengan sabun muka ketika dirasa bekas luka bakar akibat cauter tidak lagi terasa perih.

Jadi, saran-saran Dokter tersebut hanya semata-mata menghindari akibat medis.

Namun, karena Dokter Maria adalah Dokter Spesialis Kulit khusus Kecantikan, maka saran-saran medisnya juga berbeda.

Perawatan dan antisipasinya lebih luar biasa, karena prioritas utamanya bukan hanya sekedar menangani kulit yang bermasalah hingga masalahnya hilang, namun juga membuat pasiennya menjadi “Cantik”.

Karena itulah saran-saran medisnya luar bisa, menjaga agar kulit yang sudah dilakukan tindakan tidak mengalami iritasi agar pulih dengan sempurna, sehingga tidak mengganggu secara estetika.

 

Dari Susternya saya belajar hal lain lagi.

Tentang “Nilai Kecantikan” bagi beberapa tipe orang bisa berbeda.

Selama ini, bagi saya, kecantikan itu merupakan rasa nyaman menjadi diri sendiri apa adanya asalkan sesuai dengan tempatnya. Tidak masalah jika kita tidak mengenakan make up di wajah selama kita nyaman dengan itu dan acara tersebut tidak mengharuskan kita mengenakan make up yang terkadang kita butuhkan untuk citra diri maupun perusahaan yang kita wakili.

Namun ternyata, bagi sebagian wanita, bepergian tanpa mengenakan bedak dan dengan wajah yang penuh bekas luka perawatan merupakan masalah yang tidak bisa dianggap sepele meskipun mereka hanya pergi ke rumah keluarga dekat saja.

Dari sang Suster saya juga mendapatkan informasi, bahwa perawatan wajah facial setidaknya perlu dilakukan 2-minggu sampai sebulan sekali. Katanya, untuk mencerahkan kulit wajah. Dan biayanya sekitar Rp 300.000,-. Besar kecilnya biaya ini tergantung masalah kulit wajahnya.

 

Setelah selesai melakukan perawatan kecantikan ekstra tersebut, tibalah saatnya saya membayar dokter, tindakan dan biaya obatnya. Saya diberikan antibiotik kapsul, salep Bioplacenton dan Gentamicin.

Semuanya menghabiskan biaya lebih dari Rp 600.000,-!

Bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan perawatan wajah ekstra, mungkin biaya ini wajar saja. Tapi bagi saya yang asing dengan pengeluaran jenis ini, harga tersebut bagi saya sungguh luar biasa. Bukan masalah nilai rupiahnya, karena saya cukup sering mengeluarkan biaya sebesar itu untuk dihabiskan di gramedia, dimana dengannya saya bisa membeli novel yang ditulis oleh pengarang kesukaan saya, membelikan novel dan berbagai eksiklopedi untuk Ifan, dan buku cerita bergambar untuk Fian.

Namun yang menjadi ganjalan bagi saya adalah nilai manfaatnya.

Jika kulit wajah saya memang bermasalah, lain lagi persoalannya. Saya tentu lebih mudah menerima besarnya biaya yang saya keluarkan karena tujuan perawatannya adalah “memberbaiki” penampilan yang memang sangat perlu diperbaiki. Namun, untuk kasus kulit saya saat ini dimana penumpukan lemak terjadi di daerah pipi, sesungguhnya saya tidak terlalu merasakan perbedaan sebelum dan sesudah tindakan cauter karena memang masalah kulit kali ini tidak mengganggu secara langsung seperti dulu saat ada penumpukan lemak di bawah garis mata yang memang membuat pandangan saya terganggu.

hasilperawatan

Namun, dari kejadian ini saya juga belajar, bahwa terkadang ada harga yang tinggi yang harus dibayar baik untuk ketenangan hati orang yang kita cintai maupun untuk kita sendiri.

Ketika sampai di rumah, Ifan dan Fian kaget melihat wajah saya penuh bekas luka bakar.

“Bunda kenapa mukanya?” demikian mereka bertanya dengan nada suara khawatir.

Saya menjelaskan tentang tindakan cauter yang dilakukan oleh dokter, sebab dilakukan dan akibatnya.

Ifan menerima penjelasan tersebut tanpa bertanya lebih lanjut. Namun Fian yang memiliki sifat ingin tahu yang lebih tinggi mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah saya.

“Jangan Fian! Nanti bunda makin sakit mukanya!” seru Ifan sang pelindung seketika.

Sambil menatap saya lekat-lekat, Fian berkata,

“Bunda, mukanya jangan dibakar lagi ya… Nanti Fian nggak bisa pegang pipi Bunda kalau bilang sayang Bunda…”

Fian memang romantis. Setiap kali dia menyatakan sayang kepada saya, tangannya selalu ditangkupkan ke wajah saya.

“Yang suruh cauter ke dokter ini Atin Cewek (panggilan mereka kepada Emak), Fian…” jelas saya ingin tahu reaksinya saat mendengar neneknya lah yang menyarankan tindakan yang mengakibatkan luka bakar di wajah saya.

Fian terbelalak, lalu berkata tegas,

“Nanti Fian yang akan bilang sama Atin Cewek jangan suruh Bunda bakar mukanya lagi!”

Hehehehehe…..

 

Dari Ifan dan Fian, saya belajar bahwa karakter seseorang menentukan sikap mereka ketika membela orang yang dikasihi dan sejauh apa mereka bersedia bertindak tanpa diminta.

Ifan sang pelindung yang lembut hati, tidak banyak bertanya namun waspada terhadap serangan langsung yang berpotensi menyakiti orang yang disayanginya dengan bereaksi seketika saat Fian hendak menyentuh wajah saya yang penuh bekas luka bakar cauter.

Fian sang pembela yang lebih agresif, langsung mewawancarai saya untuk mengetahui masalahnya secara lebih jelas, kemudian dengan tegas mengambil tindakan yang menurutnya merupakan akar permasalahannya agar tidak terjadi lagi kejadian yang menyakiti saya.

 

Pelajaran hidup yang saya dapatkan dari pengalaman ini tidak hanya sampai di sini.

Pada hari Senin, 14 Oktober 2013 saya pergi ke Thamrin City berdua dengan suami saya untuk membeli beberapa keperluan. Ketika kami bertransaksi di sebuah toko, pemiliknya – seorang wanita yang cukup menarik dan terlihat berdandan – yang bertindak sebagai kasir berkomentar melihat bekas luka bakar Cauter di wajah saya.

“Habis perawatan ya Kak?” tanyanya memulai percakapan ringan.

“Oh iya, abis di cauter…” jawab saya enteng.

“Kulitnya bagus banget deh Kak… Biasa perawatan rutin dimana?” tanya sang wanita pemilik toko terlihat jelas ingin tahu.

Saya sejenak tertegun, agak bingung harus menjawab bagaimana karena saya tidak melakukan perawatan wajah secara rutin, melainkan tergantung kesempatan dan kebutuhan saja yaitu baru 3 kali sepanjang usia saya.

“Waduh, kalau perawatan rutin saya nggak pernah mbak… Tapi kalau cauter ini saya lakukan di dokter kecantikan di klinik 24 jam dekat rumah saya…” jelas saya apa adanya.

“Ah, nggak mau ngasih tau ya… Tapi emang gitu sih biasanya… Kalau perempuan cantik itu nggak pernah mau kasih tahu pakai dokter yang mana untuk perawatan…” si wanita pemilik toko tersenyum maklum.

“Ha? Yang bener? Emang perempuan pada suka begitu?” tanya saya terperangah.

“Iya Kak… Supaya nggak ada yang menyaingi mungkin ya…”

“Wah, tapi saya berani bilang Demi Allah lho kalau saya memang nggak pernah perawatan wajah rutin ke dokter…”

Gantian sang wanita pemilik toko yang terperangah.

 

Pelajaran hari itu yang saya dapatkan adalah mengenai lunturnya semangat untuk berbagi ilmu dan manfaat bagi sebagian orang di beberapa bidang tertentu.

Hingga saat saya menuliskan cerita ini, hal itu masih terasa cukup mengganggu bagi saya, yang terbiasa sejak kecil diajarkan betapa bahagianya jika kita berbagi manfaat, bersama-sama berlomba mencapai kebaikan, dan bukannya menghambat orang lain agar kita menjadi satu-satunya orang yang baik dan bermanfaat.

Yang cukup mengherankan bagi saya, dimanakah semua orang tipe tersebut berada selama ini?

Mengapa saya jarang bersilang jalan dengan mereka?

Namun demikian, saya masih ingat dengan jelas perkataan sepupu saya yang dokter kecantikan itu tentang alasan mengapa dia memilih menjadi dokter kecantikan dibandingkan dengan dokter bidang lain.

“Wanita itu dek, bersedia menderita dan membayar mahal meskipun hanya untuk menjadi cantik selama 1 jam saja… Apalagi untuk menjadi cantik dalam jangka waktu yang lama… Jadi kalau mau cari uang banyak, masuklah ke segmen wanita dan kecantikan…”

 

Selama ini saya merasa di sekeliling saya ada banyak sekali orang-orang yang senang berbagi ilmu dan manfaat. Dengan gratis pula… Paskibra 78, Natural Cooking Club, Group Millenial Learning Centre dan masih banyak lagi.

Namun jika mempercayai penuturan sang wanita pemilik toko dan sepupu saya itu, sepertinya orang tipe tidak senang berbagi dan bersedia menderita serta membayar mahal untuk cantik itu banyak mereka temui di sekeliling mereka. Hal ini paling mungkin terjadi karena mereka bekerja di bidang yang membuat mereka cukup sering bertemu dengan orang-orang seperti itu, orang-orang yang lebih memprioritaskan penampilan daripada karakter dan hati meskipun tidak berarti mereka mengabaikannya sepenuhnya karena mungkin menjadi cantik merupakan tuntutan di lingkungan mereka.

Satu lagi pelajaran yang bisa saya ambil kesimpulannya : Seleksi alam memang berlaku dalam kehidupan sosial seseorang.

Kelompok-kelompok memang terjadi akibat adanya kesamaan karakter, visi dan misi, prioritas hidup dan masih banyak lagi.

Jadi, jika kita ingin berada di lingkungan yang baik, saya rasa kuncinya adalah dengan selalu menjaga semangat menebar manfaat dan selalu berusaha memperbaiki diri sendiri…

 

Tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang berbagi kepada Mbak Ayu Magdina, Poppy Yuditya, Debby Cintya dan Dewi Damayanti. Untuk teman-teman lain yang membaca, semoga bermanfaat ya!

 

Jakarta, 2 November 2013

Yeni Suryasusanti

 

18 Comments to "Ketika Saya Belajar Tentang Nilai Sebuah Kecantikan dan Harga Perawatannya"

  1. J C  7 November, 2013 at 11:23

    Hehehe…Dewi, benar, harus disyukuri, karena sampai hari ini bahkan facial pun belum tentu setahun sekali…hehehe…kadang pakai bedak dingin yang dibelikan Linda dari Bandung itu…

  2. Hennie Triana Oberst  7 November, 2013 at 10:43

    Yeni, bahagianya dirimu tidak bermasalah dengan kulit.
    Kalau aku selalu bermasalah. Alerginya banyak banget, selain makanan juga suhu dingin.

  3. Alvina VB  6 November, 2013 at 22:36

    Yeni, thanks buat ceritanya merawat kulit; sedikit banyak, saya ngikutin perawatan kulit dasar spt ini:
    http://www.readersdigest.ca/skin-care/10-secrets-glowing-skin

    Yg paling saya hindari adl rokok, gak pernah duduk/ kongko2 sama org yg merokok, krn walaupun kita pasive smoker, tetep aja bisa merusak kulit dan badan. Cheers….

  4. dev  6 November, 2013 at 12:43

    Mbak Yeni, aku baru tau kalo cauter itu ada cara2nya. Dulu aku pernah cauter di salon biasa, ga dikasih obat apa2 hasilnya sekarang malah berbekas

  5. Yeni Suryasusanti  6 November, 2013 at 09:30

    Ariffani : mungkin selama ini saya memang nggak pernah tanya2 soal kecantikan ya heheheh… jadi nggak pernah tau ada yg nggak suka sharing gitu

    Matahari : di sini mana ada pelatihan gratis utk pekerja toko ehehehe…. jadi semua kembali ke didikan ortu, lingkungan dan karakternya aja

    JC dan Dewi : iya, kemarin waktu aku pergi ke rumah mentorku itu, aku hanya pake lipstick aja tanpa bedak hehehe… emang biasanya kadang kalo lagi males dan perginya nggak terpapar debu jakarta banget, misalnya naik mobil dan dekat saja, saya males pake bedak… nggak terlalu kelihatan juga bedanya pake bedak dgn nggak heheheh… kalo sabun muka aku pakai yg glycerin dan honey

  6. Dewi Aichi  6 November, 2013 at 08:12

    Wah..Yeni..dirimu memang cermat dalam mengambil pelajaran di setiap hal yang kau temui…dan soal perawatan wajah, aku juga ngga rutin, dan hanya yang paling dasar saja, cream bath atau facial, untuk keseharian cukup pakai pembersih wajah, dan cream pelembab…kalau bepergian ngga bisa sih kalau polos2 banget tanpa bedak, paling tidak polesan dikit dan blush on, biar tampak segar..

    JC, istrimu itu cantik alami, tanpa polesan juga ngga masalah, wah itu harus disyukuri, selain irit, juga sehat, karena pakai macam2 produk kecantikan juga kadang resiko kerusakan kulit.

  7. J C  6 November, 2013 at 05:54

    Yeni, untungnya aku dan istri sama-sama sangat simple perawatan wajahnya. Aku tidak pernah pakai sabun muka khusus “For Men” atau apapun juga. Aku hanya pakai sabun cair yang untuk badan juga menyabuni muka. Banyak yang bilang kulit kering dan tidak bagus, nyatanya sejak aku kecil sampai detik ini dari sabun batangan sampai sabun cair sekarang, hajar saja ke muka…tidak ada masalah. Kalau istri pakai sabun tradisional (sempat juga dikirimi dari Munduk oleh Ary Hana…haha) terbuat dari sereh, cukup. Istri juga no bedak, no foundation, hanya terkadang sedikit lipstick untuk acara tertentu.

  8. Matahari  5 November, 2013 at 22:20

    Mengenai pembicaraan di toko…saya sudah tidak heran lagi…saya pernah ikut semacam kursus untuk bekerja di toko..(kursus itu gratis sekalian memperdalam bahasa untuk orang orang yang baru datang dan menetap waktu itu ) …kami diajarkan agar selalu memuji pembeli…asal tidak berlebihan…secara psikologi ada banyak wanita kalau dipuji…akhirnya membeli sesuatu di toko itu karena sudah “merasa senang”…kami disarankan untuk “memuji” hanya pembeli wanita .( apa karena kita kaum wanita senang dipuji? Saya juga tidak tau) dan tidak boleh berbicara negatif mengenai toko lain atau memberikan pendapat negatif dari sesuatu yang kita belum pasti kebenarannya…lebih baik kita mengatakan…mengenai itu saya kurang tau…atau saya tidak berani mengatakan alasan apa karena saya belum pernah mengadakan survey untuk itu…dll….hanya saja di pembicaraan diatas…terlihat bahwa penjaga toko keceplosan berbicara sehingga terlihat bahwa dia orang yang gampang berasumsi jelek mengenai orang lain..termasuk customersnya …ketika ada orang lain tidak memberitahu dimana merawat wajah…dia langsung menduga karena wanita itu tidak mau disaingi…Seharusnya sebagai penjaga toko…dia tidak boleh memberikan pendapat negatif untuk orang lain hanya agar terlihat dia begitu memuji kita karena justru terkesan pujian dia ke kita juga adalah pujian palsu…

  9. ariffani  5 November, 2013 at 19:28

    bener kok mbak Yeni, soalnya di tempat saya juga begitu. ada teman yang kebetulan suka sekali perawatan, pas di tanya di mana, jawabannya cuma senyuman aja… padahal belum tentu juga kn bs sama.. tp ada juga teman yng suka rela berbag.

  10. Lani  5 November, 2013 at 13:33

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.