Dari Rumah Pelangi Dia Menyulap Lahan Kering Menjadi Hutan Hijau

Jemy Haryanto

 

Kisah Seorang Pastor Peduli Lingkungan Hidup Penerima Kalpataru

DULU, LAHAN SELUAS 90 HEKTAR ITU ADALAH LAHAN KERING DAN TANDUS AKIBAT PEMBAKARAN. KINI DENGAN SEMANGAT DAN KERJA KERASNYA, LAHAN TERSEBUT TELAH BERUBAH MENJADI HIJAU. Makin menurunnya kualitas lingkungan hidup disertai tindakan eksploitasi yang marak dan cenderung tidak terarah adalah sebuah indikasi kurangnya kesadaran dan tanggungjawab manusia atas kelestarian bumi beserta isinya sebagai pemberian Sang Pencipta. Tidak banyak orang yang peduli dan berpikir untuk jangka waktu lama bagi generasi kita di kemudian hari.

 

Berbagai jenis pohon hutan sudah tumbuh besar di kawasan yang sebelumnya lahan kering ini

Berbagai jenis pohon yang sudah tumbuh besar dari yang sebelumnya lahan kering

DSC06814

Di saat banyak orang berlomba-lomba merusak hutan seperti kasus illegal logging yang telah marak. Belum lagi pembabatan hutan besar besaran yang setiap tahun terjadi untuk perkebunan kelapa sawit, muncul sosok lelaki yang begitu peduli dengan lingkungan. Dia adalah Pastor Samuel Oton Sidin, OFM Cap, berumur 57 tahun. Pengelola Rumah Pelangi, sebuah kawasan pelestarian dan konservasi hutan (arboretum) milik komunitas Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFM Cap) di Bukit Tunggal, Dusun Gunung Benuah, kecamatan Sei Ambawang, kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Awal mula Samuel terpanggil menjadi Pejuang Lingkungan pada tahun 1998 lalu. Dimana pembalakan liar dan ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat semakin meningkat. Bahkan telah merambah pada kawasan resapan air.  Dia bersama Ordo Fransiskan Kapusin yang berkarya di daerah itu lantas khawatir akan ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Merekapun menggagas gerakan sosial guna menyelamatkan sebuah kawasan yang langsung terkait dengan masyarakat.

DSC06860

Lokasi persemaian

Lokasi persemaian

“Pada tahun itu pembalakan liar sedang marak-maraknya. Termasuk daerah tempat dia menetap juga mengalami kekeringan akibat pembakaran. Sehingga kami berpikir harus berbuat sesuatu bagi alam dan masyarakat,” tutur Samuel. Samuel dan Para Fransiskan Kapusin menilai bahwa Bukit Tunggal masih mungkin diselamatkan. Dengan demikian para Fransiskan Kapusin itu berencana untuk menghutankan kembali Bukit Tunggal secara swadaya.

“Semua biaya dari ordo. Kami membeli lahan kering di Bukit Tunggal dari warga setempat sedikit demi sedikit. Dari situlah kami memulai,” terang Pastor sederhana dalam keseharian itu. Tepatnya pada tahun 2000 Pastor Samuel bersama komunitasnya membeli lahan kering itu seluas 70 hektar, sebagian besar lahan di perbukitan dan rawa-rawa itu merupakan lahan yang rusak. Sisi utara dan Selatan area banyak yang terbakar, sementara di sebelah barat nyaris tanpa pohon karena sudah ditebang. Tak heran jika keanekaragaman hayati sebagai kekayaan alam yang tersimpan di bumi Khatulistiwa turut lenyap dengan musnahnya hutan itu. Dirinya pun mulai rehabilitasi

Pastor Samuel Okton Sidin 2

Pastor Samuel Okton Sidin

 

Rumah Pelangi:

Rumah Pelangi 2

Rumah Pelangi

“Kemudian kami kembali membeli lahan lain seluas 20 hektar dari masyarakat setempat. Sehingga kawasan konservasi pun menjadi luas,” ungkap lelaki kelahiran Peranuk, 12 Desember 1954. Kemudian Samuel mempelopori pendirian sebuah rumah komunitas yang diberi nama ‘Rumah Pelangi’ pada tahun 2003, sebagai tempat tinggal beberapa anggota komunitas. ‘Rumah Pelangi’ juga menjadi tempat mendidik masyarakat bagaimana mengolah lahan yang baik, mengembangkan bibit tanaman, dan mengembangkan usaha produktif dari bercocok tanam.

“Tampat bertukar pikiran dan segala bentuk aktivitas. Mulai melakukan pembibitan dan penanaman berbagai jenis pohon langka juga berbagai jenis tanaman obat-obatan tradisonal, juga kami peruntukan sebagai sarana belajar dan tempat singgah masyarakat,” tutur lelaki berkacamata itu. Salah satu metode yang dikembangkannya adalah membuat percontohan saluran irigasi dan sawah serta pelestarian mata air. “Kami membuat sebuah bendungan kecil untuk mengaliri sawah sekitar satu hektare. Selain menjadi sumber air bagi Rumah Pelangi, bendungan itu juga turut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar,” jelas lelaki lulusan program Doktoral, bidang spiritualitas Fransiskan di Universitas Antonianum, Roma, Italia pada 1990 silam.

Telaga yang kini menjadi sumber air bersih bagi masyarakat

Telaga yang kini menjadi sumber air bersih bagi masyarakat

 

Kalpataru yang berhasil diraih oleh Samuel diserahkan pada Pastor Benedictus OFM Cap dan tiga anggotanya

Kalpataru yang berhasil diraih oleh Samuel diserahkan pada Pastor Benedictus OFM Cap dan tiga anggotanya

Selain itu tujuan didirikannya Rumah Pelangi sebagai bentuk ajakan etis kepada khalayak ramai untuk memulai suatu paradigma baru yang lebih bersahabat dan ramah terhadap alam. Dia menganggap selama ini, wacana pelestarian lingkungan hanya tinggal wacana (lip service) tanpa tindakan nyata. Berbagai seminar tentang “Global Warming” terselenggara tanpa tindak lanjut yang jelas. “Kami menggunakan prinsip mulai dari diri sendiri.  Kami sadar action Rumah Pelangi memang kecil, namun lebih bernilai daripada berbagai gagasan dan statement ekologis yang hanya tinggal jargon semata. Dalam istilah lain bernilai besar dalam hal-hal kecil. Itulah yang kami lakukan di Rumah Pelangi,” jelas pakar Fransiskanologi itu. Namun saat ditanya mengapa pondok tersebut dinamakan Rumah Pelangi, dia mengatakan hal itu terinspirasi dari kisah seorang Nabi. “Nama itu terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dalam Kitab yang kami percayai,” jelas Samuel.

 

Hambatan dan Tantangan sebagai Pejuang Lingkungan

Namun bukan perkara yang mudah untuk memulai suatu perjuangan. Berbagai hambatan selalu muncul. Itu juga yang dihadapi oleh Samuel, terutama saat menghadapi masyarakat. Menurutnya, masyarakat setempat masih sederhana. Sehingga pemahaman akan ekologi juga terbatas. Sebagian mendukung dan ambil bagian aktif melestarikan alam, sebagian lagi acuh tak acuh. “Hal itu terbukti dari penebangan yang tiada hentinya, penjualan tanah, eksploitasi tambang yang merusak alam, pembukaan lahan hutan tanaman industri, dan perkebunan kelapa sawit yang merambah hutan resapan air,” tutur lelaki yang mempunyai desertasi berjudul : The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God itu

Salah satu contoh ketika dirinya berhadapan dengan para penebang pohon liar. Diapun kesal kemudian mendatangi orang tersebut dan memberikan pemahaman agar tidak meneruskan kegiatannya itu di area Rumah Pelangi. “Namun masukan saya tidak diindahkan, dan tetap saja hal itu terjadi.  Khususnya di luar lahan Rumah Pelangi,” tutur Samuel. Tantangan lain adalah keuangan. Menurut Samuel, Rumah Pelangi sama sekali tidak mendapat bantuan finansial dari mana pun, namun mencoba berjalan semampunya.

“Tak ada perhatian dari pemerintah, baik propinsi maupun kabupaten, sehingga kami merasa seperti berjalan sendiri saja, dan itu tak menyurutkan semangat kami,” ucapnya. Meski demikian, Samuel patut berbangga atas hasil perjuangan itu. Karena area konservasi Rumah Pelangi tidak saja hijau, tapi juga banyak pohon-pohon hutan yang sudah mulai langka di Kalimantan Barat bisa ditemukan di sana. Seperti  Belian (Eusideroxylon zwageri), Tapang (Koompassia excels), Sengon (Albazia Falcataria), Gaharu (Aquilaria moluccensis), Mahoni (Swietenia mahagoni), Meranti (Shorea bracteolata dyer) dan lain lain. Semuanya ada 14 jenis pohon keras dan selebihnya adalah pohon-pohon perkebunan. Selain itu pada 5 Juni 2012 lalu, dirinya dianugrahi Kalpataru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kategori pembina lingkungan. Sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas upayanya membangkitkan kesadaran lingkungan serta peran masyarakat menemukan teknologi baru ramah lingkungan.

 

11 Comments to "Dari Rumah Pelangi Dia Menyulap Lahan Kering Menjadi Hutan Hijau"

  1. Elsye  21 January, 2018 at 15:08

    saya salut bagi bpk pastor yg peduli terhadap lingkungan dan memberi teladan yg baik, agar orang lain dapat meniru sikap yg positif ini,inilah wujud iman kristen yg nampak bg bayak oang. tuhan memberkati bpk dan teman2 rumah pelangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.