Pendidikan Moral

Summer Girl

 

Salah satu pendidikan moral yang saya ingat adalah “mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, jenis kelamin, kedudukan social, warna kulit dan sebagainya, juga mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia”.

Walaupun sejak SD sampai SMA kami mendapatkan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila beberapa kali dalam seminggu tetapi pada prakteknya pelajaran tersebut tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama masalah kedudukan social, status harta sangatlah penting dalam kehidupan di sekitar saya pada waktu itu. Antar tetangga dan terutama antar saudara sendiri, semua dibedakan berdasarkan status harta.

right-or-wrong

Saya lahir dan besar di lingkungan padat penduduk di sebuah gang kecil di pinggiran Jakarta, kebanyakan penduduknya adalah keluarga dengan penghasilan kecil, walaupun ada juga yang kaya. Semuanya kenal satu sama lain. Pada waktu itu kebanyakan yang kaya berstatus pak haji atau bu haji, semuanya berkarakter lucu, kalau dipanggil dengan pak A atau ibu A, mereka tidak menengok, mereka hanya mau dipanggil bu haji A atau pak haji A.

Walaupun kami semua tinggal berdekatan tapi saya tumbuh menjadi seorang yang sangat introvert dan jarang sekali bergaul, mungkin karena ada perasaan rendah diri di dalam hati, saya merasa tidak ada yang mau berteman dengan saya yang miskin ini. Tetapi untungnya pikiran saya selalu positif dan optimist bahwa suatu saat pasti hidup ini berubah dan saya hidup bahagia. Saya selalu berhati-hati agar tidak terjerumus ke pergaulan yang negatif.

Saya juga ingat sekitar tahun 80-an, saudara dekat saya ada yang sangat kaya, lulusan universitas luar negeri dan istrinya seorang pharmacist, kalau datang ke rumah saya tidak pernah mau duduk dan anaknya pun dua-duanya sekitar seumur dengan saya selalu digendong dan tidak dibiarkan bermain dengan anggota keluarga yang lain.

Dulu pernah ada yang naksir dengan saya di lingkungan tersebut tetapi orang tuanya dengan terang-terangan bilang bahwa “jangan dekat-dekat sama si Summer karena nanti kamu ketularan miskin, selain itu nanti kamu disuruh membiayai keluarganya”. Si cowok itu bilang terus terang kalau orang tuanya bilang seperti itu. Kalau memang tidak suka tentu lebih baik disimpan dalam hati saja, jangan terang-terangan diungkap karena yang mendengarnya bisa sakit hati.

Pada saat SMA, saya bersekolah di tempat untuk anak-anak orang kaya, hampir setiap muridnya sudah bisa membawa mobil sendiri pada waktu itu, mereka pun berteman dengan memilih-milih, kalau ada pelajaran berkelompok saya bingung karena saya tidak masuk dalam kelompok manapun, kalau ada yang ulangtahun saya tidak pernah diundang. Tapi saya tetap positif, tidak diundang ulang tahun ada untungnya, paling tidak saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kado.

Kemudian pada saat saya sudah bekerja ada seseorang yang dekat dengan saya tetapi kemudian menjauh karena dia bilang orang tuanya tidak setuju karena mereka sudah mengeluarkan biaya banyak untuk menyekolahkan dia sampai universitas dan tidak rela anaknya hanya mendapatkan seorang lulusan SMA.

Kejadian seperti itu tidak hanya menimpa saya saja tetapi juga dengan teman-teman sekitar saya. Ada salah satu teman yang hidupnya biasa saja kemudian menikah dengan orang kaya, waktu itu saya berpikir betapa beruntungnya dia bisa mendapatkan orang yang kaya tetapi kemudian dia cerita bahwa hidupnya tidak bahagia. Suaminya tidak menghormati keluarganya, dia seperti hidup dalam sangkar emas karena semua diatur oleh suaminya, isi rumah, warna cat rumah, sampai sendok dan garpu pun suaminya yang memilih, urusan uang pun suaminya hanya memberikan pas untuk belanja saja, sisanya kalau ingin beli ini beli itu harus sesuai persetujuan suaminya.

Ada juga satu lagi yang menikah dengan anak satu-satunya dari sebuah keluarga kaya, tetapi ternyata semuanya dibandingkan dengan ibunya, teman saya itu selalu diceramahi oleh suaminya bahwa harus bisa mengatur uang seperti ibunya, harus bisa memasak seperti ibunya, kalau mau beli bajupun harus sesuai dengan persetujuan suaminya, kalau suaminya suka silakan beli tapi kalau suaminya tidak suka dilarang membeli.

Saya ingat di tahun 2003, waktu itu ada salah satu sepupu saya yang direktur sebuah perusahaan bergengsi, selalu bolak balik tugas ke luar negeri, suatu hari tanpa sengaja bertemu dengan saya dan bercerita baru kembali dari New York dan secara reflect membuka jam tangan anaknya yang ada di sebelahnya dan memberikan jam tangan Hello Kitty itu untuk saya, dia bilang “walaupun bekas tapi itu dari luar negeri lho”. Dia tidak tahu pada waktu itupun saya baru kembali dari Los Angeles karena diundang oleh client tempat saya bekerja. Walaupun waktu di SMA otak saya pas-pasan tapi pas kuliah otak saya cukup pintar (setelah bekerja saya sempat kuliah 3 tahun tapi tidak selesai di tahun terakhir) dan juga untuk urusan pekerjaan otak saya cemerlang sehingga sering tugas keluar kota atau ke luar negeri. Memang untuk urusan pribadi biasanya saya tidak pernah cerita selain dengan saudara kandung, seandainya saya tugas keluar kota pun biasanya tetangga tidak ada yang tahu karena memang sehari-harinya saya jarang keluar rumah.

Pada waktu kondisi keuangan saya membaik rumah di gang sempit tersebut dijual dan kemudian pindah ke daerah pinggiran yang lebih tenang, tetapi ternyata kondisi lingkungan tetangganya sama saja, mereka suka sekali bergossip, yang kaya selalu berteman dengan yang kaya, dan yang miskin selalu dianggap rendah.

Waktu saya ke Jakarta beberapa tahun yang lalu, seorang teman saya bertanya kamu tinggal dimana, di rumah atau di apartemen, mobil kamu merk apa, harganya berapa, apakah benar kamu menyetir mobil sendiri di Amerika, coba tunjukkan SIM-nya kalo benar. Saya memberikan coklat ke teman-teman yang saya temui waktu itu tapi dengan entengnya mereka bilang tidak mau coklat itu karena itu coklat biasa dan mereka sudah biasa beli di Singapura. Saya sendiri heran, mengapa mereka bertanya tentang urusan pribadi, tentu saya gaya hidup saya kalah dengan mereka karena kalau saya lihat di FB mereka selalu makan-makan di restoran yang mahal, jalan-jalan setiap weekend, arisan, ke salon, berbelanja di mall-mall yang eksklusif, cell phonenya iPhone atau Blackberry sehingga bisa online setiap saat, sedangkan saya di sini setiap hari bekerja keras dan hanya bisa vacation setiap cuti saja, belanja ke mall juga jarang-jarang, beli seperlunya saja, urusan ke salon hanya untuk potong rambut karena untuk facial atau massage sangat mahal.

materialistis

Setelah saya tinggal di sini saya lihat kondisinya sangat berbeda, walaupun di internet saya baca banyak yang membenci Amerika karena dibilang negara yang tidak beragama dan tidak bermoral tapi pada kenyataannya sangatlah berbeda. Dalam setiap class session yang diadakan oleh perusahaan selalu diselipkan tentang pendidikan moral bahwa kita harus memperlakukan sesama dengan baik tanpa harus membeda-bedakan apakah mereka kaya atau miskin, apakah mereka berkulit hitam atau putih, beragama atau tidak beragama, semua harus sama.

Memang benar orang Amerika memang suka bergaya mewah tapi itu semua untuk diri mereka sendiri, mereka tidak pernah membicarakan orang lain, atau menghina orang lain apabila ada memakai mobil tahun lama atau rumahnya kecil, mereka tidak peduli itu semua. Di tempat saya bekerjapun banyak yg memakai mobil mewah dan juga banyak yang memakai mobil biasa tapi di setiap break time mereka tidak pernah membicarakan tentang orang lain atau memandang rendah orang yang memakai mobil biasa. Bukan berarti tidak ada yang sombong di sini, tentu saja ada tapi skala percentagenya lebih kecil.

Walaupun mereka bersifat individualis tapi kalau ada yang kesusahan mereka selalu berlomba-lomba untuk memberikan sumbangan, setiap ada bencana alam tanpa diminta mereka selalu menyumbang. Pernah beberapa kali ada customer yang jatuh atau pingsan, hampir setiap orang secara reflect membuka cell phone masing-masing dan langsung menghubungi 911, paramedik yang datang langsung menolong tanpa bertanya apakah si sakit punya asuransi atau tidak, yang penting nyawanya tertolong terlebih dahulu.

Kalau sedang termenung sendiri kadang-kadang saya berpikir sebegitu parahnya kah pendidikan moral di sekitar saya dulu, mengapa semua harus diukur dengan materi, kalau memang tidak suka kenapa tidak disimpan dalam hati saja agar tidak menyakiti orang lain. Nasib orang di masa depan tidak ada yang tahu, mungkin dulu nya miskin tapi siapa tahu suatu saat bisa jadi sukses.

 

46 Comments to "Pendidikan Moral"

  1. Summer Girl  14 November, 2013 at 09:46

    Mas anoew, terima kasih sudah mampir, memang begitulah kondisi di indonesia negara kita yg tercinta.

  2. anoew  13 November, 2013 at 18:15

    walaupun di internet saya baca banyak yang membenci Amerika karena dibilang negara yang tidak beragama dan tidak bermoral tapi pada kenyataannya sangatlah berbeda.

    inilah hasil dari didikan atau ‘bisikan hitam’ kaum-kaum 2D nan benci / iri / dengki plus sok suci bin merasa paling benar sendiri.

    Sungguh, saya mual bila mendengar di sekitar saya tanpa tahu latar belakang permasalahan namun sontak latah membenci sesuatu atau apa yang sesungguhnya tidak mereka pahami. Hanya katanya, konon, isu bahkan fitnah yang tak mendasar namun bisa ditelan mentah-mentah. Contohnya? Banyak. Salah satunya sudah dituliskan Summer Girl di atas dengan manisnya.

    Salam antideskriminasi.

  3. Summer Girl  11 November, 2013 at 10:58

    Mbak ivana, saya gak pernah ikut kumpul sama sekali sejak itu, saya kerja 11 jam sehari, weekend jarang libur jadi kalo pas off pasti sibuk bersihin rumah, nyuci, setrika dll. Ke resto indonesia sangat jarang, bisa2 6 bulan sekali, asal ada tempe tahu di rumah kerinduan akan masakan indonesia bisa terobati.

  4. Ivana  11 November, 2013 at 10:51

    Hehehe… Untung saya bukan type yang mau ikutan arisan. Selain itu, udah terlalu sibuk jadi full time working mum. Saya juga jarang ikut barengan makan siang dengan teman2 kantor asal Indo, yang menurut saya banyak gosip dan cenderung negatif. Karena juga saya ini pendiam, jadi mungkin kurang asik kalo diajak gosip hehehehe….

  5. Summer Girl  11 November, 2013 at 10:50

    Bu lani kalo ikut denger pembicaraan ibu2 itu pasti ngakak sendiri deh, high class semua, sptnya saya yg paling miskin diantara mereka, rumah yg saya datangi itu besar sekali dan yg punya rumah baru saja ultah dan dihadiahi mobil baru oleh suaminya (dan yg pasti juga dapet hadiah loan baru yaitu car loan hihihi…. ). . Sejak itu saya gak pernah gabung lagi dg group itu atau org indonesia lainnya, mending bekerja saja. Ikut kumpul2 itu juga gak murah krn kita harus bawa potluck, kalo gak bawa bakal diomongin.

  6. Lani  11 November, 2013 at 09:19

    SUMMER GIRL 40: Mbak ivana, dulu saya pernah ikut kumpul2 dua kali, spt arisan, ibu2 itu semuanya ibu rumah tangga dan kelihatannya group itu orang2 kaya semua dari penampilan dan mobilnya, mereka bilang buat apa kerja kan ada suami yg sudah memenuhi kebutuhan mereka. Setelah dua kali datang saya memutuskan gak gabung lagi dg org indonesia krn saya pikir lebih baik bekerja dan menghasilkan uang drpd arisan dan buang2 uang utk bikin potluck.
    +++++++++++++++++++++

    Maaf ya, aku harus ngakak dulu baca komentar diatas hahaha……
    Aku pernah dengar dr crita temanku, ikutan arisan, kumpul sana sini, kg ada untungnya malah pd bertengkar sendiri.
    Aku salah satu, plg kg demen kumpul2 dgn sesama org Indonesia, berteman ok saja, tp ngumpul, utk alasan apapun EMOH!
    Krn ujung2nya bertengkar, malezzzzzz…..gossip ria, spt kg ada kerjaan wae.
    Lbh baik menyibukkan diri dgn kerjaan, kegiatan sendiri, atau ngumpul dgn org lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.