Satu Rahim, Tiga Cinta (8 – Tamat)

Endah Raharjo

 

Minggu pagi.

Yu Nik kuminta masak nasi goreng teri kesukaan Mas Toro. Ia menerima tawaranku, sarapan di rumahku dalam perjalanan ke bandara.

Kubiarkan ia berdua dengan anaknya. Aku menyingkir ke halaman depan, memotong daunan kering, memangkas cabang-cabang perdu melati yang sudah menjulur liar.

Mas Toro menerima keputusan Ray untuk tetap bersamaku. Keinginan Mas Toro untuk mengajak Ray tinggal bersamanya itu hanya emosi sesaat. Semacam luapan frustasi yang dulu tiap hari kuhadapi. Andaikan Raysa mau, belum tentu istrinya mengijinkan.

Aku juga lega sebab Mas Toro memutuskan tidak mengejar Aryo. Sejak Raysa pulang, dosen yang tengah melanjutkan studi S-3 itu tak menghubunginya. Mas Toro sepakat denganku, sikap diamnya itu lantang, menandakan ia tak mau berurusan lagi. Mas Toro siap ke Surabaya kapan saja, untuk membereskan barang-barang Raysa yang ditinggalkan di rumah kontrakannya. Kubilang kalau Raysa tidak menyimpan barang berharga di rumah kecil itu, cuma TV, kulkas, dan alat-alat rumah tangga. Jadi tak perlu buru-buru.

Sebagai pribadi, Mas Toro baik. Sebagai suamiku, dulu, ia semata percaya pada anggapan umum bahwa lelaki – suami – harus lebih kuat segala-galanya dari istri. Kenyataannya, dalam banyak hal aku jauh lebih kuat dari dia dan – sayang sekali – aku tak bisa berpura-pura lemah. Kupikir waktu setahun untuk saling mengenal sudah cukup. Kukira ia paham benar siapa perempuan yang hendak ia nikahi. Ada benarnya bahwa semasa pacaran cinta itu buta dan tiba-tiba jadi melek selepas menikah.

Bila begitu, putusnya hubungan Raysa dengan Aryo pasti ada hikmahnya. Aryo bisa mengukur kekuatannya, tahu ia akan kalah melawan kehendak orang tuanya. Ia mundur sebelum terlambat. Raysa jadi tak perlu mengulang pengalamanku. Ah. Perjalanan hidupku sudah cukup jauh untuk hanya melihat keburukan dari suatu kejadian buruk.

“Makasih nasi gorengnya.” Suara Mas Toro memotong perbincanganku dengan diri sendiri. Denting gunting tanaman di tanganku berhenti.

“Soal masak Yu Nik memang ratunya,” kataku, masih sambil berjongkok. Ia mendekat, tangannya hendak menyalami.

Aku berdiri, membersihkan tangan kanan dengan handuk kecil yang kusampirkan di ember. “Hati-hati, ya. Salam untuk Vina dan anak-anakmu,” kusebut nama istrinya.

“Titip Raysa.”

Aku mengangguk. “Dia akan baik-baik saja. Kalau ada perkembangan nanti aku kabari.”

“Kalau Vina nggak keberatan, aku akan sering-sering ke sini.”

Sekali lagi aku mengangguk. Ia tersenyum, berbalik, menghampiri Raysa, mengulurkan lengannya. Mereka berjalan bergandengan menuju pagar. Taksi Mas Toro menunggu di pinggir jalan.

Raysa memeluk tiang pintu pagar. Rambutnya ia gelung ke atas. Dari belakang, kulihat jelas ruas-ruas tulang lehernya, juga tulang belikatnya yang menonjol di balik kaus tipis yang ia kenakan. Anakku kehilangan beberapa kilo berat badan. Tangan kanannya terangkat, melambai ke arah taksi yang membawa ayahnya ke bandara.

Ferina sedang reuni dengan teman-temannya yang tinggal di Jogja, makan pecel di dekat kampusnya dulu. Siang nanti ia akan kembali ke Denpasar. Nishiko sudah keluar bersama Bryan sebelum Mas Toro muncul. Mereka akan kembali ke rumah sore hari, mengambil barang-barang sebelum menuju Semarang. Rumah akan sepi. Hanya ada aku, Raysa, Yu Nik, dan Bang Daud.

Sejak Raysa pulang Bang Daud kuminta menginap tiap hari, hanya sesekali menengok rumahnya bila ada perlu dengan Darmi dan anak-anaknya.

Raysa masih bungkam perkara Aryo dan pekerjaan yang ia tinggalkan – mungkin – tanpa pamit itu. Aku akan menunggu sampai ia siap menceritakan semuanya. Aku sudah bicara dengan psikiater atas saran Mbak Dita. Katanya kalau Raysa sudah mau berkegiatan, meskipun sekedar membaca novel dan makan bersama, itu pertanda baik.

Kemarin, Sabtu, sehabis sarapan nasi liwet, kami berempat menghabiskan waktu sehari-semalam bersama. Sudah beberapa tahun hal itu tidak kami lakukan, termasuk saat Lebaran. Kami jalan-jalan, belanja, dan makan. Semuanya aku yang bayar. Saat mereka berebut bertanya, “Ma, aku boleh beli ini?” rasanya mereka menjelma anak-anak lagi. Meskipun dibuahi oleh benih lelaki yang berbeda, mereka sama-sama meringkuk di rahimku, masing-masing terlahir karena cinta.

Sambil berjalan-jalan, Ferina cerita soal pilihan hidupnya untuk melajang.

“Hubunganmu dengan Nesa nggak serius?” Nishiko menanyakan lelaki Bali yang baru dipacari Ferina selama dua bulan.

“Ah. Hubungan kami sebatas kulit doang,” jawab Ferina yang disambut Nishiko dengan humor porno. Mereka lalu bersahut-sahutan, seakan ingin berpesan pada Raysa bahwa pahit-manisnya hidup itu ditentukan oleh diri sendiri; oleh cara kita menyikapi keadaan.

“Manusia itu spesies di atas bumi yang paling lentur. Paling tangguh. Makanya awet, sampai sekarang belum punah,” kelakar Nishiko. “Apa aja ia sikat,” tambahnya sambil memasukkan potongan iga bakar madu ke mulutnya.

“Setangguh-tangguh manusia itu perempuan. Karena ia punya rahim. Kalau perempuan lemah, spesies kita pasti juga cepet punah,” ujarku.

Sewaktu Raysa minta dibelikan ponsel lengkap dengan SIM card, Nishiko beruntun menanyakan perihal gadget-nya. Rupanya semua sudah ia buang. Ia berpesan agar nomer ponsel barunya tidak diberikan orang tanpa ijinnya. Kami bertiga mengiyakan tanpa bertanya-tanya.

Aku harus sabar. Raysa perlu waktu untuk mengunyah bongkahan dukanya. Tidak mudah melepas pergi orang yang kita cintai. Pun butuh keberanian untuk melanjutkan hidup tanpanya. Sepanjang hidupku sudah banyak orang yang kubiarkan pergi. Orang-orang yang memang tak ingin ada dalam hidupku. Orang-orang yang mungkin merasa lebih baik tanpaku. Waktu yang kupunya terlalu singkat untuk berlama-lama menangisi mereka. Aku berharap Raysa bisa bersikap sepertiku.

Di antara rasa khawatir, timbul rasa syukur. Raysa memilih kembali padaku, si pemilik rahim tempat Tuhan menumbuhkan benihnya. Aku berjanji akan membuka lagi rahimku. Raysa bisa tinggal di dalamnya selama yang ia perlukan. Tak hanya 9 bulan. Sampai ia siap terlahir kembali untuk menjalani hidupnya yang baru.

Aku punya beberapa teman pemilik apotek di Jogja, juga seorang dokter spesialis kecantikan yang belum lama mendirikan pusat perawatan kulit. Kalau Raysa ingin bekerja di Jogja, tinggal bersamaku, aku akan berusaha membantu. Bila mau, akan kudukung ia mengembangkan usaha sendiri.

***

Sekuat tenaga aku berusaha menahan airmataku. Belum pernah kulihat Ferina mendekap Raysa seketat itu. Yu Nik berkali-kali mengusapkan lengan baju ke mukanya. Entah apa yang membuat Ferina berubah sikap pada adiknya. Mungkin kantor cabang Denpasar yang segera jadi miliknya. Mungkin foto-foto lama di album itu. Apapun alasannya, kuterima sebagai anugerah Tuhan.

“Kalau kamu bete di Jogja dan bosen sama Mama, main ke Bali. Ya? Ntar aku ajakin pesta, apa ke pantai yang bisa telanjang dada,” kelakarnya, mengelus pipi Raysa.

Tak ayal kami semua tertawa. Yu Nik menyedot ingusnya.

“Iiiih … Yu Nik … Itu ada tisu di meja!” seru Ferina, mendatangi perempuan bermata juling berhati bening itu, memeluknya sambil menyelipkan amplop ke tangannya.

Bang Daud tiba-tiba muncul, siap membawakan koper Ferina. “Lho! Kopernya jadi gemuk,” guraunya, menggaruk-garuk kepala gundulnya.

Kami beriringan keluar rumah. Sekali lagi Ferina memeluk Raysa. “Jaga Mama, Ray. Kalau dia pulang kemaleman, jangan bukain pintu,” selorohnya lagi. Buru-buru ia kenakan kacamata hitam. Aku yakin ia menutupi airmatanya.

***

responsible for my own happiness

Minggu sore.

Aku dan Raysa mengantar Nishiko dan Bryan sampai ke mobil. Nishiko memeluk kakaknya begitu erat seakan ada lem di antara tubuh mereka.

“Aku suka kalau rambutmu begini, jadi kayak anak SMA.” Nishiko menyentuh rambut Raysa yang tadi ia kepang. “Kalau kamu bosan di rumah, main ke Semarang aja. Bisa minta antar Bang Daud atau kalau mau santai bisa naik bis, ada Joglosemar tiap 1 jam. Ya?”

Raysa hanya mengangguk. Bryan memeluknya. “Kami akan mengundangmu kalau ngadain pesta,” candanya.

“Wah … Ray bakal bolak-balik Bali – Semarang buat pesta,” tukasku. “Ada emak-emak yang diundang, nggak?”

“Emak yang satu ini pasti nggak kalah gaul sama anaknya,” timpal Nishiko. Kami tergelak. Raysa menunduk, menyembunyikan tawanya.

Bersamaan mobil Bryan meninggalkan halaman rumahku, Raysa mundur beberapa langkah, meraih pinggangku. Kupeluk tubuhnya dari samping. Tanganku bisa merasakan tonjolan tulang pinggulnya. Yu Nik harus kuminta masak makanan kegemarannya agar tubuhnya segera pulih.

Kami tetap berdiri di halaman meskipun mobil merah saga itu sudah tak tampak. Aku mendongak. Semburat keemasan serupa selendang terhampar di lengkung langit. Tak lama lagi malam turun.

Kami berangkulan melintasi halaman. Yu Nik meraih sapu lidi, membersihkan daunan mangga kering yang berserakan di atas rumputan. Bang Daud memasukkan mobil ke garasi. Kami tak hendak pergi malam ini. Ia kuminta pulang, menghabiskan malam bersama anak-istri.

“Besok Mama kerja?” tanya Raysa.

“Ya. Banyak urusan yang harus Mama selesaikan.”

“Sampai sore?”

“Mungkin. Mama mau nengok proyek di Solo. Rencananya berangkat jam enam. Kamu mau ikut? Kalau mau, setelah Mama sampai proyek, kamu bisa ke pasar Klewer. Atau terserah kamu. Bang Daud biar puyeng sana-sini. Gimana?”

Raysa diam, dua tangannya pelan-pelan membuka kepangan rambutnya. Psikiater itu berpesan agar aku tak memaksanya melakukan sesuatu, bahkan yang menurutku baik untuknya. Raysa juga harus selalu ada teman, namun aku tak perlu serta-merta mengubah kebiasaan, semuanya harus tampak wajar.

“Boleh. Kayaknya asyik,” celetuknya, menyisir rambut dengan jemari.

Meskipun tak melihat rautnya, bisa kurasakan senyum tipis terpahat di bibir Raysa. Aku bahagia. Dalam hati kembali kuucap syukur. Aku percaya Raysa sekuat ibunya.

happiness

Sudah kubuktikan selama lebih setengah abad perjalanan hidupku, aku pernah terjungkal, terpelanting, tergelincir, terjengkang, dan terbentur. Namun aku berhasil bangkit, kakiku kembali menapak dan kepalaku tegak. Sudah puluhan tahun kulakoni, tiap persoalan ada jalan keluar. Tak terkecuali yang tengah menghadang anakku ini.

T a m a t

 

39 Comments to "Satu Rahim, Tiga Cinta (8 – Tamat)"

  1. Lani  8 November, 2013 at 10:57

    38 ER : la yo mmg bener banget…………habis lari pagi rak panas hotttttttttt………..makane njur gembrobyos…….bkn HOT yg dimaksud Djas abang putih lo yaaaaaaa……………kkkkkkkk jian aku ngakak meneh iki

  2. Endah Raharjo  8 November, 2013 at 10:54

    @Lani: nek gembrobyos pertanda panaaaaaas…. hoooooottt…..

    @Alvina: ini sebuah cerber 50 halaman, pendek. Moga-moga nanti sy punya energi dan gagasan unt neruskan. Menarik juga itu soal Bram balik lagi sama Erlin… atau Ferina ketemu jodohnya… Raysa nikah sama duda… hahahahaaa…. Makasih banyak udh baca, Vina

  3. Alvina VB  7 November, 2013 at 23:03

    Wah…kok tamat sich? sangkain akan ada lanjutannya lagi, misalnya Bpknya si Nishiko kan masih sendiri, gak nikah lagi, sangkain akan ada rendezvous, he..he…….Ok, ditunggu cerita2 yg lainnya Endah…

  4. Lani  7 November, 2013 at 22:33

    33, 31 : whoaaaaaaaa………..ckckckc………..clegukkkkkkkkk…………duerrrrrrrrr 100%++ setubuh dgn kalian berdua……..biar kang Djas merah putih tau tuh malah ditekankan “tergantung medannya” kkkk…….esuk2 jik gembrobyos abis ngiter2 Kona…………malah diajak ngakak

  5. Endah Raharjo  7 November, 2013 at 14:37

    @Aji: jangan kebanyakan naik-turun-maju-mundur-atret… nanti banyak yg pingin nyikep lhoooo…

  6. Endah Raharjo  7 November, 2013 at 14:36

    @ Elnino: makasih banyak, ya, bikin hidungku kembang-kempis. kapan2 sy nulis lagi. nyoba nulis yang lucuuuu… yg banyak anu-anu-nya…

  7. Endah Raharjo  7 November, 2013 at 14:35

    @ Yu Lani: wuahahahaaaaa… mantep tenan. Dah, aku ikut2an setubuuuh… ehhh… setujuuuuuuuuhhh… milih di atas apa di bawah tergantung medannya

    Anggapan bahwa ‘laki2 hrs kuat dan perempuan dilindungi’ itu bukan dari aku, itu konstruksi sosial-budaya.
    Dlm hal ini sbnrnya laki2 juga ‘dirugikan’ sebab…. tidak semuaaaa… laki-lakiiiiiiiiiii…. (nyanyi dang-duuuuut… itu sekuat spt harapan masyarakat (atau perempuan yg jd pasangannya).
    Kesetaraan gender semestinya berlaku timbal-balik, nurutku. Kalau ada laki2 lemah, perempuan juga perlu mengerti…

  8. Lani  7 November, 2013 at 13:53

    31 : bravo! plok……….plok………plok…………mantafffffffs!

  9. djasMerahputih  7 November, 2013 at 13:42

    30: Maksudnya harus gantian ya Yu lani…? Tulisannya “di atas” pake tanda kutip lho…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.