[Xixi Diary Sang Superstar] Rencana Menantang Karma

Masopu

 

“Assalamualaikum pak Kiai,” sapa Xixi begitu jamaah yang menghadiri kuliah subuh di pagi itu sudah pergi meninggalkan masjid.

“Waalaikum salam. Kapan nak Xixi datangnya?” jawab pak Kiai. Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada sambil menganggukkan badan. Xixi-pun melakukan hal yang sama. Mereka hanya bertukar salam tanpa saling memegang telapak tangan.

“Kemarin sore saya nyampek di sini pak Kiai.” jawab Xixi sambil melemparkan seulas senyum kepada seorang jamaah yang kebetulan menyapanya dengan sebuah senyuman.

“Bagaimana keadaan kesehatanmu nak? Terus kabar ibu dan bapak di rumah bagaimana?” tanya pak Kiai sambil melangkahkan kakinya menuju teras masjid. Xixi mengikuti langkahnya dari belakang. Kemudian mereka berdua turun dan berjalan-jalan di sekitar masjid yang ditumbuhi aneka macam bunga.

“Keadaan ibu sama bapak alhamdulillah sehat pak. Untuk kesehatan saya sampai saat ini saya belum tahu bagaimana pak. Memang badan terasa lebih sehat dibandingkan dulu, tapi saya belum sekalipun melakukan medical untuk mengetahui bagaimana keadaan kesehatan saya saat ini.”

“Terus nak Xixi ada rencana untuk melakukan medical lagi tidak?” tanya pak Kiai sambil merapikan letak pot bunga yang sedikit tergeser.

“Rencananya lusa saya mau medical lagi. Saya ingin tahu bagaimana hasil ikhtiar saya selama ini pak.”

“Nak Xixi ada rencana lain lagi?” tanya pak Kiai sambil membalikkan badan. Kini tatap mata lelaki yang sudah berumur setengah abad lebih tersebut lurus menatap Xixi yang menundukkan muka.

“Hal itu yang ingin saya sampaikan ke pak Kiai.”

“Rencana apa yang akan nak Xixi lakukan setelah ini?”

“Pak Kiai, saat ini saya tidak lagi mempunyai pekerjaan. Karena saya tak mungkin kembali ke pekerjaan lama, saya berencana untuk mengajar baca-tulis Al Qur’an di masjid ini, itupun dengan seijin dari pak kiai. Selain itu saya juga ingin mengajarkan sedikit pengetahuan yang sempat saya peroleh sewaktu di bangku kuliah dulu.”

“Itu rencana yang bagus nak. Kebetulan sudah hampir 6 bulan ini tidak ada yang membantu saya mengajari anak-anak mengaji. Saya menyambut baik rencanamu itu.” jawab pak Kiai dengan raut muka penuh kegembiraan.

“Terima kasih jika pak Kiai mengijinkan saya mengajar di sini. Tapi ada satu hal yang membuat saya masih ragu.” Xixi berkata dengan raut muka diselimuti keraguan.

“Apa yang membuatmu ragu? Masa lalumu?” tanya pak Kiai.

“Iya pak. Bagaimanapun hampir semua warga di sini sudah tahu siapa saya. Apa pekerjaan saya di masa lalu. Dan penyakit apa yang sedang mengendap di dalam tubuh saya saat ini. Saya khawatir hal itu akan membuat mereka marah dan berpengaruh kepada jumlah santri yang mau belajar mengaji di sini pak Kiai.” Xixi menjelaskan kegundahan di hatinya.

reinkarnasi2

“Kamu tidak usah khawatirkan hal itu nak. Aku akan berusaha memberikan pemahaman yang baik kepada mereka. Dan aku yakin mereka akan menyadarinya. Yang terpenting sekarang luruskan saja niatmu untuk terus berjuan di jalan-NYA nak. Aku hanya bisa mensupport setiap rencana baik yang akan kamu lakukan.” kata pak Kiai mencoba meredakan kegundahan hati Xixi.” Apa yang membuatmu berpikiran untuk mengabdikan hidupmu sebagai pengajar ngaji di sini nak?” tanya pak Kiai.

“Ini semua tak lepas dari bimbingan Haji Rahmat. Beliau telah membukakan mata hati dan pikiran saya pak. Dari beliau saya mengerti arti pentingnya Ikhtiar dan Do’a untuk kesembuhan saya. Tapi ada hal lain lagi yang beliau ajarkan, yakni memanfaatkan waktu yang tersisa dari hidup saya dengan hal-hal yang baik. Petuah beliau itulah yang membuat saya tersadar untuk tidak hanya memfokuskan diri pada usaha kesembuhan saya saja, tapi mengisi sisa waktu yang saya punya dengan kegiatan yang bernilai manfaat pak.”

“Wah jadi kamu sudah berkunjung ke rumah pak Haji Rahmat nak? Bagaimana keadaan beliau?” tanya pak Kiai dengan raut muka gembira.

“Terakhir bertemu, beliau sehat-sehat saja pak.”

“Syukurlah kalau begitu. Oh ya mengenai keinginanmu mengajar di sini, aku pribadi menerima. Tapi tetap aku harus membicarakannya dengan takmir masjid yang lain. Semoga mereka bisa menerimanya. Kebetulan sore ini kami ada rapat pengurus dan salah satunya membahas masalah tersebut. Kamu berdo’a saja semoga mereka bisa mengerti. AKu akan berusaha meyakinkan mereka sebaik mungkin.” kata pak Kiai sambil berjalan menuju ke pintu gerbang masjid. “Nak Xixi hari ini aku ada kegiatan, aku tinggal dulu ya. assalamuaalaikum.” kata pak Kiai mengakhiri pembicaraan.

“Waalaikum salam.” jawab Xixi sambil mengikuti langkah kaki pak Kiai. Sesampainya di depan gerbang, mereka berdua berjalan ke arah yang berlawanan.

 

Denpasar.26012012.0314

 

5 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Rencana Menantang Karma"

  1. J C  7 November, 2013 at 11:23

    Mana ini Iqbal…hhhmmm….

  2. Sumonggo  7 November, 2013 at 09:18

    Syukurlah Xixi mengisi hidup dengan amal kebaikan dan mengajar mengaji, kembali ke jalan yang lurus, membersihkan karma buruk mencerahkan jalan kehidupan selanjutnya

  3. Dj. 813  6 November, 2013 at 23:08

    Syukurlah kalau Xixi sudah bertabat.
    Salam,

  4. [email protected]  6 November, 2013 at 22:33

    waaah… mana nih si IQBAL…..

    absen dulu….

  5. James  6 November, 2013 at 12:11

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.