Solo – The Spirit of Java (1): Kraton Mangkunegaran – Pendopo Ndalem

Tjok Mas & Anoew

 

0

Kraton Mangkunegaran – Pendopo Ndalem

Kraton Mangkunegaran merupakan istana tempat tinggal Mangkunegara I yang dibangun tahun 1957 dengan mengikuti bentuk keraton Surakarta namun lebih kecil. Istana ini terbentuk setelah Perjanjian Salatiga dan Perjanjian Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta  dan Kasunanan Surakarta. Adalah Raden Mas Said, yang merupakan “cabang” yunior dari Wangsa Mataram sebagai penguasanya. Meskipun mempunyai kekuasaan dan berstatus otonom yang sama dengan kedua keraton tersebut, penguasa Mangkunegaran hanya berhak memakai gelar “Pangeran Adipati Arya”, bukan “Sultan” maupun “Sunan”. (*pict 1,2)

1

2

***

Untuk sebuah perjalanan ke masa lampau dalam menyusuri jejak sang Adipati, perlahan aku memasuki ruang-ruang di dalam keraton yang terasa benar aroma dan aura masa silamnya. Hari itu Kamis tanggal 17 tahun 2013 dan tentu saja ketika berkunjung, aku tiada melihat adanya tembakan salvo seperti saat itu, saat ada tamu berkunjung (apalagi aku hanyalah tamu biasa hahaha) ke keraton. Maka cukuplah aku hanya disambut oleh pemandu wisata, lantas memasuki Keraton Mangkunegaran yang megah namun hening.

Dimulai dari Pendopo, aku menikmati setiap detail yang kulihat dan kudengar dari penuturan pemandu wisata. Pendopo yang kujejaklangkahi ini adalah bangunan tambahan di depan ruang utama keraton, tempat penghuni Ndalem bertemu dengan tamu-tamunya atau tempat pergaulan / berdialog dengan masyarakat dari luar kraton. (*pict 3)

3

Sangat megah, dengan disinari 25 lampu minyak yang diboyong dari Belanda pada tahun 1863 yang kesemuanya berlapis emas. Pendopo ini beralaskan lantai marmer yang dibawa dari Italia pada tahun 1864, dan berhiaskan patung-patung  yang berasal dari Belgia, Cina, Perancis dan Negara-negara Eropa lainnya. (*pict 4)

4

Luas ruangan ini mencapai 3500 meter persegi dan disangga 34 tiang berbalut emas. Keempat tiang utamanya, disebut Soko Guru, melambangkan empat elemen kehidupan yaitu air, tanah, angin dan api. Empat tiang utama ini diambil dari satu pohon besar berusia ratusan tahun yang dibelah menjadi empat bagian. Konon, jika bisa memeluk salah satu tiang ini sampai kedua tangan kita bertaut, segala keinginan akan terkabul. Namun sayang, aku dan temanku tak bisa melakukannya karena mungkin kami yang terlalu kecil hahaha..

Melihat ke atas mengikuti penuturan pemandu wisata, kudapati hiasan di langit-langit Pendopo yang berwarna terang. Hiasan itu melambangkan astrologi Hindu-Jawa yang masing-masing menggambarkan sifat dari sejumlah rasi bintang. Di pinggirnya bermotifkan api yang melambangkan semangat hidup, di mana setiap lukisan api ini berbeda warna, yang juga menyiratkan makna berbeda. Warna ungu untuk mencegah pikiran buruk, merah untuk mencegah pengaruh pikiran jahat, oranye untuk mencegah rasa takut, putih mencegah hawa nafsu, warna hijau mencegah stres, hitam mencegah lapar, biru untuk mencegah penyakit dan warna kuning sebagai pencegah rasa kantuk. (*pict 5)

5

Di sisi sebelah barat dan timur terdapat masing-masing dua seperangkat gamelan yang berselimutkan kain berwarna merah dan hijau dan masing-masing dari mereka, mempunyai nama. Salah satu dari gamelan (dibuat tahun 1850) masih digunakan setiap hari Sabtu pagi. Sedangkan seperangkat gamelan lainnya khusus dipakai untuk mengiringi tarian yang diadakan di Pendopo setiap Rabu. Dan gamelan tertua, hanya digunakan pada saat acara-acara khusus seperti perkawinan keluarga atau penobatan Raja. Gamelan ini dibuat tahun 1751, dibawa dari Demak ke Surakarta. (*Pict 6)

6

Dari sini, aku lalu menuju ke sebuah beranda terbuka yang terletak di belakang Pendopo, disebut sebagai Pringgitan, bangungan lebih tinggi yang menuju ke Dalem Ageng. Dari mulai kaki menapak anak tangga kedua dari bangunan ini, sudah kujumpai patung- patung cantik dari Eropa dan juga Cina.  Menurut pemandu wisata, patung-patung itu adalah pemberian sebagai tanda penghormatan kepada penguasa Mangkunegaran.  (*pict 7,8)

7

8

Puas dari Pendopo dan Pringgitan aku masuk ke Dalem Ageng, bangungan inti yang merupakan tempat Sang Adipati bercengkerama beserta keluarganya. Di tempat ini juga terdapat Petanen (tempat persemayaman Dewi Sri, yaitu Dewi Padi – Sang Tani) yang diselimuti tenunan sutera. Di masa sekarang, tempat ini telah dialihfungsikan menjadi museum yang memamerkan aneka perhiasan yang terbuat dari emas murni, senjata-senjata, medali, uang logam dan kertas kuno dan gambar raja-raja Mangkunegaran.

Salah satu koleksi benda yang paling menarik di sini (karena bapak pemandu wisata kami menerangkan berulang kali dan dengan sangat detail hahaha) adalah sebuah benda peninggalan jaman Majapahit. Bentuknya seperti tabung berukuran 15-20 cm, terbuat dari emas dan berbentuk ukiran kepala naga dengan sisik-sisiknya yang runcing.

Menurut penuturan pemandu, benda itu dipakaikan oleh istri raja-raja jaman dulu ke suaminya sebelum mereka pergi berperang. Fungsinya adalah untuk melindungi organ vital tersebut dari bahaya yang tak diinginkan selama dalam peperangan, tapi menurutku sih lebih kepada melindungi “kesucian Sang Raja supaya tidak selingkuh dengan perempuan lain. Ajaibnya, walau terbuat dari emas dan dipasangkan dengan tali kulit, benda ini juga diikat dengan mantra-mantra. Mungkin supaya tidak mudah lepas. Sedangkan bagi permaisuri, bentuknya berupa lempengan emas berukir yang juga diikat dengan tali kulit. Fungsinya sama yaitu, supaya istri raja tidak berselingkuh selama suaminya pergi berperang.

Sungguh sayang tempat yang banyak menyajikan aneka koleksi benda bersejarah tak ternilai  ini tidak diperkenankan diambil gambarnya, dan hal itu diingatkan sampai tiga kali oleh pemandu wisata saat temanku hendak memotret sembunyi-sembunyi dari kamera hapenya. Hahahaha…, lucu juga raut mukanya saat kudapati ia tersipu-sipu dan salah tingkah.

Baiklah, aku cukup puas dengan apa yang kulihat, kudengar dan kuendus aroma sejarah dari tempat ini, tempat yang sarat menceritakan kejayaan Sang Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya saat memimpin pasukan melawan musuh-musuhnya. Lantas aku beranjak ke barat, ke suatu ruangan hexagonal (bersudut delapan) yang menghadap ke taman terbuka dengan aneka tanaman hias dan sebuah kolam yang berair jernih. (*pict 9)

9

Tempat ini adalah ruang keluarga Mangkunegaran dan di sinilah biasanya Sang Adipati menerima tamu-tamu besar kenegaraan atau tamu penting dari luar negeri. (*pict 10,11,12)

10

11

12

Di dalam ruangan yang disebut Beranda Dalem ini, terdapat tempat lilin antik dan perabotan Eropa yang indah hasil dari upeti maupun cindera mata dari tamu-tamu manca negara yang berkunjung. Juga kaca cermin berukuran besar-besar yang berbingkai ukiran berlapis emas terpasang berjejer rapi di dinding, plus lukisan dan potret dari anggota istana Mangkunegaran. (*pict 13,13,15)

13

lhaaa

Dalam ruang keluarga keraton ini kursi disusun berdasarkan hirarki, enam kursi yang berjejer di belakang adalah untuk Raja. Sedangkan kursi di sebelah kiri adalah untuk keluarga Solo, dan di sebelah kanan untuk keluarga Jogya. Lagi-lagi sayang, aku tak diperbolehkan untuk berpose duduk di kursi tersebut sekedar membayangkan bagaimana rasanya menjadi keluarga kerajaan hahaha…

Keputusan-keputusan penting dibuat dalam ruangan ini seperti pernikahan keluarga, rapat, upacara, dan lain sebagainya.  (*pict 16,17)

16

17

Dengan melihat susunan kursi di ruangan ini sejenak aku teringat akan teras rumah seorang teman baikku dan menyimpulkan, tata ruang keluarga ataupun ruang tamu keluarga Jawa itu mempunyai hirarki. (*pict 18)

18

Tempat bertemunya tamu dari luar dan keluarga tetap dibedakan, walaupun dalam penyusunan kursi tidaklah setegas seperti di dalam keraton.

Puas menikmati suasana di sini, aku beranjak ke ruang makan dan ternyata…, suasana tak kalah elok dengan ruang sebelumnya. Di sini, di ruang makan ini, aku seakan melihat raja (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara) dan anggota keluarganya sedang menikmati hidangan yang disajikan oleh para Abdi Dalem dengan piring dan sendok garpunya yang terbuat dari emas. (*pict 19,20)

19

20

Di sebelah kiri meja makan yang berbentuk empat persegi panjang ini, terdapat tempat kopi, teh, gula dan anggur. (*pict 21)

21

Aaah…, serasa aku ikut hadir di sini saat mereka bercengkerama dengan makanannya dan seolah kulihat, Sang Adipati menikmati santapan dengan tidak terburu-buru. Berwibawa, kalau bukan dibilang anggun.

Lantas mata ini tertarik pada patung dua sejoli yang terletak di atas meja persis di belakang tempat Adipati duduk. Kutanyakan ke pemandu wisata patung apa atau siapakah itu yang lalu dijawab, mereka adalah semacam icon Keraton Mataram dan hingga saat ini tetap ada keberadaannya di Keraton Surakarta maupun Yogjakarta (Keraton Mangkunegaran adalah pecahan dari Kerajaan Mataram). (*pict 22)

22

Keluar dari Ruang makan aku beranjak menuju bangunan di depan Pendopo, bangunan yang dulunya dipakai sebagai kantor Urusan Pemerintahan Istana. Segala sesuatu yang menyangkut keperintahanan / kenegaraan dikerjakan di sini oleh pegawai istana. (*pict 23)

23

Di masa sekarang bangunan ini dipakai untuk menyimpan beberapa kereta Istana yang sampai sekarang masih terawat dengan baik. Sekali lagi sayang, aku tidak boleh menaiki kereta tersebut sekedar untuk bisa merasakan sensasinya, sensasi seperti anggota kerajaan hehehe… (*pict 24,25,26,27,28,29)

24

25

26

27

28

29

(bersambung)

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Tjok Mas! Semoga kerasan, make yourself at home…ditunggu artikel-artikel lainnya ya. Matur nuwun Kang Anoew yang sudah mengajak Tjok Mas bergabung ke Baltyra…

 

42 Comments to "Solo – The Spirit of Java (1): Kraton Mangkunegaran – Pendopo Ndalem"

  1. Tjok Mas  13 November, 2013 at 21:51

    @Pak Dj, wah asyik nih ditraktir makan-makan hahaha… Makan rawon setan atau makan onde-onde saya suka hahaha ketahuan gembul ya…

    Tentang nama saya, itu memang betul nama asli lho.., hanya itu saya singkat untuk nama depannya dan yang berikutnya adalah nama asli yang kalau disebutkan semua sepanjang gerbong kereta api haha..

    Trimakasih pak Dj, salam hangat selalu.

    @Mbak Mawar, halo mbak…, salam kenal ya mbak..

    Om Anoew suka nggigit ya, kok harus hati-hati hahaha… selama ini sih baik-baik saja sih, mungkin karena saya yang galak ya jadi mas anoew takut hahaha

  2. Mawar09  13 November, 2013 at 00:48

    Tjok Mas : selamat bergabung di Baltyra dan salam kenal. Hati2 ya dengan Anoew !! ha…ha…ha…
    Wah… bajang Bali yang bermukim di Surabaya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.