Kau Berhasil Membuatku Menangis (Terima Kasih Nis)

Emi Suyanti

 

SUATU HARI NANTI, AKU AKAN MERINDUKAN SAAT-SAAT ITU

Suatu hari nanti, aku akan merindukan saat-saat itu. Yaaa… saat dimana ada orang yang tak kukenal tiba-tiba menyapa sambil menawarkan diri membawakan tas ku. Lalu aku mengikuti langkahnya dari belakang. Lelaki yang tinggi besar, mungkin lebih keren aslinya daripada yang biasa kupikirkan dan kulihat di gambar. Seperti pemandu, dia memperkenalkan jalan-jalan yang kita lalui, hingga dia berhenti di depan salah satu gedung sekolah dan memanggil satu anak kecil yang sedang mengelilingi pedagang jajanan. Anak kecil itu, dia bermata sipit persis seperti yang ada dalam foto. Kemudian dia bersalaman, seolah dia mengerti kedatanganku akan terjadi.

Kemudian kita pun kembali melanjutkan perjalanan. Nampak dari jauh seseorang berjalan, mataku pun segera mengenali siapa sosok itu. Mungkin dia lah alasan konyol yang memabawaku ke Jakarta. Yaaa… dia, kukenal lewat sebuah social media. Entah…mengapa aku harus rela jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk bertemu sosoknya. Padahal jika kumau, aku bisa saja bertemu dengan teman-teman lain yang juga kukenal lewat social media, yang lebih dekat jaraknya dari kediamanku tentunya. Tapi takdir justru membawaku kesana, bertemu dengan sosoknya. Satu sosok kharismatik di mataku, meski ku tahu dia juga menyimpan banyak kekurangan. Yaaa… mungkin sebab dia yang intens berkomunikasi dengan ku. Atau…ah….entahlah

Sesering aku melakukan perjalanan di berbagai wilayah Indonesia, aku pun singgah di tempat-tempat yang menakjubkan. Memberi kesan memang, tapi tak sedalam kesanku pada perjalanan kali ini.

Mungkin …suatu hari nanti aku akan merindukan momen-momen itu. Dimana untuk pertama kalinya aku berani menceburkan diri di kolam renang selepas tragedy aku hampir tenggelam beberapa tahun silam. Tapi kebersamaan itu membuat nyali ku kembali menyala. Masih jelas kuingat si kakak selalu mengajakku berjalan lebih ke tengah dan memainkan lempar kerikil untuk kembali kita ambil dengan jemari kaki. Lalu si sosok kharismatik itu sibuk membidikkan kamera hp, mengabadikan setiap momennya. Selepas itu dia kembali merengsek ke tepi kolam membawa sepiring siomay lalu meyuapkan kepada kami. Rupanya saling memberi perhatian itu sudah menjadi kebiasaan keluarga kecil itu. Ah… indahnya.

Dan mungkin suatu hari nanti aku akan merindukan saat-saat itu. Dimana si sosok kharismatik itu menawarkan segala yang dilihatnya padaku. Kamu mau ini, kamu mau itu. Ah…dia pikir perutku sebesar dua gentong merah yang ada di rumahnya yang bisa menampung segala jenis makanan.

Suatu hari nanti aku akan merindukan saat-saat itu. Ketika kita berkunjung ke monas dan kota tua. Kau bercerita beberapa teman ada chat denganmu, mereka juga ingin bertemu layaknya aku. Lalu aku tak salah bukan menyebutmu sebagai si sosok kharismatik. Bagaimana tidak, banyak orang yang menaruh kagum padamu. Lalu pada perjalanan pulang kau bercerita tentang angan dan mimpimu membangun bisnis lollipop mu. Kau berangan-angan mempunyai kios lollipop dan si pembeli akan mendapat bonus puisi cinta. Kau juga bermimpi akan mengadakan event lomba menulis, lagi-lagi berkaitan dengan lollipop. Kau tampak begitu pesimis, tapi aku begitu optimis kau akan mampu meraih mimpi-mimpi itu. Ah, aku merekam setiap momen itu dengan benar, di sini, di ingatanku.

Lalu aku akan menyebut namamu berulang di tiap doaku hingga tak terasa ada sedikit hujan dari mataku. Dan aku memilih berlama-lama di loteng itu untuk menyembunyikan air mataku juga kesedihanku. Sambil merangkum setiap kebaikan yang kalian cipta untukku. Kalian begitu mengistimewakan aku sebagai tamu. Dan mungkin karena menurutmu sholatnya terlalu lama kamu pun memanggilku. Aku menjawab “nunggu isya sekalian” sambil berulang mengusap air mata yang menetes. Meski demikian kamu tak akan pernah mendengar karena itu hanya terjadi di hatiku.

Suatu hari aku akan merindukan saat itu. Bersama berkeliling ke tempat-tempat dan mensuply lolipop. Aku jadi sedikit tahu aktifitasmu sebelum atau selepas kerja, yaaa…berkeliling mensuply atau menagih lolipop yang sudah laku terjual. Terkadang kamu begitu ramah terhadap para pedagang itu, terkadang…kamu juga sabar dan pasrah pada pedagang yang cuek dengan kehadiranmu. Sedikit terjal memang jalan yang harus kamu tempuh, tapi aku yakin Tuhan akan membayar mahal setiap peluh yang menetes, membayarnya dengan keindahan satu waktu nanti.

Aahhhh menyenangkan sekali seperti ini, bisa melihatmu sedetail ini, selama ini, sepuas ini. Ketika kamu tak mau menaiki wahana histeria, hanya histeria yang tak mau kamu naiki, tapi…kamu rela berlama-lama menemaniku dalam antrian panjang. Lalu di tengah-tengah antrian kamu berubah pikiran, kamu mau menaiki wahana itu dengan catatan kamu akan memejamkan mata ketika berada diatas. Lihat…kamu tertawa melihat eksperesi orang-orang yang sedang menaiki wahana itu. Ahhhh…aku suka momen-momen ini.

Yap, kamu makan dengan lahapnya di tengah jeda permainan-permainan kita. Lalu kamu menertawakan si kakak yang tak bisa makan dengan memakai sumpit, katamu “kakak tak pantas jadi orang jepang, padahal saat itu aku juga makan memakai sendok. Lucuuu…entah kamu memang benar-benar mengolok-olok si kakak atau hanya berusaha menyindirku. Hmmm….aku tak peduli itu semua sebab aku senang berlama-lama di sana denganmu.

Aku juga merekam momen dimana kita menaiki bianglala, dan ketika kita berada diatas, kamu sibuk mengabadikan pemandangannya; laut. Aku tahu benar, kamu begitu suka laut, alasannya… mungkin sebab “dia” yang lebih sering berada di laut. Aku pun merekamnya ketika kamu bercerita, tentang “dia” yang mengabarimu. Katamu “(dia)” sedang pasing di Srilangka, jadi “dia” bisa ol. Kamu pun berpikir, ayah juga sedang chat dengan “dia”. Aku melihatnya…benar-benar melihatnya, matamu begitu berbinar mendapat kabar darinya dan tak sedikitpun melepaskan hp dari tanganmu. Sayangnya kamu tak bercerita banyak tentang “dia”, entah karena kamu takut aku marah, atau apa…

Suatu hari nanti aku akan merindukan saat-saat itu. Saat kita berpanas-panas antri untuk menaiki wahana tornado. Lalu kamu tertawa melihat ekspresi orang yang duduk di bangku paling ujung. Katamu…ekspresinya terlalu datar, tak berteriak, juga tak ada ekspresi takutnya. Di setiap tawamu itu aku memandangmu sembunyi-sembunyi, merekam setiap sepermili detik pemandangannya di otakku, merekam setiap sepermili suaranya di telingaku dan menyimpannya dengan kualitas tertinggi yang bisa dicerna keduanya.

Kamu tahu, aku juga merekam setiap momen-momen yang kita lewati, semua. Termasuk ketika kamu berbicara dengan ibu-ibu yang dari Batam itu. Selepas ibu itu pergi, kamu bercerita padaku. Hampir semua orang membanggakan fasilitas yang ada di luar negeri, bukan di negerinya sendiri. Sepertinya nasionalisme mereka sudah mulai turun. Dan apa kamu tahu, mendengar ceritamu itu, aku menambah sedikit rasa kagumku padamu. Hanya sedikit. Tapi kamu nampak begitu pintar saat itu dengan bahasamu yang tinggi.

Aku juga merekamnya ketika kamu mengobrol dengan bapak-bapak di sebuah halte ketika kita menunggu busway. Lagi-lagi aku menambah sedikit rasa kagumku padamu. Melihatmu berbicara mengenai perbedaan monas tempo dulu dan saat ini, saat jokowi sudah mengijinkan para PKL boleh berjualan di area Monas. Katamu, Monas sekarang terlihat kotor. Ah entah…kamu nampak begitu luar biasa saat itu. Dengan gaya bicaramu yang fasih berdiskusi mengenai fasilitas yang ada di Jakarta, kamu nampak seperti orang yang sudah bersekolah sangat tinggi.

Hmmm…suatu hari nanti aku pasti merindukannya. Ketika kita bimbang memilih menaiki wahana arung jeram atau tidak. Kita ingin masuk ke wahana itu, tapi masalahnya kita tidak membawa baju ganti. Lalu kita mulai menatap orang-orang disekeliling kita, orang-orang yang habis memasuki wahana itu. Ada yang basah kuyup, ada juga yang tidak. Dan itu membuat kita kembali bimbang. Hingga akhirnya kita pun memutuskan memasuki wahana itu sambil memasukkan hp dan kamera ke dalam kantong plastik, lalu kita pun berpasrah apapun yang akan terjadi di dalam. Hei…lihat…lagi-lagi kamu kembali tertawa ketika genangan air masuk ke dalam perahu kita. Aku senang melihat tawamu yang lepas. Ah..aku suka melihat pemandangan ini.

Selepas keluar dari wahana itu kita pun memilih berhenti sejenak. Mengabadikan setiap momen karena view disana begitu bagus. Ada jembatan dengan dihiasi bohlam-bohlam lampu, sungguh indah pemandangan sore itu. Aku suka itu. Lalu kamu mulai berlenggak-lenggok persis seperti model. Lalu kamu akan mengkritikku ketika aku tak bisa memotret dengan tepat, aku tak bisa mengambil anggel yang bagus. Hahaha…lalu aku menyuruhmu kembali berlenggak-lenggok biar kuambil ulang gambarnya. Nyatanya hasilnya tetap sama. Katamu, tanganku gemetar ketika aku memotret. Yaaa…memang begitu adanya aku, aku tak bisa memotret dari dulu. Aku suka momen-momen ini. Jangan dulu pulang, biar kita puaskan hari ini.

Dan setiap gerakanmu itu, seperti ketika tanganmu reflek melepaskan kacamata ketika akan mau di foto agar tak nampak lebih tua. Aku juga menyimpannya, membaginya menjadi fragmen2 adegan kecil untuk suatu hari nanti bisa kuputar kapan saja. Entah itu mengamatinya sebentar-sebentar atau berlama-lama. Yaaa…seperti itu.

Dan semuanya pasti akan kusimpan, seperti saat kita berdiri dalam busway, kamu pun bertanya keadaanku, apakah aku capek berdiri selama itu? Katamu; begitulah jika naik busway. Dan kamu kembali berkata: “jadi ini naik busway pertama dan terakhir dong”. Entah….. Saat itu aku tak suka dengan kata-kata “terakhir”, seperti takkan bertemu lagi, atau memang demikian adanya. Ahhh…entahlah.

Aku juga akan menyimpan suaramu ketika bercerita, kerenyahannya, keriangannya, semuanya. Juga ketika kamu melihatku sudah terbangun. Pasti kamu akan bilang “minum dulu teh nya Nis, belum digulain”. Ah, aku sangat suka momen-momen itu. Aku juga akan menyimpannya, ketika kita berebut membayar di depan kasir Carrefour. Lalu kita pun memutuskan untuk saling membayar setengahnya.

Termasuk juga ketika kamu mengantarku ke stasiun, aku juga akan merekamnya. Aku lebih banyak diam, menikmati setiap momen yang terjadi saat itu. Kita datang lebih awal, 2 jam sebelum keberangkatan kereta. Mungkin kamu begitu lelah, hingga kamu memilih tiduran sambil menunggu kereta datang. Hah…menyenangkan sekali melihatmu sedetail itu. Meski tak nampak wajahmu karena posisinya kamu membelakangiku, aku tetap memandangmu. Hingga aku menyuruhmu menungguiku lebih lama lagi, aku tak mau waktu itu segera berlalu. Aku terus mengamatimu dalam detailnya, benar-benar dalam detailnya, suara, gerakan, kebiasaan, semuanya. Alasannya sederhana suatu hari nanti aku akan merindukan saat-saat itu.

 

10 Comments to "Kau Berhasil Membuatku Menangis (Terima Kasih Nis)"

  1. Mawar09  13 November, 2013 at 01:01

    Emi : tulisan yang bagus ! Salam kenal.

  2. J C  12 November, 2013 at 21:31

    Alurnya mengalun emosi…

  3. Matahari  9 November, 2013 at 15:49

    Pak Djoko…nimbrung ya saya…buah kesemek di Eropa mungkin benar dari Spanyol juga dari Turkei…di supermarket Turki sangat sering dijual..sebiji harganya 80 euro cent atau 10.000 rp…saya juga suka tapi tidak yang terlalu masak….Kesemek di Eropa sepertinya beda dengan kesemek di Indonesia…bentuknya juga rada beda…dan memang benar…kesemek di Eropa tidak dijual dalam keadaan berkapur…saya tidak tau apa sebelumnya sudah dikapuri dan begitu dijual..kapurnya telah dibersihkan…karena kesemek kalau masih muda kan sepat…dan kapur itu untuk membuang sepat tadi…Bisa juga kalau dijual di Eropa dengan kapur…orang tidak berniat beli karena kelihatan seperti tidak bersih…atau…memang kesemek Eropa ini beda dengan kesemek dinegri kita?Saya juga kurang tau

  4. Matahari  9 November, 2013 at 15:41

    Judul diatas itu…sepertinya ucapan dua orang…Kau Berhasil Membuatku Menangis :ucapan penulis dan Terimakasih Nis ucapan pria simpatik yang dikenal lewat social media…dan terkenang kenang sampai sekarang…Kenapa tidak happy ending? atau lebih seru kalau tidak happy ending?…

  5. Dj. 813  9 November, 2013 at 02:05

    Mbak Emi…
    Kami ada di Mainz,itu foto-foto tahun lalu, saat kami di Bali.
    Baru kali ini sempat posting di FB.
    Puji TUHAN…!!!
    Senang mendengar Vaness menang,semoga semakin rajin menulis dan sukses selalu.
    Kesemeg di Mainz ada setiap hari dan tidak mengenal musim.
    Entah datang dari mana saja, yang Dj. tahu ada yang dari Israel, juga Spanyol, Turki.
    Olehnya setiap saat banyak di supermaket dan saat ini bahkan besar-besar.
    Biasanya kami makan yang sudah sedikit lembek.
    Tapi kemarin, makan yang masih keras, juga manis sekali.
    Yang aneh, karena kesemeg di Mainz, tidak ada yang pakai pupur… hahahahahahaha….!!!
    Salammanis dari Mainz.

  6. Matahari  9 November, 2013 at 00:34

    Ceritanya lumayan panjang …..isi ceritanya sangat bagus….perlu imgainasi untuk menganalisa setiap alineanya….

  7. Emi Suyanti  8 November, 2013 at 16:32

    Haloooo salam kangeeeeennnn pak DJ….Selamat sore dari Jakarta pak DJ, saya lihat foto-foto pak DJ tentang Bali, apakah bapak sdg ada di Bali? Waah…slumayan lama saya tdk nongkrong di Baltyra, syukurlah masih ada yg kangen dengan saya, hehehe… Pak DJ…Vaness tempo hari ikut lomba karya tulis mewakili sekolahnya dan Alhamdulillah menang di tingkat kecamatan juara 1 dan tingkat Kotamadya juara 2 shgga dapat 2 piala penghargaan dan hadiah dari bapak Kepala Sekolah dan juga dari ibu Guru Agama. Bapak makan kesemeg di Jerman ya? Waah saat ini di Jakarta sdh tdk musim lagi pak. Sdg musim mangga pak. Oh ya semoga tulisan ini berkenan di hati para warga Baltyra. Selamat sore dari Jakarta, salam hormat…salam dari Vanessya dan Valencia…

  8. Dj. 813  8 November, 2013 at 16:11

    Mbak Emi….
    Baru dirasani, taunya muncul juga.
    Kemana saja, sudah lama tidak kelihatan.
    Semalam kami banyak makan buah kesemeg ( buah Kaki ), ingat mbak Emi, karena
    pernah menulis kan…???
    Puji TUHAN…!!! Sekarang nongol tulisannya.
    Terimakasih.
    Salam manis untuk keluarga dirumah dan cium sayang anak-anak yang manis-manis ( Valen dan Vanes )

  9. Emi Suyanti  8 November, 2013 at 12:02

    2 makasih pak Joshep Chen…ini asli ditulis dari hati.

  10. Lani  8 November, 2013 at 11:49

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.