Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (3)

Dewi Aichi – Brazil

 

Artikel sebelumnya:

Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (1)

Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (2)

 

Imigran Jepang dengan jumlah besar

imigranjepang

Pendatang imigran Jepang menunggu dan menginap di kantor imigrasi di Sao Paulo, sebelum diantar ke lokasi di mana mereka akan bekerja. Dalam tujuh tahun pertama imigrasi Jepang ke Brasil mencapai 3.434 keluarga, yaitu, hampir 15 ribu orang. Antara tahun 1917 – 1940, ada lebih dari 164.000 orang Jepang, dimana 75 % untuk São Paulo.

Sebagian besar imigran tiba selama dekade 1920-1930, tetapi fokusnya tidak hanya pada perkebunan kopi. Mereka juga mencari pekerjaan dalam budidaya stroberi, teh dan beras. Dengan berakhirnya Perang Dunia I, aliran imigran Jepang ke Brasil tumbuh sangat subur karena dorongan dari pemerintah Jepang. Pemerintah Jepang melihat adanya pertumbuhan kemiskinan dan pengangguran di negeri ini karena kepadatan kota-kota Jepang. Pemerintah Jepang juga ingin perluasan etnis dan budaya ke bagian lain dari dunia, terutama di Amerika, dimulai dengan Brasil. Kebanyakan imigran Jepang pada awalnya memiliki niat untuk memperkaya di Brazil dan kembali ke Jepang pada maksimal tiga tahun bekerja di Brasil.

Namun, mimpi itu rasanya sangat mustahil terwujud di tanah Brasil ini. Selain upah yang rendah, imigran Jepang juga dipotong gajinya untuk membayar berbagai macam yang dikonsumsi oleh imigran, dan imigran masih diharuskan membeli lahan yang digarapnya. Segera mereka berhutang, posisi para imigran Jepang dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan, inilah sebenarnya maksud pemerintah Brasil mencegah mereka kembali ke negara asal mereka.

Masa-masa awal imigran Jepang adalah masa sulit, karena mereka sengaja dihadapkan dengan banyak kesulitan. Bahasa yang berbeda, pakaian, adat istiadat, agama, iklim, makanan, kondisi kerja yang buruk dan bahkan berbagai prasangka menjadi hambatan bagi integrasi orang Jepang di sini di Brasil. Bagaimanapun mereka mau kembali ke Jepang, sebagian besar dari imigran Jepang tidak pernah belajar berbicara bahasa Portugis dan juga tidak memiliki keinginan untuk menetap di Brasil.

Hal yang sama terjadi dengan generasi pertama lahir di sini, yang dididik dalam budaya Jepang, termasuk menghadiri sekolah yang didirikan oleh masyarakat Jepang. Fakta bahwa mereka tinggal di daerah pedesaan yang terisolasi dan membuatnya lebih sulit untuk beradaptasi dengan Brasil. Sekitar 90 % dari anak-anak Jepang berbicara bahasa Jepang di rumah dan masih didominasi oleh keinginan untuk kembali ke Jepang.

Generasi kedua dari orang Jepang yang masih berada di Brazil berusaha mengubur harapan untuk bisa kembali ke Jepang.Dengan adanya Perang Dunia II yang mengguncang tanah air mereka, mereka akan lebih aman untuk tinggal di Brasil. Banyak imigran mulai berbondong-bondong masuk ke Brasil pada periode ini, tertarik oleh kerabat yang telah berimigrasi dan juga situasi negara Jepang yang tidak aman saat itu. Pada 1930, Brasil telah menampung penduduk terbesar Jepang di luar Jepang. Meskipun banyak sekali kesulitan yang mereka hadapi, imigran Jepang lama-lama hidup makmur dan akhirnya memilih untuk menetap hidup di tanah Brasil, padahal niat awalnya adalah untuk kembali ke tanah air.

. imigranjepang1

Gambar di atas adalah salah satu poster yang beredar pada saat itu untuk mendorong Jepang untuk pergi bekerja di Brasil .Maksud pemerintah Jepang adalah agar imigran Jepang memperkaya diri di Brasil dan kembali ke Jepang.

Foto bawah:

Adalah sebagian imigran Jepang yang hidup terisolasi di lahan garapan mereka…

 

bersambung…

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

18 Comments to "Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (3)"

  1. Mawar09  14 November, 2013 at 00:50

    DA : asyik baca seri artikel ini. Menyesuaikan diri dengan lingkung baru yang sangat berbeda memang tidak gampang, apalagi semuanya dipersulit pula. Ditunggu lanjutannya. Senang dengar kamu rajin minum obat!! ha…ha…

  2. J C  12 November, 2013 at 21:39

    Dewi, membaca ini serasa “naik mesin waktu”. Menelusuri, menelisik dan membayangkan kondisi ketika itu…tapi memang di kota-kota besar Brazil pengaruh Jepang terasa kuat sekali…

  3. Dewi Aichi  11 November, 2013 at 10:43

    Lani….aku sudah sembuh berkat selalu dingatkan obatnya…..hahahahaha…kapan2 ngobrol yuk…

  4. Lani  11 November, 2013 at 09:39

    12 DA : betul jg, makanya sbg Bapak yg baik, kamu sll diingatkan………soalnya klu sdg kumat memedenikan……..kkk

  5. Dewi Aichi  11 November, 2013 at 09:37

    Alvina…iya masih 2 seri lagi, memang ya Alvina, orang Jepang sendiri yang di Jepang, jika sudah bergaul dengan orang asing, bisa kok bersikap terbuka.

  6. Dewi Aichi  11 November, 2013 at 09:34

    apa to mbah Gunung Wartadi sana senam biar sehat jasmani dan rohani….PSS Slemania menang kok ha ha..

  7. Dewi Aichi  11 November, 2013 at 09:33

    Lani, ya itu pak DJ baik banget dan selalu perhatian sama aku, selalu mengingatkan untuk minum obat, mungkin pak DJ takut aku kumat di baltyra hehehehe..

  8. Dewi Aichi  11 November, 2013 at 09:22

    mas Sumonggo huwahahahaahaa…..kemarin pas pulang lupa, ngga bawa benih salak pondoh he he

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *