Sekolah Itu Surga

Wiwit Sri Arianti – Sidoarjo

Judul: Sekolah Itu Surga

Penulis: HJ. Sriyanto

Penerbit: Penerbit Selingkar Rumah Idea Pustaka

Tebal: xvi + 162 ISBN: 978-602-98333-8-6

sekolah-itu-surga

Membaca judul buku ini anganku langsung melayang pada suasana sekolah yang menyenangkan, aman dan nyaman, guru yang ramah dan menempatkan murid sebagai subyek pendidikan. Ada komunikasi timbal balik antara murid dengan murid dan murid dengan guru, ada saling belajar dan menghargai antara murid dan guru. Sungguh suasana yang membahagiakan dan damai laksana di surga seperti yang sering digambarkan oleh pada ulama.

HJ. Sriyanto atau yang sering disapa pak guru Joyo, menuliskan pengalamannya, suka dukanya dan impiannya tentang pendidikan selama menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas di Jogjakarta yang dikenal dengan nama SMA Kolese De Britto. Judul buku yang dia pilih adalah  “Sekolah itu Surga”. Impian tentang pendidikan yang menggerakkan batin, mengobarkan semangat dan mencerahkan.

Guru Joyo membagi bukunya ke dalam 4 bagian dan masing-masing bagian terdiri dari lima sampai dengan tujuh judul. Bagian pertama bukunya berkisah tentang  pergumulannya untuk memantapkan diri bahwa guru adalah profesi terbaiknya. Dimulai dari keputusannya untuk memilih guru menjadi profesi yang digelutinya, pasang surut semangatnya, sempat berhenti menjadi guru untuk merefleksikan perjalanannya sampai akhirnya kembali ke sekolah yang sama untuk mengajar lagi murid-muridnya termasuk mengajar teater. “Siapa bilang jadi guru itu gampang?!” sub judul yang diakhiri dengan dua tanda baca sekaligus, yaitu tanda tanya dan tanda seru, seperti itulah penulis membawa pembaca kepada pertanyaan dan pernyataan tentang profesinya sebagai guru dan pengamatannya terhadap berbagai persoalan pendidikan di republik ini.

Menurutnya, jika guru sudah mantap dengan profesinya dan “bergerak” untuk membuka jendela agar dapat berbagi dengan teman seprofesinya, saling menguatkan, maka tantangan seperti apapun tidak akan mampu mengoyaknya. Sertifikasi atau ganti kurikulum seribu kali bukan soal lagi, dengan spiritnya guru itu akan selalu menjadi manusia pembelajar yang selalu meng-upgrade diri untuk dibagi dengan manusia-manusia muda yang selalu ada bersamanya.

“Pendidikan itu menyalakan api dan mengobarkannya”, demikian guru Joyo memberikan judul pada bagian 2 bukunya. Guru Joyo memberikan gambaran ada banyak nilai kehidupan yang diolah di sekolah. Universal dan fundamental, yakni menyangkut bagaimana manusia tumbuh berkualitas dan semakin mampu berperan kunstruktif di dunia. Manusia-manusia itu adalah siswa dan guru, satu dengan yang lain saling bergantung, saling mempengaruhi.

Mulai dari membangun karakter, untuk mengembalikan harga diri bangsa yang mulai runtuh  akibat dari berbagai krisis yang menimpa negeri ini,  menurutnya pendidikan merupakan salah satu media yang cukup efektif untuk pembentukan karakter. Refleksinya terhadap hasil UN tahun ajaran 2009/2010 di Jogjakarta, angka ketidaklulusannya untuk tingkat SMA mencapai 23,7% karena dilaksanakan dengan tingkat kejujuran yang tinggi, seolah membenarkan pernyataan “jujur ajur” seakan meyakinkan bahwa kecurangan dalam UN itu hal yang wajar. Penempatan aspek psikomotorik dan aspek afektif setara dengan aspek koknitif, diharapkan dapat mengembangkan seluruh sisi kemanusiaan peserta didik hingga menjadi pribadi yang humanis. Pentingnya kerendahan hati murid ketika belajar dan kerendahan hati  guru ketika mengajar, dengan sentuhan hati masing-masing dapat berubah dan tumbuh menjadi semakin baik. Guru memiliki peran sangat strategis dalam membangun dunia yang lebih baik.

“Sekolah itu surga”, judul bagian 3 ini sama dengan judul besar buku ini. Suasana seperti di surga, itulah gagasan penulis dalam bagian ini. Sebagai surga, sekolah mestinya menjadi persinggahan bagi manusia-manusia muda yang memutuskan menyeberang dari kubangan kebodohan, ketergantungan menuju tanah pengharapan yang memungkinkan mereka belajar secara gembira. Namun suasana itu masih manjadi mimpi indah bagi anak-anak, jutaan anak putus sekolah dan pendidikan tidak pernah benar-benar diprioritaskan dan selalu dikesampingkan dalam wacana politik bangsa ini.

Digambarkan bagaimana realitas di sekolah bahwa siswa diam seribu bahasa, mulut terkunci rapat dan tatapan mata kosong ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya. Namun riuh bisik-bisik ketika guru sedang menerangkan dan semakin ramai ketika guru tidak ada di kelas. Pendidikan serba bertanya menjadi kontekstual untuk kondisi saat ini, yang mendorong siswa untuk bertanya dan mengembangkan sikap kritis siswa. Membiasakan siswa untuk berpikir dan melihat cara pandang yang berbeda dari orang lain, akan membuka kesadaran peserta didik bahwa seringkali kebenaran itu tidak tunggal. Mendorong proses pembelajaran yang partisipatif bagi peserta didik, menggabungkan pelajaran matematika dengan bahasa berupa puisi, dapat merubah ekspresi siswa lebih senang dan menikmati matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan.

Pada bagian terakhir bukunya, guru Joyo memberi judul “Mengarungi arus globalisasi”, belajar tanpa batas bukan lagi menjadi retorika, sudah semestinya jarak itu tidak ada, semua sudah semakin dalam genggaman. Setiap kita berkesempatan sama, kita yang mempengaruhi, atau kita yang dipengaruhi. Namun, kondisi yang masih membelit dunia pendidikan kita adalah gedung sekolah yang roboh, rendahnya anggaran pendidikan, biaya pendidikan yang mahal dan tetek-bengek persoalan pendidikan yang tidak ada kunjung berakhir.

Guru Joyo percaya bahwa guru masih dibutuhkan untuk mendidik masa depan, sehingga guru didorong untuk mencapai standar yang lebih tinggi dengan mensyaratkan S1 dan program sertfikasi guru. Meskipun hasil penelitian mengatakan bahwa belum nampak nyata ada bedanya antara guru bersertifikat pendidik dengan guru yang belum bersertifikat. Pengalamannya mengikuti program Advanced Teacher Program (ATP) di negeri kanguru menyadarkan bagaimana professional guru dibangun dan komitmen yang kuat dari para guru untuk mewujudkan pembelajaran yang bermutu.

Yang masih kurang dari buku ini adalah penggambaran tentang sekolah itu surga, itu sendiri yang seperti apa? Seandainya guru Joyo dapat menggambarkan dengan lebih detil seperti apa guru di sekolah dapat menempatkan murid sebagai subyek pendidikan.  Murid merasa dihargai pendapatnya sehingga murid tidak takut bertanya, pelibatan murid dalam membuat peraturan sekolah dan ditaati bersama antara murid dan guru, dan lain-lain sehingga murid dapat benar-benar merasa aman dan nyaman berada di sekolah laksana di surga. Mungkin penggambaran seperti itu menjadi lebih menarik meskipun hal itu belum pernah dialami namun guru Joyo dapat mengembangkan pemikirannya tentang sekolah itu surga. Sehingga sebaliknya, anak  akan merasa kecewa ketika dipulangkan lebih awal karena ada rapat guru atau guru yang seharusnya mengajar, berhalangan datang.

Wiwit Sri Arianti – Sidoarjo

 

Note Redaksi: Selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama, Wiwit Sri Arianti! Semoga betah dan kerasan ya. Ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih pak Handoko Widagdo yang mengajak Wiwit bergabung di Baltyra…

 

50 Comments to "Sekolah Itu Surga"

  1. Wiwit Arianti  2 May, 2014 at 15:27

    Apa kabar mas Akbar?
    Ini alamat penerbit buku Sekolah Itu Surga, Selingkar Rumah Ideas Pustaka, Nglarang RT 005 / RW 035, Jogjakarta – 55584. Telp: 0274-4477254

  2. Wiwit Arianti  12 April, 2014 at 16:19

    Mas Akbar,..penerbit buku Sekolah itu Surga adalah Selingkar Rumah Idea Pustaka di Jogjakarta.
    Alamat penerbit dan no kontak penulis ada di sampul belakang buku. Sekarang ini saya sedang ada di Semarang, sedangkan bukunya ada rumah di Jakarta. Besuk kalau dah balik ke Jakarta saya kirim informasi yang Anda butuhkan.
    Atau search aja di internet di web-nya penerbit, insya Allah ada informasinya.

  3. akbar  12 April, 2014 at 09:38

    boleh tahu alamat penerbit buku diatas, mohon infonya untuk mendapkan buku tersebut diatas. sekolah itu surga

  4. akbar  12 April, 2014 at 09:38

    boleh tahu alamat penerbit buku diatas, mohon infonya untuk mendapkan buku tersebut diatas. sekolah itu surga

  5. Wiwit Arianti  19 November, 2013 at 09:18

    ha ha ha ha…pak Dj bisa aja….
    Kalau gitu guru dan murid sama2 nakal he he…

  6. Wiwit Arianti  19 November, 2013 at 09:15

    Koh tiongan….
    Menurut pengalaman banyak orang memang begitu,
    Kalau sudah mengenal uang, sekolahnya dilupakan he he…
    Tapi saya salut dengan semangat Koh tiongan….selama masih diperlukan kerja terus sampai umur 70 tahun semoga saya besuk juga bisa begitu…

  7. Our Daily Bread  18 November, 2013 at 17:20

    Mbak Wiwit,saya sekolahnya hanya 3 bulan ,terus dapat kerjaan jadi istilahnya Mas Djoko ,nyangkul dulu aja kumpulin duit..eeehhh tahunya sampai 12 thn kerja terus,keenakan tahunya sudah waktu pensiun(umur 65),selama diperlukan kerja terus sampai umur 70 baru fully retired
    Mas Djoko waktu dulu disebutnya di Betawi Sekolah Rakjat(SR)

  8. Dj. 813  17 November, 2013 at 18:14

    Wiwit….
    Yang nakal bukan D. tapi gurunya…
    Lha Dj. saat itu masih polos…. Hahahahahahahaha….!!!
    Lumayankan, makan, nonton bioskoop ditraktir.
    Malah pulang dipanggilkan Taxi dan tidak perlu bayar sendiri….
    Pokok e dimanja deh….
    Coba pacaran dengan anak sebayak, malah repot sendiri.
    Kan namanya juga pacaran dan bukan mau nikah…
    Hahahahahahahahahaha…..!!!
    ( Just kodooook… )

  9. Wiwit Arianti  17 November, 2013 at 17:41

    Wah,… Pak Dj ketahuan nih, ternyata waktu muda nakal juga ya, mosok masih SMA sudah berani pacaran sama gurunya, hahaha…
    Just kidding pak….

  10. Dj. 813  17 November, 2013 at 16:47

    @ 39 :

    Koh tiongan….
    Dj. malah pernah nyaman disekolah, karena pacaran dengan ibu guru.
    Ini malah dua-duanya ( guru dan murid ) setiap hari bisa menikmati.
    Seperti kata Wiwit, muris dan guru bisa menikmati, maka pelajaran akan mudah dimengerti.
    Tapi saati itu Dj. sudah di lulus SMA, sekolah bhs Inggris di Kemayoran.
    Kalau jamannya di SR dulu ya tidak mungkin lah….
    Jamannya koh Tiongan dulu apa SR atau Baperki…???
    Hahahahahahahahaha….

    Masih di Betawi atau sudah kembali ke ODB…???
    Salam manis untuk lehernya ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *