Bunga Angin Portugis di Nusantara

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis Di Indonesia

Penulis: Paramita R. Abdurachman

Penerbit: LIPI Press

Tebal: xvi + 280 hal

ISBN: 978-979-799-235-4

bunga-angin-portugis

Nusantara adalah peleburan berbagai budaya. Hal itu tak bisa ditolak lagi. Budaya India (Hindu, Budha), Islam, Cina, Eropa mewarnai budaya asli suku-suku yang tinggal di berbagai pulau di Nusantara. Banyak sudah buku yang ditulis dalam rangka menguak warisan budaya manca yang melebur dalam budaya Nusantara. Warisan India, Islam, Eropa (khususnya Belanda) telah memenuhi rak-rak perpustakaan. Namun sangat sedikit yang menulis tentang warisan Portugis dalam budaya Nusantara.

Buku “Bunga Angin Portugis di Nusantara adalah kumpulan tulisan Paramita R. Abdulrachman tentang warisan budaya Portugis di Nusantara. Tulisan-tulisan Paramita yang tersebar di berbagai jurnal dikumpulkan dalam buku ini. Melalui tulisan-tulisan ini kita menjadi tahu jejak-jejak kebudayaan Portugis di Indonesia. Susunan artikel diawali di barat (Kehadiran Portugis di Jakarta) menuju ke timur (Hubungn antara Kerajan Maluku dengan Kerajaan Portugal dan Kerajaan Spanyol di abad XVI dan XVII).

Portugis telah mengawali persentuhan budaya Eropa dengan Nusantara. Dalam upaya berdagang, khususnya rempah-rempah, Portugis akhirnya sampai ke Nusantara pada tahun 1511. Sejak itu Portugis telah mewarnai sejarah dan budaya Nusantara. Dengan politik ‘feitoria, fortaleza e igreja’ (berdagang, dominasi militer dan gereja) Portugis berkiprah di Nusantara, setidaknya selama 100 tahun.

Pemukiman Portugis di Jakarta, persentuhan Portugis dengan Pulau Solor, Flores, Timor dan Maluku dibahas tuntas. Paramita menggunakan sumber-sumber asli dari abad 16-17 yang masih tersimpan di Portugis, selain menggunakan cerita-cerita lokal untuk menyusun buku ini.

Sejarah kroncong, Agama Katholik dan kesenian (nyanyian dan tarian), pakaian serta cara hidup sehari-hari mewarnai budaya Nusantara, setidaknya di tempat-tempat seperti Betawi, Flores, Solor, Timor dan Maluku. Kroncong Moresco, Tanjidor di Betawi adalah bukti peninggalan budaya Portugis yang telah mengasimilasi. Kita mengenal bika, serikaya, pepaya, tomat, ketela yang semuanya adalah kata dari Bahasa Portugis yang tetap kita pakai dalam khasanah boga Nusantara.

Selain dari bahasan tentang budaya, Paramita juga membahas tentang persinggungan militer dan gereja. Bahasan tentang militer dan gereja dijadikan sebagai latar belakang untuk menjelaskan persinggungan budaya. Judul “Bunga Angin” sungguh tepat untuk menggambarkan peran Portugis yang hanya sepoi-sepoi di Nusantara.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

40 Comments to "Bunga Angin Portugis di Nusantara"

  1. Handoko Widagdo  22 March, 2018 at 10:40

    Pak Ikram, buku ini dulu saya beli di Penerbit Obor di Jakarta.

  2. Ikram  22 March, 2018 at 00:06

    Buku ini dijual dimana? Maaf

  3. Our Daily Bread  20 November, 2013 at 11:57

    Mas Handoko ini alamatnya;Taman Palem Lestari blok CC1/28 Cengkareng Jakarta Barat,masuk gerbang(sebrang CareFour) terus lurus kira2 500 meter belok kiri setelah jembatan(kali kecil) adalah Blok CC1(ada pos Satpamnya bisa ditanyakan no,CC1/2
    sebelum 5 patung kuda putih(tel.5557253)

  4. Handoko Widagdo  19 November, 2013 at 10:51

    Baiklah nanti malam saya tilpon

  5. Our Daily Bread  18 November, 2013 at 16:57

    Mas Han malam itu juga saya called JC,katanya beliau akan kontak anda dan JC belum kasih kabar balik sampai kini

  6. Handoko Widagdo  17 November, 2013 at 07:20

    Om ODB saya menunggu khabar selanjutnya.

  7. Handoko Widagdo  17 November, 2013 at 07:19

    Elnino, serikaya nama buah itu dari kata Portugis yang kita pinjam (dan tidak akan dikembalikan). Kalau Bika Ambon itu karena dulu toko pertamanya di Jalan Ambon, bukan karena orang Ambon yang buat.

    Tentang persentuhan Medan dan Sumatra Utara dengan Portugis biar Hennie yang menuliskannya.

  8. elnino  17 November, 2013 at 07:17

    Oh, bika sama serikaya (selai atau buah ya maksudnya?) itu peninggalan Portugis? Di Medan, keduanya sangat terkenal bahkan jadi ciri khas. Apakah Medan mengalami persentuhan juga dg Portugis? Tapi bikanya sekarang justru terkenal dg nama bika Ambon

  9. Hennie Triana Oberst  16 November, 2013 at 20:36

    Mas Hand, oh iya. Kalau di Aceh memang saya tau. Sebutannya Aceh Portugis.

  10. Our Daily Bread  16 November, 2013 at 20:17

    Mas Han malam ini saya coba kontak JC moga2 beliau ada dirumahnya untuk follow up selanjutnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.