Pahlawan Kemalaman

djas Merahputih

 

* dalam rangka Hari Pahlawan, 10 November *

Pahlawan, sejatinya lahir dan berproses secara alami tanpa skema ataupun rekayasa manusia. Ia terlahir atas kehendak dan restu alam semesta. Kehadirannya mungkin malah tidak dikehendaki oleh kebanyakan orang di zamannya. Sebab Sang Pahlawan terlahir di bawah bayang-bayang Penguasa.

Pahlawan Sejati bukanlah sosok seorang manusia biasa. Ia telah ditunjuk oleh Sang Maha Kuasa, menjadi tangan-tangan Tuhan guna melawan kekuatan-kekuatan yang dengan remeh menyepelekan kuasa-Nya. Kekuatan seorang Pahlawan Sejati bukan hanya berasal dari dirinya sendiri. Campur tangan Tuhan telah membaur ke dalam dirinya. Kalau diukur dalam tingkat kedekatan seorang makhluk dengan Penciptanya maka seorang Pahlawan Sejati akan berada sedikit di bawah Nabi dan Rasul.

 pahlawan (1)

img01. Bung Tomo

Bung Karno dan Bung hatta, Bung Tomo serta Jenderal Sudirman adalah contoh-contoh Pahlawan Sejati yang mampu melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa. Kekuatan, semangat dan daya tahan terhadap penderitaan mereka seakan tak terbendung. Ya, tentu saja, sebab kekuatan Sang Pencipta telah membaur dalam diri mereka.

Pahlawan sejati tak akan pernah silau oleh harta dan godaan lainnya. Walaupun, sebagai manusia biasa mereka tetap rentan terhadap rayuan dan tipu daya. Tapi Sang Pencipta tak pernah tidur. Dengan izin-Nya tak seorangpun akan seenaknya melancarkan tipu daya terhadap manusia-manusia pilihan Sang Khalik.

Pahlawan kesiangan adalah sosok yang lahir oleh skema jangka pendek manusia melalui sebuah celah situasi. Sebuah usaha anak manusia untuk mengatrol popularitas sendiri dengan memanfaatkan kesempatan dan kecenderungan alur situasi yang mampu terbaca olehnya. Membuat orang lain terkesan dan silau dengan tingkah kepahlawanannya. Namun sejarah sendirilah yang akan membuka kedok mewahnya.

Pahlawan kesiangan adalah para kaum oportunis yang tersesat di dalam strategi mereka sendiri. Kepandaian maupun strategi mereka tertuju hanya pada kepentingan diri maupun kelompok sendiri. Bukan lagi pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Mereka menjual slogan kemanusiaan untuk keuntungan pribadi. Ideologi mereka hanyalah sebatas untung dan laba. Sebuah ideologi yang mungkin tidak difahami oleh seorang Pahlawan Sejati.

pahlawan (2)

img02. Untung dan Laba

Para pemburu kuasa yang telah kehilangan rasa pengabdiannya adalah sekelompok Pahlawan Kesiangan. Mereka menjual nama rakyat dan bangsa untuk tujuan-tujuan jangka pendek dan merusak. Sepintas mereka nampak membangun, namun yang dibangun hanyalah gedung-gedung kosong tanpa jiwa. Rakyat yang mereka jual hanya bisa terpana dan tak akan pernah bisa masuk ke dalamnya. Rakyat hanya boleh kagum melihat gedung megah tak berjiwa dalam suasana penderitaan, dengan perut dan mungkin juga, pikiran yang kosong.

Para abdi kuasa menjunjung kekuasaan untuk kekuasaan itu sendiri. Bayangannya menutupi rasa ingin tahu dan kehendak berilmu dari bangsanya. Kepandaian tanpa nurani mengabdi kepada kuasa sejati. Mencerdaskan bangsa tinggallah slogan kosong tanpa makna. Ilmu hanya untuk orang-orang yang berideologi untung dan laba. Ideologi yang memproduksi pahlawan-pahlawan kesiangan berjubah emas.

Namun Pahlawan yang paling nyentrik adalah sosok Pahlawan Kemalaman. Yah…, tentu saja sebab mereka punya waktu lebih lama untuk berdandan dan memoles citra mereka. Kepahlawanan mereka bagaikan cerita telenovela. Alurnya panjang dan terencana mirip dengan sebuah naskah skenario film dokumenter. Para penonton akan disajikan pertunjukan yang dramatis dan menguras emosi serta air mata. Simpati maupun empati rakyat adalah nafas pertunjukannya. Saking asyiknya menonton pertunjukan ini rakyat yang lapar menjadi lupa akan teriakan perut kosongnya. Ibu-ibu di dapur terluka oleh pisau saat mengiris bawang namun tak terasa oleh pesona pertunjukan telenovela tadi, kemudian baru tersadar hanya setelah siaran penuh emosi itu berakhir.

 pahlawan (3)

img03. Mengiris bawang

Para pahlawan kemalaman tentu saja lebih glamour dan mewah. Sebab ia muncul di saat-saat rakyat telah selesai bertarung dengan panas terik matahari. Ia muncul saat malam tanpa purnama, namun disorot dengan lampu warna warni dan berhias pita gemerlap di atas panggung-panggung kekuasaan. Para pemujanya menguras dana berlimpah untuk pesta dan seremoni mewah. Dan ketika rakyat datang meminta jatah mereka, yang tersisa hanyalah sampah dan sisa-sisa makanan dari para penonton di tengah lapangan.

Ketika sebuah gejala pencitraan memunculkan sosok seorang pahlawan dengan skema dan rekayasa jangka panjangnya, maka yang tercipta bukan lagi seorang sosok Pahlawan Kesiangan, melainkan seorang Pahlawan Kemalaman dengan “bau aneh” yang menyengat. Sosok pahlawan ini dipersiapkan begitu lama, namun rakyat dengan rasa lelah yang sudah memuncak lebih memilih untuk tidur. Terlelap walaupun hanya beralas koran, kemudian terbuai dalam mimpi indah bertemu dengan seorang Ratu yang cantik.

Tinggallah sosok Pahlawan Kemalaman yang hanya ditonton oleh para pemujanya, juga oleh lampu-lampu cantik yang bersinar namun bisu tak bersuara. Lampu-lampu cantik yang segera diturunkan dan dikemas dalam kardus, sesaat setelah pertunjukan mewah itu berakhir. Kemudian berkumpul dengan rekan-rekannya dalam gudang pengap tak bercahaya…… Kosong dan tak berjejak.

 

 

Bumi Pertiwi, 10 November 2013

Salam Joeang,  

//djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

24 Comments to "Pahlawan Kemalaman"

  1. djasMerahputih  14 November, 2013 at 09:48

    23: Thanks sudah mampir lagi mba Henny,

    Semoga sehat sejahtera di seberang sana…

    Ia memang, gejala Pahlawan Kemalaman semakin marak saja. Pahlawan dengan “bau aneh” yang menyengat!! he he he…

    Salam Joeang…!!

  2. Hennie Triana Oberst  14 November, 2013 at 09:35

    Makin banyak ya Pahlawan Kemalaman.

  3. djasMerahputih  14 November, 2013 at 09:27

    21: Thanks Mawar09,

    Walaupun terjadi krisis di tengah kehidupan bangsa kita, optimisme harus tetap kita kobarkan.
    Semakin banyak anak muda yang sadar atas kekeliruan generasi pendahulunya.
    Tinggal menunggu waktu untuk era yang lebih baik. Semoga.

    Thanks juga buat semua yang telah mampir dan memberi cap jempolnya.

    Salam Nusantara…

  4. Mawar09  14 November, 2013 at 01:09

    Artikel yang bagus DjasMerahputih.
    JC : komentar No.17… aku tambahi dengan krisis kejujuran dan krisis rasa malu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *