Rembulan Menangis

Wendly Jebatu Marot

 

Kamu datang di rumahku pada tengah malam, malam Jumat. Kala itu si Snopy anjing belangku sudah terlelap. Ya dia memang anjing aneh. Siangnya galak tapi malamnya cepat tidur. Kata orang, anjing itu tak pantas dipiara karena tak bisa membantu menjaga rumah pada tengah malam; seperti halnya malam itu. Tapi! Aku tetap memeliharanya, karena dia satu-satunya temanku sekarang.

Malam itu kamu datang ke rumahku. Kamu memanggilku dari jalan! Kamu menyebut namaku tiga kali.

Dalu! Dalu! Dalu!

Nama itu memang sering kamu pakai untuk memanggilku. Kamu tak pernah sekali pun menyebut nama asliku yang memang cukup panjang dan aneh.

Politikaldus Atalenggedendut.

Dulu saat kecil, orang tuaku memanggil aku Poli! Teman-teman di sekolah memanggilku Kaldus. Dan juga yang memanggil Tika. Pokoknya aneh-aneh deh. Cuma kamu yang memanggilku Dalu. Tapi aku tak tahu alasan mengapa kamu memanggilku demikian. Seturut sejarah orang kita kan, dalu itu raja atau rangsawan gitu. Sementara aku?

Konglomelarat! Rajanya orang melarat! Hehehe.

Malam itu, dari dalam kegelapan, engkau menyebut nama yang sering kau sebut itu dan kamu memanggilku berulang -ulang.

Dalu! Dalu! Dalu!

Rembulan tak bersinar malam itu. Bintang-bintang bersembunyi di balik kelamnya awan. Jalanan pun menjadi kelam. Kamu berdiri sendirian di jalan depan rumah bambuku. Kamu berdiri terpaku sambil sesekali bersiul mengusir sepi malammu. Siulmu menyanyikan lagu Rembulan Menangis, di Serambi Malam karya Ebiet G. Ade. Itu lagu pilihanku dan pilihanmu. Pilihan kita, sepasang sahabat kaya kepompong. Persahabatan bagai kepompong.

Ya, memang sejak tamat SMA kita berdua memiliki hobi yang sama khususnya dalam hal musik. Suka menyanyi sambil memukul jerigen kosong ganti drum dan mulut membunyikan suara gitar. Bedanya, kamu akhirnya bisa menyanyi di panggung, sedangkan saya hanya bisa nyanyi di jalan saat pergi mencari kayu api dengan teman-teman priaku. Demam panggung. Demikian istilah yang kamu gunakan untuk saya dulu.

Dalu! Buka dong pintunya! Saya ada perlu dengan kamu! Serumu memelas.

Rumahku malam itu sudah gelap. Dan memang tiap hari situasinya seperti itu. Hari-hariku hanya diterangi sebuah pelita minyak tanah. Itu pun hanya bertahan sampai pukul 22.00. Maklum, harga minyak tanah tak terjangkau di kampung kita. Satu botol Rp.15.000. Orang biasa membelinya dengan cara barter. Satu botol minyak tanah ditukar dengan 2 kg beras. Mahal kan? Nah, untuk menghemat minyak itulah, maka tiap malam saya menyalakan pelita dari pukul 19.00 sampai pukul 20.00. Seperti PLN yang menerapkan pemadaman atau penyalaan bergilir. Sementara kamu datangnya pukul 20.01. Lebih sedikit, tapi tetap terlambat.

Ketika itu, akuu sudah di atas bale-bale, tempatku merajut mimpi saban malam. Aku baru saja mematikan pelitaku. Ketika aku mendengar suaramu, aku kira Si Pondik Chador yang datang membawa kabar tentang angka kupon putih. Ya, aku memang doyan mengisi kupon putih. Siang sebelum malam datangmu aku mengisi kupon putih dengan angka ekor 23, 24 dan gabungannya 2324. 23 kuisi 5x. Demikian juga dengan angka 24. Uang yang keluar 10 ribu. Pas dengan uang yang kuterima dari Bapa ErTe sebagai upah kerjaku memanjat kelapa di kebun belakang rumahnya. Kamu tahu, kupon putih itulah yang menghiasi sepiku malam itu. Pikiranku hanya pada angka berapa yang keluar. Aku tidur dengan harap-harap cemas. Jangan sampai angka-angka yang aku isi melenceng jauh. Tapi itu kan hasil tafsiran atas mimpi. Malam sebelum malam kamu datang, aku bermimpi mengikuti ulang tahun kamu yang ke-23. Makanya aku mengisi 23. Sedangkan 24, aku ambil dari tanggal lahirmu 24. Tepatnya 24 bulan dua, tepat 3 hari setelah ulang tahunku. Maka tepat kalau 23 atau 24 atau kalau gabung 2324. Bisa juga balik 2423. Itulah sebanya selain isi yang 2 angka. Aku juga mengisi 4 angka 2324, 2423.

Aku sempat berangan-angan, kalau angkaku kena, maka aku akan membeli tape recorder bermerk nasional seperti kepunyaan Bapak ErTe yang all in dengan radionya sekalian. Lalu aku akan mencari kaset-kaset lagunya Ebiet G. Ade, Makarius, Daniel Anduk, Iwan Fals, Doel Soembang dan banyak deh. Yang penting jangan lagu Trio Macan, Duo Maia, Inul atau yang lainnya. Lebih-lebih lagunya Melinda yang berjudul Cinta Satu Malam atau lagu Belah Durennya Jupe; apa lagi lagu yang pake maki-maki orang itu. Aku tak doyan itu. Aku tak suka maki.

Hayalanku itulah yang membuatku tak mendengar suaramu; dan parahnya suara merdumu malah kudengar seperti suara lelaki penjual Kupon Putih, Si Pondik yang tidak tamat SD tapi karena Kupon Putih menjadi tangkas mencakar angka dan jago membuat rumus sendiri. Tanpa melalui studi tentang mimpi, dia juga lihai menafsir mimpi. Nama panjangnya Pondikus Chador Rajamaeng. Aneh juga kan? Ya nama orang kampung kita memang aneh.

Sekali lagi, maafkan aku, Angel!

Ketika mendengar suara itu, aku terperanjat dan dengan cepat menuju pintu tapi lupa menyalakan pelita. Dadaku berdebar. Pikiranku pada angka kupon putih yang aku isi dan tape recorder dan lagu-lagu Ebiet G. Ade. Buru-buru kubuka pintu dari anyaman bambu itu dan aku terkejuat bukan kepalang ketika aku tahu yang datang bukan si pendek penjual kupon putih. Ternyata kamu, Angel. Lengkapnya Maria Angelina Febriani Nunungtriningtias. Ya! Satu-satunya teman SD, SMP dan SMA yang memiliki nama keren adalah kamu. Agak kejawaan memang. Maklum, kamu kan anak orang kaya di kampung kita. Sejak kamu di dalam kandung ibu, katanya orang tua kamu sudah memilik TV sehingga sering nonton sinetron, berita TV. Dan katanya, nama kamu diadopsi dari nama orang-orang yang dikagumi emakmu dari TV. Waduh nama kamu kaya orang Metropolitan. Tau-taunya tinggal di Metromelintang. Hahahaha….

Walau gelap, aku bisa mengenal kamu. Suaramu sudah familiar dalam ingatanku. Cuma, aku merasa tak percaya. Kamu tinggalkan rumah terangmu dan datang di rumah gelapku selarut itu.

Kamu menerobos masuk tanpa peduli dengan kegelapan itu.

Dalu! Nyalakan pelitamu! Pintamu.

Tanpa berkomentar banyak, aku turuti itu.

Aku mau curhat sama kamu! Katamu memelas.

Aku diam saja sambil menaruh pelita itu di depanmu dan aku duduk di seberang pelita.

Angel! Katakan, kenapa kamu datang malam-malam begini? Tanyaku.

Kamu menangis. Pelita menjadi saksi. Beningnya air matamu memantulkan keperihan. Tapi dari dalamnya aku melihat bayangan cahaya pelita yang goyang oleh hempasan angin yang masuk melalui cela pelupuh dinding rumah bambuku. Seperti itulah goncangnya hidupmu saat ini.

Kita diam! Malam hening! Sepi terasa! Hanya isakanmu yang terdengar. Tapi keperihanmu membuat suara isakan itu seperti deru guntur. Desahan nafas panjangmu seperi angin puting beliung yang menerpa daun nyiur pinggir pantai Nanga Pa’ang dan menumbangkan pohon kemiri di kebunku, peninggalan ayah yang pergi selama-lamanya karena mati ditendes pasir galian.

Tak ada kata terucap. Hening tapi berbicara lebih lantang. Kamu terluka!

Aku gelisah tapi juga geram, mengingat nasibmu yang tak lagi seindah masa kecil dulu. Kamu sahabat baikku.

Kamu diusir lagi? Tanyaku.

Bukan! Aku melarikan diri! katamu

Mengapa?

Aku dipaksa papa untuk menerima lamaran dari seorang lelaki teman bisnisnya!

Itu sebabnya kamu lari ke sini? Tanyaku.

Apakah salah? Tanyamu.

Tidak salah! Cuma sedikit keliru! Jawabku.

Karena?

Ayahmu tak merestui kedekatan kita bahkan kedekatan sebagai dua sahabat lama! Kataku.

Aku lebih baik mati sebagai sahabatmu dari pada hidup dengan pria pilihan papa! Jawabmu malam itu.

Angin semakin kencang. Hanya pelita yang berbicara dalam nyalanya. Cahayanya redup dan kadang terancam padam oleh karena angin yang menembusi dinding dari bambu yang tercabik itu.

Aku pun diam. Kita hening tapi seperti sepih. Jujur saja aku sangat kasihan sama kamu dan ingin sekali mendekapmu. Kamu sahabatku. Kita bersahabat bagai kepompong!

Senyap. Dan tragedi menjemput di ambang pintu.

Tak lama berselang sekelompok orang suruhan ayahmu datang dengan senter besar dan tanpa ada dialog, mereka membawamu pergi dan memborgol tanganku. Kamu ditarik paksa. Dua sahabat dipisahkan pada tengah malam kelam itu. Kamu ke rumah ayahmu, diiringi rintihan. Aku ke rumah tahanan sewaan ayahmu tanpa salah apa pun. Dalam perjalanan, aku dituduh menculikmu, menidurmu dan menghasutmu  untuk melawan ayahmu. Aku dipukul sampai tak sadarkan diri. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Keesokan harinya aku baru sadar dan kudapati diriku sudah berada di kamar sumpek dengan tirai besi. Ternyata malam itu, malam terakhir kita bersua sebagai sahabat lama.

Aku terpenjara, Angel! Keluhku dalam sepi.

Kini satu tahun telah berlalu. Setahun pula aku berada di balik jeruji ini. Selama setahun ini aku tak lagi pernah mendengar kisah tentangmu. Aku sudah masuk dalam bilangan penjahat dengan vonis tak jelas sampe berapa tahun. Aku tak punya uang membayar pengacara jadi masalahku terkatung hingga sekarang. Semalam aku bermimpi melihatmu datang dengan pakaian bak pengantin. Kamu datang menciumku, lalu pamit pergi entah ke mana dengan berlari melintasi pelangi. Itulah yang membuatku terbangun dan merindukanmu sahabat kepompongku.

Sepertinya pucuk dicinta, ulam pun tiba, kerinduanku terjawab oleh hadirnya surat. Kemarin pagi seorang petugas rutan datang dan memberikanku sebuah amplop putih. Pada bagian luar surat tertulis nama kamu-Angel-sebagai pengirimnya. Awalnya aku begitu bahagia bisa mendapat kabar darimu. Aku bahagia karena kamu tak melupakanku. Walau belum membaca aku menjadi bertambah semangat. Tak gubris di mana aku sekarang berada.

Setelah beberapa menit berselang, sukaku berubah seiring dengan berita yang aku baca dalam suratmu itu.

Dalu, sahabatku!  

Matahari sudah terbenam! Aku melihat tiang api mendekat dan kamulah pembawa obor. Kamu tersenyum padaku dan menyebut kembali nama kecilku, Angel. Ya memang hanya kamu saja yang memanggilku demikian. Kamu tahu ga? Tiang api itu apa? Itu adalah pelita kesayanganmu yang makin benderang karena kebesaran hatimu menerimaku pada tengah malam dan mendengarkan rintihan hatiku yang tertikam belati sisi lain dari kasih seorang ayah. Peristiwa malam itu mengatakan kepadaku tentang arti sahabat. Kamu dipenjara sedang aku bebas. Tapi aku tak sebebas yang kamu kira. Bagiku mungkin lebih baik kalau aku juga diborgol dan diantar ke penjara bersama kamu Dalu. Akulah yang pantas dipenjara. Tapi kehendak ayah lain. Dia mau menyelamatkan mukanya dari hinaan sahabat palsu. Dia memilih memberikan aku pada sahabatnya sebagai ganti rugi dan menjebloskan kamu ke penjara agar niatnya mulus. Aku tak tega padamu Dalu sahabatku. Tapi aku juga tak membenci ayahku yang setega itu. Setelah peristiwa malam itu, aku hanya berpikir tentang kematian. Aku pikir, lebih baik mati dari pada mengikuti kehendak ayah. Kuharap kamu jangan kecewa dengan keputusanku. Seperti kataku malam itu, lebih berharga bagiku untuk mati sebagai sahabatmu dan sebagai anak dari ayahku! Maafkan aku, jika karena aku kamu menjadi sama dengan para penjahat! Namamu Dalu karena kamu memang Rajaku! Aku akan tetap menjadi malaikatmu dan tetaplah menyebutku Angel! Lebih baik aku mati sebagai sahabatmu dari pada hidup dengan seorang asing yang tak menganggapku manusia. I love You Dalu!

 

Sahabatmu

Angel

 

Hatiku perih. Aku tak tahu apa yang akan kau lakukan. Andai petugas ijinkan, aku akan keluar dari penjara ini dan mengejarmu serta menyelamatakan dirimu dari kematian itu. Tapi aku sadar itu hanya angan-angan kosong.

Pagi tadi, ketika fajar pagi baru saja menyapaku, petugas lapas datang dan memberi padaku koran terbaru. Dia menunjuk sebuah berita utama pada halaman pembuka. Seorang perempuan muda tewas di rumah bambu di sudut kampung Sunyi. Diduga bahwa perempuan itu tewas disiksa oleh calon suaminya karena menolak untuk dinikahi.

CryingMoon

Rumah bambu itu ternyata rumahku dan perempuan itu, ternyata engkau, Angel. Aku hanya bisa pasrah. Dalam heningku sepanjang hari ini, aku memikirkan lagu apa yang tepat untuk kupersembahkan buat mengantar kepergianmu. Pada tengah malam tanggal 23 bulan 2, 4 hari setelah aku menerima suratmu itu, dari balik jeruji penjara aku menatap bulan. Kulihat langit masih berduka, dan bntang berselubungkan awan. Hanya bulan pasi masih tampak pucat pasi. Rembulan menangis. Aku pun terkenang akan lagu kesayangan kita dan perlahan melantunkannya pada tengah malam:

Rembulan menangis di serambi malam.

Intan buah hatimu, dicabik tangan srigala.

Bintang-bintang muram beku dalam duka,.

Untukmu sahabatku Angel, akupun turut berduka.

 

Nice Place, Rabu 28 Maret 2012

 

7 Comments to "Rembulan Menangis"

  1. wendly  13 November, 2013 at 22:44

    Rembulan mewek, bikin pilu hahahaha

  2. J C  12 November, 2013 at 21:46

    Waduuhhh…pilu membacanya…

  3. Matahari  12 November, 2013 at 21:43

    Alur cerita yang sangat bagus…..dan cerita yang sangat menyayat hati….

  4. djasMerahputih  12 November, 2013 at 20:11

    Sebuah hati yg tertusuk belati kasih sayang…
    Sabar ya Dalu..!!

  5. Dj. 813  12 November, 2013 at 18:10

    Zweite:

    Der Mond weint

  6. James  12 November, 2013 at 10:47

    SATOE, Rembulan Mewek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.