Solo – The Spirit of Java (2): Kavallerie – Artillerie

Tjok Mas – Anoew

 

Kavallerie – Artillerie

Para prajurit perempuan yang notabene adalah Putri Solo nan gagah perwira itu memamerkan keahlian militernya saat Jan Greeve (pejabat Kompeni VOC), mengunjungi Pura Mangkunegaran pada tahun 1788. Ia tiba di Pura Mangkunegaran disambut dengan tembakan tiga kali salvo oleh para prajurit perempuan yang menurutnya, “dengan teratur dan tetap sehingga membuat kami kagum.” Sekali lagi laskar perempuan itu menembakkan senjata tangannya sebanyak tiga kali dengan sangat tepat, kemudian diikuti tembakan dari senjata kecil (artileri) lain yang diletakkan di samping mereka.

***

Setelah puas memanjakan mata dan keingintahuanku tentang Pura Mangkunegaran, aku pun bergegas ke benteng Kavallerie-Artillerie yang berada di luar tembok namun masih berada di lingkar dalam pagar istana. Tepatnya berada di sayap timur keraton dan berhadapan dengan Pamedan / lapangan di sayap barat tempat latihan (saat itu) Legiun Mangkunegaran. Gedung yang berdiri megah di pojok Istana Mangkunegaran ini merupakan saksi kemampuan adaptasi para pemimpin nusantara terhadap perkembangan jaman pada abad ke-19. (*pict 1)

1

Tadi sesaat setelah aku selesai berkeliling di lingkungan dalam keraton (Pendopo, Pringgitan, Ndalem Ageng, Keputren, Ruang Keluarga dan Ruang Makan), pemandu wisata sempat mengatakan bahwa tidak ada artefak apapun dari gedung ini. Lagi pula di masa sekarang, bekas tangsi  ini dipakai sebagai tempat tinggal orang-orang yang masih ada hubungannya dengan keraton yaitu para Abdi Dalem. Namun begitu aku tetap berkeinginan untuk blusukan ke sana demi memuaskan keingintahuanku tentang cerita di balik bangunan megah itu melalui obrolan ke beberapa warga yang tinggal di situ. (*pict 2,3)

2

3

Berpura-pura membeli makanan ringan di warung yang menempel di dinding benteng, maka sedikit banyak aku bisa memperoleh informasi dari ibu penjual makanan dan beberapa orang lagi yang tinggal di belakang gedung Kavallerie-Artilleri itu. Ibu itu mengatakan, gedung ini dulunya adalah tangsi Legiun Mangkunegaran yang sekaligus juga kandang kuda. “Kalau dulu jadi kandang kuda, sekarang jadi kandang manusia,” begitu ujarnya sambil tertawa lebar dan aku pun tersenyum mendengarnya. (*Pict 4)

4

 

Selain itu juga ada seorang ibu yang dengan senang hati berkisah meskipun sedang sibuk menyuapi bayi sambil mengawasi kedua anaknya.  (*Pict 5)

5

 

Lalu aku ke dalam, menyusuri jejak sejarah yang terekam lewat bangunan tua ini. Ada banyak cerita yang bisa kutangkap dari balik dinding. (*pict 6, 7)

6

7

 

God..!  Sungguh beruntungnya aku bisa ada di sini, di tempat ini yang begitu banyak kutemukan serpihan sejarah tak terdugakan. (*Pict 8, 9)

8

9

 

Yuk, kita jalan-jalan ke masa silam, menyusuri kedahsyatan Legiun Mangkunegaraan. (*pict 10, 11, 12)

10

11

12

 

***

Legiun Mangkunegaran adalah satuan militer dan pasukan nusantara pertama yang mengadopsi militer modern, diresmikan oleh Gubernur Jendral Perancis Herman Willem Daendels sebagai satuan militer dengan struktur Grande Armee pimpinan Nopoleon Bonaparte tahun 1808. Grande Armee ini dikenal sebagai pasukan Kerajaan Perancis yang adikuasa pada akhir abad 18 – awal abad 19. Legiun Mangkunegaran disebar di sejumlah lokasi pertahanan Hindia Belanda di Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Tarakan di Kalimantan Timur. (*Pict 13)

13

Di jaman pra-Indonesia merdeka, Legiun ini pernah terlibat dalam banyak pertempuran yang ikut menentukan perjalanan sejarah negeri ini. Dalam perang Diponegoro (1825 – 1830) satuan militer ini menjadi penjaga kerajaan Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) dari serangan Pangeran Diponegoro. Pernah juga melawan pasukan Royal Marines dari Inggris di Semarang tahun 1811, menundukkan Kesultanan Aceh di tahun 1873, menumpas bajak laut di Bangka (1919-1920), melawan gerakan radikal keagamaan hingga berperang melawan serbuan Jepang ke Jawa di tahun 1942.

Dasyat. Namun sayang keberadaan Legiun Mangkunegaran seperti terlupakan dalam sejarah modernisasi dan reformasi militer Indonesia. (*Pict 14, 15)

14

15

***

Adalah Mangkunegara II (1798 – 1835) sebagai penerus Mangkunegara I yang mendapat ilham untuk membentuk pasukan modern  ala Grande Armee yang saat itu menguasai daratan eropa. (*pict 16)

16

Dan dengan dasar ajaran dari Mangkunegara I yaitu Sarira Angrasa Wani yang berarti Mawas Diri, akhirnya terbentuklah pasukan elite Kerajaan ini. Sedangkan Mangkunegara VII adalah komandan Legiun Mangkunegaraan terakhir sebelum dibubarkan Jepang karena melawan invasi mereka ke Hindia Belanda. (*Pict 17)

17

Di Legiun Mangkunegaran ini juga ada prajurit perempuan yang disebut Korps Prajurit Estri Mangkunegara. Mereka mengenakan seragam dan keris yang disematkan dengan cara Bali yang dihiasi bordiran daun-daun emas dan ikat pinggang berbordir emas, pakaian mereka berkilauan sehingga menimbulkan kekaguman masyarakat bahkan petinggi VOC yang melihatnya. Dan hal itu juga disebutkan dalam sebuah tembang macapat “bekta prajurit wanodya anyuriga duwung cara Bali odong rere dan apek rere dan ting galebyar busanane.” Saat mereka selesai bertugas, para prajurit perempuan ini kembali dan melepaskan pakaian emas gaya laki-laki yang mereka pakai itu, lalu menggunakan pakaian wanita putih polos. Setelah itu mereka langsung berlatih memanah.

***

“Terus bekas pakaian, senjata dan perlengkapan perang mereka itu sekarang disimpan di mana, Bu?” Aku bertanya ke Bu Marijem yang tampak masih bersemangat dan sehat. (*pict 18)

18

Kula mboten ngertos… (saya tidak tahu),” jawabnya singkat sambil meluruskan kaki yang dirasanya pegal. Aku mengangguk maklum, lantas membayar beberapa cemilan yang kunikmati selama ia bercerita tentang isi bekas tangsi tersebut dengan segala aktivitas dan kejayaannya.

Sambil melihat sekali lagi ke bangunan tua itu aku berkata dalam hati seandainya pemerintah lebih memperhatikan, sukur-sukur sekalian dikonservasi  / revitalisasi sekalian, tentunya gedung megah itu akan lebih sedap dipandang dan nyaman untuk dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Tapi entah kapan hal itu terjadi karena sampai sekarang pun kondisinya kurang terawat, jika tidak bisa dibilang menyedihkan.

***

(bersambung)

 

PS:

Referensi dan beberapa foto diambil dari buku LEGIUN MANGKUNEGARAN (1800-1942), Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte”  (Iwan Santosa)

 

47 Comments to "Solo – The Spirit of Java (2): Kavallerie – Artillerie"

  1. Tjok Mas  26 November, 2013 at 17:31

    Terimakasih atas bocorannya, pak Dj.

    Ternyata, satuan militer yang didirikan oleh Pangeran Arya Prabu Prang Wedono atau dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara II ini di awal abad ke-19 berkembang menjadi organisasi yang kuat dan TERMODERN di Asia.

    Legiun Mangkunegaran, memang mantap

  2. Dj. 813  18 November, 2013 at 19:08

    Tjok Mas…
    Dj. kasih bocoran ya…
    Tante Elnino, itu seorang putri yang sangat anggun.
    Bagai seorang peragawati.
    Dj. pernah melihatnya dengan mata kepala endiri.
    Belum pernah Dj. lihat penampilan seorang putri Indonesia yang begitu anggun.
    Tapi jangan bilang Dj. yang buka rahasia ya, nanti Dj. dilempar dengan Bakcang…
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Salam manis dari Mainz.

  3. Tjok Mas  18 November, 2013 at 17:41

    oh, Elnino itu female tho.. haduuuh maaf.., maaf… habis foto profilnya anak cowok trus namanya “elnino” jadi aku pikir male. waah maaf sekali lagi ya, Tante Elnino..

  4. JL  18 November, 2013 at 16:05

    sejak kpn elnino jadi Om ya wkakkkak

  5. Tjok Mas  16 November, 2013 at 09:36

    Om Elnino : hahaha thx lho dibilang fotogenic. Settingnya yg oke bgt om, sejarah Solo menarik jd eman klo dilewatin om.

    Mbak Dewi Aichi, wah Keraton jogjya mlh pernah dtg sekali mbak. lupa malah.
    hahahahaha foto prewed :p

  6. Tjok Mas  16 November, 2013 at 09:18

    pak Handoko : sy sebenernya mau k wonosobo mau liat temanggung tembakau srinthil tempt lahan culturstelsel tp rencana kacau semua. Solo justru awalnya buat transit tp ternyata lbh menarik. Seru bgt pak

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.